Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Di Tengah Guyuran Hujan oleh Aliurridha

Posted on Jum, 17 Feb 2023

Zakia duduk termenung menatap sepiring nasi yang telah dingin. Matanya tertuju pada piring, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Tak didengar suara bising di sekeliling: suara dari orang-orang mengaji untuk almarhum suaminya, suara dari orang-orang saling bicara satu sama lain, dan suara dari anak-anak yang bermain menunggu orang tuanya. Tidak satu pun suara tertangkap telinganya. Hanya satu suara yang terus berputar di kepalanya: suara adik laki-laki almarhum yang dulu mengatakan kalau nanti suaminya meninggal, rumah yang dia tinggali akan diberikan ke adik bungsu suaminya.

Rumah yang Zakia tempati memang bukan milik suaminya, tetapi milik adik laki-laki suaminya, seorang juragan kapal yang tinggal jauh di Bulukumba. Rumah itu memang diberikan untuk dia tinggali bersama suaminya; akan tetapi, begitu suaminya meninggal, rumah itu sudah direncanakan akan diberikan untuk adik bungsu suaminya.

Ketika memikirkan nasibnya, bercerai air mata dari kedua bola matanya. Zakia tidak tahu ke mana harus pergi. Dia tidak punya anak, dan seluruh saudaranya telah meninggal. Ketika menikah dengan suaminya, dia adalah seorang breng yang tinggal tunggu waktu untuk menopause. Suaminya memang punya enam anak, tapi tidak satu pun yang bersedia menampungnya. Menampung ayah mereka di masa tuanya saja mereka tidak mau, apalagi menampung dirinya yang dianggap.

”Ayo Baba dimakan dulu nasinya,” kata Maria cucu tertuanya.

Maria tentu saja bukan cucunya, melainkan cucu almarhum suaminya. Meski begitu, Maria tetap memperlakukan Zakia seperti neneknya sendiri. Dari sekian keluarga suaminya; anak-anak suaminya, saudara dan saudari suaminya, keponakan-keponakan suaminya, mungkin hanya kedua cucu suaminya—Maria dan Aliya—yang peduli kepadanya. Namun apa daya, mereka tidak punya apa-apa yang bisa ditawarkan. Mereka sendiri masih menumpang di rumah orang tua mereka, yang sayangnya, tidak memiliki hubungan baik dengan almarhum.

Zakia menatap piring nasi di depannya dengan perasaan hampa. Sebenarnya perutnya perih karena sedari pagi tidak makan, namun lidahnya terlalu pahit untuk menerima suapan. Ketika suapan pertama tiba di mulutnya, dia merasa seperti menelan obat. Suapan kedua lebih susah lagi, mulutnya menolak apa yang hendak dia berikan pada tubuhnya. Suapan ketiga dia dorong paksa dengan beberapa teguk air.

*

”Cik Eva benar-benar tega,” kata Tanzina, anak kedua almarhum. ”Masak mereka mau bikin hari ketujuh di rumahnya. Benar-benar sudah dia itu, selalu mau paling kelihatan.”

”Saya juga tidak habis pikir. Padahal bukan uangnya yang dipakai untuk acara, tapi uang Ami Gazi. Mentang-mentang dia yang pegang uang Ami Gazi, dia jadi semau-maunya,” balas Zalizah, anak ketiga.

”Memang saudara Abah tidak ada yang betul. Kemarin juga Cik Evi minta HP peninggalan Abah ke Cik Kia. Karena Cik Kia tidak mau kasih, Cik Evi tidak datang semalam,” lanjut Zuriyah, anak kelima.

”Tapi memang Abah pernah janji mau kasih HP-nya ke Cik Evi bukan?” tanya Zinnia, anak keenam. ”Lagi pula ada dua HP peninggalan Abah di Cik Kia.”

”Mau dia dua, mau dia empat, itu kan peninggalan suaminya. Kalau Cik Kia tidak mau kasih, itu hak dia, masa tidak datang cuma karena itu? Ini kakaknya yang meninggal. Kakaknya!” tegas Tanzina.

Aliya dan Maria hanya mendengarkan percakapan bibi-bibi mereka. Keduanya tidak mau ikut campur. Keduanya tidak mau ikut-ikutan melemparkan bensin ke bara yang tengah menyala. Mereka memilih fokus mengurus jajanan untuk acara nanti malam. Keduanya ingin agar semua ini segera selesai.

Aliya, bahkan, sebenarnya kesal dengan bibi-bibi mereka yang menurutnya hanya bermodal mulut. Padahal, kalau mereka mau membuat acara ketujuh tetap di rumah ini, mereka tinggal keluarkan uang. Mereka bukannya tak punya uang. Mereka punya, mereka tak mau saja. Meski begitu, Aliya tetap bersyukur, setidaknya bibi-bibi mereka masih mau datang mengurus tahlilan, sedang ayahnya, tidak pernah sekalipun menunjukkan batang hidungnya di rumah duka.

”Kasihan ya Baba Kia, seandainya saja Habib ada ninggalin rumah untuknya. Dia tidak mungkin kelimpungan seperti sekarang,” kata Maria.

**

Di hari keempat almarhum meninggal, Eva dan Evi mendatangi rumah duka. Evi mengatakan pada Zakia kalau rumah ini akan ada yang bayar karena itu harus direnovasi dulu tersebab rumah ini tidak pernah diperbaiki sejak gempa dahsyat tempo lalu. Memang ada sedikit retakan di ruang tamu, tapi Zakia tahu bahwa itu tidak lain hanyalah upaya mengusirnya secara halus.

”Apa tidak bisa ditunggu sampai hari ketujuh Baba? Biar rumah ini bisa dipakai untuk acara Habib,” kata Aliya.

”Tidak perlu. Nanti acaranya di rumah Baba Eva. Kamu datang ya,” balas Eva.

”Kak Kia juga boleh datang kok,” kata Evi menimpali.

Wajah Maria dan Aliya mengeras mendengar kata-kata kedua saudari kakeknya itu. Ketika Maria hendak membalas perkataan Evi, Zakia mendahului, ”Tentu, saya pasti datang.”

”Kalau bisa besok rumah sudah kosong ya, Kak,” kata Eva sebelum balik badan dan pergi tanpa salam.

Begitu kedua bersaudara itu pergi, Zakia membereskan barang-barangnya dibantu oleh Maria dan Aliya. Sehari sebelumnya, keponakannya, anak dari almarhum adiknya, mendatanginya saat mendengar kabar tentang pengusiran yang menimpanya, dan anak itu mengajak Zakia untuk tinggal di rumahnya.

**

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Angin menderu-deru mengacak-acak tenda yang telah disiapkan untuk acara hari ketujuh. Rumah duka terlihat sepi, jauh lebih sepi dari malam-malam sebelumnya. Padahal acara hari ini adalah acara puncaknya, namun hanya segelintir orang yang datang. Mereka terhalang oleh cuaca dan kehendak hati.

Aliya dan Maria memutuskan tidak datang setelah Zakia diusir keluar dari rumah itu. Apalagi setelah mengetahui acara penutup justru dilakukan di rumah yang dua hari lalu masih ditempati oleh Zakia, hal itu membuat kedua gadis itu makin sakit hati.

Anak-anak almarhum juga tidak satu pun yang datang. Mereka memang tidak pernah akrab dengan Zakia, tidak setelah Abah mereka menikah dengan Zakia dan meninggalkan ibu mereka, dan hal itu membuat mereka membenci Zakia lebih dari apa pun jua. Namun waktu seperti air, ia mampu mengikis kemarahan yang membatu di hati mereka. Meski begitu, waktu tak cukup mampu untuk membuat mereka mencintai Zakia. Tapi mereka telah memaafkannya, setelah mereka melihat bagaimana Zakia dengan sepenuh hati mengurus Abah mereka di hari-hari terakhirnya. Kecuali itu, kedua anak laki-lakinya tidak pernah bisa memaafkan Zakia.

Wajah Eva terlihat cemas melihat hanya sedikit tamu yang datang. Padahal ia telah memesan jamuan katering yang mencukupi jika tamu yang datang lebih dari seratus orang. Ketika ia menghitung para tamunya, hitungannya terhenti di angka delapan belas. Suaminya dengan santai menyundut rokok di teras rumah. Ia tampak tak peduli melihat Eva yang gelisah menghubungi keluarga-keluarga mereka di kampung Arab. Tapi yang dihubungi berkata cuaca tidak mendukung.

Begitu kedua bersaudara itu pergi, Zakia membereskan barang-barangnya dibantu oleh Maria dan Aliya. Sehari sebelumnya, keponakannya, anak dari almarhum adiknya, mendatanginya saat mendengar kabar tentang pengusiran yang menimpanya, dan anak itu mengajak Zakia untuk tinggal di rumahnya.

Di tengah guyuran hujan yang semakin deras, angin yang semakin menderu, dan guntur yang tak henti-henti menggelegar; sebuah lampu motor membelah gelap malam. Mereka yang duduk di teras rumah tidak bisa melihat siapa yang datang. Kecuali cahaya dari lampu motor itu, yang terlihat hanyalah guyuran hujan. Sampai motor itu masuk ke pekarangan rumah, baru mereka bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Mata-mata itu langsung tertuju pada seorang wanita tua yang tertatih-tatih turun dari motor dengan pakaian kuyup oleh hujan. Di belakangnya seorang pria muda tidak mau turun dari motor dan menatap benci pada orang-orang di rumah itu.

Blencong, Mei 2021

***

Aliurridha, Penerjemah dan pengajar di Universitas Terbuka. Ia menulis esai, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media. Cerpennya berjudul Metamorfosa Rosa terpilih sebagai nominee cerpen terbaik pilihan Kompas. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

sumber : kompas.id, 17 Feb 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme