Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mengapa Bumi Mengelilingi Matahari oleh Aveus Har

Posted on Kam, 12 Jan 2023

Dia telah mengepak semua barang-barang yang hendak dibawanya. Ada dua tas jinjing besar dan satu ransel, semuanya tampak gemuk. Sepertinya hampir semua barang yang dimilikinya telah masuk. Yang tersisa barangkali hanya kenangan: pakaian yang sudah kekecilan, wadah kosmetik tanpa isi, atau perlatan memasak dan rumah tangga yang menjadi dunianya selama di rumah ini. Dia akan pergi, aku tahu, tetapi aku tidak berpikir seserius ini.

Sekarang, dia berdiri di hadapanku dengan wajah tanpa cahaya. Wajah tanpa cahaya itu sudah cukup lama terpasang di sana, dan selama itu aku sering berpikir bagaimana dulu aku melihat cahaya di sana. Barangkali cinta memang menipu.

Ketika aku tidak lagi menemukan cahaya di wajahnya, aku menemukan cahaya di wajah perempuan lain. Kau pasti akan memakiku sebagai laki-laki brengsek, tetapi mengertilah bahwa dalam hal ini aku juga korban penipuan cinta.

Kami menikah karena cinta dan kami berpisah karena menyadari—meskipun tanpa saling menyatakan—betapa cinta itu sesungguhnya tidak ada. Yang ada hanya letupan gairah, dan letupan itu pun pada akhirnya akan berhenti seperti kembang api kehabisan mesiu.

Sekarang, mesiu kembang api kami telah habis.

Dia melihat gawai, menghela napas panjang, lalu berkata bahwa mobil daring yang dipesannya telah menunggu di luar. Lalu dia menyeret satu tas jinjingnya, membawanya keluar, dan melakukan hal yang sama untuk tas jinjing ke dua, dan masuk lagi untuk mencangklong ransel di punggungnya. Sementara dia melakukan semua itu, aku hanya diam sambil merokok. Aku tidak berkata apa-apa. Semua ini memang sudah direncanakan dan mencegah pun percuma.

Lalu dia menghilang.

Aku masih menghabiskan batang rokokku dan kemudian meletakkan puntungnya di dasar asbak. Rumah ini terasa sunyi. Sejak cahaya di wajah istriku hilang, rumah ini terasa sunyi.

Aku menyalakan sebatang rokok lagi.

Lima tahun lalu kami menikah. Kami bertemu di museum sains. Perempuan itu mengawal anak-anak PAUD dan aku memperhatikan caranya menjelaskan fenomena sains dengan bahasa sederhana. Aku memperhatikan gestur tubuh dan pijar wajahnya. Aku tertarik oleh gravitasi yang besar dalam dirinya. Kami berkenalan, dan tiga bulan kemudian menikah.

***

Aku mencintainya. Dia mencintaiku. Kawan-kerabat banyak berkomentar kami pasangan yang harmonis dan sangat intim. Aku dan dia seperti logam dan magnet dan tidak ada celah untuk lainnya.

Dia keluar dari pekerjaannya sebagai guru PAUD—atas permintaanku, dan aku kemudian keluar dari pekerjaanku sebagai guru honorer sekolah dasar—dengan gaji ala kadarnya, dan kami sepakat membuka kafe. Dia suka memasak dan aku suka jajan—perpaduan yang klop untuk membangun usaha kuliner ini. Kafe kami bernama Orbit—gabungan dari nama kami: Orka dan Bita.

Kafe kami tidak terlalu ramai, tetapi cukup untuk membuat kami bertahan dan bisa membayar beberapa karyawan. Sesekali kami pergi menonton bioskop. Sesekali kami mengunjungi perpustakaan. Aku menyukai menonton bioskop dan dia menyukai membaca; kami melakukan semua bersama.

Dia kemudian hamil. Kami bahagia dan mempersiapkan kehadiran bayi kami—tetapi dia keguguran. Itu peristiwa traumatis baginya, tetapi aku selalu di sisinya dan menghiburnya dan menguatkannya dan mengatakan bahwa segala yang terpenting adalah aku dan dia dan hubungan kami.

Ketika kedua kalinya dia hamil, kami melakukan segala cara untuk membuat janin itu kuat sampai kelak saatnya lahir. Kami berkonsultasi ke dokter dan melakukan apa pun yang disarankannya.

Aku katakan kepadanya untuk tidak mencemaskan apa pun; kami akan tetap bersama dan selalu bersama. Dia tampak memahami maksudku, tetapi cahaya di wajahnya tampak meredup.

Dia keguguran lagi; kali ini dia tampak lebih terpukul dari yang pertama. Kali ini dia tampak putus asa. Namun, aku katakan bahwa semua baik-baik saja selama terus bersama.

Lalu pandemi Covid 19 membubarkan keramaian. Kafe kami tutup dan tidak mampu melanjutkan kontrak tempat usaha. Kami bangkrut. Namun, kami masih bisa membuka layanan antar dari rumah.

Pembatasan aktivitas luar rumah yang diterapkan pemerintah membuat kami mempunyai lebih banyak waktu bersama di rumah, tetapi kuingat justru sejak itu cahaya di wajahnya semakin memuram dan kemudian padam.

Seperti kukatakan sebelumnya, aku menemukan cahaya di wajah perempuan lain dan tertarik oleh gravitasinya dan berhubungan diam-diam. Apakah istriku mengetahuinya atau tidak, tidak bisa kupastikan karena, meskipun kami masih berhubungan seksual sebagai kewajiban, tetapi aku tahu ada yang terasa dingin dan kemudian membeku.

Aku menemukan kehangatan perempuan lain, dan itulah barangkali yang membuat reaksiku terlalu datar ketika dia berkata, ”Aku ingin pergi.”

”Ke mana?” tanyaku.

”Aku tidak tahu.”

”Seusai pandemi mungkin kita bisa pergi.”

”Aku ingin sendiri.”

Aku mengangguk begitu saja.

Itulah yang dilakukannya kini. Sejak pagi dia berkemas tanpa bicara dan hanya mengatakan ’akan pergi’. Lalu dia pergi, benar-benar pergi, lepas begitu saja seperti daun kering ditiup angin.

***

Ketika kedua kalinya dia hamil, kami melakukan segala cara untuk membuat janin itu kuat sampai kelak saatnya lahir. Kami berkonsultasi ke dokter dan melakukan apa pun yang disarankannya.

Setelah dia pergi, aku keluar untuk makan. Rasanya seperti berjalan dengan tubuh separuh mati. Makan dengan mulut separuh katup. Duniaku menjadi dunia separuh, tidak utuh.

Meskipun aku sebelumnya berhubungan dengan perempuan lain, setelah dia pergi aku justru tidak ingin melanjutkan hubungan dengan perempuan lain lagi.

Selama hampir dua bulan aku menjalani hidup dengan perasaan asing pada duniaku. Pada hari ke-56, seorang kawan lama mendatangiku. Dia bertanya siapa yang membuat desain gambar dinding kafe kami dulu dan aku menjawab itu kubuat sendiri. Dia bilang aku berbakat dan dia menyukai itu. Dia mempunyai usaha daring dan membutuhkan tukang desain untuk konten media sosial. Lalu dia memintaku mengisi lowongan itu jika mempunyai waktu luang.

”Aku menganggur,” kataku.

”Bayarannya mungkin tidak banyak,” katanya.

”Tidak apa-apa; aku suka mengerjakan desain.”

Pekerjaan membuatku sedikit melupakan kekosongan dalam diriku. Kemudian beberapa orang lain juga memberiku pekerjaan lepas mendesain sehingga aku cukup sibuk, tetapi aku menikmatinya.

Saat-saat tertentu aku berkumpul dengan mereka dan membicarakan gagasan-gagasan kreatif untuk konten berikutnya. Saat-saat lain aku bertemu teman-teman lama dan kami melewatkan waktu bersama: bermain biliar, menonton bioskop, mengunjungi pameran otomotif, menyaksikan pertandingan bola.

Sejauh itu, tidak ada yang bertanya tentang istriku. Apakah mereka sesungguhnya tahu tentang kepergiannya dan tidak menyinggungnya demi perasaanku? Mungkin demikian; aku juga tidak peduli. Yang terpenting adalah aku telah kembali seperti dulu.

Benar bahwa dalam diriku masih ada lubang oleh kepergiannya. Namun, aku pikir sebelum kami menikah hidupku baik-baik saja. Artinya, sesungguhnya setiap kita mempunyai lubang itu, tetapi sebelum bertemu orang yang tepat dan kemudian kehilangan, kita tidak merasa mempunyai lubang.

Meskipun demikian, aku masih sering mengunjungi museum sains itu sekadar untuk kenangan.

***

Lima bulan setelah dia pergi, aku melihatnya lagi di museum sains. Dia bersama sekelompok kecil remaja tanggung, menjadi pemandu mereka. Dia menolehiku sekilas, tetapi tidak ada perubahan apa pun pada roman mukanya seolah aku hanya orang asing seperti pengunjung lainnya. Aku memperhatikan roman wajahnya, ekspresinya, gestur tubuhnya, dan cara bicaranya ketika menerangkan fenomena-fenomena sains pada sekelompok remaja itu.

Aku melihat cahaya di wajahnya. Aku merasakan gravitasi yang besar dari dirinya. Aku berada dekat dengannya sekarang, tetapi dirinya hanya untuk sekelompok remaja itu, menerangkan mengapa gravitasi matahari tidak membuat bumi menubruknya, alih-alih hanya mengelilingi.

”Karena bumi mempunyai inersia,” katanya. ”Gaya ini akan menjauhkannya dari matahari, tetapi ditahan oleh gravitasi sehingga terciptalah orbit yang membuat bumi hanya mengelilingi matahari—tidak menjauh, tidak pula menubruk.”

Dia menoleh padaku sesaat, tanpa ekspresi, lalu kembali pada sekelompok remaja itu.

”Dalam bahasa hubungan,” katanya lagi, dalam nada yang lebih lambat,

”Bumi mencintai matahari, tetapi ia juga mencintai diri sendiri.”

Aku memperhatikan perutnya yang buncit. Kami akan mempunyai anak, pikirku, jika tidak keguguran lagi.

***

Aveus Har, tinggal di Pekalongan. Kesehariannya adalah seorang pedagang mi ayam sembari bereksperimen di Laboratorium Ide dan Cerita (LABITA). Novel terbarunya berjudul FORGULOS.

sumber : kompas.id, 12 Jan 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme