Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumah oleh Triana Rahayu

Posted on Kam, 24 Nov 2022

Putaran roda mobil memasuki halaman rumah bergaya tropis dengan fasad depan dipenuhi rimbun pergola dan lampu taman yang menyala redup. Aku hampir tak percaya, mobil Jeep hitam yang sangat kukenal telah terparkir di dalamnya. Menyisakan ruang untuk mobilku terparkir di sampingnya.

Dari dalam rumah seorang perempuan paruh baya keluar dengan tergopoh-gopoh. Begitu melihatku, dia tersenyum, sambil membungkukkan sedikit posisi tubuhnya.

”Bre pulang jam berapa, Mbok?” tanyaku sambil menutup pintu mobil.

”Sore tadi, Mbak. Kelihatannya Mas Bre kurang enak badan. Wajahnya pucat. Dari tadi hanya mengurung diri di kamar dan belum makan malam, bahkan belum menyapa Ciko, kura-kura kesayangannya di halaman belakang.”

Kulirik arloji di pergelangan tangan kiriku. Pukul sembilan malam. Berarti saat Bre mengirimkan pesan singkat yang belum juga kubalas, hingga detik ini, dia telah berada di rumah dari perjalanan singkatnya merambah pedalaman Papua. Kepulangan yang lebih cepat dari jadwal yang dijanjikannya.

Kulangkahkan kaki dengan cepat, memasuki ruang tamu. Singgah sebentar di ruang tengah. Menapaki anak tangga demi anak tangga yang berderit halus saat diinjak. Menuju satu ruangan di lantai dua rumahku dengan pintu kayu yang tertutup rapat.

Di depan pintu langkahku terhenti. Entah kenapa mendadak hatiku ragu untuk memasuki kamarku sendiri. Tepatnya, menemui lelaki yang ada di dalam sana. Terakhir kali kami berkomunikasi lewat saluran telepon seminggu yang lalu, dan mengakhiri dengan suasana tegang. Tapi… informasi yang disampaikan Mbok Asih mengenai kondisi lelaki itu menggerakkan jemariku untuk memutar handel pintu dan mendorongnya perlahan.

Mendadak aku terpaku. Apa yang kutemukan di atas ranjang membuat keningku berkerut kencang. Belum pernah kulihat Bre tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Itu bukan Bre Bramasta yang kukenal. Ada apa dengan Bre? Kulangkahkan kaki dengan cepat, mendekatinya.

Pelan…. Sangat pelan, mata Bre yang terpejam perlahan terbuka. Menyadari kedatanganku dia tersenyum tipis. Namun, tubuh itu tak bergerak. Menatap sayu dari balik selimut. Ada yang berusaha diredam, namun tak dapat disembunyikan. Perasaan cemas mendadak menyerangku. Keadaan Bre menjadi fokus perhatianku. Kuraba keningnya cepat. Aku terlonjak. Benar-benar tak percaya.

”Bre… kamu kenapa?” Jantungku mendadak berdegub kencang.

”Bagaimana kabarmu, Kiran?” tanya Bre pelan dengan vibrasi yang terdengar jelas.

Dia masih saja berusaha membuat kondisinya terlihat wajar dan biasa.

”Kamu sakit? Kita ke dokter ya!” Aku benar-benar panik.

”Tidak perlu, aku sudah minum obat,” jawabnya lemah.

”Bre … jangan bandel!” Nada suaraku meninggi. Kuraba sekujur tubuhnya. Panas! Namun Bre terlihat menggigil kedinginan.

”Aku baik-baik saja!”

Aku menggeleng kuat. Menatapnya tak percaya. Puluhan kali Bre melakukan perjalanan. Mendaki puncak-puncak tertinggi, menyusuri urat-urat bumi, sampai melebur dalam kehidupan hutan yang masih perawan, dari dalam negeri sampai ke belahan bumi yang lain, baru kali ini Bre pulang dengan kondisi yang sungguh-sungguh membuat hatiku trenyuh. Padahal… dia hanya pergi ke Papua. Tempat yang sudah sering sekali dikunjunginya.

Tiba-tiba saja Bre menarik tanganku. Menggenggamnya dengan erat di antara panas dingin yang menggigilkan tubuhnya. Menatapku lemah.

”Tolong… peluk aku!” Pintanya.

Tubuhku mematung.

”Hanya itu yang kuinginkan, Kiran!” tatapnya memohon.

Hatiku langsung melesak. Entah kenapa, aku selalu luluh setiap mata sehangat langit senja itu menatapku dengan cara memohon. Padahal, kekecewaan yang belakangan ini sering kutunjukkan padanya, secara jelas, menguatkan hatiku untuk tidak gampang jatuh lagi pada tatapan itu. Bagai terhipnotis, tubuhku malah jatuh dan berbaring di ranjang. Menyusup masuk ke dalam selimut. Memeluknya dari belakang.

”Aku langsung pulang menemuimu begitu mendarat di bandara!” ucapnya memberi penjelasan, tanpa kuminta. ”Apa kau senang Kiran?”

Aku hanya diam. Sepertinya, Bre sedang berusaha mencairkan suasana tegang yang sering terjadi di antara kami akhir-akhir ini, walau jarak sering memisahkan kami. Protes yang sering kulayangkan padanya, beberapa bulan terakhir ini, akhirnya ampuh membawanya untuk langsung menemuiku hari ini. Terlalu sering aku merasa diabaikan. Acapkali aku merasa sendiri. Ya… aku hanya ingin dia meluangkan lebih banyak waktu bersamaku. Permintaan sederhana, tapi, entah kenapa, sulit sekali bagi Bre untuk mengabulkannya. Tidak seperti di awal-awal masa pernikahan kami.

”Aku merindukanmu!” ucap Bre, menyadari ada jeda panjang di antara kami. Ditariknya lenganku. Menenggelamkan tubuhnya lebih dalam, merapat dalam dekap pelukku. ”Apa kau merindukanku, Kiran?”

”Ya…,” jawabku, namun hanya di hati saja. Kurasakaan tubuh ini ikut menahan rasa sakit yang sama, untuk alasan yang berbeda.

Ada apa dengan perasaanku beberapa bulan ini? Ke mana perginya buncahan perasaan di awal pernikahan kami, mendorong troli bersama menyusuri lorong-lorong supermarket, berdebat hanya untuk memilih merek mie instan favorit. Sungguh, aku perempuan yang begitu lemah hanya dengan perhatian-perhatian kecil dari lelaki.

”Kebahagiaanmu semu Kirana!” Selalu itu yang Ibu ucapkan saat kukatakan, aku bahagia hidup bersama Bre, dan meminta Ibu untuk sekali saja membuka pintu hatinya, melihat bagaimana Bre memperlakukanku sebagai perempuan yang dicintainya.

”Secara fisik dia memang terlihat kaku dan jarang tersenyum. Mungkin sebagai arkeolog dia terlalu sering bermain-main dengan benda purbakala, hingga wajahnya selalu terlihat serius. Tapi dia begitu lembut dan penuh kasih saat memperlakukanku, Ibu!” jawabku waktu itu.

”Itu karena lelaki itu sudah berpengalaman,” bantah Ibu. ”Kamu masih muda Kiran, berpendidikan, pekerjaanmu juga bisa menghidupi dirimu sendiri. Hidupmu tidak tergantung padanya. Harusnya kau bisa memilih lelaki yang tepat.”

Aku hanya bisa mengusap dada. Begitu sulit meluluhkan perempuan berhati sekeras karang yang telah membesarkanku seorang diri, untuk menerima lelaki yang telah menikahiku, secara diam-diam, tiga tahun yang lalu, dan meletupkan bara di hati Ibu.

***

Mendadak aku dikejutkan oleh sebuah ciuman. Mendarat tepat di bagian atas kepalaku, dari belakang. Memutus rantai konsentrasiku. Mataku yang terpejam seketika menyalang. Tubuhku yang sedang bersila di atas matras, menghadap kolam koi kecil di halaman belakang, langsung bereaksi. Memutar kepala beberapa derajat, dan menemukannya.

Bre berdiri tepat di belakangku. Kemeja warna khaki dan celana dengan warna senada telah melekat di tubuhnya.

Aku mengernyitkan kening.

Bre membungkukkan badan.

”Aku mau ke kantor,” ucapnya pelan, hati-hati sekali, tepat di telingaku.

”Oh no, Bre…” Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Membalikkan badan.

Secara fisik dia memang terlihat kaku dan jarang tersenyum. Mungkin sebagai arkeolog dia terlalu sering bermain-main dengan benda purbakala, hingga wajahnya selalu terlihat serius. Tapi dia begitu lembut dan penuh kasih saat memperlakukanku, Ibu!

Menatapnya tajam. Satu jam yang lalu, saat aku meninggalkannya di kamar, dia masih tertidur dengan pulas. Kesehatannya masih belum pulih benar. Aku dapat mendeteksi itu. Tapi sekarang, wajah di hadapanku ini tampak berseri-seri dengan semangatnya. ”Tunda dulu! sampai kondisimu benar-benar pulih,” pintaku memohon.

”Aku bosan. Sudah beberapa hari di rumah saja. Berdiam diri di kamar, menonton televisi, justru membuatku bertambah sakit.”

”Kali ini tolong dengarkan aku!” Pintaku sekali lagi. Ritual yoga yang sedang kulakukan benar-benar buyar.

”Aku janji tidak akan lupa minum obat tepat waktu.” Mimik wajahnya seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya untuk dibelikan mainan.

Aku mengalah. Sejak sakit, sikap Bre berubah sedikit manja. Sesuatu yang belum pernah ditunjukkannya selama ini. Bre yang selalu berbicara lugas dan tegas setiap menjadi pembicara di seminar-seminar keilmuannya. Yang bersikap kaku dan pelit tersenyum, bertingkah seperti bukan dirinya. Tapi entah kenapa aku justru suka dengan perubahan itu. Terutama karena dia jadi punya banyak waktu untukku. Apa mungkin rasa sakit bisa mengubah sifat dan kebiasaan seseorang.

Aku bangkit dari duduk. Bersamaan dengan suara ponsel berbunyi. Bre mengeluarkan benda itu dari saku celananya.

Kulirik ponsel Bre, sebaris nama memanggil-manggil di layar ponsel itu. RUMAH!

”Oh ya… selepas jam kantor aku juga akan pulang ke rumah. Aku rindu pada Brina dan Bryan!”

Baca juga:Bulan Ketujuh Kalender Lunar

Ponsel itu kemudian diletakkannya di telinga. Sambil menjawab telepon, Bre berjalan meninggalkanku. Suaranya terdengar sangat bersemangat. Sebesar semangat yang ditunjukkan oleh langkah-langkah kakinya yang bergerak menjauh dariku.

Aku tercenung, menatap kepergiannya dalam diam.

Mendadak terngiang kembali kata-kata Ibu.

”Kamu hanya persinggahan baginya Kirana. Sejauh apa pun seorang lelaki pergi, dia pasti akan kembali ke rumahnya, tempat di mana istri sah dan anak-anaknya menunggu. Seperti ayahmu yang kembali ke istri pertamanya setelah puas bemain hati bersama Ibu, hingga kau terlahir ke dunia. Apa kau ingin mengulang kesalahan yang pernah Ibu lakukan?”

Gerimis kecil mendadak menggenang di mataku.

***Triana Rahayu, lahir di Langsa, Aceh, dan kini berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Penulis merupakan alumnus Institut Pertanian Bogor. Karyanya telah terbit di sejumlah media cetak dan daring, seperti majalah Femina, majalah Kartini, tabloid Nova, koran Media Indonesia, dan Cendana News.

sumber : kompas.id, 24 Nov 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme