Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Musibat Hemat oleh Gandi Sugandi

Posted on Sab, 24 Des 2022

Herman berdiri hanya berhanduk di depan bak mandi. Tubuhnya sudah bersih diguyur air dan gosokan dari sabun yang sudah kecil. Rambutnya masih basah, sudah bersampo. Saat hendak menggosok gigi, pasta gigi dalam kemasan plastiknya ternyata tinggal sedikit. Akhirnya, urung menggosok gigi, keluar dari kamar mandi.

Di dapur, Herman berkata pada Iros istrinya, “Pasta gigi mau habis. Paling untuk dua kali lagi pakai. Sisa pasta gigi, buat kau saja. Mau beli lagi, uang tidak ada. Mesti nunggu aku dapat uang lagi dari hasil mengojek.”

“Ya Kang, semoga hari ini dapat rezeki lebih,” jawab Iros.

Usai Herman berganti pakaian, bersiap berangkat.

“Eh, sarapan dulu.”

“Tanggung.”

**

Di pertigaan jalan raya kabupaten, ojek-ojek kampung berbanjar. Herman duduk di atas motor bebek yang terbilang tua bila dibandingkan dengan motor kawan-kawan pengojek. Beberapa saat kemudian, sekitar sepuluh meter menjelang pertigaan itu, satu angkutan pedesaan berhenti. Lalu, turunlah tiga orang penumpang, termasuk seorang pria paruh baya yang hendak menemui anaknya.

Kali ini, Herman yang sedang berada di banjar pertama, otomatis yang mendapat penumpang.

“Ojek Pak?” Herman ramah menawari jasa ojek pada pria paruh baya.

“Iya, saya mau ke Kampung Mekar. Berapa ongkosnya?”

Herman tidak langsung menjawab, berpikir dulu untuk menentukan ongkos karena tahu bahwa calon penumpangnya ini bukan penduduk setempat yang biasa naik ojek, tetapi tamu—lagi pula Herman sendiri sedang butuh uang.

“Berapa?” Pria paruh baya mengulangi bertanya.

Herman sedikit gugup menjawab, “Dua puluh ribu Pak.”

“Bisa kurang?”

“Ya sudah segitu biasanya juga.”

Pengojek ini dan penumpang ini pun sepakat dengan satu harga, tetap di harga dua puluh ribu rupiah. Herman gegas menslag motor bebeknya. Suara mesin pun menderu, motor mulai meluncur ke arah utara ke Kampung Mekar, di atas bukit.

Setelah dua ratus meter, di satu pertigaan jalan, jalanan tersendat. Kendaraan-kendaraan dari arah selatan seperti ojek yang Herman tunggangi, harus menunggu keluar-masuk kendaraan dari belokan jalan sebelah kiri—sebagai jalan masuk ke satu-satunya Puskesmas.

Tak berapa lama, atas jasa pengatur liar lalu-lalang kendaraan, jalanan pun lancar kembali. Herman dan pria paruh baya bisa terus melenggang.

Selama dalam perjalanan, Herman dan pria paruh baya lebih banyak diam.

Rumah-rumah penduduk terus terlewati, kemudian, usai sekira lima belas menit pun berlalu, jalanan mulai menanjak. Di kiri kanan, tanah-tanah yang tertanami aneka sayuran—kol, selada bokor, wortel, lobak—terhampar. Di bidang-bidang tanah lain, palawija seperti kentang, kacang panjang, kedelai, juga terlihat sedang tumbuh subur.

Setelah tiba di depan satu rumah berhalaman luas, berpagar besi hitam, pria paruh baya tiba-tiba teringat petunjuk untuk sampai di rumah anaknya, agar berbelok kiri. Herman pun membelokkan motornya. Setelah lima puluh meter, tibalah pula di tempat tujuan.

Sesuai janji kesepakatan, pria paruh baya membayar dua puluh ribu rupiah. Herman menerimanya dengan senang, lalu berlalu begitu saja.

Nining, anak pria paruh baya, menyambut dengan suka cita.

Nining langsung menanyakan ongkos ojek. “Tadi berapa bayar ojek?”

Pria paruh baya menyebutkan satu angka, membuat Nining menggelengkan kepala. “Kemahalan Pak. Biasanya juga hanya sepuluh ribu. Ya mungkin karena Bapak dianggap tamu.”

“Tadi juga sudah ditawar, ya Bapak kira karena tukang ojek kan orang kecil, akan jujur. Ternyata tidak begitu. Tukang ojek bisa berbohong rupanya.”

“Ya sudahlah Pak. Sudah telanjur.”

Pria paruh baya lalu masuk ke dalam rumah.

Di tengah jalan, di depan satu warung, Herman teringat, pasta gigi sudah mau habis. Motor dihentikannya. Namun, saat mengeluarkan uang di saku, yang hanya ada dua puluh ribu. Herman ragu, hingga akhirnya tidak jadi membeli pasta gigi yang berharga sepuluh ribu rupiah. Motor kembali dilajukan.

Tiba di rumah langsung menuju meja makan. Tertampak tempe dan sayur sop saja. Herman mendadak tertegun, kurang bernafsu untuk menyantap hidangan. Istrinya menegur, “Kenapa Kang, menunya kurang?”

“Bukan.”

“Lalu apa?”

Herman bergeming.

“Kenapa Kang?”

“Ya, tiba-tiba saja barusan aku merasa bersalah karena tadi telah menarik ongkos yang lebih mahal pada satu penumpang yang baru.” “Kan biasanya juga suka begitu?”

“Tidak juga. Ya karena aku sedang butuh uang kan? Iya, kan belum punya pasta gigi. Memang sekarang sedang akhir bulan, sepi penumpang.”

“Tetapi…”

“Tetapi kenapa?’

“Kenapa untuk hari ini, di hati kecilku timbul perasaan bersalah? Mendadak juga aku teringat masa laluku. Ya semoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku. Umur orang kan siapa yang tahu.”

“Jangan bicara begitu Kang.”

**

Dua hari kemudian, hari sudah cukup siang, Herman masih saja diam di kamar. Herman sesekali meraung saat nyut-nyut di satu giginya terasa.

“Kau sih, dua hari tidak menggosok gigi, jadinya gigi sakit.” Iros ngomel.

Herman membalas dengan menahan sakit. “Kan aku ingin hemat. Nunggu sampai awal bulan, saat banyak penumpang, baru beli pasta gigi.”

“Iya, tapi kan ini akibatnya. Ya sudah, aku akan ke warung membeli obat. Kau pun bangun, paksakan saja untuk mencari penumpang, supaya tidak begitu terasa sakit giginya.”

Iros pergi ke warung terdekat, berjarak sekitar seratus meter. Herman pun bangun dengan memegangi pipi kanannya menuju dapur. Motor dikeluarkan ke teras depan yang sempit. Mesinnya dihangatkan.

Seraya mendengarkan suara mesin, Herman memegangi kedua pipinya. Sudah banyak bulu yang tumbuh. Dagu dan leher juga dipeganginya, ternyata sama, bulu-bulu sudah cukup lebat.

“Sudah waktunya aku bercukur,” Herman berkata pada dirinya sendiri.

Tanpa memadamkan mesin motor, Herman mengambil alat cukur yang tergolek di bawah kusen jendela muka rumah.

Seperti biasa, spion motor dijadikan cermin. Tertampaklah wajahnya yang kusut, terlihat lebih tua dari umurnya yang sekarang 45 tahun.

Serutan pertama, dimulainya di pipi kanan. Herman mengeluh. “Ya, silet ini sudah tumpul. Mau beli yang baru, mana uangnya? Kan aku harus berhemat.” Meskipun begitu, diteruskannya memaksakan menyerut, hingga di pipi kanan dan di pipi kirinya tak tersisa lagi bulu-bulu.

Serutan terus berlanjut di dagu bawah dan di dagu atas, lalu menyerut kumis—yang sebagiannya sudah berwarna putih.

Saat hendak menyerut bulu-bulu di leher, Herman mendadak ragu: silet sudah tumpul, apakah ini akan baik-baik saja? Ah, tapi barusan juga hasil serutan, lancar saja, meskipun hasilnya tidak secepat dengan silet tajam.

Alat cukur mulai ditempelkan di leher kiri, serutan mulai dilakukan. Berlembar-lembar bulu pun berjatuhan. Usai berkali-kali menyerut, di leher kiri pun bersih, tak ada lagi bulu.

Menyerut kini akan beralih ke leher sebelah kanan. Serutan pertama agak tertahan, ya karena silet sudah tumpul. Herman memaksakan menyerut dengan lebih menekan silet ke dalam kulit.

“Ah!” Herman tiba-tiba memekik, serutan silet mengenai lehernya. Darah pun menetes, mengucur, mengenai bajunya.

Iros, pun tiba pula di teras depan—pulang dari warung—langsung menjerit mendapati suaminya sedang mengaduh-aduh seraya memegangi lehernya yang penuh darah.

Jeritan Iros terdengar tetangga-tetangga, juga Pak RT yang rumahnya berhadapan dengan Herman. Pak RT gegas menolong, dengan mobil pick upnya membawa Herman ke Puskesmas. Iros dan beberapa orang tetangga ikut serta.

Tiba di Puskesmas, Herman dibawa ke ruang UGD.

Beberapa saat kemudian, dokter jaga Puskesmas menemui Iros. Katanya, “Herman selamat, goresan silet tidak dalam, tidak mengenai arteri carotis. Tadi Pak RT gesit, langsung membawa ke sini, jadi tidak banyak darah yang keluar. Kalau banyak darah yang keluar, entahlah..”

Bandung, Juni 2022

***

Gandi Sugandi. Penulis adalah alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan PHermangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan.

sumber : kompas.id, 24 Des 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme