Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Belati dan Hati oleh Chairil Gibran Ramadhan

Posted on Ming, 01 Mei 2011

 

Aku mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. Malaikat di sebelah kananku, semenjak hari kelahiranku, hanya mengharapkan aku melakukan kebaikan, lalu menuliskan semua kebaikan itu di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain sutra putih yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah yang nanti akan ia bangga-banggakan kepada penciptanya.

Malaikat di sebelah kiriku, hingga hari kematianku, tidak pernah mengharapkan aku melakukan kejahatan, meski yang ia lakukan hanya menuliskan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain lusuh hitam yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah nanti yang akan ia perlihatkan kepada penciptanya.

Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.

Tidak ada alas kaki, tidak ada mahkota berlian, tidak ada kereta kuda.

2

Kedua telapak tanganku terbuka, menampung hatiku yang merah di tangan kanan namun tidak berlumur darah karena telah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu, lalu belati mengkilat di tangan kiri, yang belum lama kupakai untuk merobek dadaku dan sudah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu.

Inilah kabar yang seharusnya dilihat dan didengar semua orang. Sebuah berita, bukan cerita, karena ada beda yang nyata antara aksara kedua dengan aksara ketiga, meski hanya satu, karena sebuah berita seharusnya berguna, begitu pula cerita. Bukan tentang jubah yang dikenakan si Anak Pertama. Bukan tentang makanan yang masuk ke perut si Anak Kedua. Bukan tentang permata yang mengelilingi lengan si Anak Ketiga. Sampah. Bukan tentang si Mata Besar yang menawarkan cincin kepada si Mata Kecil. Bukan tentang si Kuping Besar yang memberi cincin kepada si Kuping Kecil. Bukan tentang si Hidung Besar yang mengambil cincin dari jari si Hidung Kecil. Sampah. Sampah. Bukan tentang si Gemuk yang tubuhnya kurus tiba-tiba. Bukan tentang si Kurus yang tubuhnya menggelembung tiba-tiba. Bukan tentang si Hidup yang mati tiba-tiba. Sampah. Sampah. Sampah.

Sering kepalaku berputar-putar dan mataku menjadi gelap gulita bila memikirkan anak-anak perempuan setiap hari, dari pagi hingga malam, hingga kembali pagi, melahap sampah-sampah di dalam rumah-rumah mereka, sampah beku dan sampah bergerak, begitu pula perempuan-perempuan berketurunan puluhan yang hanya bergerak dari kasur ke sumur ke dapur, dari sumur ke dapur ke kasur, dari dapur ke kasur ke sumur, dari sumur ke kasur ke dapur.

3

Sang Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran. Mereka bersuara sama memekakkan, bahkan selalu memukul-mukul tempurung kepalaku dengan tombak besi merah dan tongkat kayu putih di tangan kanan mereka hingga membuat kepalaku semakin berputar-putar dua puluh enam putaran.

Bila Sang Kejahatan memenangkan pertengkaran karena suaranya lebih memekakkan, maka ia akan bersorak- sorai sambil menghentak-hentakkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Bila Sang Kejahatan kalah dalam pertengkaran karena suaranya kurang memekakkan, maka ia akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Maka aku sering diam, dan berpikir lebih baik tidak berkeinginan mempunyai keinginan.

4

Hati dan belati bukan pilihan yang harus kau pilih. Engkau bukan sedang ikut berjudi dalam lingkaran empat-lima orang, atau permainan mengadu nasib yang dilihat 155 juta orang semalam suntuk di seluruh negeri.

Hati dan belati, hari ini, bukan perumpamaan yang diucapkan para lelaki yang sepanjang hari menyembunyikan taring dan tanduknya dengan wajah laksana Sang Kebaikan dan mengenakan mahkota berlian di atas kereta kuda mewah berpahat lambang-lambang kerajaan.

Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, maka kita tidak perlu mempertarungkan kata-kata tentang isinya sewaktu-waktu hingga berhari-hari dan membuat kita bagai orang tanpa kepala.

Belati kubawakan bukan untuk mengancammu, melukaimu, bahkan membunuhmu. Aku hanya ingin melindungimu dari iblis-iblis bertaring dan bertanduk dan berbulu dan berekor dan berlidah cabang tiga belas yang akan mencakari tubuhmu dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, dan dari pencoleng-pencoleng yang akan merobek dadamu dan mengambil hatiku yang disangkanya hatimu dan menyimpannya di dada mereka, padahal seharusnya mereka tahu ruang di dadamu hanya cukup untuk hatiku dan ruang di dadaku hanya cukup untuk hatimu, karena hati kita sama besar, sungguh-sungguh sama, maka itulah yang membuat kita bisa hidup selamanya bila kita telah merobek dada dan menukarnya. Tidak mati salah satunya hanya lebih dahulu beberapa helaan, karena sudah pasti disusul kematian berikutnya.

Kematianku, atau kematianmu.

5

Terimalah hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Semata. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya dan aku bukan lelaki yang akan menyimpan perempuan-perempuan mereka di dalam kamar-kamar rahasia dan menyetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan.

Bila sudah kurobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, dan hatiku yang kubawa di tangan kananku kuletakkan di dadamu, maka akan kuhadiahi engkau dengan bunga-bunga setiap pagi dan malam.

Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah, padahal pernah kudengar seorang perempuan tua berkata, ”Seorang perempuan nyata indahnya ketika ia terbangun dari tidur pagi harinya.”

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku, padahal pernah kudengar seorang lelaki tua berkata, ”Keindahan perempuan untuk di mata dan di badan.”

Akan kuberikan engkau ciuman di kening setiap malam dan pagi hari sebagai rasa bungah cintaku kepadamu. Bukan lumatan di bibir atau buah dadamu, karena aku mencintai hadirmu, bukan semata tubuhmu, maka aku tidak akan memperkosamu sejak sebelum tengah malam hingga ayam jantan berkokok bersama keluarnya matahari.

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku. Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah. Semata-mata.

Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering dan sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Maka rupaku akan laksana Penguasa Negeri Pasir, meski aku membenci manusia bodoh yang menganggap dirinya Sang Maha Segala dan aku selalu tertawa bila mengingatnya tenggelam bersama pasukan berkudanya di laut luas saat mengejar lelaki yang dijadikannya sebagai musuh besar, yang pergi bersama pengikut-pengikutnya, padahal saat kanak-kanak lelaki itu dijadikannya sebagai saudara sedarah karena mereka datang dari dua rahim.

Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu. Maka tanganku akan begitu indah hingga tidak lagi membuatku laksana setan yang datang dari lubang-lubang besar di kaki gunung.

Terompah dari kulit domba dengan lapis sutra dan butir-butir emas akan membungkus kedua kakiku. Mahkota dari emas dengan butir-butir berlian dan permata akan melindungi kepalaku. Sebuah kereta dengan kuda-kuda yang kuat dan bersih akan mengikutiku kemana angin.

6

Namun aku tidak akan memaksamu. Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya, dan hari ketujuh aku akan kembali mendatangi dengan sebuah pertanyaan berhari lalu: ”Bersediakah engkau menerima hati dan belati yang kubawakan untukmu?”

Bila hari itu engkau belum pula memiliki kata, maka aku akan mendatangimu tujuh hari kemudian, lalu pada hari ke-21, 28, 35, 42, 49, 56, 63, 70, 77, 84, 91, 98, 105, 112, 119, 126, 133, 140, 147, 154, 161, 168, 175, 182, 196, 203, 210, 217, 224, 231, 238, 245, 252, 259, 266, 273, 280, 287, 294, 301, 308, 315, 322, 329, 336, 343, 350, 357, 364.

Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan.

Tentu tubuhku terlalu bau dan kotor, meski wajahku tidaklah buruk, maka engkau menampik diriku. Tentu aku membawa persembahan yang tidak akan membawamu ke atas menara emas, maka engkau tapi-kan diriku. Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama perempuan-perempuan lain di dalam kamar-kamar rahasia dan engkau akan disetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan semata. Dengan kerakusan. Semata.

Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Meski membuatku semakin pusing tiga belas putaran.

Kubawa sakit di kepala dan kakiku yang retak-retak kepanasan, mengelilingi tanah-tanah dan pasir-pasir dan debu-debu dengan kedua telapak tanganku yang terbuka, mencari tempat menghadap laut untuk menanam hatiku yang merah dan tidak lagi berlumur darah di tangan kanan, dan belati mengkilat di tangan kiri.

Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.

Pondok Pinang, 2302

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme