Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perempuan Tua dalam Kepala oleh Avianti Armand

Posted on Ming, 23 Jan 2011

Di dalam kepalaku hidup seorang perempuan tua pemarah yang gemar menghentak-hentakkan kaki dan berteriak-teriak. Begitu tuanya, dia menyerupai seonggok pohon kering-keriput, bungkuk, dan bengkok di sana-sini dengan sudut-sudut yang janggal. Suaranya seperti derit roda kekurangan minyak. Jika dia berteriak, aku terpaksa menutup telinga.

Dia menghuni sebuah rumah reyot dari batu tanpa jendela. Hanya ada satu pintu besi berkarat yang selalu berbunyi saat membuka dan menutup. Seluruh dinding rumah itu ditumbuhi lumut gelap yang lebat. Ulat-ulat gemuk berwarna hitam hidup dan beranak-pinak di dalamnya.

Sesekali kulihat perempuan itu mencungkili ulat-ulat tadi dari dinding, memasukkan mereka ke dalam panci, dan membawanya ke dalam rumah. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dengan ulat-ulat tadi. Tapi tak lama sesudahnya, asap akan membubung dari cerobong. Ulat-ulat tadi mungkin telah jadi sup atau ramuan pembuat gila.

Aku percaya dia adalah seorang penyihir. Sejak tinggal di kepalaku, belasan tahun yang lalu, perempuan itu seolah berhenti menua.

Aku tak menyukainya. Dia tak menyukaiku. Dia menyukai apa yang tidak kusukai dan tidak menyukai apa yang kusukai. Dia memakiku ketika aku menolong anak laki-laki yang jatuh dari sepeda, dan menjerit-jerit marah ketika suatu pagi aku menikmati suara burung-burung pertama di pohon depan rumah. Jeritannya membuat burung-burung itu kabur ketakutan.

Tapi ia bertepuk senang ketika aku menempeleng pengendara motor yang memotong jalur mobilku. Atau mengajukan saran-saran balas dendam yang benar-benar bagus ketika aku bersungut-sungut keluar dari ruang kerja bosku setelah setengah jam penuh diceramahi karena terlalu sering terlambat. Satu sarannya kujalankan. Hari itu bos terpaksa pulang naik taksi karena dua dari empat ban mobilnya kempes. Tak seorang pun mencurigaiku.

Di saat-saat terburuknya, perempuan tua itu benar-benar menyulitkan. Dia akan memukuli bagian dalam kepalaku dengan tongkatnya, atau menusuk-nusuk otakku dengan jarum jahitnya yang besar. Sakitnya luar biasa. Aku hanya bisa diam-diam menangis sambil membentur-benturkan kepalaku ke benda-benda keras yang terdekat: tembok, pintu, kepala tempat tidur, meja, kursi, wastafel, pinggiran bath tub,… apa saja – dan baru berhenti setelah dia berhenti.

Aku pernah mengusirnya. Tentu saja dia tak mau. Aku mengancam akan meledakkan kepalaku. Dia malah menantang, ”Coba saja kalau berani!” Dia menang. Aku memang pengecut. Sejak itu, dia makin kejam dan sewenang-wenang. Aku tak bisa berbuat lain kecuali belajar menahan rasa sakit agar dia tak selalu menang.

Tapi sore ini dia cukup tenang. Mungkin karena aku sekedar duduk minum kopi di sebuah café di sebuah mal dengan pikiran kosong. Sesuatu yang tak membuatnya geram ataupun senang.

Tak banyak yang lalu lalang di tengah minggu seperti ini. Cuma gadis-gadis dengan baju serba terbuka. Ibu-ibu muda dengan rambut bergulung-gulung dan wangi yang menyengat hidung. Di belakang mereka, rombongan baby sitter berseragam kedodoran membuntuti dengan tergopoh-gopoh. Beberapa menggendong bayi, lainnya membawa tas berisi botol-botol susu dan air panas yang terlihat berat. Tiga lelaki gemuk lewat dengan celana dan kemeja berbunga-bunga cerah yang tak serasi. Satu dari mereka mengenakan kalung dan anting-anting emas. Aku menunduk muak.

”Sen!” Seorang lelaki tiba-tiba menjulang di depanku. Tinggi, tegap, wangi. Wajahnya bersih. Senyumnya berkilau. Aku langsung teringat sebuah iklan pasta gigi, tapi kesulitan mengingat siapa dia. Mataku pasti penuh tanda tanya karena matanya kemudian dengan sabar menuntunku ke sebuah gudang di satu siang, belasan tahun yang lalu.

Di satu sudutnya, seorang anak lelaki kecil dengan celana pendek hijau berjongkok di sebelahku. ”Jangan takut,” bisiknya. Tangannya lalu menggenggam tanganku. Dengan tangan yang lain dia mengangsurkan sehelai selampai untuk menghapus air mata dan ingus. Aku masih menyimpannya hingga kini.

”Ben?” Tanyaku ragu. Dia mengangguk. Senyum pasta giginya melebar, nyaris menunjukkan geraham. Dia langsung duduk di depanku dan, seperti dulu, menggenggam tanganku. Aku tak sempat merasa jengah. Tapi ulu hatiku mendadak kram dan di perutku seekor kupu-kupu raksasa mengepak panik.

”Kamu menghilang begitu saja!” Protesnya. Aku tak yakin harus menjawab apa. Sejak gudang itu, kami memang tak pernah bertemu lagi. Baju pengantin yang kugunting hingga jadi potongan-potongan kecil tak membatalkan pernikahan ibu. Sehari sesudahnya, kami pindah kota mengikuti ayah baruku. Aku minta maaf karena tak sempat berpamitan. Aku berbohong. Sesungguhnya, aku tak berani menemuinya karena takut ia akan meminta sapu tangannya kembali. Aku ingin menyimpannya.

Ben percaya dan memaafkanku. Ia memesan secangkir kopi, lalu duduk menemaniku. Tak banyak yang bisa kukatakan. Butuh waktu untuk memilah-milah tumpukan cerita yang seketika menggunung di belakang kepala. Ben cukup bijak untuk tak bertanya apa-apa. Dia cuma menyesap kopinya pelan-pelan sambil sekali-sekali menatapku. Aku berkali-kali menelan kata-kata yang tersangkut di pangkal lidah. Ketika dia menggenggam tanganku untuk kedua kalinya, kelopak mataku memejam. Di baliknya, perempuan tua itu duduk dengan muka masam. Matanya berkilat sepekat malam.

***

Lelaki yang dicintai ibu mencintaiku juga. Ia suka membelai kepalaku dan membelikan aku berbagai jajanan: permen dan aneka keripik yang mengandung msg. Aku tahu, permen tak baik untuk gigi, dan msg tak baik untuk otak, tapi aku tak peduli. Ibu tak pernah membelikan jajanan dan tak memberikan ayah. Jadi, lelaki ini ideal. Ia akan jadi ayah yang suka membelikan jajanan.

Ia sering memintaku duduk di pangkuannya. Sambil bercerita tentang rumahnya di kota lain yang punya kolam ikan koi, tangannya akan membelai pahaku. Aku suka geli dan menyuruhnya berhenti. Tapi ia tak peduli. Ibu juga tak peduli. Ibu malah senang karena ada yang menjagaku di rumah jika ia menghabiskan waktu dan uangnya di mal.

Di hari perempuan tua itu datang, ibu meninggalkanku dengan laki-laki itu.

Dari udara yang tipis perempuan tua itu menjelmakan burung-burung hitam. Tujuh ekor banyaknya. Mereka berjajar dengan gelisah di bubungan rumahnya. Menanti. Mengancam. Lalu, dengan satu isyarat tangan, gagak-gagak itu menyerbu bola mataku, mematuk-matukinya tanpa ampun.

”Tutup matamu. Kamu tak akan merasa sakit.” Lelaki itu berbohong. Aku merasakan nyeri yang luar biasa di bawah sana. Dan tetap nyeri walau mataku telah terpejam. Aku menjerit. Lelaki itu membenturkan kepalaku ke tembok. Aku menjerit lagi. Ia membenturkan kepalaku lagi. Lagi. Lagi. Aku nyaris pingsan karena sakit yang tak tertahan. Dan rasa mual yang bergulung-gulung. Sesuatu tiba-tiba meledak dalam duburku. Cengkeraman lelaki itu seketika melemah. Ia mencampakkanku di lantai. Isi perutku tumpah saat itu juga.

Entah berapa lama aku tak sadar. Ketika mataku terbuka, burung-burung hitam telah pergi. Perempuan tua itu berdiri diam, mengamatiku berkubang dalam muntahku sendiri.

***

Di depan pintu itu, ia berdiri dengan senyum yang harum. ”Aku berharap kamu cukup lapar.” Ben menjawab bahwa dia sudah tak makan tiga hari. Aku terbahak. ”Aku bahkan bisa makan daging mentah,” lanjutnya, sambil mengerling nakal. Ia mulai genit. Meski begitu, aku merasa sedikit tersanjung. Telingaku tiba-tiba berdenging. Perempuan tua itu menggeserkan ujung tongkatnya yang tajam ke dinding kepalaku.

Ben masuk tanpa kusilahkan. Dengan santai ia melepas sepatu dan melempar tubuhnya ke sofa. Seketika ia melesak. Busa sofa tua itu memang terlalu empuk. ”Apartemenmu nyaman,” pujinya. Matanya menjelajahi studioku yang cuma 42 meter persegi. Dari tempat dia duduk, semua bisa terlihat. Tak sampai lima menit ia selesai memindai semuanya: pintu masuk, dapur kecil, ruang makan kecil, ruang kerja kecil di samping jendela, sofa bed, dan kamar mandi mungil yang cuma ditutupi korden.

Aku menawarinya minum. Ia menolak halus. Matanya tajam menatapku. Jantungku langsung berdebar gila. Agak gugup, aku kembali ke dapur. Sambil pura-pura mencuci tangan yang tak kotor, aku menenangkan diri. ”Aku membuat greek salad dan fish linguini. Kita makan?”

Di atas meja sudah kusiapkan dua piring, dua set sendok, garpu, dan pisau, dua gelas air putih, dua gelas kosong untuk anggur nanti. Semuanya tertata rapi. Ben berdiri menghampiri. Aku menarik kursi, bersiap untuk duduk. Tapi Ben menarik tanganku, menghela tubuhku mendekatinya. ”Kita langsung ke acara utama saja,” ujarnya dengan bibir yang hanya berjarak satu senti dari bibirku.

***

Ibu bilang, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Ia tetap pergi meski aku merengek-rengek memintanya tinggal. Saat itu, aku benar-benar membencinya. Laki-laki itu bilang, aku tak boleh bercerita pada ibu, atau ia akan benar-benar menyakitiku. Di balik pintu aku berdiri kaku dengan bibir terkatup rapat dan tinju terkepal erat, lalu mulai berhitung.

Satu, dua, tiga. Laki-laki itu menggandengku ke kamar. Empat, lima, enam. Laki-laki itu melucuti celanaku. Tujuh, delapan, sembilan. Ia menelungkupkanku di tempat tidur. Tangannya mulai menggerayangi pantatku yang terbuka. Aku menutup mata erat-erat. Di hitungan kesepuluh, pintu rumah perempuan tua itu terbanting terbuka. Mukanya marah. Sebelas, dua belas. Lelaki itu menindih tubuhku. Napasnya mulai terengah.

Tiga belas. Perempuan tua itu berteriak garang. Dari mulutnya keluar kata-kata paling kotor yang pernah kudengar. Laki-laki itu terjengkang kaget. Dengan sigap perempuan tua itu meraih lampu baca di samping tempat tidur. Sepenuh tenaga, dihantamkannya kaki lampu itu ke kepala laki-laki. Besi beradu tulang. Aku mendengar suara retak. Tubuh lelaki itu terpuruk ke lantai. Darah merembes pelan dari lukanya. Sekali lagi perempuan tua menghantamnya. Lagi. Lagi. Lagi.

Empat belas, lima belas. Lelaki itu tak bangun lagi. Di dalam kepala, tawa serak perempuan tua itu menggema tak henti-henti, menelusup ke rongga-rongga kecil di tengkorakku. Aku menggigil. Rasa dingin seketika menyelimutiku.

***

Sambil berbaring di tempat tidur, kuceritakan pada Ben tentang masa kecilku yang bahagia. Ayah tiriku mati muda. Tapi ibuku segera menikah lagi. Kami pindah keluar negeri. Aku punya dua adik tiri perempuan yang manis-manis. Ibuku meninggal tahun lalu setelah tiga tahun menderita kanker rahim. Aku kembali ke sini sesudah lulus kuliah dan langsung bekerja sebagai editor mode di majalah wanita dengan oplah terbanyak di Indonesia. Hingga kini.

Ben membelai rambutku. Dia bilang, dia senang bisa bertemu kembali denganku. Sejak berpisah dulu, dia tak bisa melupakanku. Mataku berair. Ben terlihat kuatir. ”Kenapa, sayang?” Aku bahagia, sahutku cepat.

Di dalam kepalaku, perempuan tua itu menggerutu. Ember di tangannya kini kosong. Aku tak tahu, cairan apa yang tadi disiramkannya ke mataku. Rasanya perih sekali.

____

Jakarta, 26.11.10.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme