Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Malam Pertobatan oleh Ranang Aji SP

Posted on Kam, 20 Okt 2022

Dalam beberapa bulan, ditemukan orang-orang mati di dalam karung. Dua di antaranya adalah temannya. Kabar itu membuatnya memutuskan tak keluar rumah. Saat itu bulan Juli 1983, suhu malam hanya delapan belas derajat. Jaket dan sarung terasa atis menembus kulit. Merasa tak tahan dengan udara dingin, dan hanya meringkuk beku di kursi, Baron berdiri dan berniat membuat kopi di dapur untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah menunggu seperempat jam yang beku, akhirnya dia mendapatkan kopi panasnya dan membawanya ke ruang tamu dengan langkah waspada. Meletakkan secara hati-hati di atas meja persegi dan kembali duduk meringkuk di atas kursi. Malam itu masih sekitar pukul tujuh malam, tak ada kabut di luar, tapi sepenuhnya kabut itu berada di hati dan pikirannya.

“Apakah mereka juga menyasarku?” Dia bicara pelan, ragu di antara letupan nafasnya yang pecah dan dingin.

Tubuhnya beringsut, dan tangannya membenahi kain sarungnya. Jantungnya berdebar. Ia merapatkan kain sarung dan jaket secara bersamaan, mengambil nafas melalui hidung dan sekaligus mulutnya. Tapi, segera setelah dua menit, dia membongkar balutan kain sarungnya untuk meminum kopinya. Tangannya merasakan perubahan yang cepat pada permukaan gelas kopinya. Suhunya mungkin turun sekitar dua derajat sejak air mendidih itu dituangkan. Tapi air kopi itu masih cukup mampu membuat mulutnya hangat. Setelah itu dia mengambil satu batang rokok kreteknya dan membakarnya dengan keratan merk Kereta Api. Matanya menangkap cahaya api, dan jarinya gemetaran oleh rasa dingin dan kekhawatiran.

“Mereka kejam sekali,” gumannya.

Baron mengomentari itu, seolah melupakan beberapa peristiwa kejam yang pernah dilakukannya. Matanya menerawang setelah menghisap rokoknya, dan melupakan kopinya yang semakin dingin. Pikirannya masih di antara para pembunuh itu, dan teman-temannya yang mati di dalam karung. Pikiran itu, membuat seluruh sendinya lemas. Ada perasaan menyumpal dalam rongga dada yang membuatnya sesak. Setelah meminum kopinya sekali lagi, dia berjinjit menuju jendela, melihat keadaan luar – lalu masuk ke kamarnya setelah hanya melihat ketegangan batang sawo di halaman. Dengan sedikit membungkuk, dia meraih peti persegi warna hitam. Menariknya keluar dari bawah ranjang yang diikuti suara derit, dan membukanya. Tangan kanannya mengeluarkan pedang pendek yang terbungkus kain hitam. Ia juga mengambil sepucuk revolver Type 26.

Sembari duduk bersandar pada ranjang, matanya mengamati dua jenis senjata yang ia letakkan di atas lantai. Dua senjata itu dia dapatkan setelah aksi perampokan pertamanya berhasil beberapa tahun lalu. Dia membelinya dari seseorang di Lampung. Dia suka dengan pedang pendek itu. Ada sesuatu yang memancar kuat dari besi tuanya.

“Dulu ini milik Samurai, seorang kapten yang mati karena Seppuku,” kata orang itu.

“Apa itu?”

“Iya pokoknya bunuh diri.” Pria itu menolak menjelaskan.

“Pistol ini?”

“Itu juga punya kapten itu.”

“Wah, senjata para ksatria yang diwariskan pada kriminal.”

“Salah,” kata pria itu, “mereka juga kriminal.”

“Tapi mereka punya tujuan dan harga diri,” tambahnya.

Baron tertawa.

“Jadikan jimatmu,” saran pria itu.

Dua benda itu selalu dalam peti itu. Sebagai jimat. Dia lebih suka seperti itu daripada menggunakannya. Kadang dia memang sengaja memamerkannya pada teman-temannya dengan cara melap-lapnya hingga mengkilat. Bukan sebagai benda pusaka, tapi sengaja untuk membuat mereka takut dan menghormatinya. Tapi, sebenarnya bukan semata karena dua senjata itu mereka takut. Mereka paham siapa dirinya. Tak banyak ‘gali’ segila dirinya.

Cukup lama matanya menatap nanar pada dua senjata itu. Membiarkannya tetap tergeletak di atas lantai. Dia memikirkan perlawanan bila mereka datang. Tapi hatinya bimbang. Tak yakin mampu menggunakannya. Matanya suram. Kesal karena tiba-tiba menjadi lemah oleh bayangan para pembunuh misterius itu. Mereka lebih menakutkannya dari yang dipikirkannya. Lalu dia menghela nafasnya bersamaan bunyi tokek yang membuatnya kaget.

“Sshh…diam!” Suaranya mendesis marah. Matanya menatap ke arah atap. Suara binatang itu putus, tapi berlanjut seperti tak peduli.

“Tok-Tok-Tok-ek..”

Baron bangkit dan berbaring di atas ranjang dengan kepala pusing dan perut mual. Otaknya terus menerka apa yang bakal terjadi padanya. Apakah aku bisa selamat? dia bertanya dalam kebimbangannya. Ruangan berdenging dalam cahaya kuning yang samar. Ruangan dikurung suara serangga. Dua cicak jatuh dari atap.

Tap! Kaki Baron terangkat dengan sentakan kaget.

Beberapa bulan lalu dia sudah mendengar kabar pembantain itu. Saat itu, dia tengah minum kopi di warung depan terminal. Semua orang di sana memberi komentar tentang penembak misterius. Gombloh, pemilik warung bahkan memberinya peringatan.

“Jangan-jangan sampai di kota ini, Ron,” Katanya sambil menatapnya. “Lebih baik hati-hati.” Suara Gombloh itu membuat semua pelanggan menatapnya . Tapi dia tak begitu peduli.

Pulang dari warung, teman-temanya juga membicarakan hal yang sama. Tapi saat itu dia merasa bahwa semua itu hanyalah berita yang berjarak. Tak ada yang membuatnya merasa harus melakukan sesuatu. Tapi, setelah dua temannya menjadi korban di luar kota, Baron baru sadar bahwa semua itu bukan bualan, dan itu membuatnya cemas sepanjang waktu. Dalam beberapa hari, sejak kematian dua temannya dia memutuskan tak keluar rumah. Mencoba mencari aman. Tapi bayangan kematian itu menghantuinya, dan membuatnya mual. Tiba-tiba otaknya membayangkan alam kubur. Sebuah dunia yang asing dan tak pasti. Itu benar-benar membuatnya ketakutan.

“Ya Tuhan.”

Udara semakin dingin, tapi tubuh Baron hangat oleh rasa cemasnya. Matanya menatap lekat kayu-kayu atap yang coklat dan suram. Telapak tangannya ketas. Setiap tubuhnya bergerak, suara ranjangnya menjerit dan membuat hatinya seperti terjepit. Ia mulai menyesal dan memikirkan kesalahannya meremehkan informasi sejak awal. Baron mulai memikirkan keharusannya yang telah lewat. Seharusnya ketika Gombloh memberinya peringatan, harusnya dia memikirkan matang-matang untuk bisa menghindar. Pikirannya semakin acak dan tak mampu fokus. Tapi kemudian dia mencoba melihat kesempatannya bisa selamat.

Di saat mulai merenungkan keadaannya, dia membayangkan kedua orangtuanya sebagai suatu kesempatan. Mungkin bila pulang, dia bisa memperbaiki hubungan. Lagipula sudah lima tahun dia tak pulang ke rumah orangtuanya. Dia anak satu-satunya. Mereka pasti bisa menerima keadaannya, terutama ibunya. Ibunya pasti bisa melindunginya. Ibunya pasti bisa membuatnya selamat. Pikiran itu membuatnya tersentak dan bangun dari ranjang.

“Aku harusnya bertobat dan bersujud di kaki ibu.” Suaranya lirih mengeluh, agak serak.

Ketika tengah memikirkan itu, bayangan kematian tiba-tiba kembali menelusup dan membuatnya kehilangan daya hidup. Setelah menyebut ibunya dalam gumanan yang berat, dia mencoba melawan bayangan mengerikan itu. Lalu dia ingat ayahnya dulu bicara pada temannya.

“Tak ada yang bisa mempercepat atau melambatkan kematian. Semua sudah ada waktunya masing-masing.”

Ingatan itu membuatnya sedikit lega. Rasanya seperti diberkati. Ayahnya mungkin benar. Dua temannya mati, tapi lainnya masih hidup. Pikiran itu membuatnya lebih tenang, meskipun tubuhnya masih merasakan lemas. Dia menghela nafasnya dalam-dalam, kemudian bangkit. Dengan dua tangannya dia membawa dua senjatanya ke ruang tamu. Meletakkannya di atas meja, dan tangannya meraih gelas kopinya yang dingin. Meneguk kopinya sekali.

Ketika pukul sembilan malam lebih sepuluh, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melemah lagi. Pikirannya kembali diserang oleh kecemasan apakah dirinya termasuk target. Sejauh ini, tak sekalipun dirinya masuk penjara. Itu karena teman-temannya adalah orang-orang yang setia. Mereka tak pernah membawa nama teman-temannya ketika ditangkap. Kedua temannya yang mati, mungkin masuk daftar karena mereka pernah masuk penjara. Jadi wajar saja bila mereka masuk daftar target. Dengan gelisah dia menyimpulkan itu. Dalam ketidakpastiannya, dia merokok lagi untuk meredakan badai di otaknya. Ruangan menjadi berasap putih dan beraroma kretek. Udara samar, dan matanya menatap pintu kayu yang tegang.

Di saat itu dia mulai menimbang untuk pulang ke rumah orangtuanya, sebelum kemudian mencari tempat aman. Pulang dan menyatakan tobat terlebih dahulu pada kedua orangtuanya. Itu paling penting. Tapi dia ragu sendiri, apakah itu bisa menjadi jalan keluar. Dia tertawa muram dan geram. Dipukulnya bantalan kursi yang menyembul di antara selangkangannya. Matanya tak berkedip. Tubuhnya tegak, mencoba mengerahkan dirinya. Lalu tangannya meraih pistol dan meletakkan mocongnya ke jidatnya. Bunuh diri seperti samurai itu mungkin lebih baik, pikirnya.

“Ah, bertobat-bertobat…” Mulutnya tiba-tiba mengucapkan itu sembari menurunkan pistolnya. Tapi, bersamaan dengan itu, tubuhnya tersentak ketika tiba-tiba terdengar suara berisik di luar. Jantungnya seolah berhenti, sebelum akhirnya berdetak lagi, dan dia bisa menguasai dirinya. Dengan waspada dia bangkit berjinjit, mencoba melihat apa yang terjadi di luar melalui jendela. Hatinya lega ketika matanya hanya melihat dua ekor anjing berkeliaran di luar. Beberapa kendaraan masih juga terlihat di jalanan dalam cahaya kuning samar. Angin dingin berdesir melewati lubang ventilasi.

Setelah memastikan semuanya baik-baik saja di luar, Baron bergegas masuk ke kamarnya mengambil jaket dan selempang. Dia juga mengemasi senjatanya. Memasukkan pedang ke dalam tas, dan menyelipkan pistol di pinggangnya untuk berjaga. Tapi dia ragu. Berdiri kaku sembari memikirkan tentang pertobatan yang bersih di hadapan orangtuanya. Tak baik membawa senjata di hadapan mereka, pikirnya. Akhirnya dia mengurungkan niatnya membawa senjata. Setelah menyimpannya kembali, melalui pintu sebelah, Baron mengeluarkan motornya dan memarkirnya di depan pintu gerbang.

Usai mengunci semua pintu rumah, dia menuntun perlahan motornya keluar pagar. Sebelum berangkat matanya menatap arlojinya yang menunjukkan pukul sebelas lima belas malam. Dia menghitung waktu. Setidaknya dia akan sampai ke rumah orangtuanya sebelum subuh. Semua akan baik-baik saja setelah sampai. Pikiran itu sedikit membuatnya merasa lega. Malam berdengung, dan udara basah merambat ke kulit. Kakinya menyelah pedal motor ketika sebuah Jeep datang dari arah belakang. Berhenti tepat satu meter di sampingnya. Lalu, tiga orang tegap terlihat turun dengan gerakan tergesa. Satu di antaranya berseru memanggilnya, “Baron!” Ia menoleh kaget. Lalu, Door! []

Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya Mitoni Terakhir diterbitkan penerbit Nyala (2021).

sumber : kompas.id, 20 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme