Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pilihan Sastri Handayani oleh Sori Siregar

Posted on Ming, 19 Jun 2011

 

Begitu Sastri selesai membaca berita dan keluar dari studio, Barbara juga keluar dari cubicle—ruang operator tempat Barbara sebagai produser mengawasi karyawan yang bertugas menyiar—dan menyambut Sastri dengan tersenyum.”

”Sastri,” katanya dengan suara lembut. Nama Nicosia harus dibaca dengan tekanan suara pada ”si” bukan pada ”co”. Jadi Nicosia dibaca Nico’sia bukan Ni’cosia.

”Sorry for the mistake, Barbara,” Sastri menyahut.

”Ok. No problem,” sahut produser yang berasal dari Australia itu.

Kemudian kedua perempuan itu melangkah bersama, Barbara ke kamar kerjanya dan Sastri ke ruang kerja para broadcaster. Rekan-rekan Sastri tampak sibuk mengetik bahan program masing-masing di ruang kerja itu. Mereka disebut broadcaster bukan announcer, karena tugas mereka bukan semata-mata menyiar, tetapi juga menyunting, mewawancara, mencari bahan-bahan dari perpustakaan yang akan mereka rangkum untuk program masing-masing, menyampaikan laporan pandangan mata, memperkaya berita dari yang diterima dari pusat pemberitaan (news room), bertugas keluar kota dan berbagai tugas lain yang menyangkut siaran radio.

Begitu Sastri membalik-balik bahan-bahan tertulis untuk acara mingguannya ”Arts in Britain”, Colin, kepala seksi, muncul di pintu masuk dan memanggil Sastri ke kamarnya.

”Sebagai orang yang besar perhatiannya terhadap sastra dan teater tampaknya kamu akan mendapat kepercayaan melakukan tugas yang tidak ringan dari atasan kita.”

”Mr. Hugh House?”

”Bukan”

”Lalu siapa?”

”Kepala Bagian Timur Jauh, Harold Dickens.”

”Tugas apa, Colin?”

”Saya tidak tahu. Tapi ada hubungannya dengan peningkatan persahabatan antara kedua negara, negeri ini dan negeri Anda. Juga ada kaitannya dengan pameran industri negara ini di Jakarta.”

”Oh, goodness.”

”Mengapa? Senang?”

”Tidak malahan takut”

”Takut?”

”Boleh dibilang begitu tetapi juga senang.”

***

”Saya mendengar banyak tentang Anda dari Colin, kepala seksi yang memimpin Anda.

Anda suka teater dan sastra, bahkan katanya Anda menulis karya sastra.”

Sastri hanya tersenyum mendengar kata-kata Harold Dickens, di ruang kerjanya itu.

”Karena itu saya mempercayai Anda untuk melaksanakan tugas ini. Saya rasa dari semua teman-teman Anda, hanya Anda yang dapat melaksanakan tugas ini.”

Setelah itu Harold Dickens menatap Sastri yang sejak awal tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sebenarnya, di matanya gadis berusia 24 itu terlalu muda untuk melaksanakan tugas yang akan dibebankannya. Tapi ia yakin atasan langsung gadis itu, Colin Wild, mencalonkan Sastri karena prestasi Sastri yang baik walaupun Sastri baru saja melalui probationary period atau masa percobaan enam bulan di kantor itu. Merasa tak nyaman dengan tatapan kepala bagian Timur Jauh itu, Sastri bertanya.

”Apa yang harus saya lakukan Mr. Dickens?”

”Good question,” kata Harold Dickens sambil berdiri dan menyerahkan sebuah buku kepada Sastri. Sastri membaca judul buku itu. Sebagai gadis yang juga senang kepada sejarah buku itu tidak asing baginya karena ia pernah membacanya sebagian di Perpustakaan Nasional di Jakarta. ”History of Java” karyaThomas Stamford Bingley Raffles yang pernah menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada abad ke-19. Merasa ingin tahu lebih jauh Sastri menatap wajah Mr. Dickens.

”Perdana Menteri akan ke Indonesia tiga bulan lagi, untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Pada waktu yang sama pameran industri Inggris akan berlangsung di Jakarta. Nah, upaya yang baik ini akan kita meriahkan dengan mengudarakan sebuah sandiwara radio tentang tokoh yang ada hubungannya dengan negeri Anda yang dulu bernama Hindia Belanda. Tokoh itu, banyak melakukan penelitian tentang flora dan fauna di negeri Anda. Raffles ,tokoh yang saya maksudkan, dengan tekun meneliti peninggalan-peninggalan kuno seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Ia juga belajar bahasa Melayu dan meneliti berbagai dokumen sejarah Melayu dan sastra Jawa. ”History of Java” yang Anda pegang dan diterbitkan tahun 1817 itu adalah karya tulisnya mengenai penelitian yang dilakukannya di Jawa. Dan jangan lupa bunga Rafflesia Arnoldi yang aromanya menyengat itu diberikan sebagai penghormatan kepada Raffles yang menemukannya.”

Menyaksikan Sastri terus menatapnya dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian, Mr. Dickens tersenyum.

”Andalah yang dipercaya menulis sandiwara radio itu.”

”Saya?” Sastri bertanya karena ia tidak percaya kepada pendengarannya.

”Ya, Anda. Sastri Handayani.”

”Saya tidak pernah menulis naskah drama, apalagi drama radio,” jawab Sastri spontan. ”Saya hanya pernah menjadi pemain dalam sebuah kelompok teater.”

”Colin memperlihatkan novel yang Anda tulis.”

”Novel memang benar, Mr. Dickens, tapi bukan drama.”

”Saya tetap percaya Anda mampu menulisnya. Cukup dengan enam kali siaran dengan durasi masing-masing selama lima belas menit.”

Sastri terdiam. Baginya tugas itu tidak ringan. Waktunya hanya tiga bulan, sedangkan buku yang harus dibacanya cukup tebal. Di meja di depan Mr. Dickens masih ada dua buah buku lagi yang jangan-jangan harus dibacanya juga. Tetapi risikonya pasti ada jika ia menolak tugas ini. Pada waktu yang sama Sastri merasa kepercayaan yang diberikan kepadanya ini merupakan tantangan.

Menulis drama radio dari sebuah buku sejarah bukanlah pekerjaan mudah. Ia harus hati-hati sekali melakukan pilihan, mana yang harus diungkapkan dan mana yang tidak perlu ditampilkan. Pilihan itu harus diwujudkan pula dalam dialog-dialog yang meyakinkan, pekerjaan yang jelas tidak mudah, karena ini adalah peristiwa sejarah dari masa lampau yang jauh.

”Bagaimana?”

”Sastri tidak langsung menjawab. Bahkan, ia pula yang bertanya.

”Mengapa Anda memilih Raffles, bukan tokoh lain atau drama Inggris yang sudah ada.”

”Hanya Raffles yang paling tepat. Dia cukup dikenal di negeri Anda. Monumen istrinya bahkan masih berdiri kukuh di Kebun Raya Bogor.”

Jawaban itu membuat Sastri merasa Harold Dickens tidak ingin mengubah rencananya. Susah untuk dibantah lagi. Di matanya Raffles mungkin akan ditampilkan seindah mungkin tanpa cacat cela. Saat itulah Sastri ingin menguji apakah Harold Dickens memang menginginkan begitu.

”Anda ingin saya menulis drama tentang Raffles seutuhnya, maksud saya apa adanya, dalam keterbatasan sebagai sebuah drama?”

”Benar.”

”Termasuk kedatangannya sebagai penjajah?”

Harold Dickens terkejut. Ia tidak menyukai kata-kata itu. Baginya Raffles hanya melaksanakan tugas dan banyak melakukan yang baik untuk Hindia Belanda termasuk memperkenalkan otonomi terbatas dan membagi Jawa dalam 16 karesidenan, mengubah sistem kolonial dan sistem hukum, memperbaiki kehidupan pribumi di samping menghentikan perdagangan budak dan membuat peraturan yang mencegah kaum feodal pribumi memeras rakyatnya.

”Anda tahu?” katanya menanggapi kata-kata Sastri. ”Raffles mengambil-alih jabatan Gubernur Jenderal dari tangan penjajah Belanda, hanya karena ketika Inggris tiba di Batavia dengan 100 kapal dan 12.000 tentara, penjajah Belanda mengaku takluk dan menyerahkan jajahannya kepada Inggris.”

”Apakah itu tidak berarti Raffles justru menjadi tokoh penting penjajah?”

”Itu hanya pengambilalihan sementara. Karena sangat banyak langkah-langkah yang baik dilakukan Raffles di Hindia Belanda, Inggris menganggap tindakan Raffles berbahaya dan menariknya pulang ke Inggris pada akhir 1815. Ia bukan penjajah, ia hanya mengambil alih jabatan untuk sementara mewakili Inggris.”

Sastri melihat kemarahan di mata Harold Dickens. Namun, hati Sastri berontak. Baginya Raffles tetap penjajah, mewakili negara Inggris. Setelah itu Belanda kembali menjajah negerinya 350 tahun ketika negeri ini masih bernama Hindia Belanda. Itu pun harus diungkapkan betapa pun banyak hal baik yang dibuat Raffles selama bertugas di Hindia Belanda.

Masih dalam suasana marah, dialog tetap berlangsung antara Sastri dan Harold Dickens tentang penjajah dan penjajahan. Mereka mempunyai pandangan berbeda tentang penjajah, dan penjajahan itu paling tidak tentang Raffles yang disebut Sastri sebagai penjajah itu. Debat berlangsung keras sekitar lima belas menit, karena Sastri berani membantah pendapat Dickens. Karena Harold Dickens tetap defensif dan menyalahkan Sastri, dengan suara pelan gadis berusia 24 tahun itu menjawab.

”Maafkan, Mr. Dickens. Bagi saya Raffles tetap petinggi penjajah dan itu harus juga diungkapkan walaupun hanya dalam satu kalimat. Kalau tidak bagaimana saya harus memulai drama ini? Apakah saya harus menyebut Raffles sebagai ilmuwan atau seorang peneliti yang secara sukarela datang ke Hindia Belanda untuk meneliti Candi Borobudur, Prambanan dan meriset sastra Jawa? Apakah saya harus menyebutnya seorang turis yang tiba-tiba berhasrat melakukan penelitian karena banyak obyek menarik di Hindia Belanda?”

Harold Dickens terdiam. Pertanyaan yang masuk akal, pikirnya. Tapi untuk menyebut Raffles sebagai penjajah ia tetap keberatan. Apalagi ia sendiri adalah anggota ”Zoological Society of London” yang didirikan Raffles. Ia tidak punya alasan untuk membantah kata-kata Sastri. Setelah lama berpikir dan terdiam akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan rencananya dan mengakhiri pembicaraannya dengan Sastri. Dia sangat sadar Sastri pasti akan menolak jika ia memaksa gadis itu untuk tidak menyebut Raffles sebagai penjajah. Inilah yang menyebabkan Dickens mengalah.

”Ya, sudah, kalau Anda tidak ingin menulis yang baik tentang Raffles, rencana ini saya batalkan saja,” ujarnya dengan dingin. Ia pun hanya mengangguk dan tidak berkata apa pun ketika Sastri meminta diri.

***

Satu minggu setelah itu, Harold Dickens kembali memanggil Sastri ke kamarnya. Kepada Bagian Timur Jauh itu tampak berubah dan sangat ramah kepadanya.

”Anda punya saran lain sebagai pengganti Raffles? Seingat saya minggu lalu Anda menyarankan drama Inggris yang ada. Drama mana yang Anda maksudkan?” ujar Dickens.

”Bagaimana kalau Shakespeare?”

”Shakespeare? Wah, itu ide bagus. Drama mana yang Anda pilih? ’Julius Caesar’ atau ’Othello’, ’Macbeth’ atau ’King Lear’?”

”Saya memilih Hamlet.”

”Mengapa Hamlet?” Dickens bertanya.

Ketika Sastri akan menjawab, Dickens meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, sebagai isyarat agar Sastri tidak menjawab.

”Pilihan yang bagus,” katanya kemudian. Saya pengagum Laurence Olivier yang berperan sebagai Hamlet dalam drama pengarang besar kami itu. Saya senang betul pada kata-kata yang diucapkan Hamlet pada saat ia dirundung keraguan. ”To be or not to be, that is the question.”

”Oke saya akan mengerjakan itu secepatnya,” sahut Sastri.

***

Ketika Sastri sibuk membolak-balik ”Hamlet, Pangeran Denmark” terjemahan Trisno Sumardjo yang dipinjamnya dari perpustakaan, Colin berdiri di depannya.

”Mr. Dickens mengatakan Anda anak yang berani dan keras kepala. Tapi dia senang karena Anda punya jiwa kebangsaan yang hebat.”

Ketika Sastri menatap Colin, atasannya itu mengangguk.

”Colin, aku juga senang kepada Mr. Dickens. Ia orang yang paling berkuasa di bagian Timur Jauh ini, tapi ia tidak mau menggunakan kekuasaannya karena cara berpikirnya tidak sempit. Kemarin ia menepuk pundak saya, karena saya tidak mengambil pilihannya, tetapi mengajukan pilihan saya sendiri yaitu ’Hamlet’.”

Jakarta, 1 Maret 2011

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme