Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Siger oleh Faris Al Faisal

Posted on Sab, 18 Feb 2023

Serupa Prolog

Semenjak berjumpa dengan Errys di Siger, Lusa bukan hanya kagum dengan pesona bangunan berbentuk mahkota pengantin wanita itu atau hiruk-pikuk Pelabuhan Bakauheni—kapal-kapal feri yang menyandar, debur ombak Selat Sunda, antrean kendaraan keluar masuk pintu pelengsengan—ia pun melihat pesona lain dari gadis berdagu manis semanis buah bintang itu yang mengajaknya bercakap-cakap saat itu. Lusa menetapkan janji di dalam hatinya. Janji itu diam-diam ia simpan dengan baik di pedalaman hatinya yang terdalam. Kelak, saat yang membahagiakan itu datang, Lusa ingin bersanding dengan Errys. Mengenakan mahkota adat wanita Lampung di kepalanya. Siger, ya, mahkota Siger, seperti nama menara tempat keduanya bertemu.

Babak 1

Matahari belum bangun dari tidurnya dan pagi masih gelap. Jendela kamar Errys diketuk seseorang. Errys membuka jendela, ia mendapati Nita yang tampak cemas.

”Ayo Errys!” bisik Nita. Jelas sekali ia tampak gelisah. Matanya melirik kanan dan kiri seperti ada yang ingin disembunyikannya.

”Apa tidak ada yang melihat?” tanya Errys, juga dengan berbisik.

”Kurasa aman,” jawab Nita sepelan mungkin.

”Baiklah, ini tolong turunkan!” seru Errys menyerahkan sebuah tas berisi pakaian secukupnya.

Errys segera keluar dengan meloncati jendela. Keduanya kemudian berjalan mengendap-endap. Mereka sengaja tidak melalui jalan raya. Tujuannya adalah rumah penyimbang adat.

Jalan menuju rumah penyimbang adat itu mesti dilalui dengan berjalan kaki. Sebab, setelah melintasi jalan kecil di tengah kebun karet yang akarnya centang perenang, juga harus menyeberangi sungai berbatu yang airnya bergemericik. Errys yang ditemani Nita, akhirnya sampai juga. Oleh pak kepala adat keduanya diterima dengan baik dan dipersilakan istirahat terlebih dahulu di sebuah kamar yang diperuntukkan bagi tamu-tamu yang datang ke rumahnya. Beberapa hari nanti, upacara adat perkawinannya dengan Lusa akan dilaksanakan.

Hari itu, Errys menjadi seorang muli—gadis larian yang akan dinikahi Lusa. Ditemani Nita yang bertugas sebagai penakau—kawan gadis. Sebelum meninggalkan rumahnya, ia telah meninggalkan pengepik—sepucuk surat dan sejumlah uang—untuk kedua orangtuanya yang ditinggalkan di bawah bantal tempat tidurnya. Berharap dengan itu, ayah dan ibu Errys akan bisa mengerti dan merestui jika ia akan melakukan sebambangan.

Errys segera keluar dengan meloncati jendela. Keduanya kemudian berjalan mengendap-endap. Mereka sengaja tidak melalui jalan raya. Tujuannya adalah rumah penyimbang adat.

Babak 2

Surut tiga bulan sebelumnya. Di rumahnya, Errys terkejut. Ia tersipu mendapatkan sepucuk surat dari Lusa melalui jasa layanan pos. Menurut dia, itu sangat romantis. Mirip dengan kisah-kisah roman lama angkatan pujangga baru yang selalu ia baca sebelum berangkat tidur. Padahal, sebelum berpisah dengan Lusa beberapa bulan yang lalu di menara Siger, keduanya telah saling bertukar kontak telepon. Namun, tak sekali pun Lusa menelepon atau mengirim pesan pendek. Ingin sebenarnya Errys menanyakan keadaan Lusa di Indramayu, tetapi karena perasaannya yang halus sebagai perempuan, mencegahnya untuk melakukannya. Bukankah perempuan selalu begitu?

Surat itu dibaca Errys dengan hati bergerimis. Ternyata dalam pesannya Lusa menumpahkan segala rasa yang ia alami sejak bertemu dengannya. Pertemuan yang, menurut dia, sangat berkesan. Apakah kau tidak merasa? tanyanya. Errys hanya bisa mendekap surat itu dengan air mata kerinduannya yang juga tertumpah meleleh di kedua pipinya.

Setelah surat itu. Lusa meminta izin untuk berkunjung ke rumah Errys di Pesawaran. Perempuan bermata bening seperti embun itu kemudian menceritakan perihal pertemuannya dengan Lusa kepada orangtuanya. Dan rencana Lusa untuk bertamu dan menemuinya.

”Apakah Lusa akan melamarmu?” tanya ayahnya menyelidik.

”Entahlah, Ayah. Barangkali nanti bisa Ayah tanyakan langsung pada Lusa,” jawab Errys pada sebuah pembicaraan hangat di beranda rumahnya, sore itu. Matahari senja membuat wajahnya berwarna jingga.

Pada saat itu, tak ada isyarat keberatan apa pun yang disampaikan oleh ayah ataupun ibunya. Namun, ketika Lusa berkunjung dan menyatakan maksudnya akan datang kembali untuk melamar Errys, tampak ada sesuatu menggumpal di raut wajah ayahnya. Barangkali Lusa tak dapat membacanya. Hanya mata Errys yang dapat mengejanya. Lusa pun pulang dengan sejuta harapannya, sementara kekasihnya menyimpan tanda tanya dengan sikap ayahnya.

Babak 3

Di beranda rumah yang tampak temaram. Cahaya rembulan jatuh ke pekarangan membaur bersama rumput-rumput yang kedinginan, Errys tampak menangis di kursinya. Ia baru saja mendapatkan penjelasan dari ayahnya, bahwa telah ada permintaan dari kerabatnya yang ingin mengambilnya menjadi menantu. Memang hal itu baru sekarang dibicarakan.

”Mengapa Ayah baru cerita sementara Errys sudah merasa mencintai Lusa,” jelasnya sambil terisak.

”Apa kamu ingin Ayah kehilangan muka? Keluarga kita dianggap tidak dapat dipercaya?” tukas ayahnya.

Ibunya hanya bisa mendekap anak gadisnya dengan pelukkan kasih. Sebagai perempuan, ia pun tidak ingin anak gadisnya tidak bahagia.

Babak 4

Lusa tak ingin kehilangan Errys. Baginya perempuan itu adalah cinta sejatinya. Seperti janjinya dulu, bersama ayah dan ibunya, Lusa melamar Errys. Namun, karena sesuatu alasan lamaran itu akan dijawan seminggu kemudian, melalui surat.

Surat yang ditunggu pun datang dan hal itu membuat kecewa Lusa. Mengapa tak berterus terang kalau telah ada yang melamar? Pikiran Lusa berkecamuk.

Beberapa hari kemudian, datanglah sepucuk surat dari Errys. Lusa termenung. Sebambangan? Benarkah?

Surat itu memang berpanjang lebar menjelaskan pelarian gadis oleh bujang ke rumah kepala adat untuk meminta persetujuan dari orangtuanya melalui musyawarah adat antara kepala adat dengan kedua orangtua dari calon mempelai sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orangtua tersebut.

Lusa menarik napas dalam-dalam. Ia berpikir keras untuk memahami keinginan Errys. Apakah itu sama dengan kawin lari? Tapi ketika itu ditanyakan, Errys menjawab tidak sama. Katanya, kawin lari itu sama dengan menculik anak gadis orang. Namun, sebambangan telah diatur oleh adat dan tetap mengedepankan restu dari kedua orangtua calon pengantin.

Babak 5

Errys telah tiga hari tidak pulang. Tak ada kabar ke mana perginya. Namun, ayahnya yakin, kepergiannya sangat berkaitan dengan balasan surat yang dibuatnya untuk Lusa. Siang itu ia merenung duduk memandang kebun durian yang belum berbunga. Tiba-tiba istinya datang tergopoh-gopoh membawa sesuatu.

”Ini pesan yang ditinggalkan Errys di kamarnya.”

”Pengepik?”

”Sepertinya begitu.”

Ayahnya segera membaca isi pesan di dalamnya. Dahinya berkerut-kerut seperti sedang menguraikan benang pikiran yang kusut di kepalanya. Wajahnya memerah menahan marah, sebab sebagai orangtua merasa tak dipatuhi oleh anaknya. Namun, berkali istrinya meredakannya. Bahwasanya, sebagai ulun Lampung yang beradat, apa yang dilakukan oleh anak gadisnya adalah sesuatu yang dibolehkan dalam adat Lampung ataupun syariat agama.

Babak 6

Di rumah penyimbang adat, Lusa menyerahkan uang panekhangan. Tak di sangka-sangka, ayah dan ibu Errys datang bersama kerabatnya yang menghendaki Errys menjadi calon menantunya.

”Maafkan Errys, Ayah, Ibu, dan yang lainnya,” ucapnya sambil tersedu.

”Ayah ataupun ibu sudah merelakanmu,” ucap ayahnya sambil memeluk anak gadisnya. Ibunya kemudian menghambur dengan tangis memecah.

”Maafkan juga Lusa, Ayah, Ibu.”

Musyawarah antara kedua belah keluarga dan penyimbang adat berakhir dengan sebuah upacara adat sebambangan. Semua saling merelakan dan mengikhlaskan. Ijab dan kabul terlaksana tanpa halangan apa pun.

Ayahnya segera membaca isi pesan di dalamnya. Dahinya berkerut-kerut seperti sedang menguraikan benang pikiran yang kusut di kepalanya. Wajahnya memerah menahan marah, sebab sebagai orangtua merasa tak dipatuhi oleh anaknya. Namun, berkali istrinya meredakannya. Bahwasanya, sebagai ulun Lampung yang beradat, apa yang dilakukan oleh anak gadisnya adalah sesuatu yang dibolehkan dalam adat Lampung ataupun syariat agama.

Malam itu, Errys tampak cantik sekali dengan mengenakan mahkota Siger, kain tapis dan pakaian pengantinnya. Sementara Lusa tampak gagah dengan Kopiah Emas dan pakaian pengantinnya.

”Kau tahu Errys, apa yang sedang terlintas di pikiranku?”

”Sayangnya aku terlalu bahagia, jadi tak tahu apa yang kau maksudkan, Lusa.”

”Melihatmu memakai mahkota Siger, aku merasa seperti sedang bertemu denganmu kali pertama di menara Siger itu.”

”Benarkah, Lusa?”

”Iya, seperti janji diam-diamku saat itu, aku akan menyandingmu dengan mahkota Siger itu.”

”Dan hari ini janji itu terwujudkan demikian manisnya, Benar kan, Lusa?”

Lusa tak menjawab kecuali tangannya menyentuh mahkota Siger itu. Errys menyandarkan kepalanya di bahu Lusa.

Serupa Epilog

Di atas sana rembulan tersenyum mengintip dari celah jendela kayu rumah adat nuwo sesat, lelaki dan perempuan yang sedang menunaikan ibadah cinta pada malam pertama. Indramayu, 2018

****

Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Buku Kumpulan Cerpen pertamanya berjudul Bunga Rampai Senja di Taman Tjimanoek Karyapedia Publisher (2017). Cerpen-cerpennya tersiar di surat kabar Indonesia dan Malaysia seperti: Koran Tempo, Republika, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Haluan, Rakyat Sumbar, Singgalang, Rakyat Sultra, Radar Cirebon, MediaJatim.com, CendanaNews.com, Detikcom, dan Utusan Borneo Malaysia.

sumber : kompas.id, 18 Feb 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme