Risman tak menyangka, malam ketika ia pergi membeli minyak goreng di warung menjadi malam yang penting. Begitu pentingnya hingga seluruh warga, terutama warga laki-laki, berkerumun di halaman rumah Pak RW hanya untuk mendengarkan jawaban Risman. Risman dan ibunya duduk di beranda rumah Pak RW. Di lingkaran itu ada Pak RW dan beberapa lelaki lain. Mereka semua orang penting di Desa Gegunung. Mereka menanti jawaban Risman.
“Man, bener yang kamu lihat itu orang ini?” Kata Pak RW sambil menunjuk seorang lelaki yang duduk di hadapan Risman. Risman merasakan badannya gemetar. Panas dingin menyergap sekaligus. Berkali-kali pertanyaan itu bertubi-tubi menyerangnya. Bibirnya masih kaku. Ditatapnya laki-laki yang sedang duduk di hadapannya. Lengan kanan dan kiri lelaki itu dipegangi oleh dua warga. Laki-laki itu memandanginya dengan mata yang bergetar. Risman hanya menelan ludah. Sementara Suratih, istri laki-laki itu pun duduk dengan air mata yang terus mengucur di sekitar pipi keriputnya.
“Coba Nang, diingat-ingat lagi. Yang kamu lihat semalam itu Mang Dakip?“ kata ibunya sambil menepuk halus punggung Risman. Risman kembali menelan ludah. mencoba mengingat kembali peristiwa malam itu.
***
Suara jangkrik berderik di sepanjang jalan pulang. Bagi sebagian orang, suara jangkrik membawa kesan syahdu tersendiri. Mereka bahkan suka mendengarkan nyanyian jangkrik sebagai pengantar tidur. Tapi bagi sebagian yang lain, suara jangkrik tak ubahnya seperti suara yang membuat bulu kuduk merinding. Terlebih lagi mendengarkannya di tengah jalanan gelap. Begitu pula yang dirasakan Risman. Suara jangkrik yang setiap malam ia dengar malam itu terasa berbeda. Dengan perasaan was-was Risman menengok ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya hanyalah ilalang tinggi dan beberapa pohon pisang, jambu, dan mangga.
Risman menghela napas, masih setengah jalan lagi hingga ia mengakhiri jalanan gelap itu. Di ujung sana terlihat cahaya dari lampu depan rumah Mang Komar. Risman memantapkan hatinya, menanggalkan ketakutannya. Kini Risman tak lagi melihat ke kanan dan kiri. Pandangannya lurus ke depan memandang cahaya dari lampu depan rumah Mang Komar. Langkah kakinya terasa berat, meski begitu ia tetap melangkah. Ia kesal pada ibunya yang selarut itu masih saja memintanya membeli minyak goreng di warung.
Jalanan gelap itu hampir habis. Langkah Risman semakin terasa ringan. Tinggal beberapa langkah lagi sampai depan rumah Mang Komar. Setelah rumah Mang Komar, jalanan sudah dipenuhi rumah-rumah penduduk sehingga Risman sudah tak perlu lagi was-was. Tepat sebelum mengakhiri jalanan gelap itu, Risman mendengar suara barang berat yang terjatuh. Suara itu mengingatkan Risman pada suara karung beras yang dijatuhkan oleh seseorang. Risman menengok ke kanan. Dilihatnya deretan pohon pisang tak bergeming sedikitpun. Risman menengok ke kiri. Dilihatnya kumpulan ilalang setinggi lututnya. Tak bergeming pula. Hanya suara jangkrik yang masih berderik kencang. Bulu kuduknya berdiri. Tengkuk dan pundaknya menjadi terasa berat dan semakin lama semakin terasa panas. Risman yakin telinganya mendengar suara itu tetapi matanya tak dapat membuktikkannya. Lalu ia memaksakan diri meneruskan langkahnya. Susah payah ia melangkah. Dan baru saja dua langkah ia maju, ia mendengar suara lagi. Bukan suara barang jatuh. Kali ini suara yang didengarnya seperti suara orang yang sedang menyeruput kuah mie instan. Risman sedikit lega. Mungkin saja Mang Komar malam-malam sedang makan mie instan di depan rumah. Ia percepat langkahnya.
“Mang Ko–“ belum selesai ia hendak menyapa Mang Komar, badannya kaku melihat sesuatu di depan matanya. Dilihatnya seseorang yang dibalut dengan kain hitam sedang duduk bersimpuh dan menjilati sandal kecil milik anak Mang Komar. Kain hitam itu membalut tubuh dengan sempurna. Bahkan di kepalanya terdapat ikatan yang serupa dengan pocong. Orang dengan kain hitam itu, menghentikan aktivitasnya. Kepalanya perlahan memutar ke arah Risman. Menyadari hal itu, Risman sekuat tenaga berusaha untuk menggerakan badannya. Sekilas Risman seperti melihat wajah yang dikenalnya. Ia ingat wajah dengan tompel di dagu sebelah kiri itu hanya milik Mang Dakip. Tapi, Risman tak peduli. Ia kabur dari tempat itu dengan berlari sekuat tenaga.
Sampai di rumah Risman menceritakan kejadian itu ke ibunya. Lengkap dengan wajah Pocong Ireng bertompel di dagu yang mirip dengan Mang Dakip. Kabar itu bersambung dari mulut ke mulut. Dalam waktu setengah hari, seluruh warga Gegunung telah mendengarnya.
Memang sudah berbulan-bulan ini, Desa Gegunung mendapati teror Pocong Ireng. Teror ini sangat meresahkan warga. Setiap sandikala, hampir seluruh warga memasukkan barang-barang pribadi seperti sandal, handuk, dan peralatan lainnya ke dalam rumah. Tujuannya agar barang-barang itu terhindar dari jilatan Pocong Ireng. Jilatan Pocong Ireng itu dipercaya membuat pemilik barang akan sakit bahkan mati. Beberapa orang yang dicurigai korban Pocong Ireng sudah berjatuhan. Dari anak-anak hingga kakek-nenek. Mereka mengalami tubuhnya memar-memar tiba-tiba tanpa sebab dan musabab. Kemudian mereka mati hanya dalam hitungan hari.
Para warga bergantian datang ke rumah Risman. Mereka menanyakan langsung perihal peristiwa semalam.
“Ah yakin nggak kamu, Man? Yang kamu lihat itu Mang Dakip?”
“Ya..Yakin, aku lihat tompel di dagunya!”
“Astagfirullah! Amit-amit!”
Sebenarnya kabar Mang Dakip dalang dari teror Pocong Ireng sudah tidak mengagetkan lagi. Warga memang sudah lama mencurigai Mang Dakip. Kecurigaan warga Gegunung tidak tanpa alasan. Semua ini berawal dari Suratih, istri Mang Dakip mengatakan kalau ia tidak akan sembahyang sebelum menjadi kaya raya. Tak lama setelah perkataan istri Mang Dakip itu, tiba-tiba lembaran uang yang selama ini dikumpulkan oleh Mang dakip dan istrinya lenyap dimakan rayap. Hampir seluruh bagian uang habis dimakan rayap dalam semalam. Istrinya tidak kuat menerima kejadian itu. Ia depresi. Tidak tahan menghadapi depresi istrinya, Mang Dakip pergi entah ke mana.
Tidak ada yang tahu kepergiaan Mang Dakip. Suratih pun bungkam ketika orang-orang menanyakan keberadaan Mang Dakip. Baru pada bulan kelima, Mang Dakip kembali. Kedatangan Mang Dakip disambut bahagia oleh Suratih. Kabarnya Mang Dakip membawa sekarung uang. Uang itu yang membuat senyum istrinya langsung mengembang meski ditinggal lima bulan. Uang itu mula-mula dibelikan baju-baju baru, peralatan rumah, dan peralatan elektronik. Semakin lama, Mang Dakip mulai terlihat membeli sawah dan tanah. Puncaknya adalah membangun rumah baru. Rumah Mang Dakip bak rumah konglomerat di tengah-tengah rumah warga yang masih tergolong sederhana. Bagi warga Gegunung rumah itu seperti rumah-rumah yang biasa dilihatnya di sinetron. Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali hanya Mang Dakip dan istrinya. Tak lama setelah Mang Dakip menyulap rumahnya itu, teror Pocong Ireng merajalela.
Selama ini warga merasa geram karena tidak bisa mengadili Mang Dakip. Yang bisa dilakukan hanya menghindari tatapan dan berbicara dengan lelaki paruh baya itu. Begitu pula dengan ibu-ibu. Mereka memilih menghindari Suratih ketika berbelanja di warung. Beberapa warga ingin menghujaninya dengan pukulan ketika Mang Dakip lewat. Namun itu tidak dilakukannya karena satu alasan. Tidak ada bukti. Kejadian yang dialami Risman seolah menjadi gayung bersambut bagi warga. Terutama bagi warga yang keluarganya meninggal mendadak. Mereka menyeret Mang Dakip dan istrinya ke rumah Pak RW tak lebih dari sehari setelah malam kejadian yang dialami Risman itu.
***
“Iya, itu Mang Dakip, Ma.” Suara Risman lirih tetapi mampu menembus kerumunan orang-orang pada saat itu. Memasuki gendang telinga mereka. “Dakip! Asu!” Teriak seorang lelaki yang baru saja mendapat lelayu. Dilemparnya bongkahan batu yang diam-diam digenggamnya sedari tadi. Batu itu tepat mengenai punggung Mang Dakip. Mang Dakip menjerit. Seperti sebuah komando, lemparan batu pertama disusul oleh lemparan batu dari orang-orang lain. Orang-orang di beranda rumah Pak RW terbirit-birit menyelamatkan diri. Risman dan ibunya berlari ke dalam rumah Pak RW. Di pelukan ibunya, Risman menangis. Ia mendengar teriakan dari luar memekakkan telinganya. Bocah lima belas tahun itu tak pernah menyangka ucapan di mulutnya akan membawa petaka.
Malam itu angin bergemuruh dari barat. Deretan pohon bambu berdenyit. Langit malam itu berwarna kemerahan. Langit Desa Gegunung seolah mengerti suasana yang pas untuk menggambarkan perasaan warganya malam itu. Malam itu, anak kecil tak berani tidur sendiri. Bahkan untuk sekadar memejamkan mata pun mereka tak bernyali. Mereka hanya meringkuk di dalam pelukan ibunya. Dalam pelukan itu, anak-anak merasakan detak jantung ibunya sangat kencang. Para ibu memeluk dan mengusap-usap punggung anaknya, sementara mulutnya bersenandung tetembangan dengan sangat lirih. Mereka sengaja memelankan suara agar tetap waspada. Telinga dan matanya terus mengawasi apa yang terjadi di luar. Tak seperti biasa, tak ada suara derik jangkrik. Malam itu, langit berwarna merah, seperti kobaran api dalam amarah.
***
Keesokan paginya, untuk pertama kali Desa Gegunung menjadi topik utama dalam koran. Beberapa koran lokal menuliskan judul yang kompak: Sepasang Suami Istri Dituduh Melakukan Pesugihan Tewas Dihakimi Massa.
***
Tsalaisye, lahir pada 29 Maret 1994. Lulusan S-1 Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Saat ini bekerja di bidang Bahasa dan Sastra sambil sesekali melirik jendela mencari inspirasi menulis.
sumber : kompas.id, 12 Nov 2022.