Masa putih abu-abu adalah masa yang dinantikan para remaja, khususnya remaja lulusan sekolah menengah pertama (SMP). Masa di mana kami mulai mencari jati diri. Mulai mengenal sketsa dunia remaja sesungguhnya dengan banyaknya cerita yang pasti akan kami ingat dan diceritakan kepada orangtua dan anak-anak kami kelak.
Masa abu-abu bagaikan pelangi, namun tak seindah pelangi sesungguhnya. Cerita cinta yang aku alami tak selamanya membuat aku bahagia karena dari cinta aku merasakan sakit terkhianati. Ini adalah bagian kecil dari sketsa ceritaku. Lain halnya apa yang dialami temanku, Zahra Amanda. Dia harus merasakan kepedihan yang teramat. Masa abu-abu baginya bukanlah menjadi masa penuh kenangan indah, namun semua berubah menjadi petaka.
”Zahra,” panggilku kepadanya.
Dia melirik sekilas tanpa menjawab dan langsung menunduk, bukan dia sombong, tapi dia takut pada Clara yang memandangnya sinis.
”Zahra gak pa-pa?” tanyaku sambil kudekati dia yang duduk di bangku belakang.
Dia hanya menggeleng, tanpa menjawab. Sambil berlalu aku langsung duduk di bangku tepat di depan meja guru. Tiba-tiba suara meja dipukul keras terdengar di telinga, aku menolehkan kepala ke belakang melihat siapa yang memukul meja yang ditempati Zahra dengan sekeras itu.
Apa tidak sakit itu tangan, batinku saat melihat Clara melemparkan buku tulisnya kepada Zahra.
”Culun nih kerjakan tugas fisika gue,” perintah Clara kepada Zahra.
Zahra ingin menolaknya, namun Clara lebih dulu menarik rambutnya. Aku yang menyaksikan sahabatku dilukai, akhirnya memberanikan diri untuk menolong Zahra.
”Hentikan!” kataku dengan nada keras hingga semua anak di kelas menatapku.
”Udah nyuruh-nyuruh pakai kasar lagi,” tanyaku sinis. ”Kamu gila ya!”
”Lo jangan ikut campur!” hardik Clara padaku. ”Mentang-mentang lo anak guru, gue bakal takut gitu?” katanya dengan mata yang memandang sinis ke arahku. Clara pun mendorongku hingga aku hampir terjatuh, namun dengan sigap, Tio ketua kelas menahanku dari belakang.
“Siapa pun yang berani menentang, akan berhadapan dengan gue,” gertak Clara pada semua anak di kelas.
“Gue gak takut sama Lo,” tegasku kepada Clara.
Mendengar ucapanku, Clara pun akhirnya meninggalkan Zahra dan duduk di bangkunya.
“Kamu gak pa-pa kan, Ra?” Dia menggeleng sambil mengambil buku milik Clara.
Aku menariknya dan melempar buku itu pada Clara. Seolah dia akan kembali membalasku, namun Ibu Ika lebih dulu masuk kelas.
“Anak-anak hari ini pelajaran akan berakhir pukul 09.00 wib,” kata Bu Ika yang sontak membuat seisi kelas ramai karena pulang lebih awal dikarenakan bapak ibu guru ada rapat persiapan ujian semester ganjil.
“Pulang pagi gak asik,” kataku pada Tio yang duduk di bangku tepat di belakangku.
Tio pun tersenyum simpul menatap wajahku penuh rasa penasaran.
“Zahra…aku boleh ke rumahmu?” tanyaku padanya.
“Boleh-boleh saja,” jawab Zahra dengan nada lirih.
Aku pun melajukan motorku sambil membonceng Zahra menuju rumahnya. Sampai di rumah Zahra, aku parkir motorku di depan rumah yang menurutku jauh dari kata layak huni.
“Assalamualaikum, Bu.’’
“Waalaikumsalam, udah pulang, nduk,” jawab Ibu Zahra.
“Sudah, Bu,” jawab Zahra sambil mempersiapkan makan ibunya yang terbaring lemah di kamar ukuran 2 x 3 meter.
“Siapa itu, nduk?” tanya ibu Zahra.
“Teman sekolah Zahra.” “Saya Cindy,” beritahuku pada ibu Zahra.
Zahra duduk di samping ibunya, menyuapi sang ibu. Selesai menyuapi dia mencuci piringnya. Kemudian Zahra mengajakku ke kamarnya. Saat dia mengangkat lengan bajunya, aku melihat luka seperti goresan silet. “Zahra…lengan kamu kenapa?” tanyaku penasaran.
Zahra pun menutup luka goresan itu dengan cepat karena tanpa sengaja aku melihatnya.
“Gak pa-pa, hanya tergores pisau saat aku masak,” jawab Zahra.
“Bohong!” Aku ingin teriak bohong kepadanya, tapi pasti dia tidak akan memberitahu alasan yang tepat.
Aku pun berpamitan pada Ibu Zahra karena hari telah sore. Aku lajukan motor merahku dan meninggalkan rumah Zahra dengan membawa rasa penasaran atas luka Zahra.
***
Pembelajaran semester ganjil telah berakhir dan saatnya ujian semester tiba. Aku dan Zahra mempersiapkan ujian ini dengan belajar bersama. Namun, entah mengapa perasaanku pada Zahra tak seperti biasanya. Ada perubahan yang terjadi pada Zahra dan aku pun tak tahu apa penyebabnya.
“Cindy… aku ke toilet dulu ya,” kata Zahra padaku.
“Aku temani ya?” tawarku.
“Gak usah Cin,” Zahra pun keluar tanpa menerima ajakanku.
Cukup lama Zahra ke toilet dan tak kunjung kembali ke kelas. Aku makin penasaran sekaligus khawatir. Aku pergi ke toilet dengan rasa cemas makin menjadi. Namun, sebelum aku sampai ke toilet terdengar teriakan kesakitan, cacian dan pukulan.
“Salahku apa sama kalian.” Kalimat yang aku dengar serasa mengiris ulu hatiku saat aku sadar itu adalah suara Zahra.
Terdengar suara tamparan yang semakin mengiris-iris hatiku.
“Lo gak pantas sekolah di sini,” hardik suara yang tak aku kenal.
“Orang miskin, keluarga pencuri dan ibu lo penyebar virus,” hina suara lainnya.
“Aku gak pernah bikin masalah dengan kakak,” teriak Zahra sambil menahan rasa sakit akibat pukulan dari sebuah kayu. “Aduh, sakit kak.” Dia menangis kesakitan. Aku heran Apa salah Zahra? Sampai dia dipukul seperti itu? Apa karena dia terlahir dari keluarga miskin hingga mereka dengan seenaknya menghakimi Zahra.
“Sumpah! Aku bodoh,” teriakku dalam batin.
Kenapa aku tidak menolong Zahra. Meninggalkannya dengan seribu luka. Sejak kejadian itu, Zahra menjadi sangat pendiam. Ujian pun telah selesai dan aku melihat jelas perubahan Zahra. Entah mengapa hampir satu minggu ujian semester berakhir, aku tak lagi mendapat kabar tentang Zahra.
Rasa cemas makin melanda jadi aku putuskan untuk pergi ke rumah Zahra. Betapa kagetnya saat aku melihat bendera kuning berkibar di depan rumah Zahra. Aku bertanya pada tetangga siapa yang meninggal dunia. Ibunda Zahra, ya benar beliau meninggal 1 minggu yang lalu. Pantas Zahra tidak masuk sekolah. Aku masuk ke rumah Zahra dan melihatnya duduk merenung seorang diri.
“Zahra,” panggilku ketika sudah dekat dengan Zahra yang sedang duduk sendirian di kursi.
Dia menatapku dengan mata sembab.
“Cindy… ibuku telah meninggal,” beritahu Zahra, dia memelukku dengan buliran air mata menetes di pipinya.
“Zahra pasti kuat,” ucapku mencoba menghibur sahabatku yang masih berduka.
“Cindy, kenapa harus aku,” ratap Zahra. “Kenapa aku tidak pernah merasakan bahagia? Kenapa Tuhan selalu menjatuhkan seribu masalah padaku. Apakah Tuhan tidak sayang kepada Zahra?” Suara tangisannya kembali terdengar dan semakin keras.
“Tidak Zahra Tuhan sayang Zahra,” kataku menguatkan sahabatku.
“Aku capek, aku menyerah.”
Zahra tak memiliki semangat lagi. Serasa enggan untuk hidup di dunia dengan kepedihan yang dia rasakan. Di mana keadilan untuk Zahra.
“Zahra gak boleh menyerah,” kataku pada Zahra. “Aku akan selalu ada untuk Zahra.”
“Aku gak kuat menghadapi semua ini,” kata Zahra dengan tangannya yang semakin dingin yang aku rasakan. “Aku ingin sendiri.”
Zahra memasuki kamarnya, aku tinggalkan Zahra sendirian di kamarnya, untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kalut. Para tetangga satu per satu pulang. Hanya Pak Ujang dan 2 orang tetangga Zahra masih setia menemaniku duduk di depan.
“Pak Ujang Cindy masuk dulu ya,” pamitku pada Pak Ujang.
Aku pun melangkah ke dalam rumah. Aku berniat untuk menginap di rumah Zahra untuk menemaninya yang sedang sendiri lagian aku sudah izin kepada orang tuaku. Keesokan harinya, aku dan Zahra kembali sekolah dengan suasana hati Zahra yang sedang merasakan kesedihan dan aku? Hatiku merasakan kecemasan kepada Zahra.
“Cindy, aku ke belakang dulu yah.” Tanpa menunggu jawabanku, Zahra lebih dulu keluar kelas. Aku membiarkannya untuk sendiri karena aku tahu mungkin dia akan menenangkan kembali pikirannya. Tapi, 10 menit lamanya dia belum kembali.
“Seru juga, si cupu itu tidak melawan. Lagian suruh siapa dia sok berani menolong adik kelas.” Pernyataan Clara membuatku naik pitam, tapi tunggu…. si culun? Culun yang dimaksud Clara adalah Zahra?
“Zahra di mana?” tanyaku langsung kepada Clara.
“Kok tanya gue?” Clara mendorongku secara mendadak membuatku jatuh terduduk di lantai. Ada sepasang tangan yang terjulur di depanku aku mendongak siapa itu, ternyata Tio.
“Di mana!” bentak Tio kepada Clara.
Dia memutar bola mata malas. “Taman belakang.” Aku segera melangkahkan kaki dengan cepat yang diikuti oleh Tio, aku membelalakkan mata…berjalan pelan menghampiri Zahra yang menggantung dengan tali di lehernya dan darah yang mengalir di daerah pelipis
“Tolong…,” teriakku panik.
Terakhir kali yang aku lihat adalah Tio yang berlari meminta pertolongan.
“Zahra,” teriakku hingga aku tak sadarkan diri.
Aku merasa badan ini lemas namun aku masih bisa merasakan tubuhku dibopong ke ruang depan.
“Cindy sudah sadar,” kata Tio yang duduk di dekatku. “Zahra, Tio… Zahra bagaimana,” lirihku tak kuasa menahan air mata.
Aku sadar darah segar tadi adalah darah Zahra. Saat aku sampai di taman belakang yang aku lihat memang Zahra yang sudah tak sadarkan diri karena oksigen yang tersendat dikarenakan tali yang ada di lehernya ditambah pelipis yang cukup banyak mengalirkan darah sampai terjatuh pada tanah.
“Di mana Zahra,” tanyaku pada Tio. “Zahra di mana, Tio?” tatapku pada Tio, aku sudah tahu pasti tidak ada harapan tapi aku menyakinkan diri sendiri bahwa Zahra masih bisa diselamatkan.
“Ikhlaskan Zahra ya Cin.” Tio menggenggam tanganku erat, mungkin menyalurkan rasa ikhlas.
“Tidak… Zahra jangan pergi,” kataku sambil menggenggam balik tangan Tio yang masih berada dalam genggaman.
Aku mulai tersadar Zahra, sahabatku telah pergi meninggalkanku. Zahra membawa semua kepedihan yang lama dia rasakan. Kekerasan yang Zahra alami meninggalkan luka yang begitu mendalam. *** Penulis ini bernama Faizah, Faizah suka menulis dan membaca buku fiksi tapi tidak dengan non-fiksi, Faizah sekolah di SMAN 1 Leces, Probolinggo. Faizah mempunyai karya di fizzo dengan nama akun; Faizah_chnl.
sumber : kompas.id, 07 Sep 2022.