Aku merasa diriku sudah seperti ular yang terus menerus berganti kulit. Selalu saja diriku muncul atau lebih tepatnya dimunculkan dengan nama dan bentuk yang baru. Meski harus kuakui bahwa memang ada beberapa penyempurnaan dan peningkatan kinerja yang orang-orang itu sisipkan di dalam tubuhku. Tapi tetap saja, fungsi utamaku adalah membangun benteng pertahanan yang kokoh di tubuh manusia terhadap berbagai serangan penyakit agar mereka tetap leluasa melaksanakan rutinitasnya sehari-hari.
Hari itu dua orang pria terlihat duduk berhadapan di sebuah kantor, sementara aku tengah berdiri berhimpitan dengan teman-teman senasib seperjuanganku di atas sebuah lemari. Dari posisi ini, kusaksikan mereka berdua tengah berdialog serius. Salah seorang di antaranya terlihat menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. “Oh, sepertinya laki-laki itu sedang dites wawancara, dan jika berhasil akan menjadi karyawan baru di perusahaan ini.“ Aku menyimpulkan.
Perusahaan tempatku bekerja ini memang sedang membutuhkan seorang Medrep yang akan terus setia menemaniku ke mana pun dia pergi. Singkatnya, bisa dikatakan profesi Medrep ini adalah seorang sales farmasi yang akan bergerilya mempresentasikan dan mempromosikan diriku kepada masyarakat, rumah sakit, klinik, apotek, dan unit-unit yang bergerak di bidang medis lainnya. Pegawai Medrep sebelumnya telah dipecat karena terbukti telah menipu perusahaan dengan menggelapkan hasil penjualan produk. Meski cukup menguras tenaga, waktu, terlebih kesabaran, karena kerapkali seorang Medrep harus menunggu di lobi rumah sakit atau klinik untuk menawarkan produknya kepada dokter yang bertugas di sana, penghasilan profesi ini cukup menggiurkan andai target penjualan produk bisa tercapai. Maka aku tidak begitu terkejut bila pegawai yang dipecat tersebut tergoda untuk bermain di belakang layar.
Dari hasil mencuri dengar percakapan keduanya, kudapati informasi bahwa laki-laki yang sedang diwawancarai itu sebelumnya bekerja di sebuah dealer mobil sebagai seorang sales. Merosotnya target penjualan yang diyakini akibat dampak pandemi Covid-19 yang menghantam seluruh dunia, menjadikan perusahaan kendaraan bermotor tempatnya mencari nafkah dilanda paceklik. Imbasnya, laki-laki itu pun di PHK. Realita yang sangat bertolak belakang dengan perusahaan farmasi, mereka justru untung besar karena orang-orang berbondong-bondong berburu aneka multivitamin dan suplemen sebagai tameng untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka terhadap serbuan Covid-19. Barangkali inilah yang memaksaku untuk berganti kulit lagi kemudian tampil dengan busana baru yang lebih menarik. Apalagi, dengan bantuan iklan dari pesohor negeri yang gencar menyiarkan betapa bermanfaatnya diriku untuk kesehatan, bertambahlah nilai brand image yang kumiliki. Puncaknya orang-orang pun tidak perlu berpikir dua kali lagi untuk mengeluarkan biaya yang bukan main mahalnya demi mengkonsumsi diriku. “Artis ini aja pake obat ini, masa aku ga pake sih.“ Begitulah yang tertanam di benak mereka.
Hampir setengah jam laki-laki itu dibombardir dengan beragam pertanyaan. Ia tampak tegang dan sedikit pucat. Kulihat bulir-bulir keringat merembes di keningnya, padahal di atas pintu ruangan sudah menempel AC yang menghembuskan udara yang lumayang kencang. Aku saja nyaris membeku di dalam botol plastik ini. Tapi laki-laki itu seperti sedang berada di dalam ruangan sauna.
Dari hasil mencuri dengar percakapan keduanya, kudapati informasi bahwa laki-laki yang sedang diwawancarai itu sebelumnya bekerja di sebuah dealer mobil sebagai seorang sales. Merosotnya target penjualan yang diyakini akibat dampak pandemi Covid-19 yang menghantam seluruh dunia, menjadikan perusahaan kendaraan bermotor tempatnya mencari nafkah dilanda paceklik. Imbasnya, laki-laki itu pun di PHK.
Beberapa detik kemudian laki-laki itu meninggalkan ruangan setelah keduanya berjabat tangan. Menit selanjutnya pewawancara itu juga beranjak meninggalkan ruangan. Kini tinggal aku beserta rekan-rekan seperjuangan lainnya yang berdiam di sana. Sambil menerka-nerka besok kami akan di bawa ke mana dan besok kami akan tenggelam di lambung siapa.***
Laki-laki yang diwawancara itu sekarang tampak sibuk di hadapanku. Ia terlihat fokus mengemasi beberapa dokumen, botol-botol multivitamin dan termasuk diriku ke dalam sebuah tas punggung. Oh ya tidak lupa sebuah name tag menggantung di lehernya. Sepertinya ia sudah resmi menjadi Medrep perusahaan ini. Setelan kemeja biru langit bercorak kotak-kotak yang dipadu padankan dengan celana chino berwarna kecoklatan membentuk kesan yang begitu rapi pada dirinya. Penampilan laki-laki itu semakin paripurna dengan potongan rambut undercut yang memahkotai kepala serta balutan sepatu pantofel hitam yang membungkus area kakinya. Dari aroma dan bentuknya yang masih ketat dapat kusimpulkan bahwa sepatu itu masihlah baru. Mungkin baru beberapa hari yang lalu diangkut dari tokonya. Medrep baru kita ini sepertinya begitu bergairah menyambut hari pertamanya bekerja.
Di dekat parkiran kantor ada sebuah warung nasi gurih. Ia bermaksud untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik dr Anton untuk menawarkan diriku sebagai multivitamin yang akan meningkatkan daya tahan tubuh pasien yang datang berobat padanya. Ia juga sudah menyiapkan bonus dan tawaran menggiurkan yang akan didapatkan dr Anton andai dokter itu berhasil menghabiskan pil-pil multivitamin sesuai sesuai target yang diberikan dalam setahun. Mulai dari sejumlah uang, obat-obatan gratis, bahkan mobil. Enak betul menjadi seorang dokter! Wajar saja jika mereka selalu bergelimang harta dan hingga kini masih menjadi profesi favorit serta idaman para mertua di negeri ini. Ah, andai waktu bisa diputar kembali. Aku ingin ditakdirkan menjadi dokter saja. Ketimbang hanya menjadi multivitamin yang nasibnya cuma jadi pelengkap resep obat, tenggelam dalam lambung, terus berakhir menjadi kotoran.
Kebetulan di dalam warung tersebut ada beberapa pengendara sepeda yang sedang sarapan. “Ah, sekalian saja kutawarkan multivitamin ini kepada mereka, siapa tahu mereka tertarik.“ Batin laki-laki- itu.
Selepas sarapan, Medrep kita mulai melancarkan aksinya. Ia beringsut dari tempat duduknya kemudian meminta izin untuk duduk di semeja dengan salah seorang pengendara sepeda yang juga tampak baru selesai menghabiskan sepiring lontong di depannya. Usai diberikan izin ia lalu duduk dan membuka resleting tas, beberapa detik kemudian ia sudah menaruhku di atas meja.
Dengan lihai ia kemudian membangun komunikasi dengan pria rupanya masih asyik mengunyah beberapa potong gorengan itu. Meski telah berusaha meyakinkan calon pembelinya itu dengan berbagai trik yang biasa ia lakukan ketika dulu menjadi sales mobil, rupanya pria pengunyah gorengan itu tetap tidak tertarik.
“Maaf ya, Bang ! Mungkin lain kali saja. Aku masih yakin sama imunitas tubuhku untuk melawan pandemi ini. Lagipula setiap hari aku juga sudah rutin bersepeda keliling kota,“ ungkap pria pengunyah gorengan itu dengan mulut yang masih berisi bakwan dan bergelimang minyak itu.
Aku sedikit geli mendengar argumen pria pengunyah gorengan tersebut. Bagiku percuma saja dia bersepeda setiap hari, toh kalau tidak diimbangi dengan pola makan yang teratur pula ya sama saja dengan bohong. Sepiring lontong yang mengandung santan ditambah gorengan lima buah kalau aku tidak salah hitung sudah masuk ke dalam perutnya. Aku prediksi imunitas tubuhnya akan bekerja ekstra keras menghalau radikal bebas yang mengintai badannya yang gemuk itu.
Tak ingin berlama-lama dengan penolakan. Medrep kita pun pamit kepada pria pengunyah gorengan itu. Entah dia juga akan pulang atau akan melahap beberapa gorengan lagi, aku sudah tidak peduli.
Aku sedikit geli mendengar argumen pria pengunyah gorengan tersebut. Bagiku percuma saja dia bersepeda setiap hari, toh kalau tidak diimbangi dengan pola makan yang teratur pula ya sama saja dengan bohong. Sepiring lontong yang mengandung santan ditambah gorengan lima buah kalau aku tidak salah hitung sudah masuk ke dalam perutnya. Aku prediksi imunitas tubuhnya akan bekerja ekstra keras menghalau radikal bebas yang mengintai badannya yang gemuk itu.
Cuaca yang terik dan kondisi jalan raya yang bagai semut yang mengerubungi remah-remah kue itu tidak mematahkan gejolak di dalam diri laki-laki itu. Ia amat lihai meliuk-liuk bersama motornya di antara rapatnya kendaraan yang berhamburan. Aku sampai terlempar dan terguling-guling di dalam tas ransel yang mendekap bahunya. Ia ingin bergegas sampai ke klinik dr Anton untuk bernegosiasi mengenai multivitamin yang nantinya akan mengisi daftar resep obat yang akan diberikannya kepada pasien. Telat sedikit saja laki-laki itu bisa gagal menemui dokter spesial paru tersebut. Mengingat jadwal dr Anton yang begitu menghimpit. Selain menangani pasien di klinik pribadinya, ia juga bertanggung jawab terhadap permasalahan paru orang-orang di dua rumah sakit berbeda. Bukan karena sok sibuk, Surat Izin Praktek yang dimiliki seorang dokter memang diperbolehkan untuk digunakan maksimal di tiga tempat yang berbeda. Belum lagi jika dokter tersebut menjadi dosen di sebuah kampus dan terkadang menjadi narasumber di sebuah acara seminar. Bisa dibayangkan betapa sibuknya profesi kesehatan yang satu ini. Inilah yang membuat Medrep kita tidak ingin membuang-buang waktu sedikit pun. Semakin cepat ia melakukan negosiasi, maka semakin cepat ia memenuhi target bulanan yang ditetapkan oleh perusahaan. Otomatis semakin dekat pula ia dengan cuan.
Akhirnya, kami tiba di klinik dr Anton. Namun, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya bahwa menjadi seorang Medrep berarti harus terbiasa memupuk kesabaran. Rupanya kami telat. dr Anton telah beranjak menuju rumah sakit sepuluh menit yang lalu. Bisa kurasakan gerimis kekecewaan yang membasahi hati laki-laki itu. Kurasakan pula uap-uap kenangan masa lalu yang menyusup ke benakku ketika memandang klinik itu dari pori-pori tas yang sedikit longgar.
Beberapa tahun sebelumnya aku pernah menghuni klinik pribadi seorang dokter spesialis paru. Singkat cerita dokter itu hendak pergi ke luar kota untuk beberapa pekan. Sehingga untuk sementara kegiatan di klinik ia serahkan kepada putranya yang baru saja menyelesaikan program dokternya. Dua minggu berselang dokter itu pun pulang. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bahwa kota-kotak obat yang mestinya sudah habis diberikan kepada pasien ternyata masih bergeming di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Dengan menahan sedikit amarah ia lalu mendatangi anaknya yang sedang duduk di sofa.
“Kenapa obat-obat yang di kardus dekat meja ga kau kasih ke pasien?“. Dokter itu membentak anaknya.
“Lho aku baru kenal nama obatnya itu Pak, jadi aku ga beranilah kasih ke pasien. Jadi bila ada pasien yang datang, ya aku kasih obat-obat yang pernah akau pakai waktu koas dan pelajari pas di kampuslah, Pak!”
“Astaga ! Asal kau tahu kalau obat itu habis dalam bulan ini, akhir tahun Bapak dapat bonus liburan ke mesir lho!,“ gerutu dokter itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebagian sudah tidak ditumbuhi rambut itu.
“Ya bapak ga bilang! Bukan salahku lah!,“ ujar anaknya membela diri.
Kemarahan dokter itu semakin memuncak ketika seminggu berikutnya jumlah pasien yang datang ke kliniknya lambat laun berkurang. Bukan karena tidak percaya lagi dengan kemampuan dokter itu, tapi disebabkan kondisi kesehatan mereka berangsur pulih semenjak mengkonsumsi obat yang diberikan oleh anak dokter itu tempo hari. Dua bulan berikutnya klinik itu pun tutup praktek. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib dokter gila itu beserta anaknya yang entah terlalu jujur atau lugu tersebut.
Kembali Medrep yang kini sedang memacu sepeda motornya dan melibas jalanan lagi. Matahari semakin tinggi saja dan bukan main panasnya. Kurasakan hawa panas menerobos masuk ke dalam tas ransel laki-laki itu. Seketika aku merasa seperti sedang dipanggang hidup-hidup. Mau berteriak pun percuma. Tidak akan ada yang mengerti bahasaku. Paling hanya Tuhan yang bisa mendengar betapa sengsaranya aku di dalamnya. Terpanggang, diaduk-aduk dan dibanting-banting sesuai arah setir motor yang kini ia kendalikan dengan ugal-ugalan itu.
Karena begitu tergesa-gesa menuju rumah sakit untuk menemui dr Anton, Medrep kita pun menghiraukan lampu merah yang menyala di sebuah perempatan jalan besar. Ia menarik gas sekuat tenaga dan menerobos lampu merah. Saat itulah tiba-tiba dari arah samping sebuah mobil melaju kemudian menghantam motornya. Kami terhempas dan berguling-guling sejauh beberapa meter. Tasnya robek dan diriku berserakan di jalanan. Kulihat laki-laki itu tergeletak di tengah jalan. Dan, apa ini?
Tubuhku kini bermandikan darah segar yang mengalir deras dari kepala Medrep itu. Kepalanya pecah, otaknya berhamburan di mana-mana. Aku baru sadar kalau ia rupanya tidak melindungi kepalanya dengan helm sama sekali. Kondisi jalanan berubah macet total. Suara orang-orang yang berteriak histeris semakin membuatku bergidik ngeri. Setelah diangkut menggunakan ambulans, aku tidak tahu lagi kelanjutan kisah Medrep yang malang itu.
***Bang Harlen adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Lahir di Kota Payakumbuh dan besar di kota Padangsidimpuan. Merupakan alumni kampus Universitas Sumatera Utara. Mengawali karier kepenulisannya sejak aktif menulis di blog pribadinya. Lelaki yang bernama lengkap Hady Kurniawan ini sudah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Kopi dan Panggelong.
sumber : kompas.id, 08 Okt 2022.