Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sirajatunda oleh Nukila Amal

Posted on Ming, 19 Des 2010

 

Ibarat pohon, benakku saat ini adalah sebuah pohon pengetahuan yang besar dan kokoh, dedaunannya rimbun hijau, sepanjang cecabangnya sarat bergelantungan dengan buah-buah pikiranku. Matang dan siap petik. Sebuah panen raya dengan tari-tarian dan lagu rakyat, penuh hidangan di meja panjang, begitulah aku membayangkan, saat duduk di depan meja kerja dan menyalakan komputer. Kutegakkan punggungku. Kurasakan kebulatan tekad dan ketangguhan, bahkan militansi yang segar. Aku telah lebih dari siap melahirkan sebuah karya utama kesusastraan yang tiada tara: novel tentang Rakai Garung alias Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra.

Delapan tahun lamanya kubaktikan diriku untuk mempersiapkan mahakarya ini; kukunjungi banyak perpustakaan, kukumpulkan buku-buku dan artikel, kuwawancarai para pakar yang paham sejarah dan fasih berbahasa Sansekerta atau Jawa Kuno, bahkan di tahun kelima ketika menikah, bulan maduku adalah wisata ke Candi Borobudur yang sang raja rampungkan. Dengan keseriusan dan gelora membara yang demikian, aku yakin tulisanku—yang pasti bakal epik—niscaya menjulang tinggi di antara segala karyaku yang lain, baik yang tidak diterbitkan atau yang ditelantarkan. Satu-satunya bukuku pernah terbit sembilan tahun lalu, yaitu sebuah novel yang tak laku. Setelah itu belum ada lagi, dan ini gara-gara istriku.

Sekian ratus upayaku menulis selalu digagalkannya. Setiap kali aku sedang asyik membayangkan plot, intrik, dan hampir sampai pada poin-poin penting kemungkinan cerita novelku, setiap kali itu pula istriku muncul dan bicara hal-hal remeh. Selalu tepat waktu. Seakan dia bisa mengendus dari jauh kapan saja kumulai proses imajinatif benakku, lalu datang menghancurkan bakal buah pikiranku di saat-saat genting. Seakan dia tahu kapan waktunya memperalat pikiranku untuk hal-hal tak penting. Perangai buruknya sama saja dengan orang-orang di kantor yang gemar mengajakku bicara ini itu, melibatkanku dalam sejuta urusan. Terlalu. Kupikir semua mereka lahir ke dunia untuk bersekongkol memberantas karya artistik manusia.

Baru tadi sore kubilang pada istriku, kenapa kau begini anti-Hawa? Semua orang tahu, Hawa yang menggoda Adam ke pohon pengetahuan, kenapa kau justru ingin aku jauh-jauh dari pohonku, malah ingin menghancurkannya? Kenapa kau selalu membasmi buah pikiranku dan menyabot proses penciptaan bukuku?

Diam-diam aku senang, setelah sekian kali mengancam akan pulang, setelah menjerit-jerit padaku hampir sejam lamanya, sore tadi istriku sungguhan pulang ke rumah orang tuanya. Tak sadar dirinya telah memberkahiku sebuah malam Minggu bersejarah untuk akhirnya kumulai novel sejarahku, sejak maghrib hingga subuh nanti. Aku menatap kertas putih di layar laptop dan berpikir, sebaiknya kumulai dengan mempersiapkan semacam suasana yang tepat bagi kerja intelektualku ini, apalah arti sejam dua jam di malam ini dibanding delapan tahun persiapanku.

Aku lalu sibuk mencari paduan pencahayaan yang tepat antara lampu kuning di sudut ruangan (untuk melembutkan suasana), lampu duduk neon putih di atas meja (untuk mencegah kantuk dan menerangi berkas), dan lampu neon di tengah ruangan (agar tetap waspada). Kuputar-putar tombol lampu kuning untuk menyetel tingkat ketemaraman yang tepat, kulengkung-lengkungkan gagang lampu duduk untuk mencari derajat yang pas bagi jatuhnya sinar agar mataku tak silau. Kemudian kurapikan sebukit referensiku; buku-buku, berkas dan bundel catatan yang berantakan lantaran telah ditendang istriku sebelum dia keluar—kukira kakinya pasti agak sakit oleh tendangan sekeji itu. Istriku lalu pergi ke kamar mengepak baju dengan berisik dan menyemprotkan minyak wangi pada dirinya secara berlebihan. Dia tahu aku tak suka wangi parfumnya. Bau musykil itu kini merebak di dalam rumah, khususnya di kamar kerjaku, sebab dia sempat masuk menenteng koper untuk menjerit lagi sebelum banting pintu –mungkin jeritan jangan cari aku atau semacam itulah. Bahkan ketika dia sudah tak ada, baunya sengaja ditinggalkan untuk berkuasa, seakan diberi mandat khusus untuk terus menggangguku.

Aku membuka lebar-lebar pintu dan jendela, mengangin-anginkan ruang. Empat jam lamanya aku bersibuk dalam persiapan menulis. Referensiku sudah rapi, malah aku sempat menikmati secangkir kopi sebagai pelepas lelah sambil memutar lagu-lagu, hingga suatu saat kusadari betapa cepat waktu berlalu. Buru-buru aku kembali ke depan meja.

Aku mulai memikirkan kalimat pertamaku. Ini kalimat yang sungguh penting, penentu seluruh isi buku, begitu pikirku, mesti orisinal. Saat kupikirkan perkara pentingnya kalimat pertamaku, tiba-tiba kupikir ada baiknya minum segelas air putih terlebih dulu. Aku perlu menenangkan diri, lagi pula banyak minum air putih itu baik, seperti pesan para dokter. Aku pergi menenggak segelas air di atas rak, tiba-tiba membayangkan jus nanas dari kulkas. Kuomeli diriku sendiri, jangan tergoda, sekali keluar dari kamar, aku sangat mungkin akan berkeliaran di seantero rumah. Maka dengan bijaksana, kuputuskan duduk lagi. Lima menit menatap karser kelap-kelip dengan agak jemu, kuputuskan mengecek email sebentar. Aku terbawa suasana, klik sana-sini ke berbagai situs internet. Sejam lebih aku wara-wiri sebelum tiba-tiba ingat novelku. Kuomeli lagi diriku, kekurangdisiplinan semacam ini tak boleh dipiara.

Aku duduk tegak dan mulai mengerahkan segenap kemampuan imajinatif dan intuitifku untuk kalimat pertama. Ketika salah satu bakal pikiranku tengah genting menguntum, mendadak sikuku gatal. Saat kugaruk, melesatlah seekor nyamuk menuju kupingku, berdenging nyaring. Tahu-tahu sepasukan nyamuk datang menyerang sekujur badanku, menukik dalam pelbagai manuver semahir pilot pesawat tempur. Nyamuk patriot sialan, keluhku dalam hati sambil bangkit menutup pintu jendela.

Melanjutkan berpikir, dudukku tak lagi bisa tegak. Aku dibikin sibuk menepuk dan menggaruk badanku yang gatal dan merah di sana-sini oleh terjangan nyamuk. Aku pura-pura tak peduli. Namun dalam batinku, aku merasa sangat dirugikan sebab kini mesti berpikir sambil mewaspadai mereka. Kewaspadaanku yang kian meningkat, di saat yang sama, telah menindas pikiranku. Bagaimana aku bisa memunculkan buah karya, jika para nyamuk begitu beringas memberantas buah pikiranku? Jangankan sempat berbuah-buah, berbunga saja tidak, kuntum pun belum. Aku sebal memikirkan nyamuk komplotan istriku, sebal badanku gatal-gatal. Kesebalan berganda itu membuatku merasa perlu istirahat sejenak. Aku keluar menuju teras, menarik nafas dalam-dalam.

Di langit ada bulan purnama. Menatapnya membuatku ingat istriku, padahal aku tak ingin. Aku tak ingin mengingat pertama kali ketemu istriku di acara pernikahan dan terpesona dengan suara seraknya ketika dia menyanyikan lagu Bob Tutupoly diiringi organ tunggal. Kubilang pada diriku sendiri, berapa orang wanita yang menyanyikan lagu Bob Tutupoly di depan khalayak ramai? Hanya bisa dihitung jari. Baru kali ini kusaksikan wanita menyanyikan lagu Bob Tutupoly, apalagi Widuri, apalagi dengan begitu merdu dan syahdu. Wanita macam apa ini, yang begitu serius menyanyi Widuri, tanyaku dalam hati, apa dia tidak khawatir dikira lesbian oleh orang-orang? Jangan-jangan benar lesbian? Dan dia sedang menatap, di antara para hadirin, seorang Widuri (atau Bob Tutupoly?) yang elok bagai rembulan oh sayang seperti kata Bob Tutupoly kepada Widuri? Menelusuri arah tatapannya, kutetapkan lima orang tersangka rembulan. Penasaran, kuhampiri biduanitaku seusai menyanyi, saat dia mengambil minuman. Kukenalkan diri dan langsung kutanya, Anda senang perempuan atau laki-laki? Biduanitaku tertawa keras, mesti kubilang keras sekali, sampai aku terpesona yang kedua kali, sebab baru kali ini kudengar ada wanita tertawa begitu keras –semacam tawa tak melengking seperti umumnya wanita, pun bukan tawa membahana lelaki, tapi lebih serupa tawa suatu makhluk tak berjenis kelamin yang bukan dari dunia ini. Dia tampak surgawi, wujudnya bermandi sinar matahari, suaranya mengalun masih biduan padahal dia tidak sedang menyanyi Widuri, bagai musik cinta yang turun dari langit bersemilir ke telingaku mengenyahkan organ tunggal.

Aku jadi kangen pada istriku, agak murung dengan prospek hari-hari bujangan; keluyuran cari makan, memasak untuk satu orang, siapa yang akan mengantar ke dokter kalau mag-ku kambuh. Menatap bulan, kuputuskan akan datang menjemput istriku besok pagi-pagi sekali. Mungkin tidak pagi benar sebab aku perlu tidur sebentar, mungkin besok malam, atau lusa—nantilah, seketika kalimat pertamaku selesai. Aku harus memikirkan kalimatku terlebih dulu, hanya dengan cara itu aku bisa datang padanya. Akan kubuktikan aku akhirnya telah menulis novelku, supaya dia tak lagi menjerit-jerit seperti sore tadi. Kamu selalu menunda segala-gala, jerit istriku, menunda mencicil rumah, punya anak, mengirim pos paketku, berangkat ke kantor, menunda makan sampai mag lalu empat bulan menunda ke dokter, mau belok mobil saja kamu tunda sampai mobil motor sepi. Tunda ini tunda itu, besok ya say minggu depan ya say—kamu penunda sejati di segala bidang, lihat nasib bukumu yang tak jelas itu, kalimat pertama saja tak ada, raja siapa tu namanya, Siramatungga. Dan kamu Sirajatunda! Maharaja! Prabu! Begitulah, dalam salah satu rentetan jeritnya, dengan tak senonoh dia mengata-ngataiku.

Tanpa menunda-nunda, aku masuk lagi. Jika ingin istriku kembali, aku harus serius memikirkan kalimat pertama. Aku duduk dan mulai berpikir keras. Begitu keras aku berpikir, entah berapa lama, hingga kurasakan semacam lelah pikiran yang membekukan. Ketika pikiranku hampir mendekati titik beku, tiba-tiba melintaslah sebuah kalimat –buru-buru kuketik.

Panggil aku Samaratungga.

Aku girang, kalimat pertamaku telah tertera di layar. Dengarlah bunyinya: nggi-ngga, ai-au-aaaa, tiga kata senada seirama, musik sempurna. Daya desaknya begitu telak, menggoda, bahkan memerintah. Kalau seseorang sudah memerintahkan panggil namanya dengan desak semantap itu, niscaya banyak kejadian akan mengikuti. Kuucapkan kalimat itu berulang-ulang dengan berwibawa.Di ulangan ke sekian, kudengar suaraku tertunda.

Panggil aku Samaratungga.

Tunggu, berhenti! kuhardik diriku. Aku mencurigai sesuatu, tetapi belum jelas benar. Lima menit kemudian tiba-tiba jelaslah: oh tidak, itu Ishmael! Moby Dick! Herman Melville telah duluan memikirkan dan menuliskan kalimat pertamaku! Orang itu mencoleng buah pikiranku yang cemerlang, buah kalamku yang pertama di malam ini setelah berjam-jam. Tidakkah Herman Melville tahu delapan tahun lamanya kupersiapkan diriku untuk kalimat itu, tidakkah dia tahu kalau nasib rumah tanggaku ada di situ, tega betul Herman Melville datang dengan mesin waktu dan merampas kesempurnaan kalimatku.

Dengan getir kuhapus kalimat yang cuma sesaat jadi milikku. Aku bersandar di kursi, menatap lesu layar yang kembali putih kosong. Aku merasa tak berdaya. Dan tak orisinal. Dan frustrasi. Semua hal yang bisa diperkatakan oleh manusia di dunia ini, telah pernah dikatakan seseorang dalam sesuatu buku. Semua kalimat pertama yang mungkin, telah habis dipikirkan dan dituliskan orang-orang. Sisanya adalah daur ulang. Batinku menjerit pilu, oh buah pena, mahakarya, oh susastra!

Di antara jerit batinku, sayup-sayup kudengar suara mengaji dari mesjid. Aku tersentak, sebentar lagi subuh. Jangan menyerah! kuperingatkan diriku sendiri, ingat, istrimu taruhannya. Aku kembali mulai berpikir keras.

Kuterus berpikir, hingga kurasakan taraf kekerasanku dalam berpikir hampir baja. Aku memikirkan, jika tak kupikirkan kalimat pertamaku, aku takkan bisa menjemput istriku, dan aku menderita dibuatnya. Tapi jika kupikirkan kalimat pertamaku, aku juga menderita, sebab sambil memikirkan kalimat pertamaku, di saat yang sama, aku juga memikirkan bahwa jika tak kupikirkan kalimat pertamaku, aku takkan bisa menjemput istriku, dan aku menderita berganda dibuatnya –lalu jika kuterus pikirkan, aku akan menderita berganda-ganda. Seakan ke arah mana pun aku berpikir, apa pun buah pikiranku, semata terantuk buah simalakama. Tak cuma sebuah, namun berlipat ganda, dalam panen raya buah- buah Simalakama Sirajatunda Samaratungga—kalimat pertama mahakaryaku menyelip entah di mana. Memikirkan semua ini membuatku mengantuk dan ingin tidur saja. Tidur yang lama.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme