Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Piano oleh Veronica A

Posted on Ming, 05 Des 2010

 

Dulu, rumah bercat hijau itu kami tinggali berempat. Aku, nenek, kakek, dan ibu. Kalau kau tanya di mana ayahku? Aku tak punya jawaban. Nenek pun tidak. Hanya ibu yang tahu persis siapa ayah kandungku. Dan aku pun tidak pernah berhasrat menanyakan perihal ayah kepadanya.

Sejak aku lahir, kakeklah figur ayah bagiku. Meski beliau yang tua dan rapuh lebih banyak tergolek di balai-balai daripada membawaku pergi ke taman bermain. Sesekali, beliau duduk di kursi goyang, sambil menyipitkan kedua matanya, berusaha memperhatikanku yang sedang disuapi oleh nenek. Penglihatan kakek memang terganggu. Tak lama sejak didiagnosa dokter menderita diabetes, beliau menderita glaukoma. Malam-malam, jika sedang kambuh, kakek akan terus mengerang dan mengeluhkan matanya yang sakit. Selang beberapa menit kemudian, beliau akan muntah-muntah dan tergolek lemah di balai-balai yang telah dilapisi matras.

Ketika nada erangan kakek mulai meninggi, aku hafal betul, nenek pasti akan memanggil dan memintaku untuk mengambilkan botol obat tetes mata bertuliskan Eserine di lemari tengah. Seusai menyelesaikan tugas kecil itu, aku kembali bergelung di ranjang. Dari balik korden kamar yang usang, aku selalu terharu memandangi nenek yang setia merawat kakek hingga fajar menjelang kemudian.

***

Ibuku, kau tahu? Dia sangat cantik. Suaranya merdu. Rambutnya yang sepunggung, hitam legam bak bulu gagak. Setiap wanita pasti akan iri saat memandang wajahnya yang jelita. Setiap lelaki pasti akan jatuh cinta melihat lekuk tubuhnya yang molek. Namun, menurut pendapatku, ia tak lebih dari seorang wanita tolol. Kecantikan dan suaranya yang mendayu, hanya bisa mengantarkannya menjadi biduanita kelas teri. Bersama grup musik keliling, ia menyanyi dari desa ke desa. Kata nenek, ketika masih belia, banyak pemuda bersahaja datang melamarnya. Namun, ia justru jatuh cinta pada seorang lelaki tak beridentitas. Percintaan ibu dengan lelaki itu pun membuahkanku. Tanpa nama ayah di surat kelahiran, aku pun menghirup udara dunia yang tak seramah rahim ibu.

Ketika aku berumur empat tahun, reputasi ibu sebagai biduan naik daun. Ia tak lagi menyanyi di panggung keliling, melainkan menjadi penyanyi tetap di sebuah bar di Yogyakarta. Awalnya, ibu pulang seminggu sekali, dengan membawa banyak hadiah untukku. Lama-lama ibu pulang sebulan sekali, lalu tiga bulan sekali, dan akhirnya aku tak lagi bisa menghitung berapa lama ibu pergi.

“Aku tidak mau boneka lagi! Aku mau ibu di sini!” aku ingat, usiaku lima tahun saat aku menangis menjerit-jerit, menyaksikan ibu beranjak pergi dari pintu rumah untuk kesekian kali.

“Ibu pergi agar kau bisa sekolah saat kau besar nanti,” bujuknya lembut.

“Aku tidak mau sekolah. Aku hanya mau ibu!” teriakanku makin melengking.

***

“Mbak, belok ke kanan atau ke kiri?” suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.

“Ke kiri, Pak! Nanti di sebelah kiri, ada gapura warna hitam, masuk kira-kira dua ratus meter,” jawabku dengan suara berat.

Taksi yang kutumpangi dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, semakin mendekati rumah nenek yang terlihat mulai lapuk dan mengelupas catnya di mana-mana. Rumah itu kini hanya dihuni oleh nenek seorang. Kakekku sudah meninggal jauh sebelum aku meninggalkan rumah. Beberapa bulan kemudian, ibuku pun meninggal. Saat itu, aku baru menginjak usia dua belas. Sanak saudara berdatangan untuk berbela sungkawa. Termasuk adik nenek yang menikah dengan seorang prajurit Belanda dan tinggal di Groningen, Belanda. Tepat tujuh hari setelah ibu meninggal, aku ikut adik nenek untuk bersekolah dan tinggal di negeri kincir angin itu.

***

Ketika taksi berhenti di depan rumah, nenek sedang sibuk dengan rajutan dan setumpuk benang wol di pangkuannya. Wanita tua itu terkesiap melihatku turun dari taksi. Sontak, ia bangkit dari kursi goyangnya, dan berlari kecil menghampiriku. Ada segunung kerinduan yang terpancar dari kedua bola matanya yang terbingkai kacamata presbiopi.

“Mala! Oh….Mala cucuku!” serunya berbaur dengan suara tangis mengharu biru. “Rasanya lama sekali nenek menunggumu pulang, Mala. Kau sekarang betul-betul sudah dewasa,” lanjut nenek sambil menyeka air matanya.

“Aku merindukan nenek,” balasku sambil memeluk tubuh rentanya.

“Syukurlah, kini kau sudah pulang,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Kerinduan kami selama sepuluh tahun pun melebur ke dalam sebuah pelukan hangat tiada tara.

Malam harinya, aku tiduran di pangkuan nenek. Nyaman rasanya. Kuhirup dalam-dalam aroma khas kain jarit yang dipakai oleh nenek. Masih sama seperti dulu.

“Kau tak ingin menjenguk Kus?” pertanyaan nenek membuatku tersentak.

“Om Kus?” tanyaku datar.

“Semestinya kau menjenguknya, Mala. Dulu kau sangat sayang padanya bukan? Datanglah ke pondoknya esok pagi, sebelum ia berobat,”

“Berobat?”

***

Keesokan paginya, aku mengunjungi lelaki yang nenek sebut dengan nama Kus. Sewaktu kecil dulu, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan Om Koko. Jika kebetulan ia menjadi wali yang mengambil raporku di sekolah, dengan bangga aku akan memperkenalkannya kepada teman-temanku sambil menyebutkan nama lengkapnya, yang hanya terdiri dari satu suku kata. Kuswidiatmoko.

Kata para tetangga, Om Koko adalah kekasih ibu. Mereka saling jatuh cinta karena Om Koko selalu mengiringi ibu menyanyi di panggung dengan piano klasiknya. Meski aku menyayangi lelaki bertubuh atletis itu, tapi aku sama sekali tidak berharap kelak ia menjadi ayah tiriku.

Pondok Om Koko sangat teduh. Dikelilingi oleh pagar kayu yang dililit oleh bunga Alamanda. Sayup-sayup kudengar suara tuts piano beradu dengan pedal. Permainan itu amat akrab di telingaku. Meski terlambat mendengarkan untaian nada-nada itu, tetapi aku hafal judulnya di luar kepala. Tristesse, gubahan Frederic Chopin, komposer favorit Om Koko.

***

“Om, bisakah suatu saat nanti aku bermain piano seperti Om?” tanyaku padanya ketika usiaku masih sepuluh tahun. Tubuhku yang mungil tampak tenggelam saat berdiri di samping grand piano akustik berwarna hitam mengkilat milik Om Koko.

“Tentu saja kamu bisa,” jawabnya meyakinkan.

“Mainkan satu lagu untukku, Om! Aku juga ingin memainkannya dalam mimpiku nanti,” ujarku sembari melemparkan novel berjudul ’Buku Catatan Josephine’ yang belum selesai kubaca ke sofa.

“Mmmm…baiklah. Om mainkan sebuah lagu pengantar tidur untukmu,” bisiknya penuh sayang. Aku menyandarkan tubuhku di sofa, bersiap mendengarkan dia memainkan jemarinya di atas tuts gradded hammer yang tebal dan kokoh.

“Apa judulnya?”

“Tristesse,” jawabnya lembut.

“Tristesse?” tanyaku sambil berusaha mengeja.

“Ya, Tristesse. Kata itu berasal dari bahasa Perancis, yang artinya kesedihan. Komposisi ini juga dikenal dengan sebutan Etude Op. 10 No 3,” tutur Om Koko sambil tersenyum. Kedua lesung pipinya terlihat semakin cekung, menghiasi wajah tampannya yang terbungkus oleh jambang samar.

Perlahan, alunan Tristesse mengantarkanku ke dunia bawah sadar. Anehnya, ketika aku terlelap sembari mendengarkan melodi itu dengan cermat, aku memimpikan diriku sendiri memainkannya. Jemari tanganku yang lentik dan lincah menari-nari di atas tuts piano. Sejenak, aku pun melupakan Eserine, nama obat tetes mata kakek yang baru saja kutemukan di novel yang beberapa menit lalu menyita perhatianku.

***

Aku terhenyak. Peristiwa bertahun silam itu melesat cepat menembus memoriku. Kuayunkan satu langkah kaki mendekati pintu bercat cokelat di hadapanku. Aku mengintip dari jendela. Mataku terpaku pada sosok lelaki dengan helai-helai rambut berwarna kelabu.

“Permisi!” seruanku ternyata tak membuat lelaki itu berhenti memainkan Tristesse. Agaknya, ia terlampau menikmati setiap gerakan jarinya yang menekan tuts-tuts berat piano Steinway di hadapannya.

“Permisi!” seruku sekali lagi dengan nada sedikit kutinggikan.

Tampak seorang wanita paruh baya menghampiri pintu sambil mengelap tangannya dengan celemek yang melilit perutnya. Wanita itu membukakan pintu untukku. Sesaat, ia terdiam sambil berusaha mencermati wajahku.

“Kumala…kaukah itu?” seru si wanita seolah tak percaya.

“Iya, ini aku, Mak!” balasku bersemangat.

“Mala, Emak sangat merindukanmu,” ujar wanita bertubuh kurus itu sambil mendekapku erat. “Kau betul-betul sudah dewasa Mala. Dan kau amat mirip dengan Maya, ibumu,” lanjutnya. Aku pun hanya tersenyum tipis mendengar kalimat yang terlontar dari bibirnya.

Dulu, Mak Min atau yang kerap kupanggil Emak itu sering datang untuk mengasuhku, jika kebetulan nenek sedang repot mengurus kakek yang sakit-sakitan.

“Sejak kapan Mak Min bekerja di pondok ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Sejak ibumu meninggal dan kamu pergi ke negara kompeni, Emak ikut Den Kus. Apalagi sejak kehilangan Maya, ibumu, pikiran Den Kus jadi agak terganggu. Tubuhnya juga jadi sakit-sakitan. Keluarga Den Kus lalu mengupah Emak untuk mengurusnya karena tak sanggup merawatnya sendiri.”

“Jadi, karena itu Om Koko harus berobat?”

“Iya, setiap sebulan sekali Den Kus menjalani terapi kejiwaan. Selain itu juga harus bolak-balik rumah sakit untuk berobat lambungnya yang terkena infeksi.”

“Infeksi?”

“Kata dokter, lambung Den Kus mengalami infeksi kronis. Kalau penyakit pikirannya sedang kambuh, ia bisa tak makan selama berhari-hari. Jadi lambungnya pun ikut-ikutan rusak,” ujar Mak Min prihatin.

Ketika aku dan Mak Min sedang serius berbincang, tiba-tiba dari balik untaian korden manik-manik muncul seorang lelaki paruh baya berwajah kuyu.

“Mak, siapa yang datang?” seru lelaki itu dengan suara parau.

“Eh, ini Den! Ada tamu ingin menjenguk Aden,” jawab Emak dengan nada serba salah. Mungkin Emak takut membangkitkan kenangan pahit Om Koko akan masa lalunya bersama wanita yang ia cintai, yang tak lain adalah ibuku sendiri.

“Maya?” seru Om Koko ketika melihat bayangan tubuhku mendekatinya.

“Bukan, Om aku Kumala bukan Maya. Om sudah lupa padaku?”

“Maya! Maya, aku sangat merindukanmu,” jawab Om Koko sambil berusaha memeluk tubuhku.

Mendadak aku tak mampu membendung air mata yang terus saja menganaksungai di kedua pipiku. Aku sadar, aku menangis bukan karena sedih mengenang ibuku, melainkan kecewa karena Om Koko terus saja menganggapku sebagai dirinya.

***

Sepuluh tahun yang lalu. Suatu hari, dari balik jendela pondok Om Koko, kulihat ibuku yang cantik jelita duduk di sampingnya menghadap piano. Ibu dengan sepasang tangannya yang berkulit kuning langsat, lengkap dengan sepuluh jemari lentiknya, memainkan tuts-tuts piano. Di banding seminggu sebelumnya, permainan piano ibu kali itu sudah lebih baik. Om Koko bersorak girang sambil mencium kening ibu, ketika ibu berhasil memainkan sebuah lagu dengan kunci accord sederhana.

Aku tidak menyukai pemandangan mesra itu!

Aku benci karena ibu bisa belajar bermain piano bersama Om Koko, sedangkan aku tidak. Kebencian itu semakin tak terkendali tatkala kupandangi kedua lenganku yang hanya sebatas siku orang normal, dengan dua tonjolan daging yang lebih mirip kue kaastengels dibanding ibu jari dan kelingking.

Aku tidak bisa belajar bermain piano, itu salah ibu! Aku bisa berkata begitu karena aku kerap mendengar para tetangga bergunjing. Kata mereka, aku cacat akibat ibu yang pernah berusaha keras menggugurkanku ketika masih dalam kandungan. Tapi, kini aku cukup puas karena takdir berkata lain. Aku tidak mati di tangan ibu, melainkan sebaliknya.

Mungkin hanya nenek satu-satunya yang menyadari, kalau ibu meninggal setelah meminum sirup lemon yang kubawakan untuknya. Sirup lemon yang sudah kucampur dengan banyak-banyak Eserine, sisa obat glaukoma kakek yang tertinggal di lemari. Untuk itulah, nenek mengirimku jauh ke Belanda, agar tak ada yang bisa menyalahkanku atas kematian ibu.

Mungkin aku harus berterima kasih pada Josephine, tokoh gadis berusia dua belas tahun yang ada di novel yang kubaca itu. Atau sebetulnya, ibulah yang menyebabkan kematiannya sendiri, karena dialah yang menghadiahiku novel itu. Jadi, bukan salahku kalau aku meniru cara Josephine yang meracuni kakeknya, Aristide Leonides, dengan obat tetes mata yang namanya sama dengan obat kakek.

Sayang sekali, ibu memang tak pernah menyadari telah melahirkan anak cacat yang kelewat cerdas, sehingga aku pun berhasil meracuninya dengan obat tetes mata itu. Dan dengan begitu, aku bisa memiliki Om Koko untuk selamanya, tanpa ada ibu sebagai pengganggu.

Kebon Jeruk,
18 Juli 2010. 01.37 AM

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme