Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sepak Cinta, Gila Bola oleh Eko Triono

Posted on Ming, 09 Okt 2022

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum Atika di sisi lapangan. Di sana, di bawah pohon waru, adalah tempat para gadis memengaruhi jalannya pertandingan dengan teriakan-teriakan mereka yang terkenal menggemaskan, menggairahkan, dan mengacaukan strategi.

TERIAKAN itu terbukti membuat semua pemain ingin tampil mencetak gol. Menjadikan mereka lupa siapa kawan siapa lawan dan siapa menyerang siapa bertahan. Serta membuat lapangan seolah hanya berguna sisi baratnya.

Di depan gadis-gadis, para pemain pamer aksi dan mencari perhatian. Tidak jarang mereka sengaja membuang bola ke luar. Setelahnya, orang-orang menyaksikan mereka berebut melakukan lemparan ke dalam. Tak peduli walau mungkin harus mengambilnya dari kubangan comberan bau lumpur busuk jijik, yang berada di dekat kandang kambing dari rumah-rumah yang berjajar di sisi lapangan.

Apa pun. Asalkan dapat mencuri pandang pada gadis-gadis. Asalkan dapat melihat senyum Atika, yang meski hanya sekilas, tetapi bekasnya telah terbukti mampu mengubah semua mimpi buruk pada malam-malam mengerikan di Wariri menjadi mimpi yang sempurna.

Atika hanya akan keluar rumah salah satunya saat ada sepak bola. Ini karena ayahnya, Raden Broto, penggila sepak bola sekaligus pembenci pandangan terkutuk dari pemuda-pemuda miskin tak tahu diri yang mengincar putrinya.

Raden Broto yakin, dengan keyakinan paling dramatis, bahwa pemuda-pemuda tidak tahu diri itu hanya membidik harta dengan berharap menjadi menantunya.

Siapa bisa membantah tentang betapa beruntungnya kalau menjadi menantu Raden Broto? Proyek-proyek desa, semua dia yang pegang. Lahan pertanian? Jangan tanya luasnya. Peternakan? Jangan tanya jumlahnya. Bisnis? Jangan tanya jenisnya.

”Jangan menatap mata lelaki mana pun, jangan menerima barang apa pun, jangan memetik bunga, menangkap burung, belalang, atau kupu-kupu, dan sekali-kali jangan melangkah kecuali dalam pengawasan pembantu dan teman-temanmu,” Raden Broto mengingatkan setiap kali rombongan keluarga terkaya itu akan menonton bola di tempat khusus di sisi barat, di tribun dari papan, bersandar bantal-bantal kapas randu, di dekat pohon waru, dengan pengawalan yang belum ada tandingannya di Wariri pada era itu. ”Ingat, pemuda-pemuda gila di desa ini terbiasa dengan sihir. Jangan lepas topi besarmu.”

”Ayah melarangku jatuh cinta?” suatu hari Atika mulai berani bertanya.

”Ayah hanya tidak ingin kamu jatuh pada cinta yang salah dan menyihirmu.”

”Apa cinta itu sihir?”

”Kadang lebih dari sihir. Kalau sudah terperangkap, seseorang bahkan akan lupa siapa dirinya.”

”Kenapa bisa begitu?”

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang membuatnya jatuh cinta, meski hanya sekali pernah memandangnya pada suatu pagi yang dingin di musim kemarau, di dekat kandang kerbau.

Ketika itu dia harus menggantikan ayahnya yang terserang demam. Ayahnya pekerja di peternakan Raden Broto. Bersama sepuluh orang yang lain, ayahnya di bagian menangani seratus tiga belas kerbau.

Di musim kemarau seperti ini, ketebon atau tanaman jagung dan kelobot atau kulit pembungkus tongkol jagung menjadi pakanan utama kerbau-kerbau. Subuh itu dia harus mengusung ketebon dari ladang.

Dia sudah sampai. Buruh-buruh tani yang bertugas memanen jagung belum datang. Suara jangkrik masih ada di berbagai penjuru. Langit masih samar. Embun terasa lebih dingin saat dia menyentuh gulungan-gulungan ketebon seukuran gorong-gorong. Para buruh mengikatnya kemarin sebelum pulang sore.

Dia berusaha melawan rasa malas yang terbuat dari kemiskinan turun-temurun dan berkepanjangan, saat memindahkan gulungan ketebon ke kepala yang dilapisi gulungan sarung. Hampir-hampir terjengkang sebab bagian belakang lebih panjang dan terasa lebih berat.

Dia berjalan sekitar lima belas menit, melewati jalur ladang, lalu memasuki batas desa. Suasana lebih gelap. Sisi desa dipenuhi rimbun pohon kelapa. Dia mengikuti jalan khusus kerbau yang telah mengering. Jika musim hujan, jalan ini adalah perpaduan antara jejak-jejak mendalam, bau lumpur, geliat lintah, dan kotoran hitam yang ditumbuhi rumput dan dirubungi lalat hijau.

Orang-orang di Desa Wariri memisahkan antara jalan kerbau dan jalan buat manusia. Peternakan pun ditempatkan di batas desa.

Dia mengucapkan salam pada penjaga tua keriput yang sedang menyiapkan air campuran gula kelapa di antara remang selepas subuh.

Dia terus melangkah. Dia tiba-tiba tidak mendengar saat penjaga itu bertanya dari kejauhan bagaimana kabar ayahnya yang sedang sakit. Dia bahkan tidak merasakan letih, ngos-ngosan, atau leher pegal. Dia seolah mengabaikan dengus kerbau, aroma busuk, suara mamah biak, atau kokok-kokok ayam di kejauhan.

Setelah menurunkan gulungan ketebon, matanya seperti terperangkap ilusi. Jiwanya mengembara ke arah lampu petromaks yang meredup dekat kerbau bule atau kerbau merah muda atau kerbau albino yang memang ada tiga di peternakan ini dan diberi kandang khusus. Di sana, dia melihat perempuan paling cantik yang pernah dia temui di desa ini. Sebagai penangkap burung-burung, dia telah mengelilingi sudut-sudut Wariri dan matanya belum pernah melihat seperti apa yang sekarang ada di depan sana.

Dia melangkah, mendekat dengan keberanian pemburu burung-burung yang memastikan bahwa itu bukanlah hantu yang menjelma, ”Kamu siapa?”

Yang ditanya terkejut, menghentikan memberi makan kerbau albino, kemudian berkata apa adanya, ”Aku Atika. Kamu siapa?”

Keduanya saling melihat sesaat. Bagi Atika, ini adalah saat-saat yang langka ketika dia bicara dengan orang asing di luar mereka yang mengawal atau bekerja di rumahnya. Dia ingin membuktikan benarkah dia cantik? Atau hanya orang-orang takut pada ayahnya hingga memuji.

Sementara bagi yang ditanya balik, mendengar jawaban siapa perempuan itu seketika membuatnya terdiam dan menunduk.

Hatinya memang bergetar seolah hutan telah tumbuh di sana, lalu burung-burung terbaik berkicau, berebut, dan bulu-bulu halusnya membuat membuat tubuh merinding, tetapi akal sehatnya mati kutu. O, ternyata ini anak juragan yang sering dibicarakan orang. Dia masih menunduk. Dia melipat tangan di depan tubuh. Dalam hati dia mengutuk derajat hidupnya. Lalu berganti memuji pagi yang sialan dan membayangkan ayahnya demam untuk selama-lamanya.

”Hei, namamu siapa?” tanya Atika lagi yang dibuat semanis-manisnya seolah itu di hadapan lelaki terbaik di muka bumi.

Dia baru mau menjawab, tetapi dua perempuan pengawal Atika muncul. Mereka dari kandang sebelah, kemudian segera mengajak tuannya pergi.

”Tidak biasanya sudah muncul pekerja sepagi ini,” gumam seorang dari mereka.

Ketika melintas menebarkan wangi yang tak terlupakan sepanjang sejarah hidupnya sebagai pecundang, Atika bertanya, ”Apa kamu main bola juga?”

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang kini telah membuatnya bekerja lebih keras dari hari-hari lainnya, bahkan melebihi kerja keras kerbau-kerbau di musim bajak sawah. Orang tuanya menjadi saksi atas semua perubahan ini.

”Lihat, sejak kamu sakit, anakmu berubah rajin bekerja, jarang tidur, dan sebentar lagi rumah ini akan dipenuhi burung-burung, bahkan sampai ke dapur dan kolong tempat tidur.”

”Apa dia jadi suka sepak bola?”

”Iya. Kenapa?”

”Celaka! Dia pasti telah melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat. Aku harus bangun dan kembali bekerja di rumah juragan.”

”Jangan! Tiduran saja. Harus dikompres, makan, dan minum obat. Jangan menambah masalah.”

”Bu! Anak kita itu berubah karena dia sedang jatuh cinta.”

”Lalu apa masalahnya? Asal dia bahagia dan berubah lebih baik.”

”Masalahnya dia pasti sudah jatuh pada cinta yang salah. Kalau dibiarkan, dia bisa menderita nantinya, bahkan bisa gila.”

”Sudahlah, Pak. Kita ini sudah tua, sudah waktunya menimang cucu. Lagi pula, yang selama ini mendewasakan orang, ya, jatuh cinta atau patah hati kan? Seperti tidak pernah muda saja.”

”Masalahnya bukan itu.”

”Lalu apa?”

***

Layaknya seorang pecundang, dia hanya bisa membayangkan melakukan tendangan salto, gol yang sempurna, gemuruh yang melampaui sejarah desa, dan senyum gadis yang ternyata menjadi mimpi malam pemuda-pemuda lainnya.

”Mengapa satu orang bisa muncul di dalam mimpi banyak orang?” Dia bertanya dengan nada pecundang.

”Bukan itu yang harus kamu pikirkan.”

”Lalu apa? Bagaimana agar dia hanya menjadi milikku seorang di alam mimpi dan di dalam kenyataan?” Dia bertanya dengan pertanyaan pecundang.

Yang ditanya telah mendengar ratusan kali pertanyaan semacam ini. Dia terlatih untuk memberikan jawaban yang runtut, sederhana, dan memikat seolah segalanya mungkin bagi siapa pun yang mau berusaha, seakan setiap yang ada di depannya adalah calon terbaik yang pantas menjadi menantu Raden Broto.

Dia mulai dari informasi paling mendasar dengan pernyataan yang jujur bahwa tuan tanah itu menginginkan menantu yang kaya. Kalau harus menabung sedikit demi sedikit, tentu perlu waktu lama, sementara Atika keburu tua atau dinikahi orang lain. Sementara itu, hanya tersedia dua cara paling jitu.

”Cara pertama adalah menjadi kaya sehingga orang tuanya tertarik dan memaksa putrinya menikah denganmu. Atau cara kedua. Dengan membuat Atika jatuh cinta setengah mati padamu, hingga memaksa orang tuanya untuk memilihmu. Dan jangan putus asa. Dengarkan aku,” kata orang itu dengan suara seorang pahlawan di hadapan seorang pecundang cinta.

Orang itu melanjutkan bahwa untuk memikat hati Atika, harus pandai bermain bola dan lebih-lebih mampu melakukan tendangan salto, lalu menciptakan gol kemenangan di piala bupati.

Persatuan Sepak Bola Sandikala, yang disponsori penuh oleh Raden Broto, pasti akan memilih, membawa ikut kompetisi antarkampung, dan truk-truk yang berisi para pendukung akan menyebut-nyebut namanya. Untuk bisa bergabung, harus memiliki sepatu bola, celana bola, kaus bola, dan sering latihan bola.

”Jangan khawatir, toko saya ini menyediakan semua perlengkapan itu.”

”Kamu pasang harga mahal sekali. Uangku belum cukup. Aku harus menangkap lebih banyak burung lagi. Di pasar banyak yang lebih murah. Aku jualan burung di sana. Aku tahu.”

”O, tidak bisa. Persatuan hanya mau menerima mereka yang membelinya dari toko ini. Atau, kamu bisa kaya mendadak dengan pasang ini. Jangan sampai sainganmu lebih dahulu pasang. Sekali dapat empat angka, kamu bisa jadi kaya mendadak dan Raden Broto pasti akan memandangmu. Bagaimana? Dengar, ini tidak kuberi tahu pada semua orang. Hanya yang kurasa pantas dan layak sepertimu.”

”Apa tidak ada cara lain?”

”Ada. Dengan sihir. Sebentar, aku juga jual paketnya. Mau yang hemat atau paket lengkap? Ini tinggal pilih daftar dukun-dukunnya.”

”Bukan. Aku ingin cinta yang tulus, suci, dan murni. Aku ingin kamu membantu mempertemukanku dengan Atika. Sejak pagi itu, aku belum pernah bertemu dengannya lagi dan itu sangat menyiksaku. Aku dengar setiap malam kamu ke rumah besarnya dan menyetor pendapatan toko ini pada Raden Broto.”

”Dasar pecundang! Sama saja dengan yang lain. Kalau itu aku tidak bisa. Aku hanya pekerja di sini. Pergilah! Aku sibuk.” (*)

—

EKO TRIONO : Lahir di Cilacap, 1989. Menulis kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? (2016), Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini (2018), Republik Rakyat Lucu (2018), dan Berapa Harga Nyawa Hari Ini? (2022). Menekuni pembelajaran sastra dan saat ini mulai menempuh program doktoral di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 9 Oktober 2022

 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme