Ia lebih tabah dari hujan yang turun di awal musim kemarau. Diseretnya langkah itu melewati pematang sawah. Meski terlihat lelah, ia akhirnya sampai juga. Ya, sampai di lahan yang menghampar memanjang. Lahan untuk menanam brambang.
Brambang memang telah melambungkan warga kampung Kahyangan. Tak sedikit warga yang semula kondisi ekonominya pas-pasan kini berubah jadi kecukupan. Berkat keberhasilannya bertani brambang atau bawang merah, lantai rumah telah dikeramik, televisi 40 inc nongkrong di ruang tamu, motor metik keluaran terbaru (bahkan ada yang mobil) menjadi penghuni garasi.
Kabar suksesnya warga Kahyangan telah mengusik Marno. Ia yang belasan tahun datar-datar saja menjalani hidup ingin mengubah nasib. Bermimpi agar bisa melambung. Seperti gunung, terlihat gagah jika dipandang dari lembah. Dan ia merasa bisa menjadi gunung, karena ada wanita setia yang telah menemaninya berpuluh tahun.
Sore itu, di akhir musim penghujan ia ingin mewujudkan mimpinya. Ngangsu kaweruh pada Kang Parlan di kampung Kahyangan, tak jauh dari rumahnya.
“Kalau mau hasilnya gedhe, ya brambang !”
“Bukan melon atau semangka, Kang ?”
“Ah, spekulasinya terlalu tinggi. Kita mudah dipermainkan tengkulak.”
“Bukannya brambang juga demikian?”
“Beda Mar. Semurah-murahnya harga brambang, pasti balik modal. Paling tidak, bisa kausimpan, dijual saat harga mahal. Kalu melon, keburu membusuk!”
Marno diam. Ia terlihat menimbang saran Parlan. Tak mudah baginya beralih dari menanam melon ke brambang. Tapi impian untuk melambungkan hidup mendesaknya. Juga rengekan istri untuk dibelikan (tepatnya menambah) perhiasan.
“Kalau kau mantap, aku siap bantu. Musim ini aku menyewa lima petak lahan di kampung Kwayuhan, dekat rumahmu. Kau bisa pakai sepetak dulu. Jangan kawatir, aku bantu soal teknisnya,” ujar Parlan memompa semangat sepupunya itu.
Keesokan harinya Marno membawa obrolan itu kepada Surti.
Seperti biasa pagi itu Surti menyiapkan sarapan. Ngulek bumbu untuk masak sayur lodeh. Mendengar cerita suaminya, semangat hidupnya menyala. Tapi…
“Tapi, modalnya dari mana Kang? Hasil panen padi tahun ini sebagian untuk menutup utang akibat musim palawija kemarin kita gagal panen melon.”
Marno tak menjawab. Ia hanya memandangi kalung emas di leher istrinya. Leher jenjang yang tadi malam dilumatnya. Dilumat dengan gairah yang membuncah!
Dan kini, ia harus merayu istrinya lagi. Bukan. Bukan untuk melumat leher jenjangnya, tapi agar Surti mau melepas kalungnya. Menjualnya ke toko Haji Sadik untuk modal menanam brambang. Rayuan dan pandangan suaminya membuat konsentrasi Surti ngulek bumbu jadi terganggu, hingga ada yang memercik ke matanya.
“Wis Kang, uwiiis. Lihat ini…”
Mata Surti berkaca-kaca terkena percikan bumbu. Mata bening perempuan ayu itu mbrambangi (seperti orang menangis), menahan pedas. Marno pun segera memeluk istrinya. Seakan hendak berkata: ya saudah kalau kau tidak setuju, aku akan cari jalan lain. Belum sempat ia mengutarakan isi hatinya, istrinya lirih berkata.
“Aku tak keberataran melepas kalung ini. Asal, kembalinya lebih bagus dan gedhe…”
Seperti rindhik asu dhigitik, Marno lekas mengantar istrinya ke toko mas Haji Sadik. Di bawah langit mendung akhir musim penghujan, mata Surti berkaca-kaca melepas perhiasan kesayangan. Tak hanya kalung, tapi juga gelang.
Marno segera menghubungi Parlan. Mencari bibit brambang. Mengontak teman menyiapkan lahan. Membeli pestisida dan pupuk. Dan kebutuhan lainnya. Setelah lahan siap tanam, pada hari Kamis Pon (menurut perhitungannya sebagai hari baik), prosesi wur (menanam) brambang dikerjakan.
Di tahap awal sudah menghabiskan tak kurang dua puluh juta. Uang sebesar itu tak semuanya hasil penjualan perhiasan istrinya. Marno masih harus nyebrak (pinjam) teman dan saudara sana-sini. Biaya sewa juga belum dihitung. Berkat kebaikan Parlan, Marno boleh melunasi sewa setelah panen. Marno coba melupakan modalnya, saat melihat tanaman brambang itu mulai kuncup daunnya, sebuah pemandangan yang memberi harapan.
Meski memberi harapan, Marno tak luput kewaspadaan. Ia mengantisipasi yang mungkin terjadi. Ngobrol dengan sesama petani brambang yang telah berpengalaman, termasuk mencari referensi di google. Dari obrolan dengan mereka, kekurangan pada tanamannya hanya satu: tidak dibuat gundukan pada bagian yang ditanami. Jika musim normal hal itu tak diperlukan. Apalagi, modal Marno pas-pasan. Pengerjaan membuat gundukan membutuhkan dana yang tidak kecil. Tapi…
Kemarau tahun ini diperkirakan mundur. Bulan Juni masih dimungkinkan terjadi hujan…. Demikian kabar yang Marno baca lewat telpon genggam.
“Jangan panik. Siapkan diesel. Kalau kebanjiran, air disedot dan dibuang pakai diesel. Beres!” Kata Parlan menyemangati. Malam itu, ketika orang sedang nyenyak tidur, ia bersama dua orang buruhnya mengoperasikan diesel untuk menyedot air yang menggenangi tanaman brambang. Harus malam itu. Hujan sejak siang hingga magrib tadi telah membuat tanaman brambangnya kebanjiran.
Paginya Marno dan istri ke sawah menengok tanaman harapannya. Air sudah teratasi. Terkena sinar matahari pagi, tanaman itu kembali memberi harapan. Suami istri itu pun pulang. Sesampai di rumah, hujan menyambutnya. Marno kembali panik, tapi istrinya menyemangati.
Selepas Magrib, Marno ke sawah membawa diesel. Sendirian, tidak mengajak teman. Ia telah hafal mengatasi air yang menggenangi lahan brambangnya. Hujan di malam itu tak kunjung reda. Marno tampak menunggu di pinggiran desa. Lewat tengah malam hujan baru reda. Marno tak sabar mengoperasikan dieselnya. Baru satu jam reda, hujan kembali turun. Kali ini sangat deras. Deras sekali, hingga mencabik sunyi dini hari.
Subuh itu Surti bangun tanpa Marno di sampingnya. Ia segera teringat, suaminya pamit ke sawah membawa diesel. Ia pun beranjak, berkemas secukupnya lalu pergi ke sawah. Di pagi yang masih basah, beriring gerimis, ia terus melangkah. Air menggenang setinggi lutut tak membuat niatnya goyah. Meski orang-orang mengingatkan agar perempuan itu tidak nekat melangkah ke tengah. Tapi Surti pantang menyerah. Dibanding hujan yang kerap turun di musim kemarau, ia masih lebih tabah.
Wisma Aksara, 2022.
***
Marwanto, buku cerpennya yang telah terbit: Kado Kemenangan (2016), Hujan Telah Jadi Logam (2019) dan Aroma Wangi Anak-anak Serambi (2021). Cerpennya Trah Wongso Cukur menang lomba cipta cerpen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Sumbar 2021. Tinggal di Yogyakarta menggerakkan komunitas Lumbung Aksara (2006-sekarang), membina komunitas Sastra-Ku (2019-sekarang) serta mengetuai Forum Sastra dan Teater Kulonprogo (2915-sekarang).
sumber : kompas.id, 15 Sep 2022.