”Sudah tambah besar.”
Larasati menghentikan kegiatannya. Perasaannya terguncang. Butuh beberapa waktu untuk kembali menormalkan pompaan jantungnya yang beradu cepat.
”Iya.” Suara yang dipaksa keluar itu tenggelam oleh lenguhan Bintang Timur.
Sais benar-benar kembali, bahkan mereka masih mengenalinya. Laras tertunduk cukup lama, bingung dengan apa yang akan dia lakukan kepada sosok yang tiba-tiba berada di hadapannya. Kisah silam yang sudah dilupakan oleh orang-orang sepertinya akan kembali mengisi gelas-gelas di warung kopi, bekal di pematang sawah, dan rumpi ibu-ibu di setiap rumah. Mungkin juga sekeping hati yang telah lama dilanda sepi.
”Bapak sehat?” Sais menepuk kedua tangan setelah memberikan setumpuk rumput segar pada sapi-sapi, sementara Laras mematung. Pendengarannya tidak terganggu barang satu pun, tetapi tidak ada jawaban bagus yang bisa dia berikan.
Abdul Beri, ayahnya, bukan lagi lelaki perkasa yang disebut-sebut oleh para tetangga. Namanya tenggelam bersama kekalahan demi kekalahan yang dialaminya.
Laras membawa Sais ke dalam rumah. Abdul Beri tengah mengelap kain berwana kuning keemasan dengan wajah murung. Lelaki yang rambutnya sudah ditumbuhi uban itu bahkan tak sadar dengan kedatangan mereka. Ragu-ragu, Laras duduk di sampingnya, membisikkan sesuatu yang membuat lelaki itu seketika menoleh untuk kemudian pergi dari sana.
”Bapak kenapa?” Sais tidak bisa untuk tidak bertanya.
Laras memandangi wajah Sais yang sudah lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu. Kenangan demi kenangan itu semuanya terputar dengan sangat jelas dalam ingatannya.
***
Pagi buta di kediaman Abdul Beri sudah ramai. Teko bergilir dari satu tangan ke tangan yang lain. Gorengan pisang yang sebelumnya memenuhi talam sudah tinggal separuh.”Ambhin untuk Bintang, Laras yang buat, Kang.” Laras berucap malu-malu kepada Sais yang membantu membawakan makanan.
”Semoga menang.” Sais berbisik dan segera berlalu sebelum ada yang melihatnya.
Anak majikan dan joki itu sudah lama saling menaruh rasa. Namun, Sais tidak pernah berani terang-terangan. Dia paham betul dengan perangai Abdul Beri. Orang miskin sepertinya tidak mungkin memiliki kesempatan untuk mendekati putri seorang Abdul Beri. Tersebab demikian, saat sang majikan mengatakan akan mengabulkan apa pun permintaannya jika Bintang Timur meraih jurara, Sais akan berjuang setengah mati untuk mendapatkannya. Kesempatan terbuka lebar dan dia tidak boleh menyia-nyiakan hal itu.
Saat matahari mulai naik sepenggalah, Bintang Timur digiring keluar dari kandang. Ahmad Thoha mengambil ambhin dan obhet dari tangan Laras, lalu memasangkannya di tubuh bagian belakang dan kepala jagoannya.
Gendang, gong kecil dan besar, dan semua perlengkapan saronen kini sudah mulai ditabuh, mengiringi langkah Bintang Timur. Setelah cukup lama, barulah semuanya diangkut ke atas mobil pick up, lalu berangkat. Festival kali ini mereka akan bertanding memperebutkan piala kabupaten. Semuanya, tak terkecuali Sais, sangat berharap akan kemenangan Bintang Timur agar bisa melanjutkan di piala karesidenan.
”Bapak percaya kamu, Nak.” Abdul Beri menepuk pundak Sais.
”Enggih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.” Sais mengelus punggung Bintang Timur dan melihat ambhin yang dipakai. Semangatnya semakin berkobar.
Area berdebu berada di depan mata. Para peserta sudah banyak yang berdatangan. Lintasan sepanjang 100 m itu akan menentukan ke mana piala yang dijejer di bangku pinggir lapangan akan berlabuh.
Sais mengikuti Ahmad Thoha ke sisi kiri lapangan. Sebentar lagi gilirannya tiba, Bintang Timur tengah dilucuti ambhin-nya, sementara obhet yang berwarna merah terang dibiarkan bertengger di atas kepala.
”Jangan diletakkan sembarang, Paman!” Sais melirik kain yang tengah dipegang Thoha, kemudian mengambil botol balsam yang ada di tangan kirinya.
”Kamu bersiap saja, Sais. Paman yang akan mengolesinya.”
Sais mengeratkan ikat pinggang dan bersiap menunggagi kaleles, hanya tinggal menunggu aba-aba dari wasit. Waktu terasa menjadi lebih lambat. Selama menjadi joki Bintang Timur, baru kali ini dia merasakan kegugupan yang luar biasa. Ada ’beban’ yang dia emban.
”Jangan gugup, Sais, sapi-sapi ini berada dalam kendalimu. Kamu pasti menang.” Abdul Beri mengelus punggung kedua sapinya yang sudah mulai bergerak tak teratur.
Dalam hitungan ketiga, peluit dibunyikan. Sais dengan gagah memacu Bintang Timur. Kegugupan yang sempat menghampiri kini telah sempurna hilang. Dia bak pendekar yang sedang menuggangi kuda terbang. Sorak-sorai penonton memenuhi lapangan. Sais bahkan masih bisa mendengar Abdul Beri yang meneriakkan namanya.
Pertandingan itu berakhir degan kabar yang membahagiakan. Bintang Timur akan mewakili Songennep untuk berlaga di ajang piala karesidenan. Abdul Beri senang bukan main. Sepanjang jalan pulang, saronen ditabuh. Pujian terhadap Sais juga terus menghiasi bibirnya.
”Paman, ambhin-nya mana?” Sais berbisik kepada Thoha. Thoha menunjuk plastik hitam yang berada di pinggir mobil.
”Tumben kau begitu peduli dengan ambhin itu.”
Sama-sama bekerja pada Abdul Beri, Sais cukup akrab dengan Thoha. Sais yang kehilangan ayah sejak kecil seperti menemukan orangtua baru. Walaupun yang dipanggil bapak adalah Abdul Beri, tetapi hanya kepada Thoha-lah, Sais sesekali berkeluh kesah.
”Laras yang buat, Paman.” Sais mengecilkan volume suaranya agar tak terdengar oleh anggota yang lain.
Thoha menarik napas. Baginya, jawaban Sais adalah petaka besar. ”Apa kau akan menagih janji Kak Dul?”
Sais mengangguk. Hanya ini celah yang dia miliki untuk mengikat hatinya yang telah tertambat pada anak majikannya.
Namun, sore itu angan terlalu tinggi yang dimiliki Sais harus terempas dengan begitu tidak terhormat. Abdul Beri marah besar demi mendengar permintaan Sais ketika semua tamu sudah bubar dari jamuan kemenangan.
”Sengko ’ta’ butho been pole, Cong. Mule been. Korang ajher!”
Sais tidak melakukan pembelaan. Semua makian Abdul Beri diterima dalam diam. Dia beranjak pergi dengan membawa ambhin yang digenggam sejak tadi, meninggalkan Laras yang tak berhenti menangis di sudut ruangan.
”Kang ….”
Sais tidak menoleh lagi sebelum suara lantang itu kembali terdengar.
”Berhenti!” Abdul Beri mengejar dirinya yang sudah berada di dekat pintu gerbang.
Tanpa aba-aba, lelaki paruh baya itu menarik ambhin dari tangannya dengan kasar sehingga kainnya sobek dan tersisa secarik kecil saja.
Senja waktu itu menjadi kali terakhir Sais menginjakkan kaki di rumah Laras. Dia pergi merantau tanpa pamit kepada siapa pun. Sontak saja hal demikian menjadi buah bibir orang-orang. Mayoritas mereka kasihan dan menyayangkan sikap Abdul Beri yang tidak tahu terima kasih. Selama itu pula, banyak hal yang terjadi dengan Abdul Beri dan Bintang Timur.
Di piala karesidenan, Bintang Timur mengalami kekalahan. Joki yang baru tidak bisa menggantikan posisi Sais yang sudah bekerja sangat lama. Abdul Beri menjadi lebih banyak diam, apalagi setelah mencoba mengikutsertakan kembali Bintang Timur di festival-festival kecil. Semua usaha itu tetap tidak berhasil.
***
Pertandingan itu berakhir degan kabar yang membahagiakan. Bintang Timur akan mewakili Songennep untuk berlaga di ajang piala karesidenan. Abdul Beri senang bukan main. Sepanjang jalan pulang, saronen ditabuh. Pujian terhadap Sais juga terus menghiasi bibirnya.
”Sepertinya Bapak menyesal, Kang. Beliau sering menyebut namamu ketika tertidur.”
Sais memperhatikan Laras yang menuangkan kopi sambil bercerita. Perasaannya masih sama. Dia merindukan wanita di depannya.
”Dua minggu lagi, kita ikutkan Bintang Timur jika Bapak mau. Aku lihat sapi itu masih kuat. Kau merawatnya dengan baik.”
Tidak ada basa-basi lagi di antara keduanya. Sais mengetahui betul batasan-batasan yang tidak boleh dia langgar. Mereka baru bercakap lagi setelah Abdul Beri mengizinkan rencana itu.
”Maafkan Bapak, Nak.”
Sais mengangguk. Dia tahu apa arti maaf yang diucapkan Abdul Beri. Sesobek ambhin yang dibawanya tidak akan pernah utuh lagi. Dia menoleh sejenak ke pingir lapangan, melihat lelaki yang sedang menggamit tangan Laras, lalu memacu kembali Bintang Timur dengan gagah. Begitulah garis takdirnya. Sais milik Bintang Timur, bukan majikannya.
***
Catatan:
Ambhin: pakaian/hiasan yang disampirkan di tubuh sapi
Obhet: hiasan di kepala sapi
Kaleles: kayu yang ditunggangi oleh Joki
Joki: Orang yang berdiri dan menarik kaleles saat perlombaan
Sengko’ ta’ butho been pole, Cong. Mule been. Korang ajher!: Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, pulang sana! Kurang ajar.
sumber : kompas.id, 17 Sep 2022.