Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ambhin yang Sobek oleh Zamiliyah

Posted on Sab, 17 Sep 2022

”Sudah tambah besar.”

Larasati menghentikan kegiatannya. Perasaannya terguncang. Butuh beberapa waktu untuk kembali menormalkan pompaan jantungnya yang beradu cepat.

”Iya.” Suara yang dipaksa keluar itu tenggelam oleh lenguhan Bintang Timur.

Sais benar-benar kembali, bahkan mereka masih mengenalinya. Laras tertunduk cukup lama, bingung dengan apa yang akan dia lakukan kepada sosok yang tiba-tiba berada di hadapannya. Kisah silam yang sudah dilupakan oleh orang-orang sepertinya akan kembali mengisi gelas-gelas di warung kopi, bekal di pematang sawah, dan rumpi ibu-ibu di setiap rumah. Mungkin juga sekeping hati yang telah lama dilanda sepi.

”Bapak sehat?” Sais menepuk kedua tangan setelah memberikan setumpuk rumput segar pada sapi-sapi, sementara Laras mematung. Pendengarannya tidak terganggu barang satu pun, tetapi tidak ada jawaban bagus yang bisa dia berikan.

Abdul Beri, ayahnya, bukan lagi lelaki perkasa yang disebut-sebut oleh para tetangga. Namanya tenggelam bersama kekalahan demi kekalahan yang dialaminya.

Laras membawa Sais ke dalam rumah. Abdul Beri tengah mengelap kain berwana kuning keemasan dengan wajah murung. Lelaki yang rambutnya sudah ditumbuhi uban itu bahkan tak sadar dengan kedatangan mereka. Ragu-ragu, Laras duduk di sampingnya, membisikkan sesuatu yang membuat lelaki itu seketika menoleh untuk kemudian pergi dari sana.

”Bapak kenapa?” Sais tidak bisa untuk tidak bertanya.

Laras memandangi wajah Sais yang sudah lebih berisi dari terakhir kali mereka bertemu. Kenangan demi kenangan itu semuanya terputar dengan sangat jelas dalam ingatannya.

***

Pagi buta di kediaman Abdul Beri sudah ramai. Teko bergilir dari satu tangan ke tangan yang lain. Gorengan pisang yang sebelumnya memenuhi talam sudah tinggal separuh.”Ambhin untuk Bintang, Laras yang buat, Kang.” Laras berucap malu-malu kepada Sais yang membantu membawakan makanan.

”Semoga menang.” Sais berbisik dan segera berlalu sebelum ada yang melihatnya.

Anak majikan dan joki itu sudah lama saling menaruh rasa. Namun, Sais tidak pernah berani terang-terangan. Dia paham betul dengan perangai Abdul Beri. Orang miskin sepertinya tidak mungkin memiliki kesempatan untuk mendekati putri seorang Abdul Beri. Tersebab demikian, saat sang majikan mengatakan akan mengabulkan apa pun permintaannya jika Bintang Timur meraih jurara, Sais akan berjuang setengah mati untuk mendapatkannya. Kesempatan terbuka lebar dan dia tidak boleh menyia-nyiakan hal itu.

Saat matahari mulai naik sepenggalah, Bintang Timur digiring keluar dari kandang. Ahmad Thoha mengambil ambhin dan obhet dari tangan Laras, lalu memasangkannya di tubuh bagian belakang dan kepala jagoannya.

Gendang, gong kecil dan besar, dan semua perlengkapan saronen kini sudah mulai ditabuh, mengiringi langkah Bintang Timur. Setelah cukup lama, barulah semuanya diangkut ke atas mobil pick up, lalu berangkat. Festival kali ini mereka akan bertanding memperebutkan piala kabupaten. Semuanya, tak terkecuali Sais, sangat berharap akan kemenangan Bintang Timur agar bisa melanjutkan di piala karesidenan.

”Bapak percaya kamu, Nak.” Abdul Beri menepuk pundak Sais.

”Enggih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan.” Sais mengelus punggung Bintang Timur dan melihat ambhin yang dipakai. Semangatnya semakin berkobar.

Area berdebu berada di depan mata. Para peserta sudah banyak yang berdatangan. Lintasan sepanjang 100 m itu akan menentukan ke mana piala yang dijejer di bangku pinggir lapangan akan berlabuh.

Sais mengikuti Ahmad Thoha ke sisi kiri lapangan. Sebentar lagi gilirannya tiba, Bintang Timur tengah dilucuti ambhin-nya, sementara obhet yang berwarna merah terang dibiarkan bertengger di atas kepala.

”Jangan diletakkan sembarang, Paman!” Sais melirik kain yang tengah dipegang Thoha, kemudian mengambil botol balsam yang ada di tangan kirinya.

”Kamu bersiap saja, Sais. Paman yang akan mengolesinya.”

Sais mengeratkan ikat pinggang dan bersiap menunggagi kaleles, hanya tinggal menunggu aba-aba dari wasit. Waktu terasa menjadi lebih lambat. Selama menjadi joki Bintang Timur, baru kali ini dia merasakan kegugupan yang luar biasa. Ada ’beban’ yang dia emban.

”Jangan gugup, Sais, sapi-sapi ini berada dalam kendalimu. Kamu pasti menang.” Abdul Beri mengelus punggung kedua sapinya yang sudah mulai bergerak tak teratur.

Dalam hitungan ketiga, peluit dibunyikan. Sais dengan gagah memacu Bintang Timur. Kegugupan yang sempat menghampiri kini telah sempurna hilang. Dia bak pendekar yang sedang menuggangi kuda terbang. Sorak-sorai penonton memenuhi lapangan. Sais bahkan masih bisa mendengar Abdul Beri yang meneriakkan namanya.

Pertandingan itu berakhir degan kabar yang membahagiakan. Bintang Timur akan mewakili Songennep untuk berlaga di ajang piala karesidenan. Abdul Beri senang bukan main. Sepanjang jalan pulang, saronen ditabuh. Pujian terhadap Sais juga terus menghiasi bibirnya.

”Paman, ambhin-nya mana?” Sais berbisik kepada Thoha. Thoha menunjuk plastik hitam yang berada di pinggir mobil.

”Tumben kau begitu peduli dengan ambhin itu.”

Sama-sama bekerja pada Abdul Beri, Sais cukup akrab dengan Thoha. Sais yang kehilangan ayah sejak kecil seperti menemukan orangtua baru. Walaupun yang dipanggil bapak adalah Abdul Beri, tetapi hanya kepada Thoha-lah, Sais sesekali berkeluh kesah.

”Laras yang buat, Paman.” Sais mengecilkan volume suaranya agar tak terdengar oleh anggota yang lain.

Thoha menarik napas. Baginya, jawaban Sais adalah petaka besar. ”Apa kau akan menagih janji Kak Dul?”

Sais mengangguk. Hanya ini celah yang dia miliki untuk mengikat hatinya yang telah tertambat pada anak majikannya.

Namun, sore itu angan terlalu tinggi yang dimiliki Sais harus terempas dengan begitu tidak terhormat. Abdul Beri marah besar demi mendengar permintaan Sais ketika semua tamu sudah bubar dari jamuan kemenangan.

”Sengko ’ta’ butho been pole, Cong. Mule been. Korang ajher!”

Sais tidak melakukan pembelaan. Semua makian Abdul Beri diterima dalam diam. Dia beranjak pergi dengan membawa ambhin yang digenggam sejak tadi, meninggalkan Laras yang tak berhenti menangis di sudut ruangan.

”Kang ….”

Sais tidak menoleh lagi sebelum suara lantang itu kembali terdengar.

”Berhenti!” Abdul Beri mengejar dirinya yang sudah berada di dekat pintu gerbang.

Tanpa aba-aba, lelaki paruh baya itu menarik ambhin dari tangannya dengan kasar sehingga kainnya sobek dan tersisa secarik kecil saja.

Senja waktu itu menjadi kali terakhir Sais menginjakkan kaki di rumah Laras. Dia pergi merantau tanpa pamit kepada siapa pun. Sontak saja hal demikian menjadi buah bibir orang-orang. Mayoritas mereka kasihan dan menyayangkan sikap Abdul Beri yang tidak tahu terima kasih. Selama itu pula, banyak hal yang terjadi dengan Abdul Beri dan Bintang Timur.

Di piala karesidenan, Bintang Timur mengalami kekalahan. Joki yang baru tidak bisa menggantikan posisi Sais yang sudah bekerja sangat lama. Abdul Beri menjadi lebih banyak diam, apalagi setelah mencoba mengikutsertakan kembali Bintang Timur di festival-festival kecil. Semua usaha itu tetap tidak berhasil.

***

Pertandingan itu berakhir degan kabar yang membahagiakan. Bintang Timur akan mewakili Songennep untuk berlaga di ajang piala karesidenan. Abdul Beri senang bukan main. Sepanjang jalan pulang, saronen ditabuh. Pujian terhadap Sais juga terus menghiasi bibirnya.

”Sepertinya Bapak menyesal, Kang. Beliau sering menyebut namamu ketika tertidur.”

Sais memperhatikan Laras yang menuangkan kopi sambil bercerita. Perasaannya masih sama. Dia merindukan wanita di depannya.

”Dua minggu lagi, kita ikutkan Bintang Timur jika Bapak mau. Aku lihat sapi itu masih kuat. Kau merawatnya dengan baik.”

Tidak ada basa-basi lagi di antara keduanya. Sais mengetahui betul batasan-batasan yang tidak boleh dia langgar. Mereka baru bercakap lagi setelah Abdul Beri mengizinkan rencana itu.

”Maafkan Bapak, Nak.”

Sais mengangguk. Dia tahu apa arti maaf yang diucapkan Abdul Beri. Sesobek ambhin yang dibawanya tidak akan pernah utuh lagi. Dia menoleh sejenak ke pingir lapangan, melihat lelaki yang sedang menggamit tangan Laras, lalu memacu kembali Bintang Timur dengan gagah. Begitulah garis takdirnya. Sais milik Bintang Timur, bukan majikannya.

***

Catatan:

Ambhin: pakaian/hiasan yang disampirkan di tubuh sapi

Obhet: hiasan di kepala sapi

Kaleles: kayu yang ditunggangi oleh Joki

Joki: Orang yang berdiri dan menarik kaleles saat perlombaan

Sengko’ ta’ butho been pole, Cong. Mule been. Korang ajher!: Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, pulang sana! Kurang ajar.

sumber : kompas.id, 17 Sep 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme