Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Langit Merah Gegunung oleh Tsalaisye

Posted on Sab, 12 Nov 2022

Risman tak menyangka, malam ketika ia pergi membeli minyak goreng di warung menjadi malam yang penting. Begitu pentingnya hingga seluruh warga, terutama warga laki-laki, berkerumun di halaman rumah Pak RW hanya untuk mendengarkan jawaban Risman. Risman dan ibunya duduk di beranda rumah Pak RW. Di lingkaran itu ada Pak RW dan beberapa lelaki lain. Mereka semua orang penting di Desa Gegunung. Mereka menanti jawaban Risman.

“Man, bener yang kamu lihat itu orang ini?” Kata Pak RW sambil menunjuk seorang lelaki yang duduk di hadapan Risman. Risman merasakan badannya gemetar. Panas dingin menyergap sekaligus. Berkali-kali pertanyaan itu bertubi-tubi menyerangnya. Bibirnya masih kaku. Ditatapnya laki-laki yang sedang duduk di hadapannya. Lengan kanan dan kiri lelaki itu dipegangi oleh dua warga. Laki-laki itu memandanginya dengan mata yang bergetar. Risman hanya menelan ludah. Sementara Suratih, istri laki-laki itu pun duduk dengan air mata yang terus mengucur di sekitar pipi keriputnya.

“Coba Nang, diingat-ingat lagi. Yang kamu lihat semalam itu Mang Dakip?“ kata ibunya sambil menepuk halus punggung Risman. Risman kembali menelan ludah. mencoba mengingat kembali peristiwa malam itu.

***

Suara jangkrik berderik di sepanjang jalan pulang. Bagi sebagian orang, suara jangkrik membawa kesan syahdu tersendiri. Mereka bahkan suka mendengarkan nyanyian jangkrik sebagai pengantar tidur. Tapi bagi sebagian yang lain, suara jangkrik tak ubahnya seperti suara yang membuat bulu kuduk merinding. Terlebih lagi mendengarkannya di tengah jalanan gelap. Begitu pula yang dirasakan Risman. Suara jangkrik yang setiap malam ia dengar malam itu terasa berbeda. Dengan perasaan was-was Risman menengok ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya hanyalah ilalang tinggi dan beberapa pohon pisang, jambu, dan mangga.

Risman menghela napas, masih setengah jalan lagi hingga ia mengakhiri jalanan gelap itu. Di ujung sana terlihat cahaya dari lampu depan rumah Mang Komar. Risman memantapkan hatinya, menanggalkan ketakutannya. Kini Risman tak lagi melihat ke kanan dan kiri. Pandangannya lurus ke depan memandang cahaya dari lampu depan rumah Mang Komar. Langkah kakinya terasa berat, meski begitu ia tetap melangkah. Ia kesal pada ibunya yang selarut itu masih saja memintanya membeli minyak goreng di warung.

Jalanan gelap itu hampir habis. Langkah Risman semakin terasa ringan. Tinggal beberapa langkah lagi sampai depan rumah Mang Komar. Setelah rumah Mang Komar, jalanan sudah dipenuhi rumah-rumah penduduk sehingga Risman sudah tak perlu lagi was-was. Tepat sebelum mengakhiri jalanan gelap itu, Risman mendengar suara barang berat yang terjatuh. Suara itu mengingatkan Risman pada suara karung beras yang dijatuhkan oleh seseorang. Risman menengok ke kanan. Dilihatnya deretan pohon pisang tak bergeming sedikitpun. Risman menengok ke kiri. Dilihatnya kumpulan ilalang setinggi lututnya. Tak bergeming pula. Hanya suara jangkrik yang masih berderik kencang. Bulu kuduknya berdiri. Tengkuk dan pundaknya menjadi terasa berat dan semakin lama semakin terasa panas. Risman yakin telinganya mendengar suara itu tetapi matanya tak dapat membuktikkannya. Lalu ia memaksakan diri meneruskan langkahnya. Susah payah ia melangkah. Dan baru saja dua langkah ia maju, ia mendengar suara lagi. Bukan suara barang jatuh. Kali ini suara yang didengarnya seperti suara orang yang sedang menyeruput kuah mie instan. Risman sedikit lega. Mungkin saja Mang Komar malam-malam sedang makan mie instan di depan rumah. Ia percepat langkahnya.

