Setelah menonton film yang pasangan Tom Hanks dan Meg Ryan adalah bintangnya—lupa judulnya—aku bercita-cita ingin mempunyai toko buku mungil.
Peristiwa itu lima tahun lalu dan sampai detik aku menulis ini belum ada gejala cita-cita itu mewujud. Bahkan rasanya makin tak terjangkau. Ya, alasannya, tiap tahun harga segala sesuatu naik. Sementara pendapatanku sebagai pegawai pemerintah kontrak dengan prestasi biasa-biasa saja dan mengharapkan masukan tambahan itu memalukan.
Memang kalau direken-reken, aku adalah tipe manusia yang selalu ketinggalan waktu lima tahun. Maksudnya begini. Kalau dunia sedang ngetren ponsel keluaran terbaru, misalnya, sudah pasti aku tak mampu membelinya. Aku baru bisa membeli barang itu lima tahun kemudian, setelah tabunganku cukup. Sayangnya, ketika aku sudah punya uang, barang itu sudah ketinggalan zaman. Dunia sudah meluncurkan ponsel baru—berkali-kali bahkan. Pada akhirnya aku akan membeli barang dengan reputasi biasa-biasa saja. Ponsel baru dengan fitur biasa saja. Yang sesuai karakterku. Keterbatasan keuanganku terselamatkan dengan hiburan para bijak bahwa yang penting fungsi. Bukan gaya dan rupa.
Tapi sebenarnya, kadang-kadang, aku kagum kepada orang-orang yang mengikuti zaman, selalu mampu membeli barang keluaran terbaru. Keberadaan mereka menjadikan dunia ini menarik. Kalau dunia dipenuhi orang-orang tanggung sepertiku, yang keberatan membeli barang brand, menunggu musim selesai alias tiba masa diskonan, betapa membosankan.
Tapi juga, kalau disurvei, apakah aku ingin menjadi seperti mereka yang selalu mengikuti tren? Aku akan menjawab, tidak. Gaya hidup mereka belum melebur ke dalam darahku. Kagum belum tentu mau menjalaninya, bukan?
Begitulah aku akan tetap memilih cara dan gaya hidupku seperti ini. Yang serba terbatas. Bagi kamu mungkin membosankan. Bagiku, membosankan yang menyenangkan. Aku menyukai keterbatasanku. Keterbatasan yang membuatku mawas diri dan hati-hati.
Aku juga tidak keberatan mendengarkan ocehan para motivator. Mereka menasihati pendengarnya untuk selalu positif. Menurut mereka, dengan mengafirmasi hal-hal positif, semesta akan mendengar ucapan kita lalu berkonspirasi dalam mewujudkannya. Pikiran yang hebat, kupikir. Kita hebat, kita luar biasa, kita mampu, kita percaya, maka kita bisa. Kata-kata itu terdengar indah.
Bermimpi setinggi bintang! Berani mengejar mimpi. Itu slogan hidup para penganut berpikir positif. Aku suka semangat itu. Tapi sekali lagi, kalau diadakan survei dan kepadaku ditanyakan, apakah aku mau mengikuti cara-cara mereka yang selalu? Tidak. Aku merasa tidak masalah bila hal-hal negatif menudungi hidupku seperti awan. Hidup jadi bergerak, tidak monoton.
Jadi ketika aku membayangkan punya toko buku, dalam pikiranku waktu itu, mimpi itu mungkin akan terealisasi lima tahun kemudian. Karena begitulah fitrahku. Segala sesuatu harus diuji dengan waktu dulu, bukan? Bila keinginan itu menguat, itu berarti panggilan. Kalau keinginan itu meluluh, berarti ia hanya menumpang lewat. Setelah itu hilang.
*
Pada satu hari Perpustakaan Nasional, tempatku bekerja, menugaskanku ke satu ibu kota kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Katanya, pemerintah daerah dalam waktu dekat akan meresmikan gedung perpustakaan yang baru. Mereka ingin sekaligus membuka operasional peminjaman buku secara resmi. Tugasku adalah melatih para petugas perpustakaan untuk membuat klasifikasi dan kategorisasi buku.
”Sebelum ini kabupaten tidak punya perpustakaan ya?” tanyaku kepada pejabat yang kelak akan berkantor di bangunan perpustakaan itu.
”Belum,” jawab pejabat itu, tertawa.
Aku kaget selintas, baru kemudian tertawa. Sebenarnya itu bukan isu baru. Banyak ibu kota kabupaten di negeri ini pun tak punya perpustakaan. Dan semua merasa baik-baik saja. Tidak ada yang salah.
Sebenarnya aku tertawa bukan untuk menertawakan kota itu belum punya perpustakaan. Aku tertawa karena kupikir ibu kota kabupaten ini bersifat sama sepertiku. Sama-sama suka ketinggalan zaman. Kalau aku selalu tertinggal lima tahun, maka ibu kota kabupaten tertinggal kira-kira dua abad. Kenapa begitu?
Begini. Di novel Madame Bovary karya penulis Perancis, Gustave Flaubert, yang berlatar tiga desa kecil—Tostes, Youville, Roven—dan setting waktu pada abad 19 itu, ada potongan yang mengisahkan sudah ada abodenem buku ketika itu. Sekarang, abad 21, dan ibu kota kabupaten itu belum punya perpustakaan. Apa yang dapat diharapkan dari sebuah masyarakat yang tidak membaca? Mereka jelas ketinggalan dua ratus tahun. Ya, Tuhan. Benar-benar menyeramkan.
Untungnya pejabat yang kepadanya aku tertawa tidak ingin tahu kenapa aku tertawa. Kalaupun kuceritakan alasannya, apakah pejabat itu akan merasa malu? Mungkin tidak. Banyak sekali pejabat negeri ini yang sudah jelas melakukan kesalahan, tapi tidak ambil pusing dan merasa itu biasa-biasa saja. Yah, beginilah yang terjadi di negeriku.
Tapi sebenarnya, aku bersyukur dikirim ke kota kecil yang ketinggalan dua ratus tahun ini. Karena justru di kota inilah mimpiku untuk memiliki toko buku sendiri terwujud. Ceritanya begini.
Selama melatih petugas perpustakaan, selama seminggu, aku ditempatkan di satu hotel. Hotel kecil, dengan dua puluh delapan kamar. Sepertinya itu hotel keluarga yang tidak ngoyo soal profesionalisme.
Dan, yang bikin hatiku berkembang adalah, di hotel kecil itu ada satu toko buku mungil. Aku luar biasa girang dan memuji siapa pun yang punya inisiatif menyediakan satu ruang di hotel untuk dijadikan toko buku.
Siapa pemilik hotel yang berpikiran intelek ini? Bahkan di kota itu, itulah satu-satunya toko buku. Toko buku itu terletak di lantai satu hotel, namun sayangnya selalu tertutup.
Ini hari kedua aku tinggal di kota kecil ini. Pintu kaca toko buku yang putih cemerlang seperti etalase yang mempertontonkan buku-buku di dalamnya masih juga tutup.
Ukuran ruang itu tiga kali lima meter. Dua dinding panjangnya ditutupi rak buku yang empat perlimanya menutup dinding, menyentuh langit-langit. Di tengah ada meja panjang dengan empat kursi. Pada satu sisi panjang di ujungnya, ada meja kecil tempat display buku-buku dan dua vas kaktus mini.
Sore itu, aku kembali ke hotel dan mendapati toko buku itu masih tutup.
Begitulah dengan hati menggebu dan sedikit rasa kesal, aku bertanya ke resepsionis tentang keberadaan toko buku. Menjawabku, ia menarik serangkaian tiga kunci, dan berjalan ke toko buku. Aku membuntutinya dari belakang.
”Silakan Ibu lihat-lihat dan membaca. Kalau sudah selesai, tutup saja pintunya,” katanya sambil mendorong pintu toko lebar-lebar.
Aku mengangguk. Aku berterima kasih atas kepercayaannya kepadaku. Ada dua. Dia tidak tahu ada orang sepertiku di dunia ini yang selalu tergoda mencuri buku. Kedua, dia tidak tahu nilai sebuah buku bagi seorang pembaca sepertiku.
Sekarang aku sudah berada di dalam toko buku. Aku berkenalan dengan buku-buku yang menyender malas ke rak-rak buku yang megah dan mahal. Aku mengambil satu buku secara sembarang, menarik kursi, dan duduk di satu dari empat kursi itu.
Halaman buku terbuka di depanku, tapi mataku memperhatikan toko mungil ini. Di sudut kanan ruang ada meja dan komputer kasir dan pernak-pernik ATK. Di sudut kiri ada semacam bufet dengan dua laci terbuka yang dipenuhi buku dan entah apa saja. Di atas bufet ada semacam dinding berisi pengumuman dan foto-foto usang.
”Selamat sore, Bu.”
Aku menoleh untuk menemukan asal suara. Di belakangku berdiri seorang laki-laki. Matanya bersinar, bertanya, ”Suka baca buku ya? Sedang baca buku apa?”
Buku ini, jawabku sambil mengangkat buku di atas kepala. Pangeran dari Timur karya dua penulis Indonesia, Kurnia Effendi dan Iksaka Banu.
”O itu buku bagus. Saya sudah membacanya.”
Aku memandang mata laki-laki itu, berkata, ”Sebenarnya saya sudah membaca buku ini. Saya hanya ingin membaca bagian-bagian buku yang menjadi favorit saya.”
”Wah, hebat!” Lelaki itu menarik kursi di depanku, dan sambil memandangku bertanya, ”Mau mendiskusikan buku itu dengan saya?”
Aku setuju.
Kami segera berbincang soal buku. Segala sisi. Tak terasa kami telah menghabiskan waktu selama dua jam.
Lalu aku bertanya, kenapa toko buku selalu tutup. Dia menjawab toko buku itu tutup karena tidak ada pegawai khusus yang menjaga. Bahwa toko dibuka sejak hotel beroperasi, tujuh tahun lalu, namun tidak maju-maju. Ia sudah membuat beragam kegiatan: memberi hadiah kepada siapa saja yang mau membaca buku, yang mau berkomentar tentang buku yang dibaca. Tidak juga ada respons.
”Mungkin kota ini mati kutu soal buku. Tak peduli buku, tidak peduli membaca.”
Aku prihatin mendengarnya. Lalu aku bercerita tentang mimpiku memiliki toko buku. Kami bersemangat menceritakan mimpi masing-masing sampai seorang petugas hotel menginterupsi obrolan.
”Maaf, saya ada urusan sedikit. Silakan terus di sini,” kata lelaki itu.
”Tidak. Saya pun harus balik ke kamar. Ini sudah malam,” ucapku cepat.
Mendengar itu, ia berbalik, mengambil satu buku begitu saja dari rak. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Ia menyerahkan buku itu kepadaku, berkata, “Ini untuk kamu.”
”Sudah punya,” kataku.
”Hmm… kalau begitu yang ini.”
Dia memperlihatkan Setan van Oyot, Kerang Memanggil Angin, Orang-orang Oetimoe, Mendengarkan Coldplay, Janda Bukan Beranda. Semuanya sudah kupunya.
”Ha-ha-ha… mungkin buku di toko buku ini semuanya sudah kamu baca. Bagaimana kalau….”
”Pak, Bapak ditunggu,” potong petugas hotel itu lagi.
Lalu laki-laki itu permisi. Toko buku ditutup. Aku pun balik ke kamar.
Kelak aku tahu lelaki itu adalah pemilik hotel.
*
Ini tahun kelima sejak aku bercita-cita mempunyai toko buku. Sekarang aku punya toko buku. Tapi bukan karena aku sudah punya uang.
Ya, kamu betul. Toko buku mungil yang kuceritakan di atas itu sekarang milikku. Ceritanya, setelah pertemuan pertama yang mengesankan itu, aku dan pemilik hotel itu jadi dekat. Menjadi lebih dekat karena buku-buku perekatnya. Ketika dia melamarku, tentu saja aku setuju menjadi istrinya. Demikianlah pada akhirnya aku memiliki toko buku mungil yang kuimpikan lima tahun lalu.
*
Ita Siregar, lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 1993. Bekerja di Fulbright American Indonesian Exchange Foundation (Aminef) di Jakarta untuk Program Amerika (2008-2009), majalah Femina (2003-2008). Menulis cerpen, novel, puisi, esai. Esainya memenangi salah satu Lomba Kritik Sastra oleh Dewan Kesenian Jakarta 2013. Buku puisi terbarunya, Ia Dinamai Perempuan (2020), tentang 54 perempuan dalam kitab suci. Tinggal di Balige, Sumatera Utara, sejak 2019 setelah menerima beasiswa Residensi Penulis dari Komite Buku Nasional Kemendikbud sampai sekarang.
sumber : kompas.id, 09 Des 2022.