Kawin cerai di desa ini bak kacang goreng. Hampir setiap orang menikah dua kali. Tapi tidak dengan Euis. Dirinya tercatat sebanyak tiga kali kawin cerai dalam waktu empat tahun, pada usia 28 tahun. Dan kabarnya, kini tanda-tanda dirinya akan menikah lagi mulai tampak. Bagi para tetangga, keputusan ini terlalu tergesa-gesa.
Bagaimana tidak, rekam jejak Euis dalam berumah tangga tidaklah bagus. Agus, suami pertama yang digugat cerai karena alasan ekonomi. Pria malang itu memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya dengan meninggalkan dua orang anak.
Deni, suami kedua, seorang lelaki separuh baya memutuskan untuk menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dari dirinya. Secara ekonomi, mereka hidup mapan. Suaminya itu pengusaha percetakan di Ibu Kota, dan meninggalkan satu orang anak. Alasan bercerai karena sering cekcok dengan ketiga anak sambungnya. Yayan, suami ketiga seorang perjaka dan hanya bertahan tiga bulan dengan alasan tidak puas di ranjang. Dan meninggalkan seorang anak. Dalam kehidupan rumah tangganya, ia tak pernah bertahan lama. Paling lama hanya satu semester. Bahkan, ia menggugat cerai suami pertamanya dalam keadaan hamil.
Bagi para lelaki, pinggul adalah daya tariknya; tempat awal mula Euis menarik lelaki mana pun. Perjaka, duda, hingga hidung belang sekalipun. Bahkan, mereka rela merogoh uang untuk sekadar memberikan makanan, aksesoris, atau memberinya uang langsung secara cuma-cuma. Tapi sayang, tak satu pun lelaki yang bertahan lama dengannya. Semuanya hanya seumur jagung. Menikah sekali seumur hidup yang diidam-idamkannya gagal.
Bulan bersinar menembus ranting-ranting pohon mangga, Euis masih di warung Ceu Odah, sekadar memberikan undangan pernikahannya yang keempat. Ceu Odah, melolong seperti anjing begitu menerima kartu undangan tersebut. Bahwa beredarnya berita pernikahan Euis yang keempat bukan gosip. Ceu Odah memang terbiasa tidak memercayai berita-berita yang tetangganya bicarakan. Karena sekian banyak kata-kata yang dikeluarkan oleh para tetangganya, tak satu pun ia percaya.
Ceu Odah yang sudah paham dengan karakter Euis, biasanya ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bahkan, obrolan Euis hanya dilayani dengan mengatakan ya, setuju, atau dengan bahasa isyarat seperti anggukan, dan menggeleng kepala. Ceu Odah adalah orang yang cari aman. Ia tidak mau cari musuh dengan siapa pun. Kendati semua tetangga sudah menunjukkan ketidaksukaannya kepada Euis, karena Euis dianggap wanita yang mempermainkan pernikahan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Euis memiliki pinggul bahenol, yang mampu memikat suami tetangga sekalipun. Oleh sebab itu, para suami tidak pernah diizinkan untuk pergi ke warung kopinya Ceu Odah. Bila pinggul Euis mampu menarik suami orang lain, maka tubuhnya bagaikan api yang siap melahap rumah tangga orang lain. Tak sedikit para istri yang berkata kasar kepadanya. Ada yang terang-terangan, ada juga yang sembunyi-sembunyi.
Euis tak pernah memasukkan cibiran tetangga-tetangganya sejak dirinya disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Euis akan kawin lagi. Kali ini dengan sopir angkot. Gelagat Euis ini tercium juga oleh ibunya. Bagaimana tidak, keempat anaknya dibawa oleh ibunya ke desa yang lain. Tak lain, agar keempat anaknya tidak meniru tingkah ibunya yang sering gonta-ganti pasangan. Dan sekarang Euis tinggal bersama adiknya, Mira. Seluruh desa tahu, bahwa Euis orang yang memanfaatkan laki-laki dengan pinggulnya. Tak sedikit laki-laki yang tergoda, dan tak sedikit juga istri-istri di desa merasa resah jika Euis belum menikah lagi. Bagi warga desa, Euis adalah janda yang meresahkan. Jika Euis menikah, maka, istri-istri di desa merasa lega karena suaminya pasti aman dari godaan pinggul Euis. Alasan Euis menikah lagi adalah agar ada yang membiayai kebutuhan hidupnya. Lahir dan batin.
”Syukurlah si Euis kawin lagi, agar laki saya bisa aman,” kata salah satu tetangga mengomentari.
”Kita lihat kali ini dia akan bertahan berapa lama dengan laki barunya,” sahut yang lain.
Euis bukan tak tahu soal komentar dari tetangga-tetangganya yang usil. Tapi dia lebih menutup telinga dan membiarkan tetangga berkomentar sesuka hatinya. Dia tahu semua komentar-komentar itu dari adiknya. Rasa cintanya kepada Bang Ingot melupakan komentar-komentar pedas dari tetangganya. Bang Ingot bukan hanya sekadar sopir angkot, tapi juga juragan angkot. Euis yakin, bahwa pernikahannya kali ini akan langgeng.
Begitu Euis resmi menjadi istri Bang Ingot, tak ada satu orang pun yang berani berkomentar yang buruk-buruk perihal Euis. Lantaran takut dengan suaminya yang bertampang garang dan juragan angkot. Tapi ternyata tampangnya yang garang justru tidak dengan hatinya. Bang Ingot cepat beradaptasi dengan warga desa. Malah lebih bersahabat daripada Euis. Hari demi hari, akhirnya warga kampung mulai merasa nyaman akan keberadaan Bang Ingot. Pun dengan Euis.
Rumah Euis kini ramai. Tiap hari selalu ada orang yang datang bertamu. Dan setiap kali tamunya pulang, tak lupa Bang Ingot selalu memberikan bingkisan makanan kepadanya. Inilah yang membuat rumah Euis tak pernah sepi pengunjung.
Kemudian dia juga mengajak beberapa warga ke kota dalam rangka syukuran karena angkotnya kini bertambah lagi. Dan total angkotnya berjumlah 20. Angkot-angkotnya juga beraneka ragam dan memiliki rute ke jalan-jalan yang sering di kunjungi kebanyakan orang.
”Jadinya bagaimana, Bang Ingot?” salah satu warga ingin berinvestasi ke bisnis angkotnya, agar dia juga bisa cepat kaya seperti Bang Ingot.
Bang Ingot mendehem sekali, seperti sedang berpikir keras, ”Kalau ingin investasi di angkot saya minimal Rp 10.000.000, Kang,” ujarnya kemudian. ”Akang juga akan mendapatkan bagi hasil setiap bulan sebesar 10%.”
Mata Deden berbinar-binar kemudian ia mengatakan, ”Wah, ini lebih besar dari bunga deposito di bank.”
”Jadi bagaimana, Kang?” tanyanya lagi. ”Tidak semua orang bisa saya terima untuk investasi di usaha saya. Berhubung Akang ini tetangga saya, saya mencoba memberikan kesempatan ini ke Akang.”
Bang Ingot meyakinkan sekali lagi. Seolah-olah banyak orang yang ingin berinvestasi di usaha angkotnya, tapi ia tolak.
Deden tersenyum, ”Terima kasih, Bang, atas tawarannya. Tapi uang sebesar itu saya belum punya.”
”Akang bisa pinjam ke bank,” bujuknya. ”Lagipula dalam waktu sepuluh bulan, uang itu akan kembali lagi kepada Akang dan di bulan ke sebelas Akang bisa langsung melunasi utang akang ke bank.”
Rumah Euis kini ramai. Tiap hari selalu ada orang yang datang bertamu. Dan setiap kali tamunya pulang, tak lupa Bang Ingot selalu memberikan bingkisan makanan kepadanya. Inilah yang membuat rumah Euis tak pernah sepi pengunjung.
Dari dapur, Euis hanya mendengarkan urusan suaminya dengan Deden. Euis tidak pernah ikut campur soal usaha angkot suaminya. Bang Ingot berpesan, Euis cukup bilang iya saja. Dia tak perlu repot-repot bagaimana cara membantu bisnis suaminya agar lebih maju dan berkembang, selama dapur masih ngebul dan kebutuhan berahi tercukupi setiap hari; hanya itu hal yang diinginkannya dalam berumah tangga. Dia bahkan tak peduli kalau dirinya belum mengesahkan perkawinannya secara negara. Sebab, dia benci dengan pihak KUA yang menertawakan dirinya karena kawin cerai melulu. Dia berniat akan mengurusnya jika perkawinannya dengan Bang Ingot sudah mencapai satu dekade.
Sehabis subuh, Bang Ingot selalu meminta Euis untuk pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dapurnya. Bang Ingot tak mau menyuruh orang lain yang membeli kebutuhan pokok itu. Hanya boleh Euis yang pergi membelinya. Dan Euis menurutinya. Begitulah, di balik cerdiknya Bang Ingot, selalu ada Euis yang dungu.
Ceu Odah menyarankan kepada Euis agar dirinya jangan pergi ke pasar setiap hari dan setiap pagi. Karena ada sesuatu yang dia lihat mengenai Mira. Tapi, Euis tak percaya dengan berita yang dikatakan oleh Ceu Odah.
”Mungkin janda tua itu iri kepadaku,” pikirnya demikian. ”Tak heran jika Ceu Odah menjelek-jeleknya Bang Ingot dan Mira.”
Suatu pagi, Euis terpaksa harus balik lagi ke rumah karena dompetnya tertinggal. Dan dia mendengar suara gaduh di kamarnya. Ini seperti suara orang yang sedang bercinta, pikirnya. Kemudian, dia membuka kamarnya dan dengan terkejut ia mendapati adiknya sedang bercinta dengan suaminya.
”Apa yang kalian lakukan?” geramnya. ”Adik macam apa kau ini, bercinta dengan kakak iparmu sendiri. Dan kau, apa yang kurang dariku, heh!”
”Kau tak membuatku puas di ranjang. Adik iparku ini memberikan apa yang kubutuhkan,” jawabnya dengan tenang.
”Hari ini kita bercerai! Dan sekarang juga keluar dari rumah ini!” usir Euis.
Suara yang seperti toa membuat para tetangga keluar dan menonton apa yang terjadi dengan Euis. Bang Ingot langsung berpakaian dan pergi tanpa mengemasi barang-barangnya, kemudian berkata dengan tersenyum, ”Kau akan menyesal mengusirku sekarang.”
Sementara adiknya, hanya diam terpaku dan Euis meninggalkannya begitu saja. Usia pernikahan Euis dengan Bang Ingot hanya setahun. Dan ini adalah usia pernikahan terlama sepanjang Euis menikah.
Dua bulan kemudian, setelah Bang Ingot hengkang dari desa tersebut, warga mulai gelisah karena bagi hasil yang dijanjikan belum juga dibagikan. Dan dia menanyakan hal ini kepada Euis.
Dengan berat Euis berkata, ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, kita semua telah ditipu oleh Bang Ingot, termasuk saya sendiri. Selama sebulan terakhir ini saya mencarinya dan berangkat ke kota. Ternyata dia tidak punya angkot satu pun. Waktu acara syukuran itu, dia menyewa tanah kosong dan menyewa angkot untuk menipu kita semua seolah-olah tanah dan puluhan angkot itu miliknya. Tak hanya uang bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi juga uang saya dia bawa kabur. Tak hanya itu, rumah ini pun dia gadaikan ke bank atas nama saya.”
Orang-orang hanya menatap nanar karena mereka harus membayar cicilan utangnya ke bank, padahal mereka tidak menikmati uang itu.
Hanya lima orang pertama yang benar-benar untung dari investasi yang ditawarkan oleh Bang Ingot. Termasuk Deden. Itu pun dengan tujuan sebagai umpan, tak lebih. Dan lima orang itulah yang secara sukarela mengajak warga desa untuk berinvestasi kepada Bang Ingot karena sudah terbukti menjanjikan. Warga yang tadinya ingin untung, malah jadi buntung. Total uang yang dibawa lari oleh Bang Ingot sebesar 10 miliar.
***
Tetin Sobariah, kelahiran Tasikmalaya. Cerpen pertamanya yang berjudul Teka-Tekiku dimuat di harian Batampos.
sumber : kompas.id, 01 Okt 2022.