“Mang Ko–“ belum selesai ia hendak menyapa Mang Komar, badannya kaku melihat sesuatu di depan matanya. Dilihatnya seseorang yang dibalut dengan kain hitam sedang duduk bersimpuh dan menjilati sandal kecil milik anak Mang Komar. Kain hitam itu membalut tubuh dengan sempurna. Bahkan di kepalanya terdapat ikatan yang serupa dengan pocong. Orang dengan kain hitam itu, menghentikan aktivitasnya. Kepalanya perlahan memutar ke arah Risman. Menyadari hal itu, Risman sekuat tenaga berusaha untuk menggerakan badannya. Sekilas Risman seperti melihat wajah yang dikenalnya. Ia ingat wajah dengan tompel di dagu sebelah kiri itu hanya milik Mang Dakip. Tapi, Risman tak peduli. Ia kabur dari tempat itu dengan berlari sekuat tenaga.

Sampai di rumah Risman menceritakan kejadian itu ke ibunya. Lengkap dengan wajah Pocong Ireng bertompel di dagu yang mirip dengan Mang Dakip. Kabar itu bersambung dari mulut ke mulut. Dalam waktu setengah hari, seluruh warga Gegunung telah mendengarnya.

Memang sudah berbulan-bulan ini, Desa Gegunung mendapati teror Pocong Ireng. Teror ini sangat meresahkan warga. Setiap sandikala, hampir seluruh warga memasukkan barang-barang pribadi seperti sandal, handuk, dan peralatan lainnya ke dalam rumah. Tujuannya agar barang-barang itu terhindar dari jilatan Pocong Ireng. Jilatan Pocong Ireng itu dipercaya membuat pemilik barang akan sakit bahkan mati. Beberapa orang yang dicurigai korban Pocong Ireng sudah berjatuhan. Dari anak-anak hingga kakek-nenek. Mereka mengalami tubuhnya memar-memar tiba-tiba tanpa sebab dan musabab. Kemudian mereka mati hanya dalam hitungan hari.

Para warga bergantian datang ke rumah Risman. Mereka menanyakan langsung perihal peristiwa semalam.

“Ah yakin nggak kamu, Man? Yang kamu lihat itu Mang Dakip?”

“Ya..Yakin, aku lihat tompel di dagunya!”

“Astagfirullah! Amit-amit!”

Sebenarnya kabar Mang Dakip dalang dari teror Pocong Ireng sudah tidak mengagetkan lagi. Warga memang sudah lama mencurigai Mang Dakip. Kecurigaan warga Gegunung tidak tanpa alasan. Semua ini berawal dari Suratih, istri Mang Dakip mengatakan kalau ia tidak akan sembahyang sebelum menjadi kaya raya. Tak lama setelah perkataan istri Mang Dakip itu, tiba-tiba lembaran uang yang selama ini dikumpulkan oleh Mang dakip dan istrinya lenyap dimakan rayap. Hampir seluruh bagian uang habis dimakan rayap dalam semalam. Istrinya tidak kuat menerima kejadian itu. Ia depresi. Tidak tahan menghadapi depresi istrinya, Mang Dakip pergi entah ke mana.

Tidak ada yang tahu kepergiaan Mang Dakip. Suratih pun bungkam ketika orang-orang menanyakan keberadaan Mang Dakip. Baru pada bulan kelima, Mang Dakip kembali. Kedatangan Mang Dakip disambut bahagia oleh Suratih. Kabarnya Mang Dakip membawa sekarung uang. Uang itu yang membuat senyum istrinya langsung mengembang meski ditinggal lima bulan. Uang itu mula-mula dibelikan baju-baju baru, peralatan rumah, dan peralatan elektronik. Semakin lama, Mang Dakip mulai terlihat membeli sawah dan tanah. Puncaknya adalah membangun rumah baru. Rumah Mang Dakip bak rumah konglomerat di tengah-tengah rumah warga yang masih tergolong sederhana. Bagi warga Gegunung rumah itu seperti rumah-rumah yang biasa dilihatnya di sinetron. Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali hanya Mang Dakip dan istrinya. Tak lama setelah Mang Dakip menyulap rumahnya itu, teror Pocong Ireng merajalela.

Selama ini warga merasa geram karena tidak bisa mengadili Mang Dakip. Yang bisa dilakukan hanya menghindari tatapan dan berbicara dengan lelaki paruh baya itu. Begitu pula dengan ibu-ibu. Mereka memilih menghindari Suratih ketika berbelanja di warung. Beberapa warga ingin menghujaninya dengan pukulan ketika Mang Dakip lewat. Namun itu tidak dilakukannya karena satu alasan. Tidak ada bukti. Kejadian yang dialami Risman seolah menjadi gayung bersambut bagi warga. Terutama bagi warga yang keluarganya meninggal mendadak. Mereka menyeret Mang Dakip dan istrinya ke rumah Pak RW tak lebih dari sehari setelah malam kejadian yang dialami Risman itu.

***

“Iya, itu Mang Dakip, Ma.” Suara Risman lirih tetapi mampu menembus kerumunan orang-orang pada saat itu. Memasuki gendang telinga mereka. “Dakip! Asu!” Teriak seorang lelaki yang baru saja mendapat lelayu. Dilemparnya bongkahan batu yang diam-diam digenggamnya sedari tadi. Batu itu tepat mengenai punggung Mang Dakip. Mang Dakip menjerit. Seperti sebuah komando, lemparan batu pertama disusul oleh lemparan batu dari orang-orang lain. Orang-orang di beranda rumah Pak RW terbirit-birit menyelamatkan diri. Risman dan ibunya berlari ke dalam rumah Pak RW. Di pelukan ibunya, Risman menangis. Ia mendengar teriakan dari luar memekakkan telinganya. Bocah lima belas tahun itu tak pernah menyangka ucapan di mulutnya akan membawa petaka.

Malam itu angin bergemuruh dari barat. Deretan pohon bambu berdenyit. Langit malam itu berwarna kemerahan. Langit Desa Gegunung seolah mengerti suasana yang pas untuk menggambarkan perasaan warganya malam itu. Malam itu, anak kecil tak berani tidur sendiri. Bahkan untuk sekadar memejamkan mata pun mereka tak bernyali. Mereka hanya meringkuk di dalam pelukan ibunya. Dalam pelukan itu, anak-anak merasakan detak jantung ibunya sangat kencang. Para ibu memeluk dan mengusap-usap punggung anaknya, sementara mulutnya bersenandung tetembangan dengan sangat lirih. Mereka sengaja memelankan suara agar tetap waspada. Telinga dan matanya terus mengawasi apa yang terjadi di luar. Tak seperti biasa, tak ada suara derik jangkrik. Malam itu, langit berwarna merah, seperti kobaran api dalam amarah.

***

Keesokan paginya, untuk pertama kali Desa Gegunung menjadi topik utama dalam koran. Beberapa koran lokal menuliskan judul yang kompak: Sepasang Suami Istri Dituduh Melakukan Pesugihan Tewas Dihakimi Massa.

***

Tsalaisye, lahir pada 29 Maret 1994. Lulusan S-1 Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini bekerja di bidang Bahasa dan Sastra sambil sesekali melirik jendela mencari inspirasi menulis.

sumber : kompas.id, 12 Nov 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme