Sudah dua pekan sejak aku mengenalnya, menjelang angkutan umum yang selalu mengantarku ke tempat kerja datang menjemputku, aku selalu dengan senang hati membacakan untuknya sekitar dua halaman dari sebuah novel yang terbaru kubeli. Tidak peduli meski ada beberapa orang di tempat itu. Mereka yang juga menunggu angkutan sepertinya sudah memahami kebiasaan ini.
Dia selalu dengan tenang tanpa banyak bertanya ketika aku membaca. Menghayati tiap kalimat yang menggambarkan alur cerita. Sembari sesekali kunikmati sarapan pagi yang kubeli darinya. Sebungkus tiwul hangat yang rasanya enak. Sikapnya yang ramah dan santun semakin membuatku menikmati penantian pagi bersama hobi membacaku. Bahkan, kadang aku tak berharap angkutan datang cepat ke halte ini.
Padahal bisa saja aku menyelesaikan novel ini dalam seminggu dan segera kubeli yang baru, namun membacakan dan memahami isi buku bacaan secara bersama itu juga hal yang mengasyikkan. Apa lagi untuknya. Gadis muda pedagang tiwul di halte. Mirfa namanya. Gadis berwajah manis yang pada saat pertama kali bertemu denganku ia langsung berani menyapa dengan santun dan bertanya perihal hobi membacaku. Ia menganggap hobiku hebat. Karyawan dengan setumpuk pekerjaan masih menyempatkan diri untuk membaca novel yang isinya tak ada kaitannya dengan profesi. Aku tidak terlalu tersanjung dengan pujiannya. Sebab siapa pun dengan profesi apa pun bisa memiliki hobi yang sering dinyatakan oleh sembilan puluh lima persen manusia di bumi ini. Yakni membaca. Aku anggap pujian kala itu adalah prosedurnya untuk mendapatkan pembeli.
Namun semakin aku mengenalnya semakin pula ia menceritakan siapa dirinya. Barulah aku tahu bahwa Mirfa adalah gadis muda yang kurang beruntung. Ia sama sekali tak bisa membaca. Hanya sekadar mengenal huruf alfabet, tak dapat merangkainya menjadi sebuah kata sekali pun itu kata “B-U-D-I” yang sering diajarkan pada umumnya oleh guru di kelas satu sekolah dasar. Ia bercerita padaku, ia hanya bersekolah kelas satu selama sebulan lalu orang tuanya memutuskan untuk pindah dan tinggal di kebun kampung. Selama di kebun kampung ia malah tak melanjutkan sekolahnya. Benar-benar tak menemukan buku. Bahkan penerangan di gubuk hanyalah lampu minyak. Sehari-hari ia hanya melihat hutan karet yang masih penuh dengan tanaman liar dan pohon-pohon tinggi tempat singgah burung-burung berukuran besar. Barulah setelah kepindahannya ke kota ini dan mempunyai seorang adik yang baru masuk kelas satu sekolah dasar, ia merasa bebas memiliki hidup yang lebih baik meski hanya menjadi pedagang tiwul keliling.
Aku merasa sangat tersentuh dengan cerita hidup Mirfa. Ia adalah gadis yang punya semangat, tak kenal putus asa. Meski keadaan memaksanya untuk berhenti meraih keinginnya. Tapi harapan yang ia bakar dalam jiwanya membuat ia kuat, lebih kuat dari gadis muda seusianya yang hidup dalam kecukupan. Ia tak ingin adik satu-satunya memiliki nasib yang sama dengannya. Hal itulah yang membuatku semangat untuk menemani paginya yang berkabut. Kadang sembari membaca kubeli sepuluh bungkus tiwulnya seharga seribu per bungkusnya setiap pagi dan kubagikan ke teman-teman sekantorku. Ia juga kuajari mengenal satu sampai tiga kata setiap paginya. Ia seperti adik perempuan bagiku. Kadang kulihat ia tampak sedih dan sedikit kecewa ketika kami tidak bertemu di akhir pekan. Sebab itu artinya ia harus bersabar menunggu sampai hari Senin untuk mendengarkanku membaca dan juga mengajarinya mengenal kata. Seperti pagi Jum’at ini misalnya. Angkutan umum datang lebih cepat dari biasanya.
“Sampai besok hari Senin ya, Dik! Kamu harus terus belajar di rumah sesudah berjualan.” Aku tersenyum padanya sambil kumasukkan buku dan sepuluh bungkus tiwul ke dalam tas. “Semoga tiwulmu laris. Semangat!”
“Iya, Kak,” balasnya sambil menganggukkan kepalanya.
Segera aku masuk ke dalam mobil angkutan. Sebelum mobil bergerak menjauh kulambaikan tangan padanya. Ia juga melambaikan tangannya dan tersenyum. Barangkali orang-orang yang berada di dalam angkutan ini merasa aneh dengan sikapku kepada gadis pedagang tiwul keliling itu, kecuali Pak Sopir yang sudah akrab dengan apa yang aku lakukan. Namun aku tidak pernah mau ambil pusing. Siapa pun berhak melakukan apa pun asal itu tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Mengenal Mirfa adalah sebuah kenyamanan meski ia bukan putri dari seorang pejabat.
***
Sejak mengenalku, Mirfa mengatakan bahwa hari Senin seperti hari kelahirannya. Ia merasa ulang tahunnya dirayakan seminggu sekali. Dan orang yang rajin mengucapkan kata selamat itu padanya adalah aku. Sebab itu artinya selama lima hari ke depan ia akan banyak mendapat ilmu membaca dariku. Selain itu, ia juga bilang bahwa halte seperti sekolahnya dulu saat masih kecil. Sementara aku adalah wali kelasnya yang baik hati. Itu benar-benar menggelitik hatiku. Membuatku kadang tersenyum sendiri ketika mengingat ucapan Mirfa.
Mirfa selalu tampak bersemangat ketika melihatku sudah duduk di halte, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tak peduli meski cuaca kadang membuatnya tampak kurang sehat. Ia tetap tersenyum secerah matahari kepadaku dan siapa saja yang ia hampiri untuk ditawari tiwul dagangannya.
“Selamat pagi, Kak.”
Aku mengangguk membalas sapanya sembari tersenyum. Tidak ingin menasehatinya terlalu jauh, aku hanya menyarankannya agar ia beristirahat dulu di rumah jika kondisi badan masih kurang sehat. Ia mengangguk mengiyakan ucapanku.
“Maaf ya, Dik. Hari ini kakak lupa membawa buku ceritanya. Mungkin karena buru-buru ke sini. Tapi malah tertinggal di rumah,” kataku memberi kabar padanya. Mirfa tampak sedikit kecewa karena ia tadi sudah tidak sabar mendengar kelanjutan kisah perjuangan seorang gadis dalam novel tersebut. Namun ia segera memaafkanku yang juga tidak enak hati padanya.
“Hmm.. kakak mau bertanya saja hari ini,” kataku segera mengalihkan kekecewaannya.
“Apa itu, Kak?” balasnya mendadak gugup. “Wah, jangan susah-susah ya, Kak.”
“Menurut Mirfa, apa sih merdeka itu, Dik? Jawab saja semampumu ya.”
Mirfa kelihatan salah tingkah. Ia kebingungan menemukan jawaban. Barangkali ia juga mungkin kurang mengerti arah pertanyaanku. Agar ia tak terlalu gugup aku memintanya untuk mengatakan apa yang dipikirkan olehnya. Tidak perlu berpikir keras agar aku terkesima dengan jawabannya.
“Menurutku sih, merdeka itu ya merdeka, Kak. Setiap rumah pasang bendera merah-putih dan bendera warna-warni lainnya. Supaya meriah. Katanya sih, biar arwah pahlawan senang karena jasa-jasanya diingat.”
Mendengar jawaban Mirfa yang polos, membuatku nyaris mendengus ingin tertawa. Namun aku sadar itu akan membuatnya semakin panik dan tampak bodoh. Ia akan sedih. Maka aku hanya tersenyum seraya menatap tepat ke matanya yang jernih belum tercemar oleh kemajuan teknologi. Ia gugup dan menunduk. Mungkin menganggap bahwa jawabannya sama buruknya dengan nasibnya yang kurang beruntung.
“Kakak suka jawabanmu, Dik,” kataku memuji. Agar ia segera bangkit dari keragu-raguannya. “Ya merdeka memang seperti itu. Meriah. Tidak ada yang salah dengan jawabanmu.”
“Terima kasih, Kak,” balasnya tersipu malu.
“Kakak ingin memberi hadiah untukmu,” kataku sambil mengeluarkan sebuah buku membaca untuk pemula hasil buatanku sendiri yang kudesain semalaman di rumah dan kucetak dengan menggunakan kertas HVS yang sampulnya berwarna bendera Indonesia. “Ini untukmu.”
Kusodorkan buku jilidan itu padanya. Ia berterima kasih dan tampak begitu bahagia menerimanya. Belum pernah ada orang lain yang memberinya hadiah. Ia mengatakan akan semakin semangat untuk belajar membaca agar tidak menjadi perempuan yang buta huruf. Ia juga ingin mengajari adiknya membaca. Ia ingin seperti anak perempuan seusianya yang bebas membaca buku kesukaan mereka. “Kamu harus lebih hebat dari hari ini. Kamu akan menemukan dunia yang luas dengan membaca,” pesanku padanya.
***
Sehari sesudah Hari Kemerdekaan, aku lebih bersemangat. Libur pada hari itu membuatku merdeka sejenak dari tumpukan pekerjaan. Menyaksikan banyak kemeriahan di mana-mana. Merelaksikan jaringan syaraf yang tegang. Aku tak sabar bertukar cerita padanya, gadis pedagang tiwul keliling itu, sambil menikmati tiwul hangat buatannya.
Namun rasanya sudah sangat lama aku menunggu kemunculannya yang tak juga tampak. Aku mulai agak cemas. Menduga-duga tentang kondisinya semampu pikiranku. Apakah ia sedang sakit atau dalam masalah lain? Entahlah.
Sampai akhirnya angkutan umum yang biasa mengantarku ke kantor telah berada di depan halte dan memanggilku untuk segera masuk ke dalam mobil. Aku ragu, ada rasa ganjil yang tidak biasa menderaku. Aku ingin menunggunya, tapi aku juga harus segera berangkat ke kantor. Maka kuputuskan untuk masuk ke dalam mobil.
Menurutku sih, merdeka itu ya merdeka, Kak. Setiap rumah pasang bendera merah-putih dan bendera warna-warni lainnya. Supaya meriah. Katanya sih, biar arwah pahlawan senang karena jasa-jasanya diingat.
Di dalam angkutan umum, seperti biasanya aku duduk paling depan di sebelah Pak Sopir. Jika di hari-hari biasanya aku banyak mengobrol dengannya, pagi ini aku memilih untuk diam sambil terus memikirkan tentang Mirfa. Aku merindukannya. Aku merindukan gadis muda yang punya tekad dan semangat itu.
Barangkali karena terus termenung Pak Sopir akhirnya mengajakku bicara. Membahas tentang Mirfa. Dan apa yang dikatakan Pak Sopir membuatku tersentak.
“Jangan menunggu dia lagi, Mas.”
“Ke-kenapa, Pak?” tanyaku cemas. “Ada apa?”
Pak Sopir tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menyodorkan kertas yang tergeletak di depannya kepadaku. Dengan gugup kubuka lipatan kertas itu perlahan. Tidak ada yang benar-benar tahu dan mengerti bagaimana perasaanku ketika aku membaca apa yang tertulis di kertas itu. Sebuah kalimat ditulis tidak rapi yang membuatku bergetar dan terharu.
“TERIMA KASIH KAK. MERDEKA!”
Aku benar-benar tidak menyangka Mirfa menuliskan itu untukku. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya. Namun hatiku masih terganjal oleh sebab kenapa Mirfa mengirimiku pesan singkat itu, juga perkataan Pak Sopir yang menyuruhku untuk tidak lagi menunggu Mirfa di halte. Aku segera bertanya kepada Pak Sopir untuk mendapatkan jawabannya.
“Kemarin pas libur tujuh belasan, Bapak bertemu sama dia, Mas. Dia kelihatan senang. Terus dia minta Bapak memberikan kertas itu buat Mas Syahdan. Dia juga bilang, kalau dia akan pindah. Mungkin tidak akan kembali ke kota ini lagi kecuali nasib yang buat dia kembali. Dia mendoakan Mas Syahdan supaya sukses dalam pekerjaan dan selalu menjadi orang yang tulus hatinya. Dia berjanji tidak akan pernah melupakan Mas Syahdan.”
Aku hanya bisa terdiam tanpa memberikan argumen kepada Pak Sopir. Aku sudah mendapatan jawabannya. Rasa sedih menjalari tubuhku. Aku ingin meneteskan air mata untuk perpisahan itu. Tapi aku juga tak bisa melawan takdir. Mirfa memutuskan apa yang terbaik menurutnya. Dan ucapan terima kasih disertai kata ‘merdeka’ yang ia tulis di kertas itu adalah sepotong kalimat sederhana yang membuatku bahagia. Mirfa benar-benar berusaha untuk memerdekakan dirinya sendiri dari ketidaktahuan.
Dari jendela mobil, aku memandang langit pagi yang cerah. Merekah seperti bunga Morning Glory yang semarak. Aku hanya bisa berdoa untuknya dan berharap suatu hari nanti waktu mempertemukanku dengannya kembali. Mirfa, gadis pedagang tiwul keliling itu.
***M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam beberapa kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020)), Antologi Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) dan telah tersebar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Haluan Padang, Riau Pos, Fajar Makassar, Kedaulatan Rakyat, Radar Malang, Bangka Pos, ide.ide.id, biem.co, magrib.id, bacapetra.co dll. Bergabung dengan komunitas menulis Kelas Puisi Alit (Kepul) dan Genitri.
sumber : kompas.id, 29 Okt 2022.