Herman berdiri hanya berhanduk di depan bak mandi. Tubuhnya sudah bersih diguyur air dan gosokan dari sabun yang sudah kecil. Rambutnya masih basah, sudah bersampo. Saat hendak menggosok gigi, pasta gigi dalam kemasan plastiknya ternyata tinggal sedikit. Akhirnya, urung menggosok gigi, keluar dari kamar mandi.
Di dapur, Herman berkata pada Iros istrinya, “Pasta gigi mau habis. Paling untuk dua kali lagi pakai. Sisa pasta gigi, buat kau saja. Mau beli lagi, uang tidak ada. Mesti nunggu aku dapat uang lagi dari hasil mengojek.”
“Ya Kang, semoga hari ini dapat rezeki lebih,” jawab Iros.
Usai Herman berganti pakaian, bersiap berangkat.
“Eh, sarapan dulu.”
“Tanggung.”
**
Di pertigaan jalan raya kabupaten, ojek-ojek kampung berbanjar. Herman duduk di atas motor bebek yang terbilang tua bila dibandingkan dengan motor kawan-kawan pengojek. Beberapa saat kemudian, sekitar sepuluh meter menjelang pertigaan itu, satu angkutan pedesaan berhenti. Lalu, turunlah tiga orang penumpang, termasuk seorang pria paruh baya yang hendak menemui anaknya.
Kali ini, Herman yang sedang berada di banjar pertama, otomatis yang mendapat penumpang.
“Ojek Pak?” Herman ramah menawari jasa ojek pada pria paruh baya.
“Iya, saya mau ke Kampung Mekar. Berapa ongkosnya?”
Herman tidak langsung menjawab, berpikir dulu untuk menentukan ongkos karena tahu bahwa calon penumpangnya ini bukan penduduk setempat yang biasa naik ojek, tetapi tamu—lagi pula Herman sendiri sedang butuh uang.
“Berapa?” Pria paruh baya mengulangi bertanya.
Herman sedikit gugup menjawab, “Dua puluh ribu Pak.”
“Bisa kurang?”
“Ya sudah segitu biasanya juga.”
Pengojek ini dan penumpang ini pun sepakat dengan satu harga, tetap di harga dua puluh ribu rupiah. Herman gegas menslag motor bebeknya. Suara mesin pun menderu, motor mulai meluncur ke arah utara ke Kampung Mekar, di atas bukit.
Setelah dua ratus meter, di satu pertigaan jalan, jalanan tersendat. Kendaraan-kendaraan dari arah selatan seperti ojek yang Herman tunggangi, harus menunggu keluar-masuk kendaraan dari belokan jalan sebelah kiri—sebagai jalan masuk ke satu-satunya Puskesmas.
Tak berapa lama, atas jasa pengatur liar lalu-lalang kendaraan, jalanan pun lancar kembali. Herman dan pria paruh baya bisa terus melenggang.
Selama dalam perjalanan, Herman dan pria paruh baya lebih banyak diam.
Rumah-rumah penduduk terus terlewati, kemudian, usai sekira lima belas menit pun berlalu, jalanan mulai menanjak. Di kiri kanan, tanah-tanah yang tertanami aneka sayuran—kol, selada bokor, wortel, lobak—terhampar. Di bidang-bidang tanah lain, palawija seperti kentang, kacang panjang, kedelai, juga terlihat sedang tumbuh subur.
Setelah tiba di depan satu rumah berhalaman luas, berpagar besi hitam, pria paruh baya tiba-tiba teringat petunjuk untuk sampai di rumah anaknya, agar berbelok kiri. Herman pun membelokkan motornya. Setelah lima puluh meter, tibalah pula di tempat tujuan.
Sesuai janji kesepakatan, pria paruh baya membayar dua puluh ribu rupiah. Herman menerimanya dengan senang, lalu berlalu begitu saja.
Nining, anak pria paruh baya, menyambut dengan suka cita.
Nining langsung menanyakan ongkos ojek. “Tadi berapa bayar ojek?”
Pria paruh baya menyebutkan satu angka, membuat Nining menggelengkan kepala. “Kemahalan Pak. Biasanya juga hanya sepuluh ribu. Ya mungkin karena Bapak dianggap tamu.”
“Tadi juga sudah ditawar, ya Bapak kira karena tukang ojek kan orang kecil, akan jujur. Ternyata tidak begitu. Tukang ojek bisa berbohong rupanya.”
“Ya sudahlah Pak. Sudah telanjur.”
Pria paruh baya lalu masuk ke dalam rumah.
Di tengah jalan, di depan satu warung, Herman teringat, pasta gigi sudah mau habis. Motor dihentikannya. Namun, saat mengeluarkan uang di saku, yang hanya ada dua puluh ribu. Herman ragu, hingga akhirnya tidak jadi membeli pasta gigi yang berharga sepuluh ribu rupiah. Motor kembali dilajukan.
Tiba di rumah langsung menuju meja makan. Tertampak tempe dan sayur sop saja. Herman mendadak tertegun, kurang bernafsu untuk menyantap hidangan. Istrinya menegur, “Kenapa Kang, menunya kurang?”
“Bukan.”
“Lalu apa?”
Herman bergeming.
“Kenapa Kang?”
“Ya, tiba-tiba saja barusan aku merasa bersalah karena tadi telah menarik ongkos yang lebih mahal pada satu penumpang yang baru.” “Kan biasanya juga suka begitu?”
“Tidak juga. Ya karena aku sedang butuh uang kan? Iya, kan belum punya pasta gigi. Memang sekarang sedang akhir bulan, sepi penumpang.”
“Tetapi…”
“Tetapi kenapa?’
“Kenapa untuk hari ini, di hati kecilku timbul perasaan bersalah? Mendadak juga aku teringat masa laluku. Ya semoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku. Umur orang kan siapa yang tahu.”
“Jangan bicara begitu Kang.”
**
Dua hari kemudian, hari sudah cukup siang, Herman masih saja diam di kamar. Herman sesekali meraung saat nyut-nyut di satu giginya terasa.
“Kau sih, dua hari tidak menggosok gigi, jadinya gigi sakit.” Iros ngomel.
Herman membalas dengan menahan sakit. “Kan aku ingin hemat. Nunggu sampai awal bulan, saat banyak penumpang, baru beli pasta gigi.”
“Iya, tapi kan ini akibatnya. Ya sudah, aku akan ke warung membeli obat. Kau pun bangun, paksakan saja untuk mencari penumpang, supaya tidak begitu terasa sakit giginya.”
Iros pergi ke warung terdekat, berjarak sekitar seratus meter. Herman pun bangun dengan memegangi pipi kanannya menuju dapur. Motor dikeluarkan ke teras depan yang sempit. Mesinnya dihangatkan.
Seraya mendengarkan suara mesin, Herman memegangi kedua pipinya. Sudah banyak bulu yang tumbuh. Dagu dan leher juga dipeganginya, ternyata sama, bulu-bulu sudah cukup lebat.
“Sudah waktunya aku bercukur,” Herman berkata pada dirinya sendiri.
Tanpa memadamkan mesin motor, Herman mengambil alat cukur yang tergolek di bawah kusen jendela muka rumah.
Seperti biasa, spion motor dijadikan cermin. Tertampaklah wajahnya yang kusut, terlihat lebih tua dari umurnya yang sekarang 45 tahun.
Serutan pertama, dimulainya di pipi kanan. Herman mengeluh. “Ya, silet ini sudah tumpul. Mau beli yang baru, mana uangnya? Kan aku harus berhemat.” Meskipun begitu, diteruskannya memaksakan menyerut, hingga di pipi kanan dan di pipi kirinya tak tersisa lagi bulu-bulu.
Serutan terus berlanjut di dagu bawah dan di dagu atas, lalu menyerut kumis—yang sebagiannya sudah berwarna putih.
Saat hendak menyerut bulu-bulu di leher, Herman mendadak ragu: silet sudah tumpul, apakah ini akan baik-baik saja? Ah, tapi barusan juga hasil serutan, lancar saja, meskipun hasilnya tidak secepat dengan silet tajam.
Alat cukur mulai ditempelkan di leher kiri, serutan mulai dilakukan. Berlembar-lembar bulu pun berjatuhan. Usai berkali-kali menyerut, di leher kiri pun bersih, tak ada lagi bulu.
Menyerut kini akan beralih ke leher sebelah kanan. Serutan pertama agak tertahan, ya karena silet sudah tumpul. Herman memaksakan menyerut dengan lebih menekan silet ke dalam kulit.
“Ah!” Herman tiba-tiba memekik, serutan silet mengenai lehernya. Darah pun menetes, mengucur, mengenai bajunya.
Iros, pun tiba pula di teras depan—pulang dari warung—langsung menjerit mendapati suaminya sedang mengaduh-aduh seraya memegangi lehernya yang penuh darah.
Jeritan Iros terdengar tetangga-tetangga, juga Pak RT yang rumahnya berhadapan dengan Herman. Pak RT gegas menolong, dengan mobil pick upnya membawa Herman ke Puskesmas. Iros dan beberapa orang tetangga ikut serta.
Tiba di Puskesmas, Herman dibawa ke ruang UGD.
Beberapa saat kemudian, dokter jaga Puskesmas menemui Iros. Katanya, “Herman selamat, goresan silet tidak dalam, tidak mengenai arteri carotis. Tadi Pak RT gesit, langsung membawa ke sini, jadi tidak banyak darah yang keluar. Kalau banyak darah yang keluar, entahlah..”
Bandung, Juni 2022
***
Gandi Sugandi. Penulis adalah alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan PHermangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan.
sumber : kompas.id, 24 Des 2022.