Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suara-Suara yang Mestinya Tak Kaudengar oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 17 Jul 2022

Seratus tujuh puluh dua tahun setelah Hulubalang Ampon Raja Lamkuta dan pasukannya membangun rumah panggung besar itu sebagai markas pengatur siasat melawan kolonial Belanda pada tahun 1818 di Pidie, segerombolan pasukan berbaju loreng dari neraka kemudian datang. Mereka lalu menempati rumah itu sebagai markas pemburu pemberontak negara.

—

DAN di suatu hari yang suram, setelah bala tentara itu gagal membunuh suamimu, kamu kemudian ditangkap dan tubuhmu dilemparkan ke rumah itu. Di dalam kamar yang kosong, dengan beberapa bekas bercak darah di dinding dan di lantai papan yang sudah menghitam, dua orang bertubuh tegap dan berambut cepak menarik kain sarungmu yang bermotif kupu-kupu itu.

***

Rumah panggung besar yang berwujud rumah adat dengan bangunan dari kayu yang di depannya terdapat empat tangga dari beton itu, beberapa tahun yang lalu, selalu menjadi cerita-cerita yang menakutkanmu. Sepulang, atau sewaktu berangkat ke sekolah, kamu sering mendengar bunyi benda dipukulkan ke tubuh manusia yang diiringi lengking kesakitan ketika melintas tidak jauh dari rumah itu. Beberapa kali kamu pernah bertanya padaku perihal suara-suara itu ketika kita berpapasan di jalan. Namun aku menyuruhmu untuk tidak memedulikan siapa yang dipukul. Aku juga menyuruhmu segera pulang dan menutup pintu rapat-rapat. Aku pun melarangmu menoleh ke arah rumah itu karena beberapa tentara dari neraka itu terlihat berdiri dan seperti selalu siap menembakkan senjatanya dari atas rumah panggung besar itu.

Mutia, itu namamu. Aku mengenalmu karena semasa kanak-kanak kamu teman sepengajianku. Usiamu lebih muda tiga tahun dariku. Rumahmu berjarak beberapa meter dari rumahku. Tapi rumahmu menjorok ke dalam. Melintasi jalan setapak. Kamu yatim, ayahmu raib setelah diculik tiga tentara dua tahun yang lalu. Kamu memiliki wajah yang manis, tapi sayang, kamu telah bertunangan dengan seseorang. Setelah menamatkan bangku sekolah menengah atas, kamu menikah. Pernikahanmu hanya dihadiri dan diketahui oleh saudara dekatmu. Ini tak lain karena suamimu adalah seorang pemberontak. Ini juga demi rahasia dan keselamatanmu. Kamu memberi tahu hal ini padaku suatu hari. Entah mengapa kamu percaya padaku. Apakah karena aku cadel dan yatim piatu? Tapi, sungguh, aku tidak paham mengapa kamu mau menikah dengan seorang pemberontak. Kamu tidak memikirkan nasibmu. Jabir nama lelaki itu, telah bergabung dengan pasukan pemberontak pimpinan Pawang Him. Mungkin kamu terpesona pada sosok Jabir yang tampan sehingga kamu mau menikah dengannya. Tubuhnya tinggi dan memiliki misai. Meski berkulit gelap, Jabir memang gagah. Aku kenal Jabir karena kami satu kampung dan dulu pernah satu kelas di sekolah tingkat menengah atas. Jabir meninggalkan bangku sekolah pada kelas tiga SMA. Ia bergabung dengan Pawang Him.

Jika Jabir memilih bergabung dengan Pawang Him, aku kemudian lebih terpaksa menjadi cuak. Sebuah pilihan yang lebih aman dan terlindungi dari pasukan neraka itu. Aku tidak mau dituduh sebagai pemberontak. Nanti aku pasti akan ditembak. Aku tidak mau mati ditembak tentara. Jika ditembak, bagian tubuhku pasti akan membentuk lubang besar dengan daging menyembur ke luar serta darah yang berceceran. Aku sangat takut. Dan itu sangat menyakitkan. Sudah banyak orang mati ditembak. Ada jasadnya dibiarkan tergeletak di jalan kampung dan di sawah, atau di tambak. Ada juga yang hilang tidak diketahui jejak.

Ketika rumah besar peninggalan Hulubalang Ampon Raja Lamkuta itu dijadikan markas tentara dari neraka, begitu kami menyebutnya, hampir tiap malam kudengar lengkingan kesakitan manusia. Ada bunyi gedebum tubuh, dan sesekali bunyi salak senjata. Ada bunyi raungan wanita, tapi lebih banyak kesakitan kaum pria, yang tubuhnya mungkin dicolok ujung rokok, atau kukunya dicabut dengan menggunakan tang atau obeng. Makanya, bila ada tentara dari neraka membawa seseorang yang dicurigai ke rumah itu, nasibnya tidak akan pernah diketahui. Termasuk Husaini, teman sepengajianku semasa kecil. Ia dituduh membantu pemberontak Pawang Him. Sejak Husaini ditangkap dan dibawa ke rumah panggung besar itu, sampai sekarang keberadaannya tidak diketahui lagi.

Rumahku dengan rumah kayu panggung besar peninggalan Hulubalang Ampon Raja Lamkuta itu mungkin jaraknya sekitar dua ratus meter. Jadi, hampir setiap hari pula aku melihat tentara dari neraka lalu-lalang menenteng senjata. Hampir setiap hari juga aku melihat tentara itu menangkap orang kampung yang dicurigai. Tapi entah mengapa, beberapa tahun lamanya, tidak sekali pun aku menjadi daya tarik untuk dicurigai. Mungkin karena badanku terlalu kurus untuk laki-laki seusiaku. Atau karena lidahku yang cadel.

Namun pada suatu hari yang panas, ketenangan hidupku serasa punah. Ini adalah kisah sakit yang membuatku terpaksa menjadi seorang cuak. Saat itu tiga tentara mendatangi rumahku dengan cara mendobrak pintu hingga jebol. Seorang tentara melayangkan sebuah tinju ke mulutku sampai satu gigi depanku patah. Lalu seorang lagi mengikat tanganku ke belakang dengan potongan kain berwarna hitam. Mereka tidak bicara sedikit pun padaku. Mereka begitu tergesa membawaku dengan mobil pikap yang bagian belakangnya dilapisi potongan pohon kelapa yang cukup tebal. Dalam perjalanan itu, tidak satu pun yang mau bicara padaku. Hanya ada seorang tentara usil berkumis tebal yang suka sekali menyemprotkan asap rokok commodore-nya yang bau ke wajahku dengan senyum menyeringai, yang membuatku terbatuk-batuk. Ia duduk di sebelah kiriku. Persis di samping pintu mobil pikap itu. Saat itu aku berpikir bahwa sebentar lagi aku akan mati.

Aku yakin jika akan dibawa ke rumah panggung besar peninggalan almarhum Hulubalang Ampun Raja Lamkuta yang dikuasai mereka tanpa seizin ahli warisnya. Telah kubayangkan jika aku akan mati di rumah itu setelah mengalami penyiksaan yang berat. Dan denyut nadiku bergetar serta jantung berdetak semakin kencang ketika aku diturunkan di halaman rumah panggung besar itu. Tubuhku lalu diseret ke atas tangga. Didorong ke dalam dan ditendang ke sebuah kamar.

”Hai si cadel, baru kutahu jika kau dulu dekat dengan si Jabir,” ujar seorang tentara dari neraka yang telah duluan berada di rumah itu sembari menginjak pahaku dengan sepatu larsnya yang keras. Aku merasakan kesakitan yang luar biasa. Mataku tertekuk, mulut menganga, dan refleks keluar kata dari mulutku, ”aaaaakkk…”

”Kau akan mati di sini,” serapahnya kembali. ”Karena kau kawan si Jabir, tamatlah kau di sini!” Suara tentara itu sangat keras sambil mengentakkan sepatu larsnya ke lantai papan rumah itu.

”Pantengong! Kau tahu? Semua kawan Jabir sudah mati. Kini tinggal kau!” kali ini sepatu lars itu menghantam mukaku. Rasanya remuk. Bibirku berdarah. Gigi depan rasanya banyak yang goyah.

Di saat setetes darah dari bibirku jatuh ke lantai, kulihat muncul lagi seorang tentara dari neraka memegang balok kayu. Tidak lama setelah ia memelototiku, ia lalu berbisik entah apa kepada tentara yang tadi menendang mukaku. Aku berpikir bahwa aku akan benar-benar mati dengan cara yang sangat menyakitkan ini. Dan tiba-tiba saja aku telah ingat ibu, yang dua tahun lalu meninggal karena sakit dan kekurangan makanan. Aku juga ingat bapak yang tewas karena peluru nyasar saat tentara dan pemberontak terlibat kontak senjata di ladang kami.

”Hanya ada satu pilihan agar kau tak mati seperti yang lain,” kata tentara yang tadi menendangku. ”Kau harus jadi cuak. Kau mau?” kali ini kedua tentara itu masing-masing menginjak pahaku dengan sepatu larsnya. Bukan hanya menginjak, tapi mereka menekannya kuat-kuat. Aku menjerit kesakitan. Suaraku keras. Menerobos celah-celah dinding papan rumah itu, ”aaauuww, aaaauuww…”

”Kau mau!”

Sungguh, aku tak sanggup menahan kesakitan yang begitu pilu, dan refleks, kuanggukkan kepala, ”ya, yaaa.”

”Bagus, bagus.”

Sejak itu aku jadi cuak. Informan tentara dari neraka. Tugasku adalah mencari tahu keberadaan pemberontak dan simpatisannya. Hanya dua bulan sebagai cuak, aku dapat membuktikan kepada mereka loyalitasku yang sebenarnya. Ini tak lain karena informasi yang kuberikan sangat valid dan terbukti. Misalnya, aku memberikan keberadaan kelompok Pawang Him di sebuah hutan. Meski akhirnya, ia dan pasukannya dapat meloloskan diri. Aku juga pernah memberikan informasi ketika seorang anak buah Pawang Him pulang ke rumahnya, dan akhirnya bisa ditembak mati.

Kini aku sangat dekat dengan tentara dari neraka itu. Mereka memercayai kesetiaanku sebagai mata-mata mereka. Dan ini tentu membuatku bebas datang dan pergi ke rumah panggung besar itu. Sejak itu aku tidak pernah mengalami ketakutan akan siksaan tentara dari neraka. Bahkan tidak jarang aku bercengkerama dengan mereka, tertawa lepas, main batu domino, minum kopi sampai pagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan mereka. Aku tak ingin mati di tangan tentara dari neraka seperti yang kusaksikan sendiri di rumah jagal itu.

Bahkan, untuk itu, untuk membuktikan kesetiaanku, aku benar-benar rela memberi tahu pada mereka jika Jabir suatu malam pulang ke rumah istrinya. Tidak kurang lima belas tentara kemudian dipersiapkan mengepung rumah Jabir. Jabir adalah anak buah Pawang Him paling dicari karena sangat tangkas berperang hingga banyak tentara dari neraka tewas.

Sebelum penyergapan dilakukan, sebuah rencana telah disusun. Malam itu sebagian tentara itu bersembunyi di semak-semak dan di balik pohon dekat rumah tinggal Jabir dan istrinya. Sebagian lagi mencoba mendekati rumah kayu yang diawasi itu. Tapi kurang lebih lima meter di saat tentara dari neraka mendekati rumah yang gelap itu, tiba-tiba terdengar salak senjata yang dilepaskan Jabir. Tentara dari neraka yang tadi berdiri menyasak ke arah rumah dengan tangkas tiarap ke tanah. Dan sebuah bayangan, kuyakin itu Jabir, seperti melayang cepat ke arah semak-semak, lalu hilang dalam kegelapan. Malam itu pengepungan terhadap Jabir gagal. Tentara dari neraka marah. Rumah itu diobrak-abrik. Dan, mereka menemukan Mutia. Ah, Mutia.

***

Di ruangan depan rumah panggung tempat penyiksaan yang terbuka itu, Mutia menatapku dengan jijik dan tajam. Sebuah pandangan yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya dari Mutia. Aku kasihan padanya, tapi apa daya, aku tidak mau mati disiksa tentara dari neraka. Maka, kubiarkan kamu diikatnya. Kurelakan dirimu dijambak. Dipukul…

”Istri pemberontak, semestinya kita habisi…”

Dua tentara menarikmu ke kamar. Menyasakmu ke dinding papan dengan berahi. Merenggut kain panjang kupu-kupumu.

”Biaaadab dasar cuaak,” kudengar kamu terus berteriak, seperti memakiku. Tapi lenguhan tentara itu semakin keras terdengar. Kudengar kau menggelepar. Menggelepar dengan rintihan-rintihan tertahan.

Aku menutup kupingku. Mutia, sungguh, aku tidak ingin mendengar suara-suara yang keluar dari mulutmu. Tapi telah jauh kutinggalkan rumah panggung besar itu, suara rintihanmu tetap menyusup ke dalam telingaku. (*)

 

Banda Aceh, 2020

 

Catatan

1. cuak= mata-mata

2. pantengoeng = ungkapan memaki/bodoh

3. Hulubalang Ampun Lamkuta = seorang hulubalang pada masa penjajajan Belanda yang hidup di daerah Pidie

 

FARIZAL SIKUMBANG : Lahir di Padang. Tinggal di Banda Aceh. Perajin prosa cerita pendek. Kumcernya yang sudah terbit ”Kupu-Kupu Orang Mati” (Basabasi, 2017). ”Mata Kuning Muda” adalah kumcernya yang akan terbit tahun ini.

sumber :  JAWAPOS, Minggu, 17 Juli 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme