Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dongeng Burung Hantu oleh Karisma Fahmi Y

Posted on Ming, 11 Sep 2022

Dira berhenti di taman burung. Rene segera menggandeng Dira menjauh dari tempat itu meski Dira ingin berfoto dengan merak berekor panjang yang bebas berjalan-jalan di taman itu. Napas Rene sesak melihat burung hantu yang bertengger di atas pohon.

”Kenapa, Ma?” tanya Dira dengan mata polosnya.

”Di kebun binatang, banyak kuman menempel di bulu-bulunya. Kuman mudah menyebar dan beterbangan di udara,” Rene mencoba memastikan. Namun, tak semudah itu mengalihkan Dira. Dira berhenti dan memperhatikan burung-burung itu dengan saksama. Mata lebarnya penuh ingin tahu.

”Lihat, Ma, itu burung hantu!” teriak Dira menunjuk ke atas pohon. Akhirnya Dira mengetahui juga makhluk yang ingin dirahasiakannya dari gadis kecil itu. Rantai logam menjerat kakinya supaya tidak terbang jauh.

Seketika Rene bergidik. Sebuah peristiwa melintas begitu saja di kepalanya. Tubuh Rene menggigil teringat sebuah kisah tentang burung hantu dan ampas tebu. Dulu ia selalu meminta ibunya mendongeng sebelum tidur. Ia paling takjub dengan cerita tentang Putri Bulan yang mudah penasaran tentang banyak hal.

***

Sama seperti dirimu, Putri Bulan itu mudah sekali penasaran, kata ibu menjawil hidungnya. Suatu ketika ia penasaran dengan cahaya putih yang gemerlapan di Bumi, saat bulan sedang purnama. Ia pun turun ke Bumi. Ternyata benda putih yang bersinar dari kejauhan itu adalah ampas tebu yang tertimpa sinar bulan. Merasa kecewa, ia kembali terbang ke Kahyangan. Namun Pak Tani telah menebarkan getah nangka untuk menjerat binatang yang sering mencuri hasil kebunnya di malam hari. Sayap dan baju sang Putri lengket di antara daun-daun yang telah dilumuri getah. Ia berusaha melepaskan diri, namun tubuh dan sayapnya semakin rekat. Ia menangis sepanjang malam. Berlahan-lahan tubuhnya berubah. Sayapnya melebar menutupi seluruh tubuh. Si Putri tak bisa kembali ke Kahyangan. Jadilah ia burung uhu, burung hantu yang menyesali rasa penasaran yang tak dapat dikendalikannya. Ia menangis sepanjang malam sambil menatap bulan, tempat tinggalnya di kahyangan.

Rene masih memendam cerita itu. Suara ibu yang merdu tersimpan baik di telinganya. Rene tak akan lupa peristiwa yang terjadi hari itu. Langit mulai gelap dan ketakutannya berlipat. Langit malam menghitam sempurna. Ia duduk di bawah batang-batang tebu yang tumbuh rapat. Kakinya bergetar lelah dan tak mampu lagi berlari. Ia berlari sejak azan asar berkumandang tak sempurna di surau dekat rumah, surau tempat ia dan kawan-kawannya bermain karet sore itu. Setelah azan Ashar berkumandang, biasanya mereka akan segera masuk ke dalam surau. Setelah shalat Ashar, mereka akan berkumpul di surau bagian samping dan mengaji pada Pak Amin. Namun sore itu adalah sore yang tak akan dilupakannya. Orang-orang datang dan membubarkan sore yang cerah itu dengan senjata tajam dan obor di tangan.

Ia hampir memenangkan seluruh karet milik teman-temannya ketika azan bergema. Seluruh karet itu akan ia jadikan tali. Sebagian karet yang telah ia menangkan beberapa hari lalu tersimpan rapi di bawah bantal. Karet kemenangannya sore itu akan cukup digunakan untuk tali yang panjang. Ia yakin bisa mengalahkan Ninik, Tiwi, dan Lansa di permainan itu. Namun sore itu orang-orang dari timur, penduduk pedalaman, datang. Mereka membawa parang dan senjata tajam. Matanya mengeluarkan api yang nyalanya lebih panas dari obor yang mereka bawa. Mereka meneriakkan kata-kata yang tak ia pahami. Ia tak tahu apa dan siapa yang mereka cari. Mereka masuk ke rumah-rumah para pekerja kebun.

Rene ketakutan. Ia menemukan ibunya di belakang rumah dengan luka di bagian leher. Lari, Rene! Lari ke kebun! Teriak ayah sebelum mereka menusuk dada kiri ayahnya dengan tombak. Ia lari ke arah barat, ke kebun tebu yang terbentang luas menuju perbatasan. Orang-orang itu mengejarnya. Ia tak tahu seberapa panjang jarak yang ia tempuh, ia lari dan terus berlari di antara rapatnya batang-batang tebu. Mereka mengejar. Mereka memangkas batang-batang tebu dengan parang tajam. Rene terus berlari menerabas daun-daun tebu. Daun tebu bukan daun yang ramah. Kulit tangan dan kakinya telah beberapa kali tergores dan luka. Ia tak peduli.

Rene jatuh terduduk. Kakinya lelah. Suara dan kemarahan orang-orang itu—dan juga bayangan ayah ibunya—membangkitkan ketakutan yang berlipat. Ia kembali bergerak dengan merangkak. Ketika berhenti, ia tak bisa menghentikan ingatan tentang peristiwa yang baru saja disaksikannya. Berhenti berlari hanya akan membuatnya ingat pada wajah dan tubuh terakhir ayah ibunya yang penuh luka. Rene kembali berlari. Batang-batang tebu di sebelah selatan cukup tinggi untuk menyembunyikan tubuh mungilnya. Mata bocahnya terus bersiaga melihat ke belakang, menyimak langkah-langkah besar yang terus mengejar. Bibirnya bergetar memanggil ayah dan ibunya. Air mata yang bercucuran tak hanya berisi kesedihan, namun juga ketakutan.

Gelap mulai turun. Suara-suara parang masih berdesingan di telinga meski ia tak lagi mendengar suara lain kecuali suara serangga malam. Gelap akan benar-benar menyembunyikannya. Tapi bagaimana kalau mereka membawa lampu, senter, atau yang lainnya?Bukankah mereka membawa obor? pikirnya sambil terus berlari. Kakinya benar-benar letih dan mati rasa. Tenggorokannya kering. Ingin rasanya ia menangis, tetapi ia tahu, belum saatnya. Ia tak boleh menangis dan belum boleh menyerah. Langit semakin gelap. Ia tak dapat menemukan apa-apa kecuali gelap di depannya. Ia tahu, kebun tebu itu masih panjang. Kebun tebu belum akan berakhir di jarak terdekat. Ia menguatkan diri dan kembali berlari.

Ketika malam turun dengan langit hitam sempurna, ia benar-benar tak lagi mendengar langkah pengejarnya. Ia memutuskan berhenti di pinggir pematang kecil. Ia mengenali pematang kecil itu. Ia dan Lansa pernah bersepeda ke situ. Ia meraba dalam gelap dengan tangan kecilnya. Ia membiarkan kakinya basah ketika menyeberangi sungai kecil itu dengan susah payah. Ia mengusap wajahnya dengan air, menyegarkan diri. Rene ingat, terakhir ia bermain-main di sungai kecil itu, seekor ular air bersembunyi di celah batu-batu. Ia mengakhiri penyegaran itu dengan segera. Ia tak mau menambah ketakutan hari itu dengan bertemu ular.

Ia ingat, tak jauh dari situ ada sebatang pohon tanjung. Ia pernah mengumpulkan biji-bijinya untuk diadu dengan biji milik teman-temannya. Ia selalu kalah dari biji milik Dalu. Kini semua itu membayang di ingatannya. Bagaimana keadaan mereka? bisiknya pelan. Malam semakin pekat. Matanya telah terbiasa dengan gelap. Ia memanjat pohon itu dan duduk di salah satu dahannya. Ia akan bersembunyi di sana malam itu.

Serangga dan burung malam menghadang di depannya, namun ia tak bisa melihatnya. Ia mendengar suara burung hantu. Di kejauhan, ia melihat api. Orang-orang itu membakar tempat tinggalnya. Asap membubung tinggi dibawa angin. Ia mulai menangis dan putus asa, seperti Putri Bulan dalam dongeng ibu. Rene menyandarkan tubuhnya ke pokok pohon tanjung. Ia menangis dan berharap bisa berubah menjadi seekor burung seperti putri yang ada di dongeng ibunya. Burung hantu yang menangis tersedu. ”Setidaknya aku bisa terbang dan mereka tak lagi mengejarku,” katanya pelan.

Rene menyimak gemerisik daun-daun tebu yang tertiup angin. Ia teringat kakek dan neneknya. Ayah membawanya pindah ke tempat ini enam bulan sebelumnya. Ayah bekerja di perkebunan tebu. Bersama yang lain mereka membuka hutan dan menanam ribuan hektar tebu untuk dipasok ke pabrik gula. Ayah dan pekerja yang lain tak pernah tahu bahwa kebun tebu itu ditanam di atas lahan sengketa. Para penduduk pedalaman membakar kampung-kampung tempat tinggal para pekerja.

Seperti biasa, malam itu banyak pertanyaan muncul di kepala Rene, namun ia hanya bisa bungkam. Ia tak tahu kepada siapa semua pertanyaan itu akan ia ajukan. Di kejauhan kepakan burung hantu mulai berdatangan. Ia lelap dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Keesokan paginya, para pekerja di kebun tebu seberang menemukan tubuhnya di tepi pematang. Mereka membawanya ke puskesmas terdekat.

***

Rene selalu bertanya tentang banyak hal. Mengapa ayam berkokok di pagi hari? Mengapa bebek selalu berisik? Mengapa nenek itu mengunyah sirih? Ke mana burung-burung itu pergi? Siapa yang menanam pohon-pohon di hutan?

”Rene, tidak semua pertanyaan itu harus kautanyakan. Ada baiknya pertanyaan itu kausimpan untuk dirimu sendiri. Kau bisa mulai berlatih untuk memikirkannya dengan ingatan,” kata ibunya.

”Tapi aku ingin tahu yang terjadi,” kata Rene.

”Kau akan menemukan jawabannya suatu saat nanti.”

”Bagaimana kalau aku lupa?”

”Selama belum mendapat jawabannya, kau akan mengingatnya. Jawaban terbaik adalah jawaban yang berasal dari hatimu. Dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab sekarang. Mungkin nanti, besok, kelak ketika dewasa, kau akan memahaminya. Kau harus bersabar.”

Namun Rene tak pernah berhenti bertanya.

”Siapa paman itu? Mengapa ia marah-marah?” tanyanya suatu ketika saat ibu mengajaknya ke pasar. Itu adalah hari terakhir ia pergi ke pasar bersama ibu.

”Ssstt! Jangan bertanya macam-macam di tempat seperti ini. Simpan semua pertanyaanmu. Nanti ibu jelaskan semuanya di rumah.”

Tapi Rene tak bisa menahan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.

”Mengapa mereka membawa babi? Apakah mereka juga akan memakannya?” tanyanya ketika seorang lelaki menenteng kepala babi. Lelaki itu menatapnya tajam. Ibu menutup mulut Rene dengan telapak tangan. Ibu berkali-kali meminta maaf pada orang itu dan segera mengajak Rene pulang.

”Ibu tidak akan mengajakmu ke pasar lagi!” kata ibu sesampainya mereka di rumah. Rene tak tahu di mana letak salahnya. Dan memang, ibu tak lagi mengajaknya ke pasar setelah hari itu.

Rene dan teman-temannya sedang bermain di halaman surau. Orang-orang itu datang dengan parang terhunus. Mereka membakar rumah dan menghabisi para pendatang dan membakar rumahnya.

”Tahu apa kalian, para pendatang? Kalian mengambil tanah dan kebun kami untuk mendirikan pabrik-pabrik kalian di tanah leluhur kami!” teriak lelaki yang bertubuh gempal, lelaki yang dilihatnya membawa kepala babi di pasar pagi tadi.

Peristiwa itu tak bisa lekang dari ingatan. Sebuah peristiwa yang menyisakan kepahitan. Kepahitan yang menjebak sebagaimana ampas tebu yang berhamburan dengan getah nangka yang menjadikannya menyesal seperti burung hantu.

*

Burung hantu itu masih di sana. Dira memotretnya. Rene mengawasinya dari kejauhan. Ia menarik napas panjang. Ia tak tahu apakah ia akan mendongengkan kisah yang sama untuk Dira sebagaimana ibu mendongengkan kisah itu padanya.

Pertanyaan-pertanyaan masih sering muncul dalam dirinya, namun seketika dibungkamnya. Sekali lagi ibunya benar, terkadang ia harus menyimpan pertanyaan-pertanyaan untuk dirinya sendiri. Putri Bulan kehilangan segalanya, dan Rene juga kehilangan semuanya. Ia tak ingin merasakan kehilangan yang lebih besar.

Maret 2017- Agustus 2022

Karisma Fahmi Y, lahir di Kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di beberapa media seperti Solopos, Joglosemar, Nova, Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, dan Koran Tempo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku kumpulan cerpennya adalah Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian diterbitkan oleh penerbit Basabasi, serta satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

Iwan Yusuf lahir di Gorontalo 19 Mei 1982, tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Belajar seni rupa secara otodidak, ikut program residensi Selasar Sunaryo, aktif berpameran bersama, peserta Biennale di beberapa kota dan geleri seni rupa. Aktif berpameran tunggal sebanyak tujuh kali dan menggagas pameran seni rupa out door bertajuk Menghadap Bumi.

sumber : harian Kompas edisi 11 September 2022 di halaman 9 dengan judul “Dongeng Burung Hantu”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme