Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ramalan oleh Risen Dhawuh Abdullah

Posted on Kam, 05 Jan 2023

Kematian Mat Sumbing memang sudah diramalkan sebelumnya oleh Ali Sudiyono. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu meramalkan, jika kematian Mat Sumbing terjadi akibat terseret arus sungai yang deras di musim hujan, tetapi tidak dijelaskan mengapa Mat Sumbing sampai bisa terseret. Orang yang pertama kali mendengar ramalan Ali Sudiyono ialah Yu Giwang, seorang perempuan pemilik toko kelontong di kampungnya. Itu dikatakannya setelah Yu Giwang sedikit jengkel dan mengeluhkan Mat Sumbing yang berutang padanya dan tidak dibayar-bayar. Ali Sudiyono mengatakan hal itu, bukan karena ia ikut merasakan kejengkelan Yu Giwang. Ramalan itu tidak didorong hal tersebut.

Kebenaran ramalan Ali Sudiyono memang tidak hanya kali itu saja. Ali Sudiyono memang sudah terkenal sebagai ”tukang ramal”, dan hampir semua ramalannya tidak meleset. Jika ia meramalkan sesuatu yang buruk—apalagi akan terjadi di kampungnya—orang-orang akan siaga mempersiapkan antisipasinya meski akhirnya tidak berarti apa-apa. Ramalan Ali Sudiyono seperti tidak lebih dari sebuah takdir. Bila hal-hal baik, tentu tidak akan menimbulkan kegelisahan. Meski begitu, bukan berarti semua orang percaya. Tidak sedikit yang menganggap jika ramalan Ali Sudiyono hanya kebetulan belaka, apalagi mereka yang beragama kuat.

Dari banyaknya ramalan Ali Sudiyono, yang paling diingat oleh warga ialah ramalannya pada tahun lalu. Mungkin karena ramalannya terjadi di hari kemerdekaan, yang kemudian mengendap begitu lama di hati warga. Ali Sudiyono meramalkan kalau di hari kemerdekaan akan ada maling di kampungnya. Benar. Si maling memanfaatkan situasi, para warga yang sebagian besar hadir dalam acara tirakatan. Sebuah sepeda motor antik milik salah satu warga berharga ratusan juta raib. Ali Sudiyono mengucapkan ramalannya pada seorang tetangga yang tinggalnya dekat dengan pemilik sepeda motor antik yang hilang itu. Ada yang menyalahkan Ali Sudiyono; tidak memberi tahu semua warga, bila hal itu akan terjadi.

”Itu sudah takdir,” dalih Ali Sudiyono. ”Kehendak Tuhan tidak ada yang bisa menghalangi, sekalipun aku mengatakannya pada semua orang.”

”Setidaknya ada usaha, dan tidak semengecewakan ini.”

Ali Sudiyono memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pemiliknya sendiri yang teledor, tidak mengunci setang sepeda motor dan gerbang rumah dalam keadaan terbuka. Ali Sudiyono terkadang takut juga menyampaikan apa yang ada di kepalanya—ia bahkan pernah mengambil kemungkinan terburuk; dikeroyok warga kampungnya bila yang ia sampaikan hal buruk—tapi ia lebih kerap tidak bisa memendamnya.

Sebelum meramal kematian Mat Sumbing, Ali Sudiyono meramal jika kandungan Maria, perempuan dua puluh tahun yang hamil setelah diperdaya pacarnya, akan mengalami keguguran. Pacar Maria tidak bertanggung jawab dan hilang ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan pacar Maria. Banyak warga yang mencemooh Maria; bagi mereka permasalahan ada, Maria sendirilah yang menciptakannya. Namun, ada yang menyambut dengan gembira ramalan Ali Sudiyono. Orang yang gembira tersebut tak lain orang yang kasihan dengan Maria. Keguguran janin Maria benar terjadi. Maria dikuasai dua perasaan, sedih dan senang.

”Aku sendiri tidak tahu, kenapa bisa begini. Aku bahkan tidak merasa memiliki kemampuan ini. Aku hanya menyampaikan apa yang tergambar dalam kepala. Jadi kukira agak aneh aku disebut peramal, sebab aku sudah melihat bayang-bayang di kepala,” ucap Ali Sudiyono kepada Markun, tukang roti keliling yang lewat kampungnya.

”Kau indigokah?” tanya Markun.

”Entah,” kata Ali Sudiyono. ”Yang jelas orang-orang tetap menyebutku tukang ramal.”

Ali Sudiyono juga tidak tahu, sejak kapan kemampuan itu bersemayam padanya. Orangtua Ali Sudiyono yang bergelar tukang ibadah karena rajin sekali ke masjid tidak terlalu peduli dengan kemampuan Ali Sudiyono dan omongan tetangga. Orangtua Ali Sudiyono berada di pihak orang yang menganggap apa yang diramal Ali Sudiyono hanya kebetulan belaka.

Untung pihak keluarga Mat Sumbing tidak berbuat macam-macam terhadap Ali Sudiyono. Keluarga Mat Sumbing banyak berterima kasih kepada Ali Sudiyono telah melayat, turut berbelasungkawa atas kepergian Mat Sumbing. Ya. Keluarga Mat Sumbing benar-benar tidak mengapa-apakan Ali Sudiyono. Misalnya Ali Sudiyono dituduh membunuh Mat Sumbing karena suatu hal, sebelum itu telah meramalkan kalau matinya Mat Sumbing terbawa arus sungai yang deras. Lalu keluarga Mat Sumbing yakin, jika ramalan itu hanya tameng atas perbuatannya. Sama sekali tidak. Keluarga Mat Sumbing benar-benar tidak melakukan apa pun terhadap Ali Sudiyono.

Entah ucapan apa lagi yang keluar dari mulut Ali Sudiyono, dan akan terjadi di kemudian hari. Beberapa orang setia menunggu, dan diam-diam mengagumi Ali Sudiyono. Mereka hanya ingin mendengar Ali Sudiyono meramal—bagi mereka, mendengar Ali Sudiyono meramal seperti mendapatkan suatu kepuasan.

Ada orang yang sampai ingin anaknya kecipratan kemampuan Ali Sudiyono, sampai-sampai si orangtua menyuruh anaknya untuk sering bergaul dengan Ali Sudiyono, dengan alibi tertentu. Membenarkan mainan yang rusak, menyuruh Ali Sudiyono untuk mengajari mengerjakan pekerjaan rumah, atau hal-hal lain yang bisa dijadikan alasan untuk bisa ketemu dengan Ali Sudiyono. Dengan sendirinya, bila sering ketemu akan tercipta keakraban. Dari situ, si orangtua yang menaruh harap pada anaknya agar menguasai kemampuan sebagaimana Ali Sudiyono, yakin kalau Ali Sudiyono bakalan menurunkan ilmunya. Ali Sudiyono bukan orang yang pelit. Setiap ada yang datang padanya, dan sedang membutuhkan pertolongan dalam bentuk apa pun jarang ia tolak, selama ia bisa mengerjakan.

Entah apalagi ucapan yang keluar dari mulut Ali Sudiyono, dan akan terjadi di kemudian hari. Sudah dua minggu Ali Sudiyono tidak meramalkan apa-apa. Sebulan pun lewat. Ali Sudiyono tidak mengeluarkan satu ramalan pun. Orang-orang yang menunggu Ali Sudiyono gereget menunggu.

”Telingaku sudah sangat ingin menangkap ramalanmu.”

”Iya. Meramal apa sajalah. Masa tidak ada? Meramal masa depan negeri ini juga bisa.”

”Iya, apa saja.”

Ali Sudiyono terus didesak untuk berujar. Ia tetap tidak meramal. Sekali lagi, Ali Sudiyono tidak pernah merasa meramal.

”Jangan dipaksa, kalau memang Ali Sudiyono tidak mau meramal.” Ada seseorang yang membela Ali Sudiyono. Kepada orang itu, Ali Sudiyono mengeluhkan—keluhan itu tidak hanya datang hari ini saja—orang-orang yang antusias dengannya.

”Aku cari cara dari dulu, supaya mereka tidak mengejar-ngejarku meramal, tapi tidak kunjung kutemukan caranya. Aku ini tidak merasa meramal. Aku nyata melihat. Susah menerangkan pokoknya. Yang jelas, demi Tuhan aku tidak pernah merasa meramal.”

Apabila Ali Sudiyono hidup beratus-ratus tahun yang lalu, mungkin sebutan ”nabi” sudah tersemat padanya. Ali Sudiyono dianggap orang suci. Ke mana pun banyak orang yang mengikuti. Orang-orang melayaninya, memenuhi segala permintaannya. Kemungkinan paling gila, Ali Sudiyono disembah layaknya Tuhan. Ali Sudiyono bisa hidup enak, bahkan seumur hidup. Makan dan keperluan-keperluannya ditanggung orang. Semua itu hanya modal meramal.

Suatu ketika, sepuluh hari setelah orangtua Ali Sudiyono pergi ke tanah suci—dua hari sebelumnya tetangganya juga ada yang ke tanah suci—lelaki itu berbincang dengan Yusuf Mahfud, pemuda seumurannya yang tinggal di dekat salah satu gang masuk kampungnya, jika sebentar lagi akan ada empat orang diseret ke kantor polisi karena terlibat perdagangan gelap obat-obatan, sekaligus mengonsumsi. Hanya saja Ali Sudiyono tidak menyebutkan siapa saja yang bakalan tertangkap oleh polisi. Mendadak wajah Yusuf Mahfud berubah menjadi masam, tatapannya seperti tidak tenang. Itu yang membuat Ali Sudiyono tidak berkata lebih lanjut. Dan Yusuf Mahfud juga tidak menanyakannya siapa saja, keempat orang itu.

Hanya Yusuf Mahfud yang sedang bersama Ali Sudiyono. Ada rasa bersalah jatuh di hatinya. Ali Sudiyono menyesal telah mengatakan. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuannya dengan Yusuf Mahfud. Ali Sudiyono secara tidak langsung telah memberikan jalan agar orang itu menyusun rencana supaya aman dari kejaran polisi, jika memang sungguh memercayai kata-katanya.

”Aku juga punya ramalan,” kata Yusuf Mahfud tiba-tiba, dengan nada memendam kejengkelan. ”Kurang lebih sebulan lagi, di kampung kita akan ada yang meninggal dunia setelah bepergian dengan jarak yang begitu jauh.”

Ada perubahan di wajah Ali Sudiyono dalam sekejap.

”Kok kau bisa meramalkan seperti itu?”

Yusuf Mahfud tidak mengucapkan alasannya. Kata-katanya terus mengganggu pikirannya, meski dalam tebakannya, Yusuf Mahfud berkata begitu hanya dilandasi rasa jengkel atas ucapannya. Dan dalam pikirannya, ia tidak ada gambaran apa yang akan terjadi sebulan kemudian.

Apa yang Ali Sudiyono katakan kepada Yusuf Mahfud memang terwujud. Yusuf Mahfud terkena kasus itu. Ia tahu kesehariannya. Ia orang yang tidak setengah-setengah dalam beragama. Ia termasuk orang penting di kampungnya. Dalam menilai seseorang, memang jangan hanya melihat apa yang tampak saja, pikirnya. Terlepas dari ramalannya, apa yang disampaikan Yusuf Mahfud padanya menemui kenyataan. Sebuah pesawat yang berangkat dari ”Negeri Kurma” terjun ke laut. Ali Sudiyono segera teringat dengan perkataan Yusuf Mahfud yang meramalkan akan ada yang meninggal sebulan lagi saat pertemuannya di hari itu. Namun ternyata bukan orangtuanya yang meninggal. Melainkan tetangganya yang juga berangkat haji hampir bersamaan dengan orangtua Ali Sudiyono. Lelaki itu sama sekali tidak kepikiran tentang hal itu, sebab hatinya telanjur dikuasai rasa marah terhadap Yusuf Mahfud.

Jejak Imaji, 2020-2022

***

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Universitas Ahmad Dahlan 2021. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

sumber : kompas.id, 05 Jan 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme