Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tulang Belulang oleh Rama Dira J

Posted on Ming, 09 Jan 2011

Kini, kemana pun pergi, tulang belulang anaknya itu selalu ia bawa. Semuanya bermula dari kematian sang istri. Nyawa perempuan itu habis di tangan sendiri. Ia terjun bebas dari lantai dua belas. Pikiran sehatnya tandas setelah mendapati perutnya semakin membesar, berisi benih majikannya. Pada akhirnya, perempuan itu pulang dari negeri yang jauh dengan kondisi yang tak manusiawi, dalam sebuah peti mati murahan.

Lelaki itu tak bisa mengelak dari kenyataan yang menyakitkan ini. Serta-merta ia terhempas ke dalam duka yang nyaris tanpa ujung. Bukan semata tersebab kehilangan orang yang begitu ia cintai tapi juga sumber penghidupan. Selama ini, istrinya itu rutin mengirimkan uang asing dari negeri asing yang jika dirupiahkan, jumlahnya bisa membiayai lebih dari cukup hidupnya bersama anak semata wayang mereka.

Kenyataan yang tak dinyana itu memaksanya kembali menggeluti pekerjaan semula, berjualan obat tradisional racikan sendiri, di pasar. Tak seberapa uang yang bisa diperoleh dari situ. Bahkan, sering kali ia tak beroleh rupiah sama sekali. Masa jayanya tak lagi berbekas. Telah banyak penjual obat yang bermunculan sepeninggalannya. Orang-orang itu lebih lihai menggoda calon pembeli, menggelitik-gelitik rasa penasaran dengan mulut berbumbu mereka, menghipnotis secara tidak langsung sampai membuat mereka menjadi pelanggan setia.

Ia duduk terpaku dalam lamunan di belakang hamparan obat-obatan jualannya. Ia hanya mengandalkan tulisan sendiri di sebuah papan yang mengumumkan bahwa dialah penjual obat pertama di pasar itu sehingga semestinya kemanjuran obat yang ia jual tak akan ada yang bisa menandingi.

Setelah hari-hari tanpa hasil, hari ini hatinya senang bukan kepalang. Seorang kawan lama mampir dan lebih karena rasa kasihan, membeli sebotol obat gosok buatannya dengan bayaran dua kali lipat dari harga yang ditawarkan. Ia pun segera pulang setelah sebelumnya membeli dua bungkus nasi padang. Ia memutuskan untuk makan duluan. Sebungkus lagi ia sisakan buat anaknya.

Ia sangat menyayangi anaknya yang sudah beranjak bujang itu. Selama ini, dialah yang berperan besar menghalau kesepian dan kesendirian si penjual obat. Anak itu pula menjadi alasannya untuk kuat bertahan menjalani sisa hidup, meski dalam kesulitan, sepeninggalan istri tercinta.

Sampai malam tiba, anaknya tak segera menampakkan diri. Memang, waktu berangkat sekolah tadi pagi ia sempat berpamitan sambil mengatakan: sepulang dari sekolah, ia langsung menonton pertandingan bola di ibu kota. Klub kesayangannya akan main.

Sampai pagi keesokannya, anak itu belum juga datang. Justru mobil ambulans tiba dengan membawa sesosok jasad dalam kondisi yang mengenaskan. Itulah anaknya. Ia tewas setelah terjatuh dari atap kereta api yang tengah melaju. Dibantu oleh orang-orang kampung, dalam suasana hatinya yang tak karuan, anak itu dimakamkan siang itu juga.

Mulai malamnya, ia merasakan kesepian yang menakutkan, hidup sebatang kara yang begitu menyakitkan. Ia dikungkung kesepian yang mencekam, seperti yang mungkin dirasakan orang yang baru saja mati meninggalkan dunia dan susah payah beradaptasi dengan kehidupan di alam kubur yang benar-benar asing.

Tak tahan dalam teror penderitaan itu, dua minggu kemudian, ia nekad menggali kuburan anaknya. Pikirnya, daripada mereka hidup masing-masing di tempat yang berbeda, lebih baik mereka kembali hidup berdua lagi meski anaknya hanya tulang belulang kini.

”Aku kesepian. Kau pasti kesepian juga. Baiknya kita tetap hidup bersama saja. Kalau ibumu, tak akan sendirian dia dalam kubur. Ada nenek dan kakekmu di sana.” Ia berbicara pada tulang belulang anaknya itu. Tulang belulang itu ia bebaskan dari lumpur dan kotoran, ia mandikan. Ia sirami dengan minyak wangi, ia sayangi kemudian. Ia pun mengajaknya bertukar cerita sampai larut malam, sampai ia tertidur tak lagi memeluk guling, tapi tulang belulang itu. Malam itu juga, ia bermimpi indah.

Esok paginya, seperti biasa, dari rumah ia beranjak menuju pasar. Ada pemandangan yang tak biasa bagi orang-orang pasar pagi itu. Mereka melihatnya membawa tulang belulang. Mulanya orang-orang terteror dan enggan mendekat. Namun, lama kelamaan, rasa penasaran memicu terjadinya kerumunan di sekitar lelaki yang mereka kenal sebagai penjual obat itu.

”Apakah itu dijual?”

”Tidak.”

”Tulang belulang siapa itu?”

”Anakku.”

”Ha?”

Orang-orang langsung saja bubar jalan usai mendengar pengakuan yang mengejutkan itu. Dalam bisik-bisik, mereka mencapnya gila. Meski kerumunan telah bubar, ada seorang lelaki muda yang justru bertahan di hadapan si penjual obat.

”Mengapa masih di sini. Mengapa tak pergi juga seperti mereka?”

Lelaki itu tersenyum dan mengajukan permintaan yang aneh: ”Aku meminta air bekas bilasan tulang belulang itu.”

Penjual obat tersinggung dan tak mengindahkan permintaan itu. Karena tak digubris, lelaki muda itu berinisiatif mendapatkan sendiri apa yang dipintanya. Penjual obat tak sempat menghalangi gerak cepat lelaki muda itu yang mengambil salah satu bagian dari tulang belulang untuk kemudian ia siram. Air bekas menyiram tulang yang tertampung dalam baskom itulah yang kemudian diambilnya. Ia bergegas pergi dengan wajah sumringah setelah meninggalkan begitu saja selembar uang lima puluh ribu di hadapan si penjual obat.

Meski masih dilanda kebingungan bercampur marah yang tertahan, penjual obat menyambar uang itu dan memasukkannya ke sela kopiah miringnya. Ia mencoba untuk tenang dan menimbang-nimbang dengan akal, apa yang sesungguhnya terjadi barusan. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa, lelaki tadi pasti menganggap tulang belulang anaknya itu sebagai pembawa berkah. Dengan demikian, dalam sukacita ia mengambil air bilasan dari belulang itu demi hajat tertentu. Ia tak mau memperpanjang pikiran ke arah kejadian yang barusan. Ia cukup puas dengan pemberian lelaki muda itu. Dengan uang selembar tersebut, ia tak lagi perlu menjajakan dagangannya hari ini. Ia memutuskan pulang. Dari perhitungan, uang itu cukup untuk keperluan hidup sampai tiga hari. Ia akan berdiam diri saja di rumah selama tiga hari ke depan.

***

Ia belum bangun pagi itu. Pintu rumahnya digedor-gedor seseorang. Lebih karena ingin mengakhiri teror gedoran daripada mengetahui siapa yang melakukannya, ia beranjak dari tidur dan membuka segera pintu rumah dengan harapan urusan segera kelar dan ia bisa segera melanjutkan tidur. Ia tak begitu memperhatikan siapa yang berada di ambang pintu. Ia hanya mendengarkan beberapa baris omongannya. Permintaan lelaki itu, yang ingin mendapatkan lagi air siraman dari tulang belulang anaknya, membuatnya tahu itu pasti lelaki terakhir yang memberinya uang lima puluh ribu tiga hari yang lalu.

”Oh.. kamu..”

”Ya, Pak. Berilah lagi saya air tulang belulang itu. Soto saya laris manis tiga hari ini berkat kuah yang saya campurkan dengan air tulang belulang dari Bapak. Para pembeli bilang, kuah soto saya dahsyat nikmatnya.”

”Dari mana kamu tahu saya tinggal di sini?”

”Sama seperti waktu saya menemukan Bapak beberapa hari yang lalu di pasar, saya menemukan tempat tinggal Bapak ini berdasarkan bisikan spiritual.”

”Bisikan spiritual?”

Meski belum begitu paham dengan penjelasan si penjual soto, ia tak bisa mengelak untuk memenuhi permintaannya. Lebih-lebih lagi lelaki itu telah menyodorkan uang yang berlipat jumlahnya dibanding yang lalu. Kali ini, tiga lembar seratus ribuan.

Tanpa berpanjang lebar, ia segera menyiram tulang belulang anaknya dan mengisi jeriken lima liter bawaan si penjual soto. Sepeninggalan penjual soto, dia meledak dalam girang bukan main. Dari perhitungan, uang itu akan cukup untuk hidup selama seminggu. Ia segera menghampiri tulang belulang anaknya, memeluknya sebagai ungkapan rasa terima kasih tak terhingga.

***

Kabar mengenai kehebatan air bilasan tulang belulang milik si penjual obat segera merebak ke mana-mana, terbang bersama angin ke segenap penjuru. Setelah si penjual soto, berdatangan beragam orang, dari beraneka profesi, beragam desa dan kota dengan tujuan yang sama: ingin sukses dalam bidangnya masing-masing dengan air bilasan tulang belulang.

Sesungguhnya, ia sendiri sangsi dengan khasiat air tulang belulang itu sebagaimana yang mulai banyak diyakini orang-orang. Ia pun tak tahu sampai sejauh mana keyakinan orang-orang itu akan bertahan. Meski demikian, ia akan tetap melayani. Kapan lagi ia bisa memperoleh uang banyak dengan cara yang begitu mudah, bukan?

Kini, ia menetapkan tarif. Untuk satu jeriken lima liter air rendaman tulang belulang, ia memungut lima ratus ribu rupiah. Meski terhitung mahal, tak ada yang keberatan. Semakin hari semakin banyak orang yang berbondong-bondong dan rela antre kepanasan selama berjam-jam demi mendapatkan air rendaman tulang belulang.

Sampai saatnya kemudian, si tukang obat tak sanggup melayani sendiri orang-orang yang berdatangan tanpa henti. Ia lantas mengupah dua orang tetangganya sebagai asisten dan mulai menetapkan jam buka dan jam tutup pelayanan.

Orang yang berdatangan makin tak henti-henti. Meskipun suatu hari kenyataan pahit datang ke hadapan mereka di mana si penjual obat tak lagi bisa memberikan air rendaman tulang belulang sebab tulang belulang anaknya hilang. Ia tak tahu siapa yang telah mencurinya. Ia kini hanya mampu bersedih tanpa henti. Ia menyesal tak bisa menjaga dengan baik tulang belulang itu sampai-sampai ia mengutuk dirinya sendiri kini. Untuk sementara waktu, ia memutuskan menutup pintu rumahnya dan menghentikan pelayanan. Ia menawarkan hadiah berpuluh juta bagi siap saja yang bisa menemukan tulang belulang anaknya.

Sampai berminggu-minggu, tulang belulang si anak tak juga ditemukan. Sementara itu, antrean orang-orang tak henti memanjang. Dalam penantian tanpa kepastian, mereka tetap sabar. Meski rumah si penjual obat masih dalam kondisi tertutup. Beberapa hari kemudian, muncul bau busuk dari dalam rumah itu. Dari salah seseorang yang berinisiatif masuk ke dalam rumah, diketahui kemudian bahwa si tukang obat telah meninggal. Kenyataannya, ia mati dalam kesedihan tiada tara dan rasa kesepian yang menggunung setelah kehilangan tulang belulang anaknya.

Mendengar kabar kematian itu, tiba-tiba saja orang-orang berebutan masuk ke dalam rumah si penjual obat. Mereka menjadi liar, mereka sikut-sikutan, saling berebut mengambil bagian-bagian dari tubuh si penjual obat yang telah menjadi jasad. Mereka yakin, kesaktian air bilasan tulang belulang milik si tukang obat akan lebih hebat daripada air bilasan tulang belulang anaknya.

Samarinda, 2010

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme