Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bocah di Jembatan Sungai Ular oleh Abul Muamar

Posted on Sab, 07 Jan 2023

Sebuah mobil SUV hitam berjalan lambat. Kacanya ditutup rapat-rapat. Pengemudi di dalamnya tak menghiraukan bocah yang mengikutinya dengan setengah berlari, dan tetap menginjak pedas gas mobilnya dengan pelan seraya menghindari lubang di sana-sini. Begitu tiba di seberang jembatan, mobil itu melaju sekencang-kencangnya. Si bocah menatap mobil itu mengecil diremas jarak, dengan cangkul yang ditopang di atas pundaknya.

Jembatan itu menghubungkan jalan lintas Sumatera di Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai. Sekitar 200 meter di sebelah selatan, paralel dengan jembatan jalan itu, ada jembatan jalur kereta api dengan ornamen besi melengkung membentuk separuh oval. Dari atas jembatan itu, corong pabrik kelapa sawit Adolina tampak menjulang di sebelah timur. Corong pabrik itu mengepulkan asap pekat saban pagi dan petang. Di bawah jembatan, air Sungai Ular tampak keruh.

Bertahun-tahun yang lalu, hanya anak-anak yang tak takut pada sabetan ranting kayu ibunya yang berani bermain di bawah jembatan itu. Sering anak-anak hanyut karena nekat mandi di situ dan menjadi mayat ketika ditemukan. Orang-orang bilang bahwa mereka menjadi santapan sepasang buaya putih yang bermukim di sana. Kenyataannya, buaya putih itu hanyalah mitos yang disebarluaskan untuk mengaburkan fakta sejarah mengenai pembantaian orang-orang yang menjadi korban politik Orde Baru—mereka yang menjadi anggota Partai Komunis Indonesia dan para pendukungnya.

Selama ratusan tahun, sungai itu menjadi sumber kehidupan bagi warga puluhan desa di wilayah Deli Serdang, sebelum Serdang Bedagai mekar. Banyak warga menggantungkan hidup pada sungai itu, terutama para petani. Di sungai itu juga, dulu warga sering menangkap ikan atau udang. Sekarang, kecuali airnya yang masih tetap dipakai untuk mengaliri sawah dan menyirami ladang singkong yang ditanam oleh para petani penggarap di sepanjang bantaran, sungai itu nyaris sepenuhnya beralih fungsi menjadi lahan tambang pasir illegal. Tambang pasir itu beroperasi dengan leluasa atas izin dari pejabat setempat.

Para penambang pasir itu semula mengeruk pasir secara tradisional dengan menggunakan tapisan yang biasa dipakai untuk menyiangi beras. Belakangan, keberadaan pasir yang melimpah di sungai itu membuat pemodal tergiur, lalu mereka menyediakan puluhan mesin penyedot berbahan bakar minyak. Dengan alat itu, dalam sekejap berton-ton pasir menggunung di pinggir sungai. Puluhan truk hilir mudik setiap hari mengangkut pasir yang masih setengah basah. Berat beban truk-truk itu membuat akses jalan menuju sungai menjadi rusak tak karuan. Residu minyak yang merembes keluar dari mesin penyedot pasir membuat air sungai berminyak dan kian keruh dari hari ke hari. Daratan-daratan kecil terbentuk di sana-sini di tengah sungai akibat penambangan tak berkesudahan.

Sudah sejak pagi bocah itu berada di jembatan itu. Ia belum makan. Yang ia telan hanyalah dua buah ciplukan setengah matang yang ia petik di pinggir sungai di bawah jembatan. Perutnya semakin keroncongan karena pengaruh asam ciplukan. Ia ingin makan, tapi ia belum mendapatkan uang.

Bocah itu memakai kaos berwarna hitam kelabu yang sudah belel dan kerahnya mengeriting karena terlalu sering dicuci. Celana pendek merah yang memadu kaosnya adalah celana yang dulu ia pakai saat sekolah. Ia bertelanjang kaki dan memakai topi sekolah dasar berlambang Tut Wuri Handayani yang telah kumal dan tak lagi berwarna merah. Topi itu terakhir kali ia pakai saat upacara bendera lewat setahun yang lalu sebelum ia berhenti sekolah. Ibunya tak sanggup membiayai sekolahnya. Iuran bulanan di sekolahnya terus naik dan buku-buku paket pelajaran terus berganti setiap tahun mengikuti perubahan kurikulum, dan ia diwajibkan membeli jika ingin mendapat nilai bagus.

Bocah itu menunggui kendaraan yang melintas. Dengan cangkul yang lebih tinggi dari badannya, ia menimbun lubang-lubang yang ada di jembatan itu dengan tanah. Jembatan itu sebenarnya sudah berkali-kali diaspal, namun kondisinya tak pernah bertahan lebih dari tiga bulan. Aspal akan segera terkelupas seperti lapisan cokelat yang lepas dari kue brownies.

Ketika ada kendaraan yang melintas, bocah itu akan mencangkul dan meratakan tanah untuk menutupi lubang, lalu cepat-cepat menadahkan topinya. “Pak, seikhlasnya, Pak… Bu, seikhlasnya, Bu…,” katanya.

***

Bocah itu melakoni pekerjaan sebagai penambal lubang di jembatan Sungai Ular sejak setahun yang lalu, saat masih berstatus sebagai siswa di sebuah SD negeri di Desa Sukamandi Hulu, Pagar Merbau. Suatu siang, dalam perjalanan pulang dari sekolah, ia menyingkirkan batu-batu kerikil dan pecahan aspal yang berserakan di jembatan dengan kakinya, dan menutupi lubang dengan pasir yang tumpah dari bak truk pengangkut pasir. Terharu melihat penampilan kumalnya melebihi tindakan heroiknya, seorang pengendara mobil Starlet lawas berwarna merah menghentikan laju dan memanggilnya, memberinya selembar uang Rp 50 ribu.

“Jangan main di sini, Dik. Bahaya!” pesan pengendara itu seraya mengulurkan uang. Bocah itu mengangguk dengan wajah polosnya. Senyum riangnya menampakkan gigi ompongnya.

Saat tiba di rumah, ia tak mempermasalahkan ibunya yang belum memasak lauk. Dengan uang itu, ia mengisi perut keroncongannya dengan bakso bakar—jajanan kesukaannya. Sisa uang yang ia pegang ia berikan kepada ibunya yang lantas memeluknya erat sambil menangis.

Bocah itu melakoni pekerjaan sebagai penambal lubang di jembatan Sungai Ular sejak setahun yang lalu, saat masih berstatus sebagai siswa di sebuah SD negeri di Desa Sukamandi Hulu, Pagar Merbau. Suatu siang, dalam perjalanan pulang dari sekolah, ia menyingkirkan batu-batu kerikil dan pecahan aspal yang berserakan di jembatan dengan kakinya, dan menutupi lubang dengan pasir yang tumpah dari bak truk pengangkut pasir.

Keesokan harinya, ia mengulangi tindakannya. Namun kali itu, tak ada pasir yang tumpah dari bak truk pengangkut pasir sehingga ia tak bisa menutupi lubang. Siang itu, ia memang memperoleh pemberian dari seorang pengendara motor Astrea Star setelah berjam-jam berdiri di sana, namun hanya Rp10.000. Pemotor itu memberinya uang karena kasihan melihatnya celingak-celinguk seorang diri di jembatan seperti anak pengemis yang ditinggal ibunya.

Setelah siang itu, ia sempat berhenti mencari uang di jembatan itu selama dua minggu. Sampai pada suatu pagi, dalam perjalanan berangkat ke sekolah, gagasan cemerlang melintas di kepalanya. Di bantaran sungai, terlihat olehnya tanah gembur. Tanah itu menjadi gembur seusai petani penggarap memanen singkong yang mereka tanam dan bersiap-siap memulai untuk menanam yang baru. Di ujung sebelah barat tanah gembur itu ada plang bertuliskan ‘Tanah Ini Milik Pemerintah’, namun ia tak peduli. Dalam benaknya, ia mengira pemerintah adalah manusia, tetapi manusia yang bernama pemerintah itu tak pernah ia rasakan kehadirannya. Karena itulah, ia tidak takut sama sekali dengan peringatan di plang itu.

Bermodal cangkul yang biasa dipakai oleh ibunya untuk menimbun tahi selepas buang hajat di samping gubuk mereka, siangnya ia berangkat dengan membawa karung bekas kosong. Karung bekas itu ia isi dengan tanah gembur yang ia ambil dari lahan di pinggir sungai berstatus milik pemerintah itu. Tubuh kecilnya mengangkut karung berisi tanah ke atas jembatan. Itulah awal mula ia berhenti sekolah. Ia masih duduk di bangku kelas 5 saat namanya dicoret dari daftar siswa.

Tanah itu kemudian ia tuang ke beberapa lubang yang ada di jembatan. Melihat jumlah dan ukuran lubang yang ada, satu karung tanah jelas tak cukup. Bahkan, satu lubang saja pun tak bisa ditutup dengan pejal hanya dengan satu karung tanah. Menyadari hal itu, ia tersenyum karena itu berarti ia bisa terus bekerja di jembatan itu selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dan memperoleh banyak uang dari para pengendara yang lewat. Pada akhirnya, ia benar-benar melupakan sekolahnya. Ibunya, yang tak bisa bekerja apa-apa karena diserang penyakit lupus semenjak ditinggal mati oleh ayahnya, tak bisa melarangnya untuk mencari uang.

***

Setahun menjadi penambal lubang di jembatan itu, pengendara yang bermurah hati padanya semakin sedikit. Dalam sehari, tidak tentu ada pengendara yang memberinya uang. Sementara bocah penambal lubang di jembatan itu semakin bertambah. Anak-anak lain itu mengikuti jejaknya karena tergiur dengan uang yang bisa mereka peroleh. Setiap hari, setidaknya ada empat hingga lima bocah penambal lubang di jembatan itu selain dirinya. Namun, bukan karena kehadiran pesaing yang membuat penghasilannya berkurang. Penyebabnya lebih karena para pengendara yang melintas di jembatan itu lama-lama tahu bahwa bocah-bocah itu tak sungguh-sungguh menimbun lubang. Di jembatan itu, masih banyak lubang lain yang sama sekali tak ditutupi. Bocah-bocah itu hanya sekadar mengulang-ulang menutup dan membongkar tanah di lubang-lubang yang sama setiap hari. Dan semakin hari, bocah-bocah itu semakin tak sungkan meminta-minta uang, membuat para pengendara kehilangan rasa iba.

Suatu petang, ketika ia baru memperoleh Rp4.000 dan hanya tinggal ia seorang di jembatan itu, ia bertemu dengan beberapa pria yang mengenakan pakaian dan helm proyek. Mereka tampak sedang melakukan pengukuran di jembatan itu.

“Hei, sedang apa kau di situ?” bentak salah seorang dari mereka.

“Untuk apa kau pegang-pegang cangkul?’ timpal rekannya.

“Untuk menutup lubang, Pak.”

“Tidak perlu! Ini jalan mau diperbaiki. Pergi sana!”

Dibentak begitu, nyalinya menciut. Ia pun pergi dari jembatan itu, tertunduk lesu memanggul cangkul dan karung bekasnya. Sinar matahari petang menyorot langkah kaki gosongnya menuju gubuk beratap daun rumbia di bantaran sungai yang ia tempati bersama ibunya.

***

Tak sampai sebulan kemudian, jalan aspal di jembatan itu sudah mulus seperti disulap. Kali ini, material yang digunakan lebih berkualitas daripada biasanya lantaran presiden dan rombongannya akan datang berkunjung pekan depan. Trotoar dan besi pembatas di sisi kiri dan kanan jembatan itu juga dicat ulang dengan warna hijau-kuning cerah khas Tanah Deli.

Dari atas jembatan jalur rel kereta api, mata bocah 11 tahun itu berkaca-kaca menyaksikan jembatan jalan itu mulus dan cantik. Tidak ada lagi lubang-lubang yang bisa ia tutupinya dengan tanah. Kendaraan-kendaraan melaju dengan kencang. Melamun menatap jembatan itu di sebelah utara, bayangan ibunya yang terbaring tak bergerak di dipan bambu melintas di kepalanya. Ia kini hidup sebatang kara. Dari arah barat, kereta api jurusan Medan-Tanjungbalai mendekat. (*)

*Abul Muamar, lahir di Perbaungan, Serdang Bedagai. Menulis beberapa cerpen sejak 2013.

sumber : kompas.id, 07 Jan 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme