Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cas Cis Cus oleh Aba Mardjani

Posted on Ming, 18 Sep 2011

 

Rapat dibuka bakda Isya ketika gerimis tiris dan langit malam menghamparkan warna abu-abu pucat. Sekitar 15 kepala keluarga Cibaresah berkumpul di rumah Munar. Mereka mau memenuhi undangan lantaran pengundangnya sesepuh desa. Sebagian dengan perasaan terpaksa dan masygul. Sebagian lagi cari angin. Sebagian karena ingin ngerumpi. Cuma Casmidi yang tidak hadir. Karena dia tidak diundang. Karena dialah yang membuat sesepuh desa bernama Munar menggelar rapat pada hari itu. Tapi, istri dan anaknya ada di sana.

Munar, sang sesepuh desa, berusia hampir 70-an. Meskipun kulit tubuhnya dipenuhi keriput sekujurnya, kegesitannya belum banyak tergerus. Meskipun juga tidak jelas apa mata pencahariannya, Munar mampu memberi makan empat istri dengan masing-masingnya memiliki tiga hingga lima anak. Cucunya belasan. Namun, ini memang bukan cerita tentang Munar yang—meskipun sepuh tapi—matanya masih selalu menyemburkan api bila melihat wanita muda dan cantik. Ini soal Casmidi semata. Laki-laki yang sudah memberi Cisminah seorang anak laki-laki yang diberinya nama Cusd’amato.

Munar sangat disegani karenanya. Karena pertama, dia tertua di dusun itu. Karena kedua, dia dianggap bijak bestari. Karena ketiga, dia berilmu lahir dan batin. Setelah itu, orang lain suka atau tidak, bininya empat dan akur satu sama lain. Tak ada laki-laki senekat Munar. Karenanya, begitu dia melangkah mantap menaiki podium, semua mulut hadirin terkatup rapat. Diam menunggu. Cuma gesekan dedaunan rumpun bambu yang terdengar karena embusan angin.

Sebelum membuka mulutnya, Munar menandai penghargaannya atas kehadiran warga dengan menyapukan pandangan kepada seluruh tamunya dengan senyumnya. Tak lupa anggukan-anggukan takzimnya.

Sesaat kemudian, setelah membuka acara dengan sejumlah kalimat dan bacaan-bacaan sebagaimana mestinya, Munar menyilakan Cisminah naik ke podium untuk mengurai persoalan hidup yang tengah dihadapinya—meskipun dia tahu Cis pasti kian tersiksa karenanya.

”Cis yang sangat memahami persoalan hidup yang tengah membelit hidup dan rumah tangganya,” Munar berucap seraya menancapkan pandang matanya kepada perempuan 40-an tahun yang duduk dengan kepala tertunduk. ”Ayo, Cis, silakan.” Munar melangkah mundur dari podium.

Para undangan menunggu. Seluruh pandang mata tertuju kepada Cisminah. Perempuan itu duduk sambil terus menggenggam tangan Cusd’amato. Para undangan menakar-nakar dan menduga-duga keberanian Cis untuk maju dan berdiri di podium, membuka katup mulutnya, menceritakan laku suaminya belakangan. Cis memandang Cus. Seperti meminta dukungan. Cus menunduk tanpa reaksi. Membiarkan waktu merambat dan rambut jojosnya digoyang embusan angin yang menelusup dari sela-sela rumpun bambu.

”Cis,” suara Munar memecah sepi, setengah berbisik.

Tanpa perlu diingatkan kedua kalinya, Cis mengangkat pantatnya. Para undangan berdebar menunggu sambil terus mengikuti langkah satu-dua Cis menuju podium.

Hening lagi. Cis berdiri bagai onggok kayu. Membiarkan kepalanya merunduk dan waktu terus mengalir.

”Cis,” Munar mengingatkan.

Cis bergeming. Dua tiga kali tetap begitu.

Munar membawa langkahnya mendekati Cis. Menyisi. Cis jadi tampak imut karena ujung rambut bagian atas kepalanya tak lebih tinggi dari punggung Munar. Dia mendehem, seolah membuang sumbat dalam lubang rongga kerongkongannya.

”Baiklah,” Munar memulai. ”Izinkan aku yang bicara, Cis.” Memutar leher ke Cis yang masih merunduk. Lalu, beralih menebar pandang kepada tamu-tamu yang masih duduk diam di hadapannya.

”Cas,” kata Munar menyebut nama Casmidi, ”Sikapnya aneh, benar-benar aneh, tidak kita bisa mengerti, semenjak seminggu yang lalu.” Berhenti sesaat oleh suara batuk tertahan salah satu undangan. Pada kepala orang-orang itu berseliweran sosok Cas. Tinggi sekitar 170 cm. Kepala agak lonjong. Bibir kebiruan. Mata cekung dengan alis hitam pekat. Dahinya lebar. Sebagian rambut memutih. Warna kulit putih pucat.

Munar kemudian mengurai keanehan-keanehan Cas seperti yang sebagian besar sebenarnya juga sudah diketahui warga.

”…dua minggu lalu Cas menguras tabungannya. Membagi-bagikannya kepada orang-orang yang dia anggap sangat membutuhkan bantuan dan hanya menyisakan sedikit untuk kebutuhan keluarganya untuk sekali makan…”

Diam sejenak. Berdehem satu kali. Lalu melanjutkan:

”…Cas sekarang selalu keluar dari rumahnya pada pagi hari. Menjelang siang dia pulang dan memberi uang atau apa pun yang didapatkannya untuk makan keluarganya siang itu. Untuk makan keluarganya di sore hari, Cas berangkat lagi dari rumahnya entah ke mana dan baru kembali menjelang sore untuk memberikan pendapatannya kepada keluarganya…”

Munar mengatur sengalnya.

”…seminggu lalu, Cas menjual barang-barang di rumahnya. Televisi, radio, sepeda… Cas melepas lima burung perkututnya, melepasnya begitu saja. Burung-burung klangenan itu beterbangan tak karuan. Ada yang kembali ditangkap tetangga. Cas diam saja. Membiarkan. Seperti tidak tahu…”

Munar kembali mengatur napas. Cis terduduk serupa patung. Cus di kursinya menatap ruang kosong. Tanpa reaksi.

”…Cas juga membagi-bagikan pakaian-pakaiannya dan pakaian-pakaian anak dan istrinya yang masih layak pakai. Menyisakan satu dua potong belaka. Isi rumahnya hampir melompong…”

Munar mendongak seperti memikirkan sesuatu. Lalu katanya lagi:

”…Cis kemarin mendatangi saya. Menangis terisak. Katanya Cas sudah menjual sepetak sawahnya. Uangnya tidak dibawa pulang. Diserahkan kepada amil masjid. Amal jariah katanya. Selain tanah dan rumah yang kini ditempati, Cas tak punya apa-apa lagi.”

”…itu mungkin baru sebagian yang kita sama-sama tahu. Kita belum tahu apa saja yang sudah dilakukan Cas, laku aneh yang tidak kita mengerti…”

Munar terdiam sesaat. Seperti menunggu reaksi 15-an orang yang duduk di hadapannya tanpa suara. Karena tidak ada yang berani membuka suara, Munar melanjutkan:

”…ada yang bertanya?” dia bertanya. ”Ada yang bertanya mengapa Cas melakukan hal itu? Tidak ada. Kalau begitu, baiklah saya jelaskan saja garis besarnya.”

”Bagi Cas,” Munar memulai lagi, ”Manusia bisa mati kapan saja. Bisa sekarang, satu menit kemudian, satu jam kemudian, satu hari kemudian, satu minggu, satu bulan, satu tahun… kapan saja. Karena itu, Cas merasa ndak perlu punya tabungan atau simpanan makanan atau uang bahkan untuk besok pagi, untuk sore hari, untuk besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Semua simpanan kita, uang, makanan, pakaian, kendaraan, rumah, tanah, tidak ada artinya bila kita tiba-tiba semaput dan mati. Semuanya akan kita tinggalkan. Yang kita bawa cuma raga kita dan amal kita…”

Mulai terdengar bisik-bisik. Seperti suara lalat. Munar membiarkan.

”Coba tenang,” Munar memulai lagi. ”Cis menangis kepada saya, meminta saya mencarikannya jalan keluar. Apa sebaiknya yang harus dia lakukan? Saya memberinya beberapa pilihan. Pertama ikut saja apa kata dan laku Cas yang penting setiap hari bisa makan, bisa pakai baju, tidak kelaparan, ndak kedinginan karena Cis mengaku masih cinta sama Cas. Yang kedua, ini bukan anjuran, ini cuma pilihan jalan keluar, yaitu bercerai saja dari Cas. Berpisah. Memilih jalan hidup masing-masing. Sudah tentu pilihan itu ditolak Cis karena Cis masih cintrong sama Cas. Cas, kata Cis, hebat di…” Munar menahan senyum.

Para undangan pun senyum-senyum sembari bersidakep. Malam terus merayap. Bulan mulai ngintip dari langit pucat. Gerimis menyisakan dingin.

”Sudara-sudara karenanya saya minta berkumpul di sini. Untuk membantu Cis mencari jalan keluar. Makin banyak kepala makin banyak ide. Juga pikiran. Siapa tahu di antara kita yang ternyata sangat pintar sehingga punyalah pilihan jalan keluar.”

Munar berhenti. Menunggu.

”Coba, siapa yang mungkin bisa membantu? Angkat tangan,” kata Munar karena tak ada yang berani angkat suara.

”Mungkin Tasmin,” Munar menatap Tasmin, ”Atau Amri, Nazar, Suyag, Tanta, Fudin, Haripur, Amsai, Zali, Bidin, Zubir, Akhyar, Dayus, Hayat, Anas…” Munar menyebut semua nama tamunya. Lalu tersenyum. ”Siapa saja boleh membantu. Membantu orang yang dalam kesulitan itu berpahala…”

Zubir mengangkat tangan. Wajah Munar sumringah. ”Nah, lihat, Zubir mengangkat tangannya. Mari kita dengar apa bentuk sarannya. Mudah-mudahan sesuatu yang cerdas. Silakan, Bir.”

Zubir berdiri. Tanpa memandang ke kiri dan kanan, dia memulai. ”Maaf, menurut saya, ternyata tidak ada gunanya kita berkumpul di sini. Apa yang dilakukan Cas itu benar. Benar sebenar-benarnya. Bahwa tidak ada gunanya kita memenuhi lemari dengan pakaian yang belum tentu kita pakai semuanya. Tidak ada gunanya kita menumpuk harta, uang, makanan, yang belum tentu bisa kita belanjakan, belum tentu kita makan. Jadi, Cas, sekali lagi, benar sebenar-benarnya…”

”Cukup, Bir,” Munar coba memotong.

Zubir menutup mulutnya. Duduk. Namun, sejurus kemudian, suasananya jadi riuh. Oleh bisik-bisik. Kian lama kian keras. Tak bisa dikendalikan.

”Diam! Diam!” Munar berteriak nyaring.

Namun, tak ada yang peduli. Satu per satu tamu-tamunya bangkit. Meninggalkan tempat itu.

”Hei! Tunggu! Tunggu! Pertemuan belum ditutup!” Munar terus berteriak. Lalu menyambar tangan Akhyar. ”Pada mau ke mana kalian?”

”Ke rumah Cas,” Akhyar menjawab. Mantap. ”Kami ingin seperti dia. Dia benar sebenar-benarnya.”

Bidin mendekati Munar. Mulutnya menempel ke kuping Munar. Lalu berbisik. ”Cas itu…wali.”

Cis menyorotkan tajam matanya kepada Munar. Juga Cus. Munar gelagapan.*

* Tn Kusir, Juni 2011

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme