Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Payung oleh Veridiana

Posted on Ming, 26 Jun 2011

 

Dian menjulurkan lehernya keluar jendela. Hatinya senang melihat awan hitam bergulung di langit Jakarta sore itu. Terdengar gemuruh guntur berkepanjangan di kejauhan, mirip suara bergulirnya ban raksasa di jalan beton yang bergelombang dan berlubang.

Sambil berjongkok dan mengintip kolong lemari, ia menarik keluar sebuah payung besar warna-warni kebanggaannya. Besarnya hampir seperti payung yang setia bertengger di atas gerobak penjual buah dingin di ujung gang. Payung ini benda terbaru dan terbagus yang ia miliki saat ini. Warna kainnya masih cemerlang, berbeda warna di setiap lengkungannya. Gagangnya terbungkus kayu yang dipernis warna coklat muda.

Payung itu ditemukan Bapak seminggu yang lalu di bak sampah milik sebuah rumah besar di kompleks perumahan tempat Bapak biasa memulung sampah. Waktu ditemukan, tiga bilah rangkanya terlepas sehingga payung menjadi bengkok jika dikembangkan. Padahal, hanya jahitannya saja yang putus, sedangkan rangkanya masih bagus dan berkilap. Dengan bantuan Bang Ayub, tetangga sebelah rumah, sebentar saja payung selesai dijahit. Ongkosnya gratis, begitu kata Bang Ayub.

Kebetulan ada Mak yang menjaga Diyon di rumah. Sebentar lagi Bapak pulang. Sambil menenteng sandal jepit kuningnya, Dian berjalan mengendap-endap melangkahi tubuh Mak dan Diyon yang sedang tidur pulas, melintang di atas kasur tipis di tengah rumah. Pintu rumahnya berderit pelan saat ditutup.

Sejak payung itu jadi miliknya, hujan membawa gairah baru dalam hidup Dian. Hujan berarti kerja. Kerja berarti rezeki. Seperti Bapak, ia juga ingin membawa pulang sejumlah uang ke rumah. Hari ini payungnya akan beraksi untuk kedua kalinya. Pengalaman pertamanya sebagai pengojek payung seminggu yang lalu menghasilkan tiga belas ribu rupiah dalam waktu dua jam, di tengah guyuran hujan yang tak seberapa deras. Harusnya bisa mencapai paling sedikit enam belas ribu rupiah jika Markun tak mendadak muncul dan merebut paksa tiga calon pelanggannya.

Hari ini pasti lebih banyak, pikirnya. Sekarang adalah waktunya para karyawan—yang bekerja di gedung-gedung tinggi itu—pulang kerja. Mereka yang tak mendapat tumpangan kendaraan akan membutuhkan payungnya untuk menuju halte bus atau pangkalan taksi.

Dian berharap, hujan sedikit lama hari ini. Semoga tak bertemu Markun di hari yang baik ini. Juga tak bentrok dengan Jaka, Bono, dan Ipung, yang rajin bekerja di musim hujan.

Mereka tak seperti Markun yang suka merebut pelanggan. Tapi, Bono gesit luar biasa, karena jam terbangnya lebih banyak dari yang lain. Dia pengojek payung senior di musim hujan. Jika hari sedang cerah, Bono sering menongkrong di gang dengan kacamata hitam kebanggaannya. Biasanya, rambut Bono berkilap seperti habis mandi dan disisir kaku dengan gel hingga membentuk kerucut di ubun-ubun kepala. Dalam hati, Dian berencana membeli gel rambut semacam itu suatu hari nanti jika ia punya uang.

Sambil menyusuri gang, Dian menimbang-nimbang, akan digunakan untuk apa uangnya nanti. Uang hasil ojek payung yang lalu dipinjam Mak untuk membeli beras. Tak apalah, musim hujan belum berakhir, pikirnya. Yang pasti, kali ini ia ingin membelikan Diyon biskuit yang diputar-dijilat-dicelupin itu. Satu bungkus saja, untuk dicelupkan dalam segelas air putih. Tak perlu beli susu karena Diyon sudah cukup menyusu pada Mak waktu kecil. Tapi, boleh juga. Jika rezekinya baik, Dian ingin membeli sekotak susu rasa stroberi. Dian meneguk ludah waktu membayangkan dirinya memutar, menjilat, dan mencelupkan biskuit itu ke dalam segelas susu berwarna semu merah muda.

Dian sudah berencana akan menabung sebagian uangnya untuk membeli payung tambahan. Ia sudah menyurvei harga payung di beberapa toko di pasar. Ada yang berharga dua puluh ribu rupiah, tapi terlihat kecil dan rapuh. Yang kelihatan cukup besar dan lebih kekar kira-kira berharga tiga puluh ribu rupiah. Ia tak mau membeli yang rapuh, supaya tahan lama.

Payung tambahan pertama itu akan disewakannya pada Satrio saat hujan. Bagi hasil seperempatnya untuk pemilik payung. Jika Satrio dapat sepuluh ribu, Dian berhak atas setoran dua ribu lima ratus. Kemudian ia akan menabung terus hingga payung tambahannya ada lima buah. Payung besarnya akan tetap ia gunakan sendiri. Selain Satrio, masih ada Upit, Karyono, Agus, dan Cakri. Mereka pasti juga mau jadi pengojek payung. Yang penting mereka jujur, tidak nakal seperti Markun. Jika hujan, mereka berpencar mencari pelanggan. Payung-payung Dian akan beredar di beberapa halte, rumah sakit, dan ruko-ruko, melalui kelima temannya itu. Kemudian setoran pada pemilik payung akan menambah jumlah tabungannya.

Dian tak dapat menahan senyum saat membayangkan teman-temannya menyetor hasil ojek payung. Tapi, bagaimana jika mereka berlima membohonginya? Atau istilahnya, korupsi? Mungkin saja, Cakri yang genit itu ingin segera membeli gel rambut seperti punya Bono dan tidak melaporkan uang hasil ojek payung dengan jujur. Senyum Dian menghilang. Dahinya berkerut. Lalu…, aha! Ia berseru dalam hati. Sebelum menjadi mitranya, ia akan meminta kelima temannya bersumpah di atas Al Quran, seperti pada pelantikan para pejabat yang dilihatnya di televisi Bang Ayub. Sebaiknya, ia juga meminjam peci hitam Bapak supaya sumpah itu terasa resmi.

Jika rezeki ojek payung baik, Dian ingin membeli jas-jas hujan kecil yang dijual di warung. Jas hujan warna-warni yang plastiknya tipis itu berharga paling sedikit sepuluh ribu rupiah. Ia pikir, sebaiknya, anak buahnya itu jangan sampai jatuh sakit karena diguyur hujan. Jas hujan bertopi itu akan melindungi teman-temannya. Seragam warnanya, semua berwarna biru. Maka mereka akan menjadi Pasukan Biru, penyelamat dalam musim hujan. Tidak bisa gratis, pikirnya. Ia akan menyewakan jas hujannya sebesar seribu rupiah untuk satu kali pakai, saat mereka menyewa payung-payungnya.

Tapi, bagaimana jika Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri lupa pada sumpahnya? Dahinya kembali berkerut. Matanya menatap jalanan. Kakinya iseng menendang-nendang kerikil di depan langkahnya. Sesaat kemudian, sebuah ide menyergap lamunannya. Baiklah, pikirnya, supaya mereka tak lupa, ia akan membeli spidol antiair. Akan ditulisnya di bagian dalam payung. Tuhan ada di mana-mana.

Jujur saja, sebenarnya Dian tak terlalu paham pada kalimat itu. Ia hanya meniru apa yang pernah dikatakan Pak Ustad padanya. Dengan malu-malu, setelah belajar mengaji, ia pernah bertanya, ”Di mana Allah itu, Bapak Ustad?” Pak Ustad mengelus kepala Dian, menatap lekat bola matanya, sambil menjawab, ”Allah atau Tuhan ada di mana-mana, Nak. Di mana-mana…,” Saat itu Dian manggut-manggut. Tapi, sejujurnya, dia tetap tak mengerti. Pak Ustad tidak bilang bahwa Tuhan mengawasi mereka dari atas. Di mana-mana, harusnya berarti di semua tempat, bahkan yang gelap dan tersembunyi. Pikirnya, Tuhan yang Maha Agung itu pasti sangatlah penyayang jika Dia juga ada di sini, di tengah-tengah bau sampah yang menguar tertiup embusan angin dari sungai di belakang rumah.

Jika Tuhan mau berada di sini, apalagi di rumah megah yang dilihatnya di televisi semalam. Tapi, herannya, pemilik rumah megah itu memilih minggat dari rumah dan sedang dicari polisi karena korupsi. Begitulah kata si penyiar berita. Tuhan pasti tahu di mana orang itu, tapi Dia tak bilang. Karena Tuhan tak bilang-bilang apa yang diketahui-Nya, mungkin saja Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri juga tak takut pada Tuhan. Tapi, Dian berencana tetap membeli spidol tahan air itu. Seandainya Satrio, Upit, Karyono, Agus, dan Cakri tidak korupsi, tetap saja mereka juga bisa berhenti jadi anak buahnya dan menyewakan payung milik mereka sendiri nantinya.

Biarlah, pikir Dian. Terlalu jauh untuk dipikirkan. Payung tambahannya saja belum dibeli. Wajahnya kembali gembira karena membayangkan lembaran-lembaran rupiah di kantong celananya.

Memikirkan lembaran-lembaran uang membuat khayalan Dian buntu. Ia tak dapat membayangkan, berapa uang yang bisa ia tabung dengan modal enam buah payung. Bahkan, ia tak pernah membayangkan punya uang banyak. Yang dia tahu, uang adalah penyambung hidup keluarganya sehari-hari. Jika mampu, mungkin ia ingin lebih sering membeli biskuit dan susu, juga sepasang sandal baru untuk Mak. Mungkin juga, suatu hari dia bisa membeli sepasang sepatu bola. Tapi, ia tak yakin karena tak tahu harganya.

Lamunannya terhenti saat tiba di ujung gang. Dian menganggukkan kepalanya pada Bang Joni, penjual buah dingin.

”Hei, Kojek!” Bang Joni memanggilnya dengan suara serak dan melambaikan tangannya pada Dian. Ia memang sering memanggil anak-anak dengan sembarangan. Dian berhenti di depan Bang Joni.

”Jual aja payung kau itu. Buat ganti payung gerobakku ini.”

”Enggak dijual, Bang.”

”Kubayar dua puluh ribu rupiah.”

”Enggak mau, Bang.”

”Berapa?”

”Enggak dijual, Bang.”

Bang Joni mendengus.

”Payung itu terlalu besar buat kau. Lebih besar payung itu daripada badan kau yang macam ikan asin itu, Jek.”

”Biarin, Bang.”

Dian mengeratkan pegangan pada payungnya dan berbelok ke jalanan di sisi tanah kosong berpagar beton rendah. Masih didengarnya Bang Joni memaki-maki dirinya.

Dari kejauhan dilihatnya Satrio. Anak itu makin kurus saja. Ia pasti lebih mirip ikan asin, seperti yang dikatakan Bang Joni, pikir Dian.

”Mau ke mana, Yan?”

”Biasa,” Dian menggerakkan sedikit payung yang dipeluknya.

”Payungmu masih satu?”

”Satu. Nanti kalau ada satu lagi, kamu ikut, Yo.”

Satrio mengangguk sambil mengelap ingusnya dengan pinggiran baju. Lama ia menatap punggung Dian yang menjauh ke arah jalan raya.

Mobil-mobil masih bergerak lancar, tetapi sebentar lagi pasti akan semakin padat karena mendekati jam tutup kantor-kantor. Banyak yang akan membutuhkan ojek payungnya. Seribu rupiah diterimanya untuk satu kali menyewakan. Kadang-kadang ada yang berbaik hati memberi dua ribu rupiah untuk jarak yang dekat.

Dian melihat Markun di kejauhan. Lebih baik pura-pura tak melihat dan melewati jalan lain. Tapi sudah terlambat. Markun berjalan ke arahnya. Dian heran, Markun tak membawa payung di hari semendung ini.

”Hai, Jelek! Pinjam payungnya!” Pantas Markun tak membawa payung. Jantung Dian berdegup lebih kencang. Tak sadar, ia mengeratkan pegangan pada payungnya.

”Jangan, Mar.”

”Sebenar aja, Sompret!”

Markun melotot galak pada Dian. Sengaja dadanya dibusungkan, menggertak. Dian memeluk payung besarnya erat-erat. Bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan.

Markun mencibir. ”Enggak ada yang nolongin lu. Mau lari, ha?!”

Markun mendesak Dian mundur sampai merapat ke tembok beton.

”Pinjam. Jangan pelit. Nanti malam gua balikin.”

”Enggak boleh. Gua belum kerja hari ini.”

”Sama donk, Nyet. Bukan lu aja yang butuh duit!”

Bau nafas Markun terbawa hembusan angin. Busuk, sebusuk perbuatannya. Dian melengos, menghindari bau yang menyerang hidungnya.

”Memangnya lu enggak punya payung?”

”Ngapain lu tanya-tanya?!” bentak Markun sambil menyentuh payung. ”Sini payung lu!”

”Jangaaa…an!”

”Sini!”

”Enggak!”

Markun mencoba merenggut payung itu. Tenaganya yang besar menyeret tubuh Dian yang tetap memeluk payung. Markun melepas sebelah tangannya pada batang payung dan melayangkannya pada pipi Dian. Plak! Plak!

”Rasain lu!”

”Aaaa….!”

Buk! Markun mendorong Dian sekuat tenaga ke tembok. Payung terlepas dari tangan Dian. Punggung Dian membentur tembok. Sakit. Matanya mendadak panas oleh desakan air mata yang siap-siap tercurah. Sandal jepitnya putus.

Markun tak membuang waktu. Sebentar lagi hujan turun. Dengan gesit ia berlari. Tujuannya adalah halte bus di dekat jembatan. Di sana rezeki musim hujan menunggu. Lembaran-lembaran seribu rupiah akan berpindah tangan. Siapa cepat, siapa dapat. Siapa yang rajin, siapa yang kuat, akan menuai lembaran rupiah terbanyak.

Dian membuang sandal jepitnya. Telapak kakinya perih, mungkin tergesek kerikil saat tadi Markun mendorongnya kuat-kuat dan menginjak sandalnya. Gagal pekerjaan hari ini. Ia tak memercayai Markun akan mengembalikan payungnya nanti. Seandainya dikembalikan, payungnya mungkin sobek atau patah, tak akan selamat dari kejahilan Markun.

Mendadak Dian teringat Diyon. Biskuit dan susu. Satrio dan teman-teman. Payung-payung tambahan. Pasukan Biru. Hatinya sakit.

”Bangsaaat….at!” Lidahnya yang tadi kelu tiba-tiba lantang memaki.

Mendengar teriakan itu, Markun menengok dan mengacungkan tinjunya. Lalu, ia melanjutkan larinya.

Kilat menyambar-nyambar. Guntur menggelegar di langit yang makin menghitam. Seorang gadis di tepi jalan menjerit sambil menutup telinganya. Terkejut oleh suara guntur, sekaligus karena Dian yang berlari seperti kesetanan dan hampir menabraknya.

Markun pun berlari dengan lincah, meliuk-liukkan pinggangnya untuk menghindari tabrakan dengan manusia lain yang berjalan bergegas karena khawatir hujan segera turun. Cepat sekali larinya. Entah, karena dia mendadak takut pada Dian yang mengamuk seperti kesurupan karena memburu waktu, atau karena dia tak mau membuat keributan di pinggir jalan yang mulai padat. Markun pernah diciduk Satpol PP saat tawuran.

Ciiiitttt…..!!! Sebuah mobil pikap hitam mendadak mengerem, nyaris menghantam tubuh Markun di belokan pagar beton yang membatasi bantar kali dengan jalan raya. Markun berhenti mendadak dan hampir jatuh karena sandal jepitnya yang tiba-tiba putus. Ia melepas sandalnya dan terus berlari.

”Mampus lu!” Si pengemudi berteriak membentak Markun. Markun tak peduli. Ia terus berlari.

Keterkejutan menahan langkah Dian. Ia membiarkan pikap itu lewat memutar di hadapannya. Mendadak tubuhnya terasa lemas. Sebagian kemarahannya berganti kesedihan. Tetesan air hujan pertama jatuh di kening Dian, diikuti tetesan lain yang semakin banyak. Air tumpah ruah dari langit, menyamarkan air mata yang juga mengucur deras. Pandangan Dian menjadi kabur. Semangatnya mendadak runtuh. Markun menghilang.

Tak ada gunanya berteduh. Dian menyeberangi jalan raya yang semakin padat. Tak ada Markun di jembatan, berarti ia mengojek payung di tempat lain. Di jembatan terlihat Bono, dengan rambut yang tertutup bandana kuning yang sudah basah, sedang sibuk menawarkan payungnya.

Terduduk di median yang lengang. Dian membenamkan wajah di antara kedua lututnya, menghindari tetes hujan yang membuat pipinya pedih. Matanya telah kering oleh air mata. Hanya air hujan yang terus menderas.

Dian menutup mata dan telinganya. Lamat-lamat suara klakson kendaraan terdengar berganti-ganti, seolah berasal dari tempat yang jauh. Dian merasa dirinya mandi di bawah pancuran air bergagang putih. Di sekelilingnya, dinding dan lantai keramik yang juga serba putih, seperti dalam iklan sabun mandi yang sering ia lihat di televisi. Hatinya kemudian mendingin dalam tubuh yang menggigil.

Di hadapannya, mobil-mobil bergerak tersendat.

Tangerang, 30 Maret 2010

*Cerpen ini terinpirasi foto dalam buku Mata Hati yang berisi kumpulan foto Kompas.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme