Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Arif Purnama Putra oleh M.Z. Billal

Posted on Sab, 29 Okt 2022

Sudah dua pekan sejak aku mengenalnya, menjelang angkutan umum yang selalu mengantarku ke tempat kerja datang menjemputku, aku selalu dengan senang hati membacakan untuknya sekitar dua halaman dari sebuah novel yang terbaru kubeli. Tidak peduli meski ada beberapa orang di tempat itu. Mereka yang juga menunggu angkutan sepertinya sudah memahami kebiasaan ini.

Dia selalu dengan tenang tanpa banyak bertanya ketika aku membaca. Menghayati tiap kalimat yang menggambarkan alur cerita. Sembari sesekali kunikmati sarapan pagi yang kubeli darinya. Sebungkus tiwul hangat yang rasanya enak. Sikapnya yang ramah dan santun semakin membuatku menikmati penantian pagi bersama hobi membacaku. Bahkan, kadang aku tak berharap angkutan datang cepat ke halte ini.

Padahal bisa saja aku menyelesaikan novel ini dalam seminggu dan segera kubeli yang baru, namun membacakan dan memahami isi buku bacaan secara bersama itu juga hal yang mengasyikkan. Apa lagi untuknya. Gadis muda pedagang tiwul di halte. Mirfa namanya. Gadis berwajah manis yang pada saat pertama kali bertemu denganku ia langsung berani menyapa dengan santun dan bertanya perihal hobi membacaku. Ia menganggap hobiku hebat. Karyawan dengan setumpuk pekerjaan masih menyempatkan diri untuk membaca novel yang isinya tak ada kaitannya dengan profesi. Aku tidak terlalu tersanjung dengan pujiannya. Sebab siapa pun dengan profesi apa pun bisa memiliki hobi yang sering dinyatakan oleh sembilan puluh lima persen manusia di bumi ini. Yakni membaca. Aku anggap pujian kala itu adalah prosedurnya untuk mendapatkan pembeli.

Namun semakin aku mengenalnya semakin pula ia menceritakan siapa dirinya. Barulah aku tahu bahwa Mirfa adalah gadis muda yang kurang beruntung. Ia sama sekali tak bisa membaca. Hanya sekadar mengenal huruf alfabet, tak dapat merangkainya menjadi sebuah kata sekali pun itu kata “B-U-D-I” yang sering diajarkan pada umumnya oleh guru di kelas satu sekolah dasar. Ia bercerita padaku, ia hanya bersekolah kelas satu selama sebulan lalu orang tuanya memutuskan untuk pindah dan tinggal di kebun kampung. Selama di kebun kampung ia malah tak melanjutkan sekolahnya. Benar-benar tak menemukan buku. Bahkan penerangan di gubuk hanyalah lampu minyak. Sehari-hari ia hanya melihat hutan karet yang masih penuh dengan tanaman liar dan pohon-pohon tinggi tempat singgah burung-burung berukuran besar. Barulah setelah kepindahannya ke kota ini dan mempunyai seorang adik yang baru masuk kelas satu sekolah dasar, ia merasa bebas memiliki hidup yang lebih baik meski hanya menjadi pedagang tiwul keliling.

Aku merasa sangat tersentuh dengan cerita hidup Mirfa. Ia adalah gadis yang punya semangat, tak kenal putus asa. Meski keadaan memaksanya untuk berhenti meraih keinginnya. Tapi harapan yang ia bakar dalam jiwanya membuat ia kuat, lebih kuat dari gadis muda seusianya yang hidup dalam kecukupan. Ia tak ingin adik satu-satunya memiliki nasib yang sama dengannya. Hal itulah yang membuatku semangat untuk menemani paginya yang berkabut. Kadang sembari membaca kubeli sepuluh bungkus tiwulnya seharga seribu per bungkusnya setiap pagi dan kubagikan ke teman-teman sekantorku. Ia juga kuajari mengenal satu sampai tiga kata setiap paginya. Ia seperti adik perempuan bagiku. Kadang kulihat ia tampak sedih dan sedikit kecewa ketika kami tidak bertemu di akhir pekan. Sebab itu artinya ia harus bersabar menunggu sampai hari Senin untuk mendengarkanku membaca dan juga mengajarinya mengenal kata. Seperti pagi Jum’at ini misalnya. Angkutan umum datang lebih cepat dari biasanya.

“Sampai besok hari Senin ya, Dik! Kamu harus terus belajar di rumah sesudah berjualan.” Aku tersenyum padanya sambil kumasukkan buku dan sepuluh bungkus tiwul ke dalam tas. “Semoga tiwulmu laris. Semangat!”

“Iya, Kak,” balasnya sambil menganggukkan kepalanya.

Segera aku masuk ke dalam mobil angkutan. Sebelum mobil bergerak menjauh kulambaikan tangan padanya. Ia juga melambaikan tangannya dan tersenyum. Barangkali orang-orang yang berada di dalam angkutan ini merasa aneh dengan sikapku kepada gadis pedagang tiwul keliling itu, kecuali Pak Sopir yang sudah akrab dengan apa yang aku lakukan. Namun aku tidak pernah mau ambil pusing. Siapa pun berhak melakukan apa pun asal itu tidak melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Mengenal Mirfa adalah sebuah kenyamanan meski ia bukan putri dari seorang pejabat.

***

Sejak mengenalku, Mirfa mengatakan bahwa hari Senin seperti hari kelahirannya. Ia merasa ulang tahunnya dirayakan seminggu sekali. Dan orang yang rajin mengucapkan kata selamat itu padanya adalah aku. Sebab itu artinya selama lima hari ke depan ia akan banyak mendapat ilmu membaca dariku. Selain itu, ia juga bilang bahwa halte seperti sekolahnya dulu saat masih kecil. Sementara aku adalah wali kelasnya yang baik hati. Itu benar-benar menggelitik hatiku. Membuatku kadang tersenyum sendiri ketika mengingat ucapan Mirfa.

Mirfa selalu tampak bersemangat ketika melihatku sudah duduk di halte, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Tak peduli meski cuaca kadang membuatnya tampak kurang sehat. Ia tetap tersenyum secerah matahari kepadaku dan siapa saja yang ia hampiri untuk ditawari tiwul dagangannya.

“Selamat pagi, Kak.”

Aku mengangguk membalas sapanya sembari tersenyum. Tidak ingin menasehatinya terlalu jauh, aku hanya menyarankannya agar ia beristirahat dulu di rumah jika kondisi badan masih kurang sehat. Ia mengangguk mengiyakan ucapanku.

“Maaf ya, Dik. Hari ini kakak lupa membawa buku ceritanya. Mungkin karena buru-buru ke sini. Tapi malah tertinggal di rumah,” kataku memberi kabar padanya. Mirfa tampak sedikit kecewa karena ia tadi sudah tidak sabar mendengar kelanjutan kisah perjuangan seorang gadis dalam novel tersebut. Namun ia segera memaafkanku yang juga tidak enak hati padanya.

“Hmm.. kakak mau bertanya saja hari ini,” kataku segera mengalihkan kekecewaannya.

“Apa itu, Kak?” balasnya mendadak gugup. “Wah, jangan susah-susah ya, Kak.”

“Menurut Mirfa, apa sih merdeka itu, Dik? Jawab saja semampumu ya.”

Mirfa kelihatan salah tingkah. Ia kebingungan menemukan jawaban. Barangkali ia juga mungkin kurang mengerti arah pertanyaanku. Agar ia tak terlalu gugup aku memintanya untuk mengatakan apa yang dipikirkan olehnya. Tidak perlu berpikir keras agar aku terkesima dengan jawabannya.

“Menurutku sih, merdeka itu ya merdeka, Kak. Setiap rumah pasang bendera merah-putih dan bendera warna-warni lainnya. Supaya meriah. Katanya sih, biar arwah pahlawan senang karena jasa-jasanya diingat.”

Mendengar jawaban Mirfa yang polos, membuatku nyaris mendengus ingin tertawa. Namun aku sadar itu akan membuatnya semakin panik dan tampak bodoh. Ia akan sedih. Maka aku hanya tersenyum seraya menatap tepat ke matanya yang jernih belum tercemar oleh kemajuan teknologi. Ia gugup dan menunduk. Mungkin menganggap bahwa jawabannya sama buruknya dengan nasibnya yang kurang beruntung.

“Kakak suka jawabanmu, Dik,” kataku memuji. Agar ia segera bangkit dari keragu-raguannya. “Ya merdeka memang seperti itu. Meriah. Tidak ada yang salah dengan jawabanmu.”

“Terima kasih, Kak,” balasnya tersipu malu.

“Kakak ingin memberi hadiah untukmu,” kataku sambil mengeluarkan sebuah buku membaca untuk pemula hasil buatanku sendiri yang kudesain semalaman di rumah dan kucetak dengan menggunakan kertas HVS yang sampulnya berwarna bendera Indonesia. “Ini untukmu.”

Kusodorkan buku jilidan itu padanya. Ia berterima kasih dan tampak begitu bahagia menerimanya. Belum pernah ada orang lain yang memberinya hadiah. Ia mengatakan akan semakin semangat untuk belajar membaca agar tidak menjadi perempuan yang buta huruf. Ia juga ingin mengajari adiknya membaca. Ia ingin seperti anak perempuan seusianya yang bebas membaca buku kesukaan mereka. “Kamu harus lebih hebat dari hari ini. Kamu akan menemukan dunia yang luas dengan membaca,” pesanku padanya.

***

Sehari sesudah Hari Kemerdekaan, aku lebih bersemangat. Libur pada hari itu membuatku merdeka sejenak dari tumpukan pekerjaan. Menyaksikan banyak kemeriahan di mana-mana. Merelaksikan jaringan syaraf yang tegang. Aku tak sabar bertukar cerita padanya, gadis pedagang tiwul keliling itu, sambil menikmati tiwul hangat buatannya.

Namun rasanya sudah sangat lama aku menunggu kemunculannya yang tak juga tampak. Aku mulai agak cemas. Menduga-duga tentang kondisinya semampu pikiranku. Apakah ia sedang sakit atau dalam masalah lain? Entahlah.

Sampai akhirnya angkutan umum yang biasa mengantarku ke kantor telah berada di depan halte dan memanggilku untuk segera masuk ke dalam mobil. Aku ragu, ada rasa ganjil yang tidak biasa menderaku. Aku ingin menunggunya, tapi aku juga harus segera berangkat ke kantor. Maka kuputuskan untuk masuk ke dalam mobil.

Menurutku sih, merdeka itu ya merdeka, Kak. Setiap rumah pasang bendera merah-putih dan bendera warna-warni lainnya. Supaya meriah. Katanya sih, biar arwah pahlawan senang karena jasa-jasanya diingat.

Di dalam angkutan umum, seperti biasanya aku duduk paling depan di sebelah Pak Sopir. Jika di hari-hari biasanya aku banyak mengobrol dengannya, pagi ini aku memilih untuk diam sambil terus memikirkan tentang Mirfa. Aku merindukannya. Aku merindukan gadis muda yang punya tekad dan semangat itu.

Barangkali karena terus termenung Pak Sopir akhirnya mengajakku bicara. Membahas tentang Mirfa. Dan apa yang dikatakan Pak Sopir membuatku tersentak.

“Jangan menunggu dia lagi, Mas.”

“Ke-kenapa, Pak?” tanyaku cemas. “Ada apa?”

Pak Sopir tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menyodorkan kertas yang tergeletak di depannya kepadaku. Dengan gugup kubuka lipatan kertas itu perlahan. Tidak ada yang benar-benar tahu dan mengerti bagaimana perasaanku ketika aku membaca apa yang tertulis di kertas itu. Sebuah kalimat ditulis tidak rapi yang membuatku bergetar dan terharu.

“TERIMA KASIH KAK. MERDEKA!”

Aku benar-benar tidak menyangka Mirfa menuliskan itu untukku. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya. Namun hatiku masih terganjal oleh sebab kenapa Mirfa mengirimiku pesan singkat itu, juga perkataan Pak Sopir yang menyuruhku untuk tidak lagi menunggu Mirfa di halte. Aku segera bertanya kepada Pak Sopir untuk mendapatkan jawabannya.

“Kemarin pas libur tujuh belasan, Bapak bertemu sama dia, Mas. Dia kelihatan senang. Terus dia minta Bapak memberikan kertas itu buat Mas Syahdan. Dia juga bilang, kalau dia akan pindah. Mungkin tidak akan kembali ke kota ini lagi kecuali nasib yang buat dia kembali. Dia mendoakan Mas Syahdan supaya sukses dalam pekerjaan dan selalu menjadi orang yang tulus hatinya. Dia berjanji tidak akan pernah melupakan Mas Syahdan.”

Aku hanya bisa terdiam tanpa memberikan argumen kepada Pak Sopir. Aku sudah mendapatan jawabannya. Rasa sedih menjalari tubuhku. Aku ingin meneteskan air mata untuk perpisahan itu. Tapi aku juga tak bisa melawan takdir. Mirfa memutuskan apa yang terbaik menurutnya. Dan ucapan terima kasih disertai kata ‘merdeka’ yang ia tulis di kertas itu adalah sepotong kalimat sederhana yang membuatku bahagia. Mirfa benar-benar berusaha untuk memerdekakan dirinya sendiri dari ketidaktahuan.

Dari jendela mobil, aku memandang langit pagi yang cerah. Merekah seperti bunga Morning Glory yang semarak. Aku hanya bisa berdoa untuknya dan berharap suatu hari nanti waktu mempertemukanku dengannya kembali. Mirfa, gadis pedagang tiwul keliling itu.

***M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam beberapa kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Antologi Rantau Komunitas Negeri Poci (2020)), Antologi Sebuah Usaha Memeluk Kedamaian (2021) dan telah tersebar di berbagai media seperti Pikiran Rakyat, Haluan Padang, Riau Pos, Fajar Makassar, Kedaulatan Rakyat, Radar Malang, Bangka Pos, ide.ide.id, biem.co, magrib.id, bacapetra.co dll. Bergabung dengan komunitas menulis Kelas Puisi Alit (Kepul) dan Genitri.

sumber : kompas.id, 29 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme