Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bayi dalam Kaca oleh Mashdar Zainal

Posted on Ming, 25 Sep 2022

Mirella mungkin tak memiliki ibu, sebab ia muncul dari batu karang berebentuk tanduk rusa dalam sebuah akuarium raksasa di rumah Tuan Holder. Mirella menyembul begitu saja dari sela-sela batu karang, mirip anak ikan yang baru saja menetas, berenang terpatah-patah. Sepasang kakinya yang mungil menendang-nendang air, tangannya mengipas-ngipas bagai sepasang sirip. Dan dari mulutnya, gelembung-gelembung kecil melayang naik, menimbulkan suara ‘blup’ yang terdengar lemah di permukaan air.

Orang pertama yang melihat Mirella kecil dalam akuarium adalah Bibi Blonas, salah satu pembantu Tuan Holder, yang mendapat tugas khusus: membersihkan segala perkakas dan perabot yang terbuat dari kaca—perabotan dari kayu atau porselen atau gerabah atau batu, dan lain-lain, sudah ada yang mengurusnya sendiri. Bibi Blonas tidak akan menyentuh perkakas atau perabot yang bukan jatah tugasnya. Tuan Holder punya tujuh orang pembantu, dan setiap pembantu punya tugasnya masing-masing. Dan Bibi Blonas yang paling istimewa, begitulah setidaknya ia merasa, bahwa dirinya sangat beruntung mendapat tugas itu: mengurus perkakas kaca, lebih-lebih setelah ia menemukan Mirella.

Hari itu adalah hari kesembilan dari bulan kesepuluh. Dua hari setelah milad istri Tuan Holder. Bibi Blonas sedang membersihkan kaca akuarium dengan kanebo basah berwarna merah muda. Tuan Holder dan istrinya baru saja mentas berenang dari akuarium raksasa itu, mengenakan handuk, dan menghilang dalam ruangan pribadinya. Usai berenang mereka lanjut bercinta. Tuan Holder dan istrinya sering sekali bercinta, kapan saja, dan mereka melakukan itu bukan semata urusan birahi. Sudah lama sekali mereka menginginkan anak, dan sesering apapun mereka bercinta, rahim istri Tuan Holder tak juga disinggahi bakal janin. Untungnya mereka bukan orang yang mudah menyerah.

“Semakin sering kita bercocok tanam, semakin banyak pula kesempatan kita panen,” ucap Tuan Holder pada istrinya, penuh penghiburan.

Mereka sudah pergi ke beberapa dokter, dan beberapa dokter menyatakan tidak ada masalah dengan sistem reproduksi mereka. Mereka hanya belum dikasih anak. Itu saja. Maka, ketika Bibi Blonas menemukan bayi perempuan sedang berenang dalam akuarium raksasa, Tuan Holder dan istrinya amat girang. Mereka berdua yakin bayi itu adalah milik mereka.

Barangkali, saat rumah sedang kosong (atau sengaja dikosongkan), Tuan Holder dan istrinya bercinta dalam akuarium raksasa itu. Mungkin saja Mirella ada sebab itu. Bisa saja, usai bercinta, benih Tuan Holder tercecer dan mengendap di dasar akuarium, dan jadilah Mirella. Ilmu pengetahuan mengatakan benih lelaki hanya akan tumbuh kalau ia bertemu sel telur yang tersembunyi di tempat hangat dalam tubuh perempuan. Tapi kata keajaiban bisa lain. Keajaiban seringkali berjalan menyeberang pagar ilmu pengetahuan. Dan di luar pagar itulah Mirella muncul.

“Tuaaan! Ada bayi dalam akuarium…” Pekik Bibi Blonas ketika itu, pekikan yang terdengar datar.

Perempuan paruh baya itu menonton, namun tatapannya seperti kosong. Di hadapannya terjabar sebuah kejaiban berupa bayi mungil yang tengkurap tenang di dasar akuarium, dilewati gerombolan ikan diskus dan ikan tetra yang tak bisa diam. Bibi Blonas sempat cemas kalau bayi itu lapar dan memakan ikan-ikan lain. Tapi itu tak pernah terjadi.

Beberapa saat kemudian, dalam keadaan terengah-engah, Tuan Holder muncul dari balik pintu kamar dan berseru, “Ha? Apa kau tadi bilang ada bayi dalam akuarium?”

Bibi Blonas tidak menjawab, sebab Tuan Holder sudah menyaksikan sendiri bayi lucu itu tersenyum mengedarkan pandangan di dasar akuarium raksasa miliknya.

“Lilhatlah, itu pasti bayimu. Itu bayi kita,” seru Tuan Holder pada istrinya.

Istri Tuan Holder muncul menyusul, perempuan itu tercekat dalam buntalan handuk tebal yang dikenakannya. “Apakah kalian tadi bilang soal bayi…” ia bertanya ragu-ragu. Memandangi seisi akuarium dengan matanya yang cekung, dengan tatapan bingung. Perempuan itu memang tak memiliki tatapan jenis lain, selain tatapan bingung. Selalu bingung.

Tuan Holder berlari menaiki tangga dan terjun ke dalam akuarium raksasa, dan dalam sekejap ia telah berenang mendekati bayi itu, gerombolan ikan diskus dan ikan tetra membuyarkan diri sebab kaget.

Seekor udang raksasa berwarna biru tua melongokkan kepalanya dari balik batu di dasar akuarium. Dan dua ekor kura-kura berenang di sudut jauh tanpa memedulikan yang lain. Bibi Blonas dan istri Tuan Holder melihat Tuan Holder berenang dengan semangat di sekitar si bayi yang masih dalam keadaan tengkurap, Bayi yang sangat mungil. Bayi itu bergerak ringan, menjauhi Tuan Holder sambil tertawa. Tuan Holder memburu bayi itu dan tampak berusaha untuk tidak membuatnya takut. Tuan Holder mengajak bayi itu berbincang seolah tengah membuat kesepakatan. Setelah berenang dalam beberapa gerakan cepat, menguntit si bayi, Tuan Holder mencengkeram tubuh kelewat mungil itu dengan susah payah dan membawanya ke permukaan air. Air mengalir turun dari ujung kepala Tuan Holder dan tubuh si bayi.

Bibi Blonas dan istri Tuan Holder berlari menaiki tangga. Di atas akuarium raksasa itu, Tuan Holder menggendong tubuh si bayi. Si bayi memberontak tak mau digendong. Istri Tuan Holder menyeru Bibi Blonas supaya mengambil handuk untuk membedong tubuh si bayi.

“Apakah ia seorang bayi perempuan?” tanya istri Tuan Holder serupa desahan.

“Ya, dan kunamakan dia Mirella,” sahut Tuan Holder cepat-cepat, “bagaimana menurut kalian?” tanya Tuan Holder balik.

“Nama yang bagus, Tuan,” balas Bibi Blonas.

“Mirella?” istri Tuan Holder menimbang-nimbang. Bingung.

“Ya, Mirella. Tidak ada alasan mengapa Mirella. Nama itu muncul begitu saja di kepalaku saat aku memikirkan soal nama. Dan kukira itu cocok. Ada yang keberatan?”

“Mirella,” ulang istri Tuan Holder dengan nada datar.

Istri Tuan Holder memohon diri untuk menggendong bayi itu, “Mungkin dia butuh susu,” ujar istri Tuan Holder. Ia tidak tahu apakah payudaranya bisa mengeluarkan susu, tapi ia membuka satu payudaranya dan menyodorkannya pada si bayi. Jelas sekali, bayi itu tidak tertarik. Alih-alih, bayi itu meronta-ronta, dan mulutnya megap-megap seolah kehabisan udara. Istri Tuan holder membungkus kembali payudara tertolak itu.

“Ada apa dengan bayinya?” seru istri Tuan Holder panik.

Bayi itu terus saja meronta dan megap-megap, kaki mungilnya menendang-nendang lengan istri Tuan Holder dan jari-jari tipisnya meremat-meremat udara, dari mulutnya mucul decitan-decitan kecil. Serta merta Bibi Blonas teringat ikan-ikan yang terdampar ke daratan sebab pemancing, jala, dan lain hal. “Mungkin Anda harus mengembalikan bayi itu ke dalam air,” saran Bibi Blonas.

Tuan Holder merebut bayi itu dari dekapan istrinya dan menceburkannya ke dalam air. Dalam hitungan detik bayi itu meluncur gembira, persis seekor ikan yang selamat dari tangan pemburu. Kesan sedih dan bingung terjabar di wajah istri Tuan Holder.

“Mirella lahir di dalam air dan dia akan hidup di dalam air. Mirella tidak sama dengan bayi-bayi lainnya, dia sedikit istimewa,” tutur Tuan Holder pada istrinya.

Istri Tuan holder menjawab dengan gumaman-gumaman yang tak bisa didengar siapapun. Namun Tuan Holder selalu paham. Tuan Holder sudah menyiapkan jawaban.

“Aku akan menyiapkan keranjang bayi di kamar kita, dan kita bisa berangkat tidur sambil mengawasinya. Bukankah itu bagus, Bibi Blonas?” Tuan Holder bepaling ke Bibi Blonas.

“Tentu. Dan aku akan membersihkan keranjang bayi itu setiap hari agar tetap kinclong, sehingga pantauan Tuan dan Nyonya tidak akan terganggu,” Bibi Blonas mencetuskan dukungan dengan datar.

“Keranjang bayi itu akan datang, setidaknya satu jam dari sekarang,” tukas Tuan Holder, seolah sudah menyiapkan itu jauh-jauh hari.

Beberapa meter, di hadapan akuarium raksasa itu, berjajar tiga sofa empuk berwana emas, menghadap tepat ke akuarium. Perabot itu sudah lama ada di sana. Sebelum Mirella hadir, Tuan Holder dan istrinya senang sekali bersantai di sofa itu, memandangi dunia bawah air sambil menikmati teh hangat dan kue kering bertabur keju. Setelah Mirella hadir, tempat itu akan semakin sering dikunjungi. Itu pasti.

“Aku akan melihat anak kita bermain,” tutur istri Tuan Holder. Sedikit ragu.

Dalam akuarium itu, Mirella berenang, bersembunyi, meniup pasir di dasar air, mengejar-ngejar ikan kecil, dan sesekali berenang ke permukaan untuk menghirup oksigen. Untuk menjauhkan bayi itu dari lapar, Tuan Holder dan istrinya telah menyiapkan berdus-dus kue kering yang tersimpan di lemari, bersisian dengan media tanam, cairan pembasmi alga, stok batu-batu hias, serta makanan kucing. Dua atau tiga kali sehari, mereka akan menaburkan kue-kue kering itu di akurium, namun justru ikan-ikan lain yang berkerumun dan ikut menikmati jatah makan Mirella. Bayi itu asyik berendam di dasar akuarium. Sesekali kalau kue-kue kering itu jatuh ke dasar akuarium, bayi itu baru menyambarnya.

“Kalian harus berterima kasih pada Mirella,” tukas istri Tuan Holder pada ikan-ikan. Blup. Blup. Blup.

Menjelang malam, istri Tuan Holder akan berbisik dari balik kaca akuarium raksasa, “Waktumu bermain sudah habis, Mirella. Saatnya tidur.” Dan Tuan Holder akan terjun ke dalam akuarium untuk mengambil Mirella dan membawanya ke keranjang bayi di kamarnya: sebuah akuarium lain, berukuran lebih kecil, dengan meja penyangga berkaki empat genap dengan roda.

Sebelum berangkat tidur, istri Tuan Holder selalu menyeret keranjang bayi itu mendekat ke sisinya. Lalu memandanginya sampai terpejam. Begitu istrinya terpejam, tuan Holder akan mencium kening istrinya, dan mengucapkan maaf dengan mata yang sangat muram. Tuan Holder mendorong keranjang bayi itu menjauh dan menyelimuti tubuh istrinya.

***

Tidak mudah menjadi Tuan Holder, tidak mudah menjadi istri Tuan Holder, tidak mudah menjadi Bibi Blonas si pembersih kaca, dan tidak mudah pula bagi kami semua, para pembantu Tuan Holder yang setia. Kami, seisi penghuni rumah ini telah bersepakat dengan itu semua: sebuah skenario, indah dan terperinci. Bahwa Mirella adalah bayi ajaib di rumah ini, dan satu-satunya, dan bahwa istri Tuan Holder harus tetap terjaga dan berbahagia.

Namun dalam kehidupan siapapun, kadang kekacauan datang tanpa memberi kabar. Suatu pagi, ibu mertua Tuan Holder muncul tiba-tiba di teras rumah.

“Aku sedang ada urusan di kota ini, jadi kusempatkan mampir sebentar, baragkali aku dapat kejutan,” ucapnya seluwes pembawa acara tebar gosip. Ada nuansa ketus di sana.

Perempuan itu sudah lama sekali tidak muncul. Dan kemunculannya seringkali membawa petaka. Terakhir muncul sekitar setahun lalu, ia memeriksa seluruh pekerjaan para pembantu di rumah ini dan menistakan segala bentuk ketidaksempurnaan. Ia memperotes tisu toilet yang lusuh, kaki meja yang berdebu, pot kaktus yang retak, permukaan kompor yang licin, serta seekor semut yang mengendap-endap di sudut meja makan. Ia melaporkan itu semua ke menantuanya, dan menyarankan diklat tambahan untuk kami semua. Tuan Holder mengiyakan, namun setelah nenek sihir itu pergi, Tuan Holder melupakan semuanya. Tuan Holder selalu berada di pihak kami.

“Saat kau beranjak tua, kau akan mengerti bagaimana rasanya menjadi nenek-nenek, itu tidak mudah. Jadi dengarkan saja saat ia bicara, dan lupakan kalau itu perlu dilupakan,” kata Tuan Holder pada kami semua, memohon pengertian atas tabiat ibu mertuannya.

Dan pagi itu, Tuan Holder tercekat lama, sebab tak kuasa mencegah ibu mertuanya menjelajah seisi rumah dengan sepasang kakinya yang angkuh dan tak pernah mau mengerti. Tuan Holder sudah tahu apa yang bakal terjadi. Skenario itu bakal hancur. Tuan Holder terus membuntuti perempuan itu, persis seekor anjing yang mengejar seekor domba nakal yang lepas. Begitu sampai di kamar utama, perempuan hampir tua itu menarik selimut hangat yang masih membaluri tubuh anaknya, istri Tuan Holder, dan memekik dengan lantang, “Apa yang membuatmu masih tertidur pukul tujuh pagi? Bangun, ibumu datang!”

Istri Tuan Holder menggeliat.

“Lihatlah! Mengapa anakku jadi sangat kurus dan kelihatan tua. Apa dia tidak bahagia?”

“Dia sedang kurang enak badan, Mom,” seru Tuan Holder sarat kehati-hatian.

“Dan untuk apa kalian memelihara ikan gabus berkaki di dalam kamar?”

“Itu jenis axolotl, Mom,” Tuan Holder mengoreksi. Rautnya mulai pasi.

“Aku tak peduli apa namanya, tapi jelas, makluk itu sangat menjijikkan. Kusarankan kalian segera membuangnya.”

Wajah Tuan Hoder mulai memucat. Sementara istrinya masih menguap di bibir ranjang, kesadarannya belum utuh.

“Mengapa berisik sekali,” ucap istri Tuan Holder dengan suara mengantuk, dan bingung, “Sudah waktunya Mirella bermain dengan teman-temannya.”

Perempuan hampir tua itu memaku, menatap putrinya dan menantunya bergantian, “Mirella? Siapa Mirella?”***

Malang, 2022

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, penyuka puisi dan prosa. Buku terbarunya akan segera rilis tahun ini. Kini bermukim di Malang.

Vy Patiah, kelahiran Jakarta pernah menempuh pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Seringkali menjadi kontributor dalam berbagai kerjasama seperti mengisi ilustrasi buku, cover buku, produk denim painting sampai dengan action figure. Juga aktif mengikuti serangkaian pameran seni serta beberapa kali menjadi tutor diberbagai lokakarya. Ide kekaryaannya merupakan persoalan tentang hal-hal yang akrab dengan dirinya. Baginya seni adalah media tempatnya bercerita terhadap apapun yang dilihat, dengar dan rasakan.

sumber : harian Kompas edisi 25 September 2022 di halaman 9 dengan judul “Bayi dalam Kaca”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme