Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Orang-orang Larenjang oleh Damhuri Muhammad

Posted on Ming, 17 Apr 2011

 

1
Dari pagi ke pagi, mulut-mulut itu, satu demi satu, bagai beralih-rupa menjadi toa. Bila toa di surau mengumandangkan azan, maka toa-toa segala rupa yang terpancang seperti antena itu begitu kemaruk memancar-luaskan gunjing, asung, dan pitanah, bahkan sekali-dua melepas umpat dan makian. Gema suara mereka bagai gendang irama gambus di musim helat, begitu semarak, begitu menyentak.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, gunjing itu tersiar, bahkan jauh sebelum pantang dan larang kami langgar. Toa-toa itu bagai beranak-pinak, sambung-menyambung, balik-bertimbal, berteriak di pangkal kuping kami. Perihal beban berat yang bakal ditimpakan di pundak kami, tentang utang yang selekasnya mesti kami lunasi. Diselang-selingi pula dengan peringatan yang kadang terdengar serupa ancaman: ”siapa melompat siapa jatuh.” Sekali lagi, jauh sebelum pantang dan larang yang disebut-sebut itu kami terabasi. Seolah-olah kami telah lengah menimbang dan menakar, bahwa bila ”hidung dicucuk, tentulah mata bakal berair.”

Toa yang terus menyala itu telah menjadi sebab paling absah menghilangnya yang terhormat pengulu kami, Bendara Gemuk. Sudah empat petang tak tampak batang hidungnya di lepau kopi, tidak pula di surau. Di usia kepala tujuh, Gemuk tentu tiada bakal pergi jauh. Sesungguhnya ia tidak pergi, hanya saja tidak pulang, dari ladang gambirnya, di rimba Cempuya. Mengingat, kerabat dekat kami, Julfahri, bersikeras hendak mempersunting Nurhusni, yang tidak lain adalah juga sanak famili kami. Dua sejoli yang sedang mabuk kepayang itu berasal dari rumpun yang sama: Larenjang. ”Kawin sesuku,” demikian leluhur kami menukilkan sebutan bagi pantang dan larang itu. Bila dilanggar, suku kami akan terbuang. Julfahri dan Nurhusni wajib kami hapus dari ranji silsilah dan hak waris. Keduanya diharamkan menginjakkan kaki di tanah Larenjang. Mereka harus angkat kaki dan tidak akan pernah ada tempat berpulang. Sementara itu, dalam beberapa musim, akibat menerabas pantangan, orang-orang Larenjang, tanpa kecuali, akan dikucilkan dari pergaulan antarsuku. Bagi kami, tidak akan berlaku lagi, duduk sama- rendah, apalagi tegak sama-tinggi. Pucuk pimpinan yang membawahi semua wilayah persukuan akan menetapkan denda, dan hukuman yang mesti kami jalani. Pendeknya, sebagaimana Julfahri dan Nurhusni, kami pun bakal merantau, meski bermukim di kampung sendiri.

Maka, bagi Bendara Gemuk, daripada hidup berkalang malu, tentulah lebih baik mati berkalang tanah. Ia bertahan di rimba Cempuya, menggelepak di dangau lapuk dengan bekal seadanya. Meski lengang dan hawa dingin menusuk-nusuk tulang tuanya, tetap saja terasa lebih baik ketimbang terus-menerus mendengar desas-desus yang tak kunjung reda.

”Kenapa awak mesti menghamba pada aturan usang itu?” begitu Julfahri berkelit ketika Gemuk mendesaknya untuk membatalkan rencana itu.

”Mentang-mentang bersekolah tinggi, berani kau melanggar pantangan adat?” bentak Gemuk.

”Kami tidak punya hubungan tali-darah, jadi kami bisa menikah! Kami siap dibuang dari Larenjang!”

”Tapi, bagaimana dengan kami yang akan menanggung malu seumur- umur?”

”Bila tidak berbuat salah, kenapa harus malu?”

”Kau tidak takut akibat dari melanggar pantangan itu?”

”Awak hanya takut melanggar ajaran Tuhan!”

”Jaga mulutmu, Julfahri. Bisa kualat kau nanti!”

2

Kami tidak menutup mata, bahwa tiga dari lima pengulu di setiap suku di kampung ini lebih kerap beroleh celaan ketimbang menerima pujian. Alih-alih mencurahkan perhatian pada kemenakan, mereka lebih kerap menjadi benalu dalam suku. Betapa tidak? Tengoklah para pengulu itu, bagai berlomba-lomba mengeruk kekayaan suku, lalu hasilnya diboyong ke rumah anak-bini. Mentang-mentang berkuasa, tak segan-segan mereka menggadai- melego tanah suku, guna membangun rumah batu, untuk istri dan anak-anaknya, sementara banyak kemenakannya putus sekolah lantaran tidak ada biaya. Maka jangan heran, kalau ada pengulu yang sudah dibawa-lalu, tidak lagi diperlakukan sebagaimana pengulu. Sekali waktu, ada pengulu yang sampai babak belur setelah dihajar-digebuk oleh kemenakannya sendiri.

Namun, yang terhormat Bendara Gemuk, selalu dapat kami kecualikan. Sejak dulu, belum sekali pun ia mengecewakan kami. Nyaris separuh umurnya telah habis oleh segala macam urusan kemenakan. Tak jarang ia mesti bersitegang urat leher dengan istrinya, lantaran perhatiannya lebih tercurah pada kemenakan dalam suku Larenjang. Perkara seremeh apa pun yang menimpa kami, Gemuk selalu menjadi orang yang pertama kali turun-tangan menyelesaikannya. Bahkan bila terjadi kegentingan, ia tidak gamang ”pasang-badan” demi membela kami, para kemenakannya. Suatu hari, ketika judi sabung merajalela di kampung ini, kami tertangkap tangan dan beberapa hari harus meringkuk di sel kantor polisi. Bendara Gemuk kasak-kusuk, berupaya mencarikan jalan, agar secepatnya kami terbebas dari kurungan. Begitu pun ketika kerabat kami Julfahri bertekad hendak menjadi sarjana, meski ibu-bapaknya melarat. Gemuk pula orang yang tak bisa dilupakan jasanya. Betapa tidak? Waktu itu, di kota provinsi, ia mencarikan induk-semang bagi Julfahri. Dari sanalah ia dapat membiayai kuliah hingga tercapai juga cita-citanya. Dan, ketika tiba masanya kami menerima pembagian jatah lahan untuk berladang, Gemuk melakukan pembagian dengan cara seadil-adilnya hingga tak seorang pun dari kami yang merasa kurang, apalagi mencurigai ada yang curang. Bila ada keluarga kami yang jatuh sakit, Gemuk yang pertama kali tahu kabar itu. Apalagi bila ada di antara kami yang merasa sudah patut menikah, Gemuk mengurusnya hingga tuntas. Pokoknya, bagi kami orang-orang Larenjang yang tak sempat mengecap sekolah tinggi ini, Bendara Gemuk lebih dari sekadar pengulu. Kami menghormatinya, sebagaimana kami menghormati ayah kami. Ajaran dan nasihatnya kami patuhi sebagaimana kami menuruti ajaran ibu-bapak kami.

Maka, membuat lelaki sepuh itu terluka, sama dengan melukai perasaan kami. Merendahkan martabat Gemuk berarti juga menghina kami. Melangkahi Gemuk adalah juga menampar muka kami. Oleh karena itu, siapa pun yang mendukung rencana pernikahan terlarang antara Julfahri dan Nurhusni akan berhadapan dengan kami.

”Bila ajal Gemuk lebih lekas lantaran menanggung malu akibat perangai gilamu itu, kau tak bakal selamat!” begitu kami menggertak Julfahri.

”Lantaran kami tidak berpendidikan sepertimu, kami tidak pandai menyelesaikan kusut ini dengan cara berunding.”

”Lalu dengan cara apa kalian akan menyelesaikannya?” tanya Julfahri, pongah.

”Dengan kerat kayu. Paham kau, keparat busuk?”

”Atau mulut besarmu itu kami sumpal dengan ketupat bengkulu!”

3

Di usia sepetang ini, hidup sebatangkara di tanah rantau pula tentu akan menjadi tahun-tahun penghujung yang sulit bagi lelaki ringkih itu. Selepas kematian Yanuar, ia mengira musibah bakal bersudah. Namun, suratan nasib berkata lain, tak lama berselang, Imelda, anak perempuan yang dibangga-banggakannya, mengidap kanker otak stadium puncak. Berbagai cara telah ditempuh Julfahri dan Nurhusni guna menyelamatkan satu-satunya keturunan mereka yang tersisa. Selepas menjalani operasi dengan pertaruhan hidup-mati, kondisi Imelda kian memburuk. Julfahri dan Nurhusni mulai dihantui rasa gamang pada kehilangan yang kedua. Mereka begitu waswas, begitu cemas, bilamana hidup Imelda berakhir seperti saudaranya, Yanuar. Itu berarti mereka tidak akan punya siapa-siapa lagi, selain harta-benda yang melimpah-ruah itu. Apa guna kekayaan yang bertahun-tahun ia kumpulkan, bila akhirnya ia hidup seorang diri?

Sementara itu, dalam kecemasan bakal kehilangan Imelda, istrinya perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda orang yang kurang sehat. Badannya kurus, sorot matanya begitu sayu, tak bergairah sebagaimana dulu. Kerisauan Julfahri kian bertambah-tambah. Dan, setelah berkali-kali diperiksa, Nurhusni divonis menderita diabetes, yang akhirnya berujung pada kehilangan daya penglihatannya. Buta permanen. Hanya berselang satu tahun selepas kepergian Imelda untuk selamanya, Nurhusni, perempuan yang diperjuangkan Julfahri dengan cara melanggar pantang dan larangan adat, mengembuskan napas penghabisan.

Ah, betapa lekas, betapa gegas, orang-orang dekat Julfahri pergi. Musibah yang bagai sambung-menyambung itu mengingatkan ia pada mulut orang-orang kampungnya puluhan tahun silam, yang dari pagi ke pagi, bagai bersalin-rupa menjadi toa. Memaklumatkan gunjing dan pitanah perihal orang-orang Larenjang yang bakal terbuang, bahkan sebelum pantang dan larang itu dilanggar. Kenangan usang itu pula yang membangkitkan ingatannya pada Bendara Gemuk, yang di masa itu terpaksa menyingkir dari kampung, lantaran tak sanggup menanggung malu.

Kini, setelah puluhan tahun perantauannya di tanah seberang, tajam sorot mata pengulu yang separuh usianya telah terkuras oleh urusan orang-orang Larenjang itu, kerap muncul dalam lamunannya. Ia sukar melupakan jasa Bendara Gemuk yang telah mencarikan induk-semang di kota provinsi, hingga ia bisa bekerja dan membiayai kuliah, meraih cita-cita sarjananya. Dan, yang paling menghantui kesendiriannya saat ini adalah perseteruan hebatnya dengan Bendara Gemuk sebelum ia nekat melanggar pantang. Ia menyadari, betapa perbuatannya di masa lalu telah melukai hati pengulu, dan menistai keluarga besar suku Larenjang. Hingga bumi jungkir-balik pun, kesalahan fatal itu tiada bakal terampuni. Tanah orang-orang Larenjang sudah mustahil menjadi tempat ia berpulang.

Dalam kesepian yang terasa semakin ganjil, kadang lelaki renta itu berangan- angan, kelak bila waktunya tiba, ia ingin dimakamkan di tanah pemakaman suku Larenjang. Pulang ke pangkal jalan. Namun, tiba-tiba saja ada yang mendenging di kupingnya, dan lekas ia batalkan niat itu. Bila menimbang pantang dan larang yang telah ia langkahi, apalagi menakar arang yang tercoreng di kening Bendara Gemuk, dan amarah orang-orang Larenjang, tanah pemakaman itu tiada bakal sudi menerima bangkainya.

Tanah Baru, 2011

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme