Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Soto Mi Tanpa Mi oleh Sena Widya

Posted on Ming, 26 Mar 2023

Sore sudah hampir hilang. Seorang pelayan mendatangiku. Dengan cepat langsung kujawab: dua mangkuk soto mi tanpa mi dan segelas es jeruk. Mungkin dia heran dengan konsep soto mi tanpa mi atau dengan dua mangkuk untuk seorang perempuan mungil sepertiku.

Dua mangkuk soto mi itu untuk kumakan sendiri. Sebab aku tidak ingin orang lain tahu aku sedang bersedih. Nanti akan kukucurkan dua iris jeruk limau dan lima sendok sambal, mungkin lebih, ke situ. Memikirkannya saja sudah mengalirkan rasa hangat di dadaku.

Bagiku soto mi tanpa mi adalah simbol kenyamanan ketika kata-kata tidak memadai. Kadang aku bertanya-tanya apa cerita di belakang eksistensi soto mi di muka Bumi ini. Siapa pun yang pertama kali menciptakannya pastilah orang yang ceria dan ramah. Ada dekapan tulus seorang sahabat dalam semangkuk soto mi.

Warung soto mi ini langgananku. Terletak di tengah terminal angkutan dan bus yang tak pernah sepi dari sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat, penumpang yang bergegas menuju rindu, dan pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya. Menunya hanya soto mi, tetapi tidak pernah sepi pengunjung. Seperti biasa aku duduk di kursi paling kanan bagian tengah, dekat kipas angin. Soto mi di sini memang legendaris, menggunakan risol superjumbo yang krispi memenuhi isi mangkuk. Semangkuk soto mi berkuah kaldu sapi yang bening gurih berpadu dengan irisan daging empuknya beraroma harum dan disajikan dengan irisan tomat, kol, emping, dan mi tentu saja.

Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan mi. Aku suka mi rebus, mi Aceh, mi ayam, bakmi pangsit, mi ramen, mi goreng, dan semua olahan mi. Tapi mi di dalam soto mi rasanya tidak pas, tidak membuatku bahagia.

***

Di situlah bintang itu, terselip di bening matanya, dinaungi alis yang tebal. Bintang itu hilang ketika dia tersenyum, apalagi tertawa, yang membuatnya begitu menggemaskan. Bintang itu tak pernah bisa lama kupandang karena gugup dan malu menguasaiku. Sinarnya teduh menenangkan, kadang tajam melumpuhkan. Tapi siang tadi, saat aku menemuinya di Café Gwenchana, sinarnya terdispersi menjadi puluhan warna kusam yang membuatku tersesat. Aku kehilangan arah.

”Maafkan aku,” katanya setelah hening yang cukup lama.

Kutata emosiku dengan sabar, sebab rasa sakitnya tebal-tebal. Pikiranku seketika terasa kosong dan pandanganku seperti mosaik. Di depan kami duduk seorang ibu dan anak perempuannya yang lucu asyik bermain boneka. Entah kenapa boneka itu sepertinya menatapku, menilaiku, menghakimiku.

Kawan, sini kuberi tahu betapa absurdnya nasibku. Aku selingkuh. Dan selingkuhanku baru saja mengatakan kalau dia selingkuh, sebentar kukoreksi, dia punya selingkuhan lain. Hmmm. Aku bisa dengar cicak mendecak di belakangku, tertawa, seperti yang kamu lakukan, kan?

Apa sekarang kamu paham kenapa aku tidak mau ada orang melihatku menangis? Tentu saja ini bukan cerita yang bisa menarik empati. Aku cukup waras untuk tahu tidak akan ada yang memeluk dan menghiburku dengan cerita ini. Masih bagus kalau aku tidak dilempar gelas. Mamp*s, sukurin, rasain, kualat!

Padahal, serius, aku tidak bohong, rasa sakitnya berlipat kali kuadrat. Hatiku tidak dibuat untuk merasakan ini. Aku tidak sedang mencoba memosisikan diri sebagai korban, pun tidak berharap ada yang mengerti. Bagian terberat adalah aku tidak bisa menumpahkan kesedihan ini pada siapa pun. Duhai. Ini sulit sekali.

Selingkuh itu tidak ada yang benar. Aku tahu itu. Maka selingkuh itu harus kamu tutup rapat sendiri. Bahagianya kamu simpan, kecewanya kamu telan. Seorang yang jago selingkuh mestilah punya bakat akting yang mumpuni. Kurasa aku bisa mempertimbangkan ikut casting aktris setelah melewati ini.

”Tolong, jangan tinggalin aku…,” suaranya bergetar.

Air mata mulai membayangi mata bintangnya. Aku menyayanginya sama besar dengan sayangku pada kekasihku. Aku tahu dia juga sudah punya kekasih yang sangat dia sayang. Aku dan dia punya banyak cerita dan pola pikir yang akhirnya kami mirip-miripkan. Lalu kami sepakat untuk saling mengisi hati-hati kami yang kesepian. Pelan-pelan aku percaya bahwa semua terjadi atas rencana semesta.

Hening kembali menyelimuti kami. Kutatap lelaki di hadapanku. Dia menunduk. Selama aku mengenalnya, baru sekali ini aku memenangkan lomba saling tatap. Dia tahu betul aku akan meninggalkannya. Bahkan kalau aku bisa memaafkannya, aku tetap akan meninggalkannya. Sungguh, kebohongan paling kejam sering kali diceritakan dalam diam.

***

Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadaku dengan lebih banyak udara. Sore semakin larut, terminal bertambah sibuk lalu-lalang penumpang selesai dari bermacam aktivitas, dan keadaan warung soto mi kian penuh. Sudah dua puluh menit pesananku belum juga datang. Kulihat pelayan sibuk mondar-mandir membawakan hidangan. Setiap aku berada di warung ini, aku merasa seperti sedang menonton sebuah film dengan berbagai karakter dan ekspresi aktornya. Tiga orang karyawati muda masuk sambil tertawa terpingkal-pingkal. Mereka langsung mengambil tempat di meja panjang paling luar, tempat di mana sepasang suami istri sudah selesai menghabiskan soto minya, tapi sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Di ujung belakang seorang perempuan jangkung berkacamata duduk gelisah, matanya sesekali melirik ke luar. Di sampingnya duduk dua anak muda, kutebak mereka mahasiswa, terlihat semangat, namun lelah.

Di luar, malam sudah lengkap. Cahaya lampu jalanan, sorot lampu bus, atau angkot silih berganti membias di udara. Aku merasa terlindungi, tenggelam di tengah keramaian. Seorang pengamen masuk dan mulai memetik gitar. Saat itulah, di kursi paling kiri bagian belakang, aku melihat dua orang lelaki yang asyik mengobrol saling menatap lembut. Sesekali tangan mereka menggenggam mesra. Yang satu beralis tebal bermata bintang dan yang satu lagi, walau hanya dari punggungnya saja, kuyakini adalah kekasihku. Aku mematung memberikan waktu untuk otakku mencerna. Pelayan datang membawakan pesananku. Satu gelas es jeruk dan dua mangkok soto mi. Dengan mi di dalamnya. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kucegah. Saat kau pikir kau mampu, dunia akan melukaimu.

Sena Widya, peneliti yang senang sastra dan menulis, lahir di Jakarta pada April 1979, kini menetap di Tangerang Selatan.

Luky Supriadi, Aktif sebagai seniman yang tinggal di Bandung. Lulus dari Seni Grafis FSRD ITB pada tahun 2006. Pernah pameran tahun 2023 (sedang berlangsung) pameran duet ”Preliminaries”, Orbital Dago Bandung, pameran duet 2023 ”It’s always 12 o’clock in Wonderland”, Kunasi Coffee Bandung. Pameran bersama 2009 ”Unlimited Portraits” di Plaza Indonesia, Jakarta. Pameran bersama 2007 ”Artist Preview” di Cemara 6 Galeri, Jakarta. Tahun 2007 ”SEVEN” Galeri Soemardja, Bandung. Tahun 2006 ”Merekamereka” Galeri Redpoint, Bandung. Tahun 2005 ”Human + Space” Galeri Soemardja, Bandung. Tahun 2005 ”Thursday, Collaboration Edgar Heap of Bird: Native American Artist” di Galeri Soemardja, Bandung.

sumber : kompas.id, 26 Mar 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme