Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Laki-laki di Pohon Kelapa oleh Boni Chandra

Posted on Ming, 12 Feb 2023

Perkara itu terjadi pada masa pemberontakan di Sumatera Tengah. Di masa itu, kami sudah enggan membedakan yang benar dan yang salah. Bagi kami, segenggam beras dan sebiji kelapa lebih berharga daripada apa pun. Di saat itulah, kami menemukan seorang laki-laki di pohon kelapa.

Aku harus mengatakan bahwa pada waktu itu, kami memang tidak mengenali laki-laki di pohon kelapa itu. Tingginya pohon kelapa dan keberadaannya di sela pelepah membuat kami kesulitan untuk menerka. Aku baru mengetahuinya kemudian, bertahun-tahun, setelah orang-orang mulai melupakannya dan memercayaiku sebagai saksi kunci.

Aku ingat, ladang itu dipenuhi belukar dan mulai ditumbuhi tanaman liar. Aku sedang membersihkannya ketika laki-laki itu nyaris mencelakai Daru—si pemilik kelapa yang telah mengupahku.

Aku menduga, laki-laki itu baru saja naik ke pohon kelapa. Barangkali, ia baru memetik sebuah kelapa dan menaruh di pangkuannya. Namun, ketika kedua telapak tangannya menyentuh kelapa lain, kelapa di pangkuannya menggelinding lalu jatuh—tepat di hadapan Daru si pemilik pohon kelapa.

Daru menengadah, lalu mulai memaki seraya mencabut parang dari pinggangnya. Kendati bertubuh kecil, Daru sungguh ditakuti di kampung kami. Ia memiliki suara yang besar dan parang yang panjang, dan selalu membanggakannya. Dengan parang panjangnya, Daru pernah menebas leher adik kandungnya sendiri karena terlibat pemberontakan bersama Tentara Dalam.

”Turun kau, biar kucincang sebatang tubuhmu!” Daru mulai berteriak seraya mengacungkan parang.

Di saat bersamaan, aku melihat suami-istri yang kebetulan melintas di ladang kelapa. Barangkali, mereka baru saja kembali dari ladangnya, dan tak sengaja mendengar Daru yang terus berteriak. Mereka mulai mendekat, ikut menengadah, lantas bertanya, ”Itu siapa?”

Seorang lain juga terlihat melintas dan memutuskan berhenti dan bertanya; tak lama, ada sekelompok orang yang seketika muncul—entah dari mana. Semuanya bertanya sambil menengadah, dan laki-laki di pohon kelapa mulai memalingkan wajah dan berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pelepah.

Kami yang berdiri di sekitar pohon kelapa mulai berembuk. Kami menduga, laki-laki itu memang sengaja mencuri dan telah berniat mencelakai Daru. Beberapa di antara kami memberi usulan.

”Kita laporkan saja pada kepala dusun.”

”Kita juga bisa meminta bantuan kepada Tentara Luar.”

”Atau aku saja yang menggorok lehernya ke atas sana.” Napas Daru memburu. Ia menghunus tanah dengan parangnya seraya membungkukkan badan, lalu terburu-buru melipat kaki celana. Ia hendak memanjat.

”Maling itu bisa membunuhmu, Daru. Ia bisa saja melemparkan kelapa itu ke kepalamu saat kau mulai memanjat.” Perempuan yang datang bersama suaminya memberi pendapat.

”Kau lebih baik menyalakan unggun dan tunggu saja sampai dia turun.”

Daru telah menyingsingkan celana panjangnya hingga lutut. Ia menoleh—memandangi si perempuan—lalu menatap wajah kami satu per satu. ”Baiklah. Akan kuberikan upah dan akan kutanakkan nasi untuk dua orang yang mau berjaga.”

***

Laki-laki itu masih berada di pohon kelapa ketika Pak Nurdin datang membawa berita. Lelaki tua berkumis putih itu mengabarkan bahwa sapinya tidak ada di kandang setelah digembalakan di sore hari, dan ia bermaksud menanyakannya kepada kami yang sedang duduk mengelilingi api unggun. Namun, kami bergeming.

”Minsilah yang menggembalakan sapiku.” Lelaki tua itu bicara sendiri. ”Sapiku hilang, anak itu tak pula bersua,” Pak Nurdin pun pergi, dan kami sungguh tak peduli.

Tengah malam, Daru memerintahkan kami untuk tidur bergantian. Setelah memintaku agar berjaga duluan, ia pun mulai berbaring di sebelah Karimi, lelaki seusiaku yang selalu mengeluarkan bau busuk dari mulutnya.

Beberapa jam kemudian, aku mendengar gemeresik di pohon kelapa. Aku menengadah dan mencoba mundur beberapa langkah. Barangkali, laki-laki itu telah lelah dan ingin berbaring di atas pelepah. Barangkali, ada gigitan semut rangrang yang memaksanya pindah. Namun, kuat dugaanku, laki-laki itu mencoba memetik sebuah kelapa.

”Ada apa?”

Aku menoleh, dan melihat Daru yang telah duduk di sebelah Karimi. Agaknya, dia juga mendengar gemeresik, lalu bertanya ketika mendapatiku menengadah. Aku berusaha untuk tidak tersenyum, lalu mengalih pandangan pada unggun yang masih menyala—memberi petunjuk padanya: tidak ada apa-apa.

Sembari memandangi api yang terus menari di tubuh kayu, aku mulai membayangkan rupa laki-laki yang terperangkap di atas sana. Aku bayangkan bagaimana ia meringis waktu meremas perutnya saat lapar. Aku bayangkan bagaimana ia memejamkan mata ketika menelan ludahnya di saat haus. Atau ia sudah tidak bisa merasakan apa pun kecuali rasa takutnya pada Daru, yang tentu saja mempunyai keinginan menggorok lehernya. Entahlah. Aku hanya memastikan; ia memiliki tubuh yang lebih tinggi, lebih kurus, dan terlihat kelaparan. Aku menduga, laki-laki itu masih berusia tiga belas tahun.

***

Laki-laki itu masih berada di pohon kelapa keesokan paginya. Mataku terasa berat. Kendati sudah menyepakati untuk tidur secara bergantian, aku tahu tidak seorang pun di antara kami yang terlelap. Karimi kembali menguap dan mengeluarkan bau busuk dari mulutnya. Daru memiringkan tubuh, lalu duduk sambil meludah.

”Ah, dia kembali memetik sebuah kelapa.” Daru telah berdiri dan melangkah perlahan-lahan. Pandangannya seperti mata singa yang sedang mengawasi seekor kera. ”Lihat, coba kau lihat.”

Aku pun menengadah. Kabut yang sedang turun tidak begitu menghalangi pandangan mata. Aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki itu sedang meringkuk sambil memeluk buah kelapa. ”Mungkin dia lapar,” kataku. ”Kedinginan.”

Daru meminta pendapat.

Aku terus menengadah, lalu menopang pundakku dengan kedua telapak tangan.

”Atau, kita memang harus memanggil kepala dusun untuk membujuknya turun? Kita–”

”Jangan!” kataku. Sebetulnya, aku bisa saja mencari cara dan memaksa laki-laki itu untuk turun. Namun, pekerjaan akan selesai dan aku akan kehilangan upah dan kembali kelaparan.

”Maksudku, kita bisa saja—”

”Ah, biarkan saja.” Karimi seperti terganggu dan kembali memperbaiki posisi tidurnya. ”Tunggu saja sampai dia turun atau mati kelaparan.”

Daru kembali menengadah, lalu berteriak ke laki-laki di pohon kelapa, ”Kau mati di situ atau kubunuh bila kau turun.”

Laki-laki itu tersentak. Ia tampak bergegas meraih pelepah, dan di saat bersamaan, buah kelapa di pelukannya terlepas dan … bum! Buah kelapa jatuh berdentum! Daru seketika mencabut parang dari pinggangnya; dan Karimi tiba-tiba bangkit seraya memegangi sarung. Di saat itulah Pak Nurdin keluar dari semak-semak.

”Adakah di antara kalian yang melihat sapiku?”

Kami bergeming. Tidak seorang pun yang menanggapi, pun tidak seorang pula yang mengalihkan pandangan. Kami menengadah, dan aku tahu Pak Nurdin pun ikut menengadah. Sementara laki-laki di pohon kelapa tampak memeluk pelepah dengan erat.

”Kaukah itu, Minsi?”

Laki-laki di pohon kelapa memalingkan muka.

”Bila itu memang kau, Minsi, turunlah,” pinta Pak Nurdin, lalu mengalihkan pandangan ke arah Daru yang memanggilnya.

”Apa kau mengenalnya?”

”Sepertinya Minsi. Ia penggembala sapiku.”

”Anak haram Tentara Dalam itu?”

Pak Nurdin bungkam. Ia tahu, Daru membenci Tentara Dalam lebih dari siapa pun.

***

Laki-laki itu telah berada di pohon kelapa selama beberapa hari. Kami pun selalu berjaga hari ke hari. Tapi, siang itu, orang-orang terus berdatangan seperti sekelompok pemberontak yang merampas beras ke rumah-rumah. Mereka ingin menyaksikan laki-laki yang tak kunjung turun itu.

”Itu Minsi!” teriak Pak Nurdin sambil berlari ke arah kami. ”Itu kupastikan Minsi! Dia bukan pencuri!”

Pak Nurdin menghadap Daru, lalu memohon agar si pemilik kelapa mau mengampuni laki-laki itu. Kepada si pemilik kelapa yang masih menggenggam parang, Pak Nurdin meminta maaf dan mengatakan beberapa hal. Pertama, ia akan mengganti semua kelapa yang telah diambil Minsi; kedua, laki-laki itu anak tak beribu dan ayahnya pun baru saja ditembak mati; ketiga, Minsi mengambil kelapa itu hanya karena lapar; keempat ….

”Kau terlambat!” Salah seorang di belakang kami memotong pembicaraan dan meminta kami untuk melihat laki-laki di pohon kelapa. Laki-laki itu tak lagi bergerak, dan seingatku, memang sudah begitu sejak terakhir aku memandangnya. Seseorang yang lain mulai memanggilnya. Ada pula yang memberi ancaman, menakut-nakuti untuk memastikan keadaannya. Namun, laki-laki itu masih terduduk di pelepah dengan wajah yang tengadah.

”Kalian telah membunuhnya!” kata Pak Nurdin.

Aku dan Karimi saling memandangi karena semua orang seketika melihat ke arah kami.

”Ayahnya baru saja mati dan ….” Pak Nurdin seketika membelakangiku dan kembali berhadapan dengan Daru, ”Kalian bertiga telah membunuh yatim piatu!”

Aku melirik Karimi. ”Bukankah ayahnya itu seorang pemberontak?” kataku.

”Sepertinya Pak Nurdin ini mata-mata Tentara Dalam!”

Pak Nurdin tersentak dan kembali menoleh ke arah kami. Perlahan, ia memutar badan dan bersiap memberi sanggahan. Namun, Daru mengalungkan lengannya ke leher Pak Nurdin, lalu menarik parang di genggamannya dengan bengis.

Aku memalingkan wajah dan mendapati Karimi menelan ludah. Seingatku, aku sempat menoleh ke arah Daru dan tubuh Pak Nurdin di hadapannya. Tapi, setelahnya, aku seperti berada di tempat lain selama beberapa waktu. Aku tidak bisa mendengar teriakan atau apa pun dari orang-orang di sekeliling kami. Aku tidak tahu: siapa yang datang setelahnya, siapa yang pergi, dan siapa pula yang telah menggotong tubuh Pak Nurdin.

Di sore hari, orang-orang saling memandangi lantas pergi. Aku sempat mendengar bisikan Karimi dan ia pun pergi. Aku menengadah sejenak, lalu meninggalkan Daru seorang diri.

Sejak saat itu, aku sudah tidak pernah lagi menemui Daru. Kupikir, dia pun telah enggan menjumpaiku. Orang-orang mengatakan, Daru masih menunggu siapa pun yang bersedia diupah untuk membersihkan ladangnya. Namun, tidak seorang pun yang mau datang ke ladang itu, selama bertahun-tahun. Hanya anak-anak, yang kemudian datang mencari tempurung kelapa lalu menendangnya seperti bola. Hingga akhirnya, mereka menemukan tempurung kepala—milik laki-laki yang dibiarkan mati di pohon kelapa.

–

2022

Boni Chandra, lahir di Payakumbuh, 25 Juli 1989. Peserta Workshop Cerpen Kompas 2015 di Padang Panjang. Pada tahun 2016, ia diundang ke festival internasional Ubud Writer and Reader Festival (UWRF). Cerpennya yang berjudul ”Pabaruak” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul ”The Monkey Handler” dan dimuat dalam antologi Tat Tvam Asi (2016). Antologi lainnya berjudul Kulminasi (2017) dan Dari Teluk Kao hingga Negeri Raja-Raja (2019). Saat ini, ia menetap di Pekanbaru.

Krishnamurti Suparka lahir dan menetap di Bandung. Ia tinggal di Australia sejak awal 1990-an, sebelum kembali ke kota kelahirannya pada tahun 2018. Beberapa pameran bersama yang ia ikuti di antaranya Hitam di Grey Gallery Bandung (2023), ICAD dan Mogus Studio (2022), dan Grammars Posters Exhibition (2020). Karyanya telah dikoleksi oleh sejumlah galeri dan koleksi pribadi di Australia, Indonesia, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat. Ia juga mengajar di School of Design Binus Bandung.

sumber : kompas.id, 12 Feb 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme