Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumah Arwah oleh Sunlie Thomas Alexander

Posted on Ming, 06 Nov 2022

Kebakaran tengah malam di Jalan Panji itu hanya meludeskan sebuah rumah. Rumah tua milik mendiang Li Min Fuk yang ditempati oleh putra bungsunya, Li Jun Loi. Padahal jarak rumah kayu yang sudah berusia ratusan tahun itu dengan rumah tetangga di kiri-kanan cukup dekat, bahkan hampir berdempetan.

API berkobar begitu besar, dengan rakus melahap bangunan yang dinding, tiang, dan rengnya telah banyak digerogoti rayap itu, sehingga dalam waktu singkat rumah itu pun ambruk. Orang-orang yang terbangun oleh jeritan hanya bisa terperangah melihat api mengamuk. Sebagian berlarian panik menenteng ember-ember kosong. Mobil pemadam kebakaran baru muncul menjelang dini hari, dan seperti biasa tak ada gunanya.

”Syukurlah Jun Loi selamat,” kata para tetangga. Ketika ditemukan kali pertama oleh orang-orang saat kepanikan mereda, ia sedang duduk di bangku teras warung otak-otak Kai Kung yang tertutup rapat –tiga rumah dari puing-puing rumah warisan orang tuanya– sambil mengunyah sepotong roti. Di sampingnya, di atas bangku panjang, tergeletak sebuah koper usang.

Tak ada yang menduga kalau kebakaran itu berawal dari mimpi.

***

Li Jun Loi bukanlah orang yang percaya pada mimpi. Bahkan di zaman kejayaan KSOB sampai SDSB, ketika hampir semua orang di kota kecamatan kecil itu saban hari sibuk mencari petunjuk dari buku Tafsir Mimpi, ia hanya percaya pada teori kemungkinan. Memang beberapa kali nomor yang ia pasang keluar dua atau tiga angka, tetapi itu sama sekali tak ada hubungannya dengan mimpi siapa pun. Malah ia lebih menganggap itu sebagai semata-mata keberuntungan ketimbang hasil dari usahanya mengutak-atik angka semalaman dengan sempoa.

Karena itu ia mencoba mengabaikan mimpinya bertemu dengan Li Min Fuk sang ayah selama tiga malam berturut-turut. Mimpi bertemu dengan orang tua yang sudah meninggal bukanlah hal yang luar biasa, banyak orang juga mengalami mimpi seperti itu, pikirnya. Mimpi tetap mimpi, hanya bunga tidur, meskipun orang-orang yang dikenalnya kerap mengaitkan mimpi seperti itu dengan rasa kangen. Demikian ia menyimpulkan dan pada malam keempat, kelima, dan keenam ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa bermimpi apa pun. Ia lega. Badannya terasa lebih segar saat berangkat ke pasar untuk berjualan ikan pagi-pagi. Terus terang mimpi itu tidak mengenakkan baginya.

Waktu lelaki itu meninggal dunia pada usia 82 tahun, ia belum lama tamat SMA. Belum juga bisa menghasilkan uang, justru menghabiskan banyak uang Li Min Fuk yang sempat jaya sebagai agen minyak tanah untuk berjudi dari rumah ke rumah bersama teman-temannya. Namun ketika terjaga selama tiga malam menunggui jenazah sang ayah yang terbaring kaku dalam perahu merah alias peti mati, ia menangis dan berjanji kepada dirinya sendiri takkan berjudi lagi sebelum mampu bisa menghasilkan uangnya sendiri. Kurang lebih dua minggu setelah peringatan setahun kematian Li Min Fuk, bersama A Kong teman karibnya sejak kecil ia pun hengkang dari kota kelahirannya.

Tetapi kisah sukses di Jakarta baginya memang seperti sebuah mimpi. Pada tahun pertama merantau, ia telah berpindah tempat kerja tiga kali. Tak ada satu pun pekerjaan yang cocok ia lakoni. Mulai pekerja pemasangan baja ringan, pengawai toko roti, sampai sales onderdil mobil. Yang terakhir ia bahkan tak berhasil mencari satu pelanggan baru pun. Pada tahun kedua setelah kehabisan uang untuk makan dan membayar kos, kakak ketiganya yang bekerja sebagai kepala gudang di perusahaan distributor cat kemudian menawarinya menjadi penjaga gudang. Awalnya semua berjalan dengan baik, ia cukup betah dengan pekerjaan tersebut karena tak membutuhkan keahlian pertukangan maupun kecakapan bicara. Tetapi suatu malam bersama seorang penjaga lain, ia nyaris membakar gudang cat itu dengan api puntung rokok akibat terlalu larut bertaruh domino sambil menegak anggur KTI.

Tentu saja ia dan kawannya itu langsung dipecat secara tidak terhormat. Sang kakak yang menerima teguran keras dari atasan bukan saja mengusirnya dari rumah dan mencaci makinya habis-habisan, tetapi juga bersumpah takkan pernah membantunya lagi. Yang membuat Li Jun Loi semakin sakit hati adalah umpatan ”thai ngong ku tak terobati” dari mulut kakak iparnya yang biasanya selalu bersikap lembut kepadanya. ”Untung kau tidak diseret ke penjara!” bentak si kakak ipar. Akibat insiden itu, kakak ketiganya mesti mengganti separo kerugian perusahaan.

Selepas kejadian, Jun Loi masih mencoba bertahan selama lima bulan di Jakarta dengan membantu kakak sepupu temannya A Kong berjualan mi Bangka; sekadar mencuci mangkuk-piring dan menghidangkan mi ke meja pemesan. Saat itulah, pada suatu sore di warung mi, ia bertemu dengan seorang tetangga lamanya.

”Sudah berapa lama kau tak pulang?” begitulah awal obrolan, sekadar basa-basi pada mulanya lalu berkembang ke arah yang lebih serius. Dan Li Jun Loi pun berkeluh kesah tentang kesialan-kesialannya dalam pekerjaan. Si tetangga yang ia panggil A Khiu atau Paman mendesah kecil lalu menghabiskan kuah minya di mangkuk.

”Kita orang China percaya bahwa arwah orang-orang yang sudah mati, orang tua dan para leluhur akan selalu menjaga dan mendoakan kita selama kita masih mengingat mereka dan menunaikan kewajiban kita sebagai anak-cucu,” kata tetangganya itu sambil menatapnya. ”Jika aku tak salah ingat, di rumahmu ada altar leluhur kan? Sekarang siapa yang membakar dupa?”

Jun Loi tidak menjawab, hanya merunduk menekuri meja warung. Itu sebulan sebelum perayaan Chin Min. Umurnya ketika itu baru 25 tahun.

***

Ia tidak menangis tetapi tak bisa menahan kemarahan kepada dirinya sendiri maupun saudara-saudaranya saat membersihkan makam ayah, ibu, dan kakek-neneknya. Betapa tidak, makam-makam itu benar-benar tak terurus, ditumbuhi oleh semak belukar lebat dan berlumut. Bahkan makam ayahnya yang baru sekitar lima tahun dibangun tak ubahnya sebuah makam tua. Tidak seperti makam-makam lainnya di kompleks Pemakaman Kung Bu Jan itu, yang tampak terawat baik dengan marmer mengilap dan huruf-huruf Hanyu berkilau.

Menyambut tibanya hari raya Chin Min yang bermakna bersih dan terang, ia pun menggunakan seluruh uang hasil kerjanya di Jakarta yang tak seberapa untuk membeli sesajen sembahyang kubur. Dan ia masih ingat betul bagaimana subuh itu, di tengah nyala ribuan lilin merah dan kepulan asap dupa Pemakaman Kung Bu Jan, ia menjura di depan makam ayah-ibu dan kakek-neneknya dengan perasaan seorang anak hilang. Tetap tak ada air mata yang meleleh, tetapi dadanya terasa begitu sesak.

Tak satu pun dari kakak-kakaknya yang mudik untuk sekadar melaksanakan bakti setahun sekali sebagai anak-cucu itu. Tak seperti para tetangga dan teman-temannya yang saban tahun hampir tidak pernah lalai pulang berziarah. Ia tak berani menghubungi kakak ketiganya yang pernah mengusirnya.

”Pendeta melarang kami sembahyang dengan dupa dan sesajen. Kalau kami mengirimimu uang untuk sembahyang Chin Min berarti kami menyetujui hal itu,” ujar kakak keduanya di telepon. Hanya kakak perempuannya di Palembang, kakak sulung yang ia panggil Thai Ce, yang menitipkan amplop untuknya lewat seorang tetangga yang mudik untuk membeli lilin, dupa, dan uang-uang arwah. Toh, alasan yang diberikan oleh Thai Ce sama saja dengan kakak keduanya: ”Maaf, kami Kristen, tak bisa ikut sembahyang kubur. Kami hanya bisa mendoakan mama dan papa.”

Di sejumlah makam ia melihat buket dan taburan bunga dengan lilin-lilin putih, tanpa sesajen dan asap dupa. Setidaknya mereka mau pulang untuk meletakkan kembang, pikir Jun Loi. Jelas sudah baginya bahwa ketiga kakaknya juga tidak bakal peduli pada altar leluhur yang bertahun-tahun dipelihara oleh mendiang ayah mereka di rumah. Karena itulah selepas Chin Min, ia memutuskan untuk tak lagi kembali ke Jakarta.

”Biarlah aku tungguin rumah tua ayahku saja. Meski sulit untuk kaya, aku tidak bakal kelaparan di kampung halaman sendiri. Dupa-dupa di altar itu mesti terus menyala. Aku tidak mau jadi anak-cucu durhaka,” ujarnya kepada A Kong menatapnya dengan pandangan kasihan.

Ya, dari empat bersaudara hanya ia satu-satunya yang tidak tertarik masuk Kristen maupun Katolik. Padahal sejak SD ia disekolahkan di sekolah pastor.

”Semua gara-gara Fa Liung!” teriak Li Min Fuk gusar ketika Li Jun Hiung putra keduanya enggan memegang dupa di depan meja sembahyang pada hari raya Chit Ngiat Pan setelah beberapa kali diajak nyanyi-nyanyi oleh Fa Liung di gereja. Itu nama ayah Fa Khin teman sekelas Jun Hiung, seorang pendeta Protestan yang rajin membagikan sembako dan buku Yesus di perkampungan China di Parit-Parit.

Jun Loi sudah tak ingat persis bagaimana ketiga kakaknya itu satu per satu dibaptis oleh Pendeta Fa Liung. Saat itu ibunya masih hidup dan berusaha keras menenangkan ayahnya yang naik pitam. Tak lama kemudian terjadi ribut-ribut antargereja, konon diduga ada perebutan jemaat. Beberapa keluarga China yang kurang mampu ketahuan mengikuti kebaktian di dua gereja yang berbeda secara bergantian.

Thai Ce pernah mencoba membujuknya ikut dibaptis di gereja Pendeta Fa Liung, namun ia bergeming. Ia juga tak berkenan masuk Katolik meskipun ikut berdoa Bapa Kami dan Salam Maria setiap hari di sekolah. Ibunya sebetulnya tak keberatan jika ia menjadi Katolik karena pastor –seperti kata seorang bibinya yang Katolik– menghargai tradisi orang China dan tidak melarang orang bersembahyang untuk leluhur dengan dupa dan sesajen.

Toh, Jun Loi lebih tertarik pada kesaktian Nacha, Sun Gokong, Erl Lang, dan dewa-dewa China lainnya ketimbang penebusan Kristus. Ayah A Kong temannya adalah seorang Thung Se, perantara dewa yang melakoni ritual tatung, pandai bercerita dan mengisahkan kepadanya banyak cerita tentang dewa-dewa itu.

”Kalau saja dulu Fung Siu Chion berhasil mendirikan Taiping Tianguo, habislah sudah kita!” tukas ayahnya penuh kemarahan. Ketika itu ia belum tahu siapa Fung Siu Chion dan apa itu Negara Langit Taiping yang memberontak melawan Dinasti Qing untuk mendirikan negara China Kristen.

***

Lelaki tua itu kembali datang kepada Jun Loi pada malam ketujuh. Masih mengenakan setelan pakaian yang dibakarkan untuknya pada perayaan Chit Ngiat Pan tahun lalu seperti pada kedatangan sebelumnya. Sedikit berbau arak, mungkin itu sisa dari dua botol arak yang dituangkan oleh Jun Loi ke makamnya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

”Papa?” Li Jun Loi terkejut saat melihat orang tua itu berdiri di sisi tempat tidurnya. Terburu-buru ia bangkit dari pembaringan dan mendapati orang tua itu sudah duduk di kursi kayu di depan meja kamarnya. Sebelum sosok Li Min Fuk membuka mulut pun, ia sudah tahu apa yang hendak dikatakan mendiang ayahnya itu. Dan benar saja perkiraannya, seperti yang sudah-sudah lelaki tua itu mengeluhkan makamnya yang tak pernah dipugar.

”Sudah bertahun-tahun aku mati, tapi kalian tak kunjung memperbaiki makamku, juga makam ibu kalian. Atau, tidakkah kalian bisa kirimkan untuk kami sebuah rumah arwah seperti yang dilakukan anak-anak orang lain? Yang kami terima darimu setiap tahun hanyalah pakaian kertas murahan dan uang arwah yang tak seberapa. Malu aku punya anak-anak seperti kau dan kakak-kakakmu!” kata orang mati itu dingin.

Jun Loi hendak membuka mulut untuk menjelaskan bahwa ia tak pernah memiliki uang yang cukup, bahwa penghasilannya mengambil upah berjualan ikan di pasar hanya pas-pasan untuk hidup, dan bahwa ketiga kakaknya sudah tak peduli pada tradisi orang China. Atau, hendak pula ia menanyakan apakah lelaki tua itu sudah mengunjungi anak-anaknya yang lain dan mengeluhkan hal yang sama? Namun seperti yang lalu-lalu, sebelum ia berhasil mengeluarkan sepatah kata pun, orang mati itu telah lenyap tak berbekas dan ia terbangun dari mimpinya dengan sekujur tubuh ngilu. Yang tersisa samar-samar di kamar tidurnya yang pengap itu hanyalah aroma arak.

Begitulah, semenjak malam itu mendiang ayahnya kembali datang berulang ke dalam mimpinya dan mengeluhkan –setengah menuntut– hal yang itu-itu saja. Dan ini membuat perasaan dan pikiran Li Jun Loi jadi kacau balau: antara marah, sedih, dan putus asa. Betapa tidak, untuk memesan sebuah rumah arwah dari para pembuatnya seperti A Cung dan Kwet Siauw sungguh tidak murah, bisa hampir menyamai biaya pemugaran makam.

”Ternyata ongkos pembuatannya sama dengan harga motor aslinya!” kata-kata A Kong sekitar dua tahun silam terngiang lagi olehnya. Ketika itu A Kong bermaksud memesan sebuah sepeda motor arwah dari A Cung untuk dibakar pada perayaan Chin Min buat seorang keponakannya yang meninggal muda.

Jun Loi tidak tahu apakah sahabat karibnya itu akhirnya jadi atau tidak membuatkan sepeda motor arwah, ia tidak pernah bertanya. Namun sudah dapat ia bayangkan apa yang akan dikatakan oleh kakak-kakaknya apabila ia berani meminta bantuan uang untuk memesan sebuah rumah arwah: ”Itu takhayul kuno”, ”Hal seperti itu musyrik menurut pendeta kami”, atau ”Orang sudah meninggal harusnya dikirimi doa, bukan dikirimi uang arwah, pakaian kertas, apalagi rumah kertas!”

Kalau saja ia punya sedikit keterampilan dalam hal pertukangan atau kerajinan tangan, batin Jun Loi sambil menatap nanar dupa-dupa menyala dalam guci di hadapan foto kedua orang tuanya di altar ruang depan rumah. Angin dari jendela sisi kiri yang terbuka membuat asap dupa itu meliuk-liuk seperti tarian seekor naga di matanya. Tetapi mendadak nyala salah satu lilin merah di altar itu padam oleh embusan angin kencang.

Jun Loi menghela napas panjang tatkala beranjak untuk mengambil korek api di atas meja kecil di samping altar. Rasa kantuk dan lelah membuatnya begitu tersiksa. Sudah tiga malam ia tidak berani tidur karena takut didatangi lagi oleh arwah ayahnya. Ketika sedang menyalakan api lilin itulah, sekilas ia seolah-olah melihat mulut sang ayah dalam foto hitam putih di altar bergerak-gerak seperti sedang mengucapkan sesuatu. Li Jun Loi tertegun. Nyaris saja tangannya merobohkan lilin di atas altar itu.

Ah, ini kurang lebih lima jam sebelum kobaran api menghanguskan rumah tua Li Min Fuk di Jalan Panji. (*)

Jogjakarta, awal Oktober 2022

 

Untuk kawan-kawan Perlima

 

Catatan:

Rumah Arwah: diterjemahkan secara harfiah dari ”Lin Buk” (bahasa China Hakka). Lin Buk adalah rumah-rumahan yang dibuat untuk keperluan sembahyang, dengan tujuan dipersembahkan kepada arwah sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Biasanya dibuat dari berbagai bahan seperti kertas, kardus, bambu, dan kayu. Ukurannya bermacam-macam, bergantung pada keinginan para pemesan. Para pembuat Lin Buk juga mengerjakan pesanan-pesanan replika sepeda motor, mobil, sampai kapal laut dan pesawat terbang, bahkan boneka pengantin (yang terakhir ini untuk arwah orang yang ”mati bujang”).

—

SUNLIE THOMAS ALEXANDER : Lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Bukunya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud Tahun 2020 untuk kategori kritik sastra/esai.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 6 November 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme