Ini pertama kalinya aku melanggar peraturan yang dibuat ibuku. Aku melanggarnya sepulang sekolah, ketika ibu tidur pulas di kamarnya. Kata ibuku, di hari pertama peraturan itu ditegakkan—sebulan setengah yang lalu, bila aku berani melanggar peraturan itu, aku akan menerima sabetan. Sabetan sebilah bambu seperti yang pernah aku terima dulu ketika aku menolak disuruh membeli bumbu dapur pagi-pagi di toko. Sabetan itu sakit dan meninggalkan bekas-bekas merah yang memanjang di kedua kakiku. Ketika berangkat ke sekolah, aku harus menarik kedua kaos kakiku tinggi-tinggi sampai ke lutut untuk menutupi bekas-bekas sabetan yang baru mau menghilang seminggu kemudian.
Sabetan itu aku terima saat ayah masih bersama kami, dan seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi itu ayah belum pulang. Entah ke mana saja dia. Kelakuan ayah itu yang selalu memicu ibu untuk mengomel setiap pagi. Suara omelannya yang dipadu dengan suara kelontang alat-alat dapur yang diperlakukan kasar saat dia memasak, menenggelamkan suara kicau burung di belakang rumah yang seharusnya menyambut bangun pagiku.
”Belikan ibu cabe, ikan asin, dan minyak goreng!” perintah ibu dengan nada suara pendek-pendek ketika dia tahu aku sudah bangun.
Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi itu aku tidak mau berangkat. Aku berani menolak perintah ibu karena beberapa hari belakangan, ketika belanja bumbu dapur di toko itu, aku selalu bertemu dengan teman sekelasku. Aku satu-satunya laki-laki yang membeli bumbu dapur di toko itu, dan ketika di sekolahan, temanku itu mengataiku banci. Ibu yang sebelumnya sudah mengomel karena ayah belum pulang—mendengar aku menolak perintahnya—dia geram. Dia mengambil sebilah bambu di pinggir tungku dan menyabetkannya berkali-kali ke kakiku.
Sampai saat ini, saat ayah sudah tidak lagi bersama kami, ibu masih saja suka mengomel, bukan hanya pagi, kadang dia mengomel sepanjang hari. Ayah selalu menjadi tokoh utama dalam omelan ibu. Ayah adalah orang yang bertanggung jawab atas kesulitan-kesulitan yang menimpa keluarga ini, termasuk SPP-ku yang sering telat, atau uang sakuku yang lebih sedikit dibanding uang saku teman-temanku, katanya.
”Ayahmu itu rayap,” kata ibu. ”Ayahmu menghabiskan harta bendaku seperti rayap memakan kayu.” Ibu selalu mendengungkan kalimat-kalimat semacam itu ke telingaku ketika mengomel. ”Kalau kau sering bertemu ayahmu, kau akan diajari menjadi rayap. Ibu tidak mau punya anak seekor rayap.”
Tetapi, cerita teman-temanku di sekolah tentang sore hari yang menyenangkan bersama ayah mereka menerbangkan layang-layang–yang membuatku hanya bisa diam dan menjadi pendengar yang khusyuk, membuat aku nekat dan berani mengambil resiko terkena sabetan.
Selama ini yang bisa aku lakukan hanyalah menggambar layang-layang. Berbagai macam bentuk layang-layang sudah aku gambar. Aku menggambarnya di hampir semua buku: buku gambar, buku tulis, bahkan buku paket. Aku menggambarnya di sampul dan di tempat-tempat kosong di antara tulisan-tulisan. Selain di buku, aku juga menggambarnya di meja dan bangku sekolahku dengan bolpoin atau tipe-x, tetapi gambar itu tidak bertahan lama. Aku mengeriknya dengan silet karena ibu guru tidak suka gambar layang-layang itu. Gambar itu merusak keindahan, katanya. Dan keindahan yang sudah aku rusak itu harus aku ganti dengan mengelap seluruh kaca jendela di kelasku.
Aku melepas seragam sekolahku, menyelipkan salah satu buku tulis di celana pendekku, mengambil sepeda, kemudian mengayuh ke rumah ayah: orang yang di dalam peraturan, yang ditegakkan oleh ibu sebulan setengah yang lalu itu, tidak boleh aku temui sampai kapan pun. Pikirku, ’kalau aku selalu berhati-hati, tidak membuka mulut kepada siapa pun, dan tepat dalam memilih waktu—misalnya ketika ibu sedang tidur siang seperti sekarang ini, aku pasti selamat dari sabetan.’
Aku sampai di depan pintu rumah ayah setelah hampir tiga kilometer aku mengayuh. Sambil mengatur napas, kusandarkan sepedaku di tiang teras. Di dalam rumah, aku melihat ayah tidur di kursi panjang ruang tamu. Aku mendekatinya kemudian menggoncang-goncang tubuhnya. Dari dulu ayah memang sulit dibangunkan, beberapa kali ibu harus mengguyurnya dengan air. Setelah beberapa kali goncangan dan kupanggil-panggil di dekat telinganya, ia membuka mata.
”Yah, buatkan aku layang-layang!” kataku sambil masih mengatur napas.
Aku mengeluarkan buku tulis yang kuselipkan di celana pendekku dan menunjuk gambar layang-layang berbentuk manusia yang aku gambar di buku itu. ”Seperti ini, Yah!”
”Kamu ke sini dengan siapa?” tanya ayah, ”kamu tidak takut ketahuan ibumu?”
”Dia tidur, Yah. Ibu tidak akan tahu kalau ayah tidak bilang kepadanya,” jawabku.
”Bagaimana kalau ibumu sudah bangun sebelum kamu pulang?” tanyanya lagi.
”Itu urusanku, Yah. Urusan ayah hanya membuatkanku layang-layang seperti ini,” jari telunjukku masih menempel di buku tulisku—tepat di gambar layang-layang berbentuk manusia. ”Aku akan pulang sekarang, besok aku ke sini lagi dan layang-layang itu harus sudah jadi dan aku akan menerbangkannya bersama ayah seperti teman-teman sekolahku yang menerbangkan layang-layangnya bersama ayah mereka.” Aku meninggalkan buku tulis itu di rumah ayah dan aku pulang.
Menyebalkan. Ayah membuat layang-layang lama sekali. Mungkin ibu mengusir ayah dari rumah, selain karena dia rayap, mungkin juga karena dia lamban. Besoknya aku ke rumah ayah lagi tetapi layang-layangnya belum jadi. Ayah bilang, ”Besok siang kamu ke sini lagi, pasti sudah jadi.” Aku ke rumah ayah lagi besoknya, belum jadi juga. Layang-layang itu baru jadi di hari keempat. Aku harus mengayuh sepeda ke rumah ayah selama empat hari berturut-turut.
Seumur-umur dia tidak pernah membuat layang-layang, katanya, lebih-lebih layang-layang manusia, sehingga butuh waktu empat hari.
”Sepanjang hari selama empat hari ini Ayah sudah bekerja keras seperti seorang tukang yang menerjemahkan gambar dari arsitek, namun gambar layang-layangmu terlalu rumit, Nak, dan Ayah sulit mewujudkannya menjadi layang-layang,” keluhnya.
Aku menggambar layang-layang itu satu halaman penuh di buku tulis, benar-benar seperti manusia: tangan kanannya mengepal di pinggir kepala–seperti orang yang sedang memekikkan kata ”merdeka!” dan tangan kirinya berkacak pinggang. Berbeda dengan gambarku, layang-layang yang dibuat ayah kedua tangannya berkacak pinggang, tubuhnya pipih, dan kepalanya kotak.
”Tidak ada manusia pipih dan berkepala kotak, Yah,” protesku sambil berjalan mendekat ke layang-layang yang dicantolkan di paku di dinding. Kuturunkan manusia pipih setinggi ayah itu. Sekujur tubuhnya berwarna merah dari kertas minyak.
”Itu bentuk yang paling mudah terbang, Nak,” kata ayah. ”Layang-layang seperti gambarmu itu sulit terbang, dan bukan layang-layang kalau dia tidak terbang,” jelasnya.
”Seharusnya Ayah membuat layang-layang persis seperti gambarku dan Ayah harus membuatnya terbang.”
”Butuh waktu satu bulan untuk membuat layang-layang seperti yang kau gambar, Nak. Setiap siang selama satu bulan kau harus diam-diam meninggalkan rumah, lama-lama ibumu akan tahu,” kata Ayah.
Manusia merah pipih berkepala kotak kami terbangkan sore itu. Kami menerbangkannya di jalan di depan rumah Ayah. Tangan kananku memegangi pantatnya dan tangan kiriku memegangi tali gocinya. Ayah berjalan menjauh dariku merentangkan kenur hijau yang digulung pada dua bilah bambu sepanjang satu jengkal yang dipaku menyilang. Kira-kira sepuluh meter di depanku dia berhenti. Kami menunggu angin datang. Saat daun-daun mahoni di pinggir jalan mulai bergerak pelan, ayah memberi aba-aba. Pantat manusia merah pipih berkepala kotak itu kuangkat setinggi kepalaku. Setelah ayah menghitung sampai tiga, kulepaskan dia. Ayah berlari dan layang-layang melesat ke atas.
Setelah beberapa meter di atas kepala, manusia merah pipih berkepala kotak itu berbalik arah dan menukik ke bawah. Kenur hijaunya menebas ranting-ranting mahoni di pinggir jalan dan menggugurkan daun-daunnya. Kepala kotak itu membentur tanah dan peok dan wajahnya sobek. Ayah menambal wajahnya, memperbaiki bentuk kepalanya, dan menyetel ulang gocinya, kemudian kami mencoba lagi menerbangkannya. Sama, si kepala kotak itu menukik lagi. Kali ini kepalanya remuk, lehernya patah, dan tubuhnya compang-camping.
”Kepalanya sudah tidak tertolong lagi, Nak. Ayah gagal membuatkanmu layang-layang,” keluh ayah.
”Layang-layang harus terbang, Yah. Ayah membuat layang-layang, bukan hiasan dinding,” kataku,
”Ayah bilang, bentuk layang-layang seperti ini yang paling mudah terbang.”
”Ayo, Yah, buat dia terbang!”
Ayah memenggal kepala remuk itu. Menambal beberapa bagian tubuh yang compang-camping dan kami mencoba lagi menerbangkannya. Manusia pipih berwarna merah itu terbang tanpa kepala. Layang-layang manusia itu seperti enggan terbang. Ketika ayah sudah menghabiskan kenur di gulungannya, layang-layang itu hanya menjauh dari kami, tidak mau terbang tinggi. Tetapi aku bahagia sore itu, dan besok, aku bisa ikut bercerita ketika teman-teman di sekolah bercerita tentang sore hari yang menyenangkan bersama ayah mereka menerbangkan layang-layang.
***
Suwito Adi Prasetyo, Kelahiran Bojonegoro, 10 Oktober 1983. Penulis buku Aku Manusia dari Anak Manusia tahun 2017. Kepala Sekolah SDN Sumuragung I Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro
sumber : kompas.id, 30 Mar 2023.