Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Buntung oleh Tetin Sobariah

Posted on Sab, 01 Okt 2022

Kawin cerai di desa ini bak kacang goreng. Hampir setiap orang menikah dua kali. Tapi tidak dengan Euis. Dirinya tercatat sebanyak tiga kali kawin cerai dalam waktu empat tahun, pada usia 28 tahun. Dan kabarnya, kini tanda-tanda dirinya akan menikah lagi mulai tampak. Bagi para tetangga, keputusan ini terlalu tergesa-gesa.

Bagaimana tidak, rekam jejak Euis dalam berumah tangga tidaklah bagus. Agus, suami pertama yang digugat cerai karena alasan ekonomi. Pria malang itu memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya dengan meninggalkan dua orang anak.

Deni, suami kedua, seorang lelaki separuh baya memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dari dirinya. Secara ekonomi, mereka hidup mapan. Suaminya itu pengusaha percetakan di Ibu Kota, dan meninggalkan satu orang anak. Alasan bercerai karena sering cekcok dengan ketiga anak sambungnya. Yayan, suami ketiga seorang perjaka dan hanya bertahan tiga bulan dengan alasan tidak puas di ranjang. Dan meninggalkan seorang anak. Dalam kehidupan rumah tangganya, ia tak pernah bertahan lama. Paling lama hanya satu semester. Bahkan, ia menggugat cerai suami pertamanya dalam keadaan hamil.

Bagi para lelaki, pinggul adalah daya tariknya; tempat awal mula Euis menarik lelaki mana pun. Perjaka, duda, hingga hidung belang sekalipun. Bahkan, mereka rela merogoh uang untuk sekadar memberikan makanan, aksesoris, atau memberinya uang langsung secara cuma-cuma. Tapi sayang, tak satu pun lelaki yang bertahan lama dengannya. Semuanya hanya seumur jagung. Menikah sekali seumur hidup yang diidam-idamkannya gagal.

Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon mangga, Euis masih di warung Ceu Odah, sekadar memberikan undangan pernikahannya yang keempat. Ceu Odah, melolong seperti anjing begitu menerima kartu undangan tersebut. Bahwa beredarnya berita pernikahan Euis yang keempat bukan gosip. Ceu Odah memang terbiasa tidak memercayai berita-berita yang tetangganya bicarakan. Karena sekian banyak kata-kata yang dikeluarkan oleh para tetangganya, tak satu pun ia percaya.

Ceu Odah yang sudah paham dengan karakter Euis, biasanya ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bahkan, obrolan Euis hanya dilayani dengan mengatakan ya, setuju, atau dengan bahasa isyarat seperti anggukan, dan menggeleng kepala. Ceu Odah adalah orang yang cari aman. Ia tidak mau cari musuh dengan siapa pun. Kendati semua tetangga sudah menunjukkan ketidaksukaannya kepada Euis, karena Euis dianggap wanita yang mempermainkan pernikahan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Euis memiliki pinggul bahenol, yang mampu memikat suami tetangga sekalipun. Oleh sebab itu, para suami tidak pernah diizinkan untuk pergi ke warung kopinya Ceu Odah. Bila pinggul Euis mampu menarik suami orang lain, maka tubuhnya bagaikan api yang siap melahap rumah tangga orang lain. Tak sedikit para istri yang berkata kasar kepadanya. Ada yang terang-terangan, ada juga yang sembunyi-sembunyi.

Euis tak pernah memasukkan cibiran tetangga-tetangganya sejak dirinya disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Euis akan kawin lagi. Kali ini dengan sopir angkot. Gelagat Euis ini tercium juga oleh ibunya. Bagaimana tidak, keempat anaknya dibawa oleh ibunya ke desa yang lain. Tak lain, agar keempat anaknya tidak meniru tingkah ibunya yang sering gonta-ganti pasangan. Dan sekarang Euis tinggal bersama adiknya, Mira. Seluruh desa tahu, bahwa Euis orang yang memanfaatkan laki-laki dengan pinggulnya. Tak sedikit laki-laki yang tergoda, dan tak sedikit juga istri-istri di desa merasa resah jika Euis belum menikah lagi. Bagi warga desa, Euis adalah janda yang meresahkan. Jika Euis menikah, maka, istri-istri di desa merasa lega karena suaminya pasti aman dari godaan pinggul Euis. Alasan Euis menikah lagi adalah agar ada yang membiayai kebutuhan hidupnya. Lahir dan batin.

”Syukurlah si Euis kawin lagi, agar laki saya bisa aman,” kata salah satu tetangga mengomentari.

”Kita lihat kali ini dia akan bertahan berapa lama dengan laki barunya,” sahut yang lain.

Euis bukan tak tahu soal komentar dari tetangga-tetangganya yang usil. Tapi dia lebih menutup telinga dan membiarkan tetangga berkomentar sesuka hatinya. Dia tahu semua komentar-komentar itu dari adiknya. Rasa cintanya kepada Bang Ingot melupakan komentar-komentar pedas dari tetangganya. Bang Ingot bukan hanya sekadar sopir angkot, tapi juga juragan angkot. Euis yakin, bahwa pernikahannya kali ini akan langgeng.

Begitu Euis resmi menjadi istri Bang Ingot, tak ada satu orang pun yang berani berkomentar yang buruk-buruk perihal Euis. Lantaran takut dengan suaminya yang bertampang garang dan juragan angkot. Tapi ternyata tampangnya yang garang justru tidak dengan hatinya. Bang Ingot cepat beradaptasi dengan warga desa. Malah lebih bersahabat daripada Euis. Hari demi hari, akhirnya warga kampung mulai merasa nyaman akan keberadaan Bang Ingot. Pun dengan Euis.

Rumah Euis kini ramai. Tiap hari selalu ada orang yang datang bertamu. Dan setiap kali tamunya pulang, tak lupa Bang Ingot selalu memberikan bingkisan makanan kepadanya. Inilah yang membuat rumah Euis tak pernah sepi pengunjung.

Kemudian dia juga mengajak beberapa warga ke kota dalam rangka syukuran karena angkotnya kini bertambah lagi. Dan total angkotnya berjumlah 20. Angkot-angkotnya juga beraneka ragam dan memiliki rute ke jalan-jalan yang sering di kunjungi kebanyakan orang.

”Jadinya bagaimana, Bang Ingot?” salah satu warga ingin berinvestasi ke bisnis angkotnya, agar dia juga bisa cepat kaya seperti Bang Ingot.

Bang Ingot mendehem sekali, seperti sedang berpikir keras, ”Kalau ingin investasi di angkot saya minimal Rp 10.000.000, Kang,” ujarnya kemudian. ”Akang juga akan mendapatkan bagi hasil setiap bulan sebesar 10%.”

Mata Deden berbinar-binar kemudian ia mengatakan, ”Wah, ini lebih besar dari bunga deposito di bank.”

”Jadi bagaimana, Kang?” tanyanya lagi. ”Tidak semua orang bisa saya terima untuk investasi di usaha saya. Berhubung Akang ini tetangga saya, saya mencoba memberikan kesempatan ini ke Akang.”

Bang Ingot meyakinkan sekali lagi. Seolah-olah banyak orang yang ingin berinvestasi di usaha angkotnya, tapi ia tolak.

Deden tersenyum, ”Terima kasih, Bang, atas tawarannya. Tapi uang sebesar itu saya belum punya.”

”Akang bisa pinjam ke bank,” bujuknya. ”Lagipula dalam waktu sepuluh bulan, uang itu akan kembali lagi kepada Akang dan di bulan ke sebelas Akang bisa langsung melunasi utang akang ke bank.”

Rumah Euis kini ramai. Tiap hari selalu ada orang yang datang bertamu. Dan setiap kali tamunya pulang, tak lupa Bang Ingot selalu memberikan bingkisan makanan kepadanya. Inilah yang membuat rumah Euis tak pernah sepi pengunjung.

Dari dapur, Euis hanya mendengarkan urusan suaminya dengan Deden. Euis tidak pernah ikut campur soal usaha angkot suaminya. Bang Ingot berpesan, Euis cukup bilang iya saja. Dia tak perlu repot-repot bagaimana cara membantu bisnis suaminya agar lebih maju dan berkembang, selama dapur masih ngebul dan kebutuhan berahi tercukupi setiap hari; hanya itu hal yang diinginkannya dalam berumah tangga. Dia bahkan tak peduli kalau dirinya belum mengesahkan perkawinannya secara negara. Sebab, dia benci dengan pihak KUA yang menertawakan dirinya karena kawin cerai melulu. Dia berniat akan mengurusnya jika perkawinannya dengan Bang Ingot sudah mencapai satu dekade.

Sehabis subuh, Bang Ingot selalu meminta Euis untuk pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapurnya. Bang Ingot tak mau menyuruh orang lain yang membeli kebutuhan pokok itu. Hanya boleh Euis yang pergi membelinya. Dan Euis menurutinya. Begitulah, di balik cerdiknya Bang Ingot, selalu ada Euis yang dungu.

Ceu Odah menyarankan kepada Euis agar dirinya jangan pergi ke pasar setiap hari dan setiap pagi. Karena ada sesuatu yang dia lihat mengenai Mira. Tapi, Euis tak percaya dengan berita yang dikatakan oleh Ceu Odah.

”Mungkin janda tua itu iri kepadaku,” pikirnya demikian. ”Tak heran jika Ceu Odah menjelek-jeleknya Bang Ingot dan Mira.”

Suatu pagi, Euis terpaksa harus balik lagi ke rumah karena dompetnya tertinggal. Dan dia mendengar suara gaduh di kamarnya. Ini seperti suara orang yang sedang bercinta, pikirnya. Kemudian, dia membuka kamarnya dan dengan terkejut ia mendapati adiknya sedang bercinta dengan suaminya.

”Apa yang kalian lakukan?” geramnya. ”Adik macam apa kau ini, bercinta dengan kakak iparmu sendiri. Dan kau, apa yang kurang dariku, heh!”

”Kau tak membuatku puas di ranjang. Adik iparku ini memberikan apa yang kubutuhkan,” jawabnya dengan tenang.

”Hari ini kita bercerai! Dan sekarang juga keluar dari rumah ini!” usir Euis.

Suara yang seperti toa membuat para tetangga keluar dan menonton apa yang terjadi dengan Euis. Bang Ingot langsung berpakaian dan pergi tanpa mengemasi barang-barangnya, kemudian berkata dengan tersenyum, ”Kau akan menyesal mengusirku sekarang.”

Sementara adiknya, hanya diam terpaku dan Euis meninggalkannya begitu saja. Usia pernikahan Euis dengan Bang Ingot hanya setahun. Dan ini adalah usia pernikahan terlama sepanjang Euis menikah.

Dua bulan kemudian, setelah Bang Ingot hengkang dari desa tersebut, warga mulai gelisah karena bagi hasil yang dijanjikan belum juga dibagikan. Dan dia menanyakan hal ini kepada Euis.

Dengan berat Euis berkata, ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, kita semua telah ditipu oleh Bang Ingot, termasuk saya sendiri. Selama sebulan terakhir ini saya mencarinya dan berangkat ke kota. Ternyata dia tidak punya angkot satu pun. Waktu acara syukuran itu, dia menyewa tanah kosong dan menyewa angkot untuk menipu kita semua seolah-olah tanah dan puluhan angkot itu miliknya. Tak hanya uang bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi juga uang saya dia bawa kabur. Tak hanya itu, rumah ini pun dia gadaikan ke bank atas nama saya.”

Orang-orang hanya menatap nanar karena mereka harus membayar cicilan utangnya ke bank, padahal mereka tidak menikmati uang itu.

Hanya lima orang pertama yang benar-benar untung dari investasi yang ditawarkan oleh Bang Ingot. Termasuk Deden. Itu pun dengan tujuan sebagai umpan, tak lebih. Dan lima orang itulah yang secara sukarela mengajak warga desa untuk berinvestasi kepada Bang Ingot karena sudah terbukti menjanjikan. Warga yang tadinya ingin untung, malah jadi buntung. Total uang yang dibawa lari oleh Bang Ingot sebesar 10 miliar.

***

Tetin Sobariah, kelahiran Tasikmalaya. Cerpen pertamanya yang berjudul Teka-Tekiku dimuat di harian Batampos.

sumber : kompas.id, 01 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme