Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Negeri Bulan Terang oleh I Wayan Kertayasa

Posted on Sab, 22 Okt 2022

Pada malam yang begitu panjang terjadilah kesepakatan antara Mawut, Dolar dan Binar. Mereka akan pergi ke sebuah lembah untuk memancing. Mereka sangat yakin mancing di saat bulan purnama akan mendapatkan ikan yang banyak dan besar-besar. Berangkatlah mereka dengan membawa perlengkapan seperti lampu senter, umpan cacing dan kopi lima saset. Tiba di lembah itu mereka terkejut sebab airnya warna-warani. Ikan warna silver dan emas berlompatan ke sana-kemari tanpa beban. Bukan cuma itu, ada delapan bidadari main air beserta empat laki-laki pengawalnya.

Mereka mengintip dari balik pohon besar. Mawut sebenarnya takut sebab ada mitos bahwa lembah ini keramat namun Dolar dan Binar menganggap ini seperti di negeri dogeng di mana kehidupan bisa terjadi atas dasar cinta dan kasih sayang. Mawut tetap ingin pulang tidak ingin mancing di lembah yang menurutnya keramat ini. Tidak sengaja dia menginjak ranting pohon yang mengakibatkan dua burung beterbangan. Sontak mereka ketahuan lalu pengawal itu mendekat kepadanya. Mawut lari namun sejauh kaki melangkah tetap sampai di tempat ini. Pengawal bilang untuk jangan takut, di lembah ini tidak ada kejahatan bahwa di balik air terjun ini ada sebuah negeri yang damai sentosa. Tidak sembarang orang bisa masuk hanya orang pilihan saja. Mawut, Dolar dan Binar adalah orang pilihan yang dikirim oleh takdir untuk bisa jalan-jalan ke negeri ini. Orang sini menyebutnya Negeri Bulan Terang karena kehidupan berdasarkan atas cinta dan kasih sayang.

“Marilah mendekat akan kuantar kalian ke negeri kami.”

“Tidak! Aku mau pulang,” kata Mawut

“Kalian telah dikirim ke sini tidak bisa pulang begitu saja.”

“Berapa hari kami harus di negerimu?” tanya Binar

“Cobalah tiga hari saja kalau ketagihan kami tidak tanggung jawab.”

“Lalu keluarga kami bagaimana?” tanya Dolar

“Tiga hari di negeri kami itu berarti sehari di negeri kalian.”

“Ok gaslah, anggap ini study banding seperti DPR saja,” kata Binar.

Sampailah mereka di pintu gerbang Negeri Bulan Terang, betapa terkejutnya mereka melihat alam yang hijau dan air laut tenang. Ada buah apel di sepanjang jalan dan ada buah-buahan bergizi lainnya yang tumbuh liar. Selama berada di Negeri Bulan Terang mereka akan ditemani satu pemandu yang tidak mau disebutkan namanya. Mereka bertanya kenapa tumbuhan yang bernilai ekonomis tinggi begini tidak dicuri atau diambil oleh seseorang. Kata pemandunya, rakyat di sini sibuk merayakan cinta ketimbang mencuri buah-buahan. Penduduk di sini ramah-ramah, tidak diskriminasi apalagi main hakim sendiri.

Sambil jalan ke istana negara mereka dijelaskan pembagian wilayahnya. Negeri Bulan Terang dibagi menjadi tiga bagian yakni tengah, timur dan barat. Undang-undang dasarnya atas kemanusiaan yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Sehingga setiap penduduk tidak akan bertanya apa agamamu untuk saling tolong-menolong. Memang secara geografis kami tidak tercatat di peta Bumi, namun itu bukan masalah sebab pengakuan atas dasar cinta dan kasih sayang telah kami lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lihatlah rakyat yang sedari tadi kita lewati rumahnya apa ada yang murung, bersedih atau bingung untuk mencari uang. Kita pastikan itu tidak ada, sebab alam telah memberikan kami hasil panen yang melimpah sehingga untuk urusan dapur pemerintah yang menanggungnya. Rakyat kami hanya fokus merayakan cinta setiap hari.

Baca juga:

Malam Pertobatan

Kemarilah sebentar lagi kita sampai di istana negara. Jangan kaget banyak orang di sana karena memang istana dibuka untuk umum sebab angka kriminalitas di negeri kami nol persen. Jangan tersinggung kami tidak bermaksud pamer ke negerimu anggap saja ini seperti studi banding yang kamu bilang tadi. Rutan di sini sepi tidak ada seorang pun berminat menjadi penghuninya sehingga kerjaan sipir berkebun. Jangan heran juga dari rutan-rutan inilah bisa membantu kebutuhan pokok masyarakat. Ada yang bilang rutan rasa kebun, sipir berkedok petani dan sebagainya. Itu tidak masalah bagi kami yang penting bernegara tidak membosankan di negeri kami ini.

“Lalu bagaimana bernegara di negeri kalian?”

“Waduh, aku tidak mengerti urusan bernegara, kami bertiga hanya petani biasa,” jawab Mawut.

“Aku punya beberapa petak sawah yang harus diberi pupuk tetapi pupuknya mahal. Selain jalan-jalan ke negerimu bolehkah aku membeli pupuk di sini siapa tahu lebih murah,” kata Dolar.

“Pupuk di sini tidak diperjualbelikan, lagian di sini hanya menggunakan kotoran ayam saja tidak ada campuran bahan lainnya lagi.”

“Pakai kotoran ayam tetapi bisa tumbuh subur gini ya, atau mungkin ada sihir dan mantra-mantra gitu?” tanya Mawut.

“Tidak ada sama sekali, mungkin karena kami senang dan ikhlas menanamnya sehingga tumbuhan juga ikhlas berbuah.”

“Benar juga sih, apa karena di negeri kita terlalu komersil dan banyak ambisinya ya?” tanya Binar

“Lah, itu penting biar punya uang dan bisa beli beras,” kata Dolar.

“Bukankah kalian petani kenapa beli beras lagi?”

“Hasil panen kami jual untuk kebutuhan lainnya seperti biaya sekolah anak, bbm yang sudah naik dan kebutuhan dapur,” kata Mawut.

“Negeri kalian lucu sekali, petani harus membeli berasnya lagi.”

“Ya begitulah keadaannya,” kata Dolar.

Baca juga: Sepeda Tua Ayah

Kita lanjutkan obrolan tentang negeri kalian nanti lagi, sekarang kita sudah sampai di istana negara. Sebelah barat terdiri dari halaman samping yang dipakai untuk menikmati sore terbenam. Presiden suka ngopi sambil ngobrol dengan para menterinya. Obrolannya yang ringan-ringan saja misal tentang kopi yang mereka minum berasal dari petani kopi di wilayah timur dan gulanya berasal dari wilayah barat dan diminum di wilayah tengah dengan banyak rasa syukur. Kami punya budaya menyaksikan sore terbenam dari tempatnya masing-masing. Kalian lihat saja di teras-teras rumah warga menggelar tikar lalu mengobrol dengan pasangannya diiringi kilauan sore yang hampir terbenam. Indah dan romantis bukan! Semua ini tidak mungkin terjadi jika dalam suatu peradaban sibuk bertengkar, caci-maki, menghakimi dan memenuhi tuntutan hidup.

Di negeri kami juga ada budaya pejabat jarang menyebut frasa demi bangsa dan negara itu sakral, salah-salah rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah. Pejabat di sini lebih kepada memberi tindakan dulu baru berbicara tentang apa saja yang sudah dilakukan. Ini penting bagi kami sebab kepercayaan inti dari bernegara yang aman sentosa. Lanjut ke halaman belakang istana ada dua lapangan sepak bola. Siapa saja boleh bermain di sini sebab kami yakin sepak bola dapat mempersatukan bangsa. Dari ujung barat hingga ke timur suka bermain bola pada masing-masing wilayah sudah difasilitasi lapangan yang baik. Di lapangan-lapangan itulah timbul percikan-percikan sportivitas yang dibawa hingga ke kehidupan yang sebenarnya.

Hari terakhir berada di Negeri Bulan Terang mereka bertiga sudah nyaman sekali. Di sini mereka tidak memikirkan duniawi yang selalu tentang pencapaian. Seperti kata pemandu sebelumnya bahwa setelah tiga hari di sini kalau nyaman itu bukan tanggung negeri ini. Hari terakhir diajaklah mereka ke puncak di wilayah barat. Betapa indah dan damainya seperti di negeri dongeng. Stroberi, melon, semangka, sayur dan paprika ada disepanjang jalan. Tidak ada ambisi dan kapitalisme, siapa yang ingin boleh meminta tanpa membayar. Dari sini kelihatan istana negara seperti rumah semua manusia. Oleh karenya musisi tidak kekurangan inspirasi membuat lagu tentang gunung, laut, danau dan kebhinekaan. Begitu menawan dan dihargainya kemanusian di sini. Mereka tidak peduli peradaban jika lupa menghargai dan mengasihi. Negeri ini membuat Mawut, Dolar dan Binar semakin betah sampai Mawut hampir termakan omongannya sendiri ingin menetap selamanya di negeri ini.

Pemandu bilang tidak sembarang orang yang bisa menetap di sini harus punya visa dan passpor yang dipenuhi perasaan cinta dan kasih sayang. Jika ada ambisi dan niat yang buruk maka mereka tidak akan pernah melihat pintu gerbang di balik air terjun. Pemandu berpesan kepada Mawut, Dolar dan Binar untuk terus menjadi orang baik. Jangan pernah mau mencederai nurani jika memang suatu saat nanti ingin menetap di sini lagi. Ajak keluarga sekalian tidak apa-apa namun diberitahu bahwa negeri ini bukan negeri ambisi. Pencapaian atas duniawi tidak berarti apa-apa jika lupa merayakan cinta dan kasih sayang. Perbatasan di sini sangat dijaga ketat tidak pernah ada seorangpun berhasil masuk dengan illegal.

Pemandu mengatakan ada satu pantangan di sini yakni jangan pernah ke perbatasan utara. Pemandu menunjuk kearah di balik gunung. Di sana perbatasan antara Negeri Bulan Mati dengan Negeri Bulan Terang. Tentara kami bersiap 24 jam menjaganya memastikan tidak konfrontasi. Di negeri itu kehidupan sangat tandus akibat penguasa yang tidak menghargai sore, mencederai nurani dan ambisi merajalela.

Jangan sampai masuk ke sana, sekali masuk tidak akan bisa keluar lagi. Pasti kalian akan menjadi budak hawa nafsu, saling mencaci-maki, mengklaim kebenaran dan ngomongnya selalu demi bangsa dan negara. Kebenaran dimanipulasi sehingga populasi menjadi alat propaganda penguasa. Intinya kalian bertiga jangan mau diiming-imingi apapun oleh mereka. Sudah terbukti banyak penyesalan di antara rumah-rumah yang tidak layak itu. Mereka bekerja bukan dengan hati sehingga kemuakan, rasa bosan dan frustrasi menyelimuti dirinya. Negeri Bulan Mati terlalu mengejar peradaban lupa kemanusiaan. Selalu menebar citra baik ke publik tetapi bermain dua kaki di lain pihak. Di sana penjara penuh, kriminalitas tinggi dan ego ada di mana-mana.

Pemandu mengatakan ada satu pantangan di sini yakni jangan pernah ke perbatasan utara. Pemandu menunjuk kearah di balik gunung. Di sana perbatasan antara Negeri Bulan Mati dengan Negeri Bulan Terang. Tentara kami bersiap 24 jam menjaganya memastikan tidak konfrontasi. Di negeri itu kehidupan sangat tandus akibat penguasa yang tidak menghargai sore, mencederai nurani dan ambisi merajalela.

Hari ini ini Dolar, Mawut dan Binar diantar pulang. Pemandu menyampaikan salam dari presiden yang tidak bisa menemui mereka sebab masih ada kunjungan kerja ke timur. Presiden sedang menikmati kemah dengan masyarakat di sana lalu menikmati pagi dan sore tanpa terburu-buru. Sampailah mereka di gerbang lembah itu secara otomatis air memberi jalan untuk mereka menginjakkan kaki di bumi pertiwi lagi. Mudah-mudahan studi banding yang tanpa anggaran negara ini menjadi pedoman hidup minimal bagi mereka bertiga. Bahwa petani pun berhak hidup senang dan bergembira di tanah kelahirannya sendiri. Lambaian tangan Mawut beserta dua temannya mengiringi perpisahannya dengan pemandu itu. Lalu air terjun menutup pintu gerbang Negeri Bulan Terang hilang tak berbekas seperti ruang dan waktu maya.

Sampailah ketiga petani ini di rumahnya masing-masing dengan perasaan yang gembira. Walaupun tidak membawa ikan untuk digoreng namun mereka membawa perspektif baru ke ruang tamu agar bisa menjalani hidup ini dengan suka cita. Mereka ceritakan tentang Negeri Bulan Terang, awalnya dibilang halu namun setelah melihat perilaku suaminya berubah mereka percaya. Setiap pagi bersyukur lalu ketika sore sedang cantik-cantiknya mengajak anak dan istri untuk mengobrol kesana-kemari yang membuat cinta semakin hangat. Melupakan sejenak tentang duniawi sebab ingin merayakan cinta sebagaimana mereka pacaran dulu. Hal-hal sederhana inilah yang membuat keluarga mereka bisa berdamai dengan diri sendiri dan keadaan.

Bahkan melupakan mimpi untuk bisa jalan-jalan ke Eropa seperti Paris dan sekitarnya karena lebih tertarik mengunjungi Negeri Bulan Terang yang damai sentosa. Mudah-mudahan suatu saat nanti mereka sekeluarga bisa berkunjung ke Negeri Bulan Terang atau minimal bisa melihat pintu gerbang menuju ke sana dulu. Syaratnya tidak main-main bahwa harus memastikan diri penuh cinta dan kasih sayang sehingga visa dan paspor bisa didapatkan.

***

I Wayan Kertayasa, pengajar literasi di Yayasan Was. Saat ini, penulis tinggal di Banjar Kedungu, Taro, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Novel yang sudah diterbitkan Romansa Lagu (2020) dan antologi puisi Semoga Aku Sampai (2021).

sumber : kompas.id, 22 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme