Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Permen oleh Puspa Seruni

Posted on Kam, 22 Des 2022

Ada lima permen kujajarkan di atas meja, dua permen rasa cherry, satu permen rasa mint, satu rasa anggur, dan satu lagi rasa jahe. Di sebelahnya masih ada tiga permen pelega tenggorokan yang diberikan oleh Pak RT kemarin sore. Di kumpulan lainnya lagi, ada dua biji permen susu yang kudapatkan dari warung Bu Yayuk sebagai kembalian uang belanja. Pemberian permen-permen itu membuatku jengkel, bukan karena Bu Yayuk mengganti uang recehan dengan permen, tetapi karena ucapan Pak RT dan ibu-ibu kompleks yang menganggap aku perlu mengemut permen itu ke mana-mana. Apalagi saat mengingat wajah para pemberi permen yang menatapku dengan pandangan meringis sekaligus cemas.

Dalam satu bulan terakhir, pemberian permen memang kerap kali kuterima dari orang-orang yang kutemui. Awalnya, aku merasa itu adalah sebuah bentuk perhatian dan keramahan saat aku berkunjung ke rumah para tetangga. Pemberian permen itu semakin membuatku betah duduk mengobrol di teras mereka, tetapi saat Pak RT mulai ikut-ikut memberikannya juga—apalagi disertai pandangannya yang menatapku dengan takut-takut—aku mulai menaruh curiga. Jangan-jangan, mereka menyelipkan sesuatu, mungkin racun atau jampi-jampi untuk menjatuhkanku. Bisa jadi, kan? Meski di depanku mereka bersikap baik dan ramah, aku selalu tidak bisa mempercayai tetangga dan Pak RT sepenuhnya.

Isu bahwa aku akan mencalonkan diri sebagai ketua RT tahun depan mungkin membuat Pak RT memcoba mempengaruhi warga untuk tidak memilihku. Pak RT sudah dua kali terpilih dan mungkin terobsesi untuk terpilih pada periode selanjutnya dan karena itulah segala cara dia lakukan untuk menjegalku. Aku, sih, tidak masalah. Toh, aku tahu kapasitasku yang jauh di atas Pak RT. Warga tentu akan lebih memilihku untuk menjadi RT, apalagi itu akan menjadi terobosan baru seorang perempuan menjabat sebagai ketua RT.

Aku menghempaskan tubuh dengan kesal pada kursi kayu yang dibeli beberapa waktu lalu. Kuraba permukaan kayu yang halus dan berpelitur coklat itu. Sebuah mahakarya dari seorang perajin kayu di pesisir Jawa yang sengaja kuletakkan di teras supaya semua orang yang datang atau sekadar melintas tahu bahwa perabot di rumahku memang selalu berkualitas nomor satu. Sambil mengagumi kursi sultan milikku, aku mencoba menganalisis maksud dan tujuan pemberian permen-permen itu.

Mari kita cermati satu per satu pemberi permen itu. Kita mulai saja dari Pak RT. Pak RT, siapapun tahu, dia hanya pensiunan pegawai kecamatan yang karena ketelatenannya mengurus warga dipilih sebagai ketua RT. Sebagai pensiunan tentu gajinya tidak seberapa, apalagi kudengar dia juga hanya pegawai rendahan. Alasan kenapa dia terpilih sebagai ketua RT karena dia telaten membantu warga mengurus administrasi kependudukan di kantor kecamatan dan Dinas Kependudukan, menjadi penengah jika ada warga bermasalah, dan tentu sebagai pensiunan dia memiliki banyak waktu luang untuk memperhatikan warga. Meski gaji sebagai ketua RT tidak seberapa, tetapi kuduga pungutan liar yang dilakukannya mampu membuatnya mampu menambah aset pribadinya.

Berbeda lagi kisah Bu Manda, pemberi permen cherry yang pagi tadi kutemui di Mang Jajang sayur, Perempuan berusia awal tiga puluhan dan beranak satu itu merupakan pekerja kantoran yang hidup sendirian. Kuduga dia dicerai sama suaminya karena terlalu sibuk bekerja atau bisa juga karena penampilannya. Aku bertanya-tanya, apa alasan dia membeli rumah di kampung yang jarak ke kantornya di kota kabupaten hampir tiga puluh kilometer. Desas-desus yang kudengar dia memiliki hubungan gelap dengan seorang pengusaha kayu, karena itulah rumahnya—meski berukuran tidak terlalu besar—terlihat berseni dengan penggunaan kayu-kayu jati tua pada jendela, tiang-tiang penyangga hingga pengaturan taman yang dipenuhi bunga-bunga dan rerumputan.

Setiap acara pengajian, dia selalu menjadi pusat perhatian. Wajahnya yang seputih susu, matanya yang bulat bersinar, hingga tutur katanya yang lembut, meresahkan banyak perempuan. Kuminta ibu-ibu di kampung ini erat memegangi suami-suami mereka, bukan tidak mungkin, kan, Bu Manda diam-diam menjadi duri yang mengancam kelangsungan rumah tangga warga. Bagiku, kehadiran Bu Manda adalah sebuah bencana bagi kampung ini, dan aku sudah punya rencana untuk membuatnya pindah.

Lain lagi kisah Bu Yayuk, pemilik warung yang biasa dijadikan tempat ibu-ibu kompleks mengobrol sambil berbelanja. Meski hanya pemilik warung kelontong kecil dan suami yang stroke sejak lima tahun lalu, dia mampu membiayai anak-anaknya kuliah. Bahkan anak bungsunya melanjutkan ke S2. Aku curiga, di sela aktivitasnya berjualan, dia menyelipkan usaha membungakan uang. Pasalnya aku mendengar, beberapa warga bahkan Imah—pembantu di rumahku—pernah meminjam uang kepadanya saat kepepet. Katanya, Bu Yayuk selalu ringan tangan menolong yang sedang membutuhkan.

Aku menghela napas panjang, sebenarnya masih banyak kisah warga kampung yang bisa kuceritakan. Aku sudah banyak mencermati warga kompleks, mengorek informasi mereka hingga ke ruang paling tersembunyi, dan mengetahui aib-aib mereka semua. Aku menganalisis mereka sebagai bagian dari persiapan mencalonkan diri sebagai RT mendatang. Hasil analisa yang nantinya aku gunakan untuk membuat mereka memilihku di acara pencalonan itu.

Aku berdiri lalu melangkah ke depan pintu. Saat daun pintu mulai terbuka, seketika bau bangkai menyeruak, bertubi-tubi mendesak rongga dada, membuat sesak dan perutku terasa bergolak.

“Imah … Barjo …. sudah periksa plafon belum? Bangkainya sudah dibuang?” Aku mulai menutup hidung dan mulutku dengan tangan kanan, sambil tetap berdiri di ambang pintu. Bau itu semakin menusuk.

“Imah … Barjo ….”

Sampai otot leherku bertonjolan, sepasang suami istri yang sudah bekerja kepadaku selama tiga tahun itu tidak juga menyahut apalagi menghampiriku.

Aku melangkah masuk dan disambut empat pot sedap malam yang diletakkan di pojok ruang tamu. Sedangkan di meja, seikat mawar merah di letakkan dalam vas berukuran sedang. Aku terus masuk menuju ruang makan dan dapur. Jambang berisi kelopak melati serta mawar di letakkan di tengah meja makan dan pot-pot tanaman arumdalu di susun di rak bunga di dekat dapur. Aku telah menyuruh Imah dan Barjo membeli banyak bunga beraroma kuat untuk menghilangkan bau dari rumah ini, tetapi sepertinya tidak berhasil.

Aku membuka pintu kamar satu per satu, kosong. Aku menuju dapur, juga kosong. Aku berlari ke halaman belakang, tetap kosong. Aku menggerutu, di mana orang-orang ini. Apa Imah dan Barjo juga pergi seperti suamiku yang awal minggu lalu meninggalkanku: padahal sudah kubilang kepadanya bau bangkai ini akan kuatasi dengan segera. Aku hanya butuh beberapa botol lagi pewangi ruangan, mungkin lebih banyak bunga dan sedikit teriakan kepada Barjo agar segera memeriksa plafon—karena kuduga dari sanalah bau itu berasal, entah dari bangkai tikus atau yang lain.

“Imah … Barjo ….”

Urat leherku nyaris putus rasanya karena sejak tadi berteriak kepada dua orang pekerja yang belum juga muncul. Mungkin sudah saatnya aku memecat mereka. Selama ini aku tidak pernah bisa bertahan lama dengan pembantu rumah tangga, Imah termasuk yang paling lama, mungkin karena itu dia mulai banyak berbantah. Barjo apalagi. Kerjanya cekatan tetapi seperti sapi penarik pedati, harus dipecut dulu untuk bisa berjalan cepat dan perintahku dituruti.

Aku kembali masuk ke dalam rumah, menuju dapur. Kuteguk segelas air putih yang baru kutuang. Setelah meletakkan gelas, pandanganku beralih ke ruang makan. Ada sesuatu di atas meja dan aku bergegas mengambilnya. Sebungkus permen mint rasa buah serta satu lembar kertas lusuh dengan tulisan tangan yang kukenal adalah milik Shifa, anakku yang berusia enam tahun. Dia memang suka permen sejak masuk TK, tetapi untuk apa dia meninggalkan permen itu di sini?

Aku mengambil surat itu, perlahan membaca isinya kemudian merematnya dengan geram. Pikiran Shifa sudah diracuni oleh bapaknya. Dia meninggalkan permen ini untukku.

Ibu, Shifa ikut bapak dulu.

Shifa mau ibu mengulum permen-permen ini, ya.

Permen ini rasanya enak juga wangi.

Di makan, ya, Bu, supaya mulutnya wangi.

Aku menghembuskan napas ke telapak tangan sambil menghirup aromanya. Ah, tidak seburuk yang disampaikan Pak RT tadi. Orang tua itu benar-benar menyebalkan, gerutuku.

“Mohon maaf sekali, Bu, saya terpaksa menyampaikan ini. Beberapa warga sempat berkeluh kesah kepada saya, menyampaikan bahwa dari rumah ini tercium aroma bangkai, begitu juga saat ibu bicara; di warung sayur, di pengajian ataupun di jalan.”

“Pak RT jangan sembarangan bicara. Saya yakin di antara semua orang di kampung ini hanya saya yang punya jadwal khusus untuk ke dokter gigi.”

Aku berkata dengan dada yang bergemuruh.

“Kami tak meragukan itu, Bu. Warisan ibu sangat banyak, bisnis juga berjalan baik. Siapapun tahu, untuk perawatan tentu sudah ibu lakukan. Hanya saja ….”

“Apa?”

Mataku membulat menatap lelaki yang kepalanya sudah penuh dengan uban itu. Hanya pensiunan pegawai rendahan saja, kok, coba-coba menilaiku.

Aku melemparkan sebungkus permen beserta surat dari Shifa ke lantai, menepis bayangan obrolanku dengan Pak RT tadi pagi. Permen-permen berhamburan dari kantungnya yang robek. Orang-orang ini memang keterlaluan. Suamiku, dua orang pembantu, warga kampung bahkan juga Shifa, bisanya hanya mengeluh dan mengeluh saja. Aku tidak peduli mereka semua menjauhiku. Selama aku masih punya uang, aku bisa mencari pengganti Imah dan Barjo, aku juga sangat yakin suamiku akan kembali nanti. Dan untuk Pak RT juga warga kampung di sini, aku sudah punya rencana, akan kubuat mereka semua menyesal telah memberiku permen.

***

Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo, Jawa Timur, yang saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

sumber : kompas.id, 22 Des 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme