Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Layang-layang Manusia oleh Suwito Adi Prasetyo

Posted on Kam, 30 Mar 2023

Ini pertama kalinya aku melanggar peraturan yang dibuat ibuku. Aku melanggarnya sepulang sekolah, ketika ibu tidur pulas di kamarnya. Kata ibuku, di hari pertama peraturan itu ditegakkan—sebulan setengah yang lalu, bila aku berani melanggar peraturan itu, aku akan menerima sabetan. Sabetan sebilah bambu seperti yang pernah aku terima dulu ketika aku menolak disuruh membeli bumbu dapur pagi-pagi di toko. Sabetan itu sakit dan meninggalkan bekas-bekas merah yang memanjang di kedua kakiku. Ketika berangkat ke sekolah, aku harus menarik kedua kaos kakiku tinggi-tinggi sampai ke lutut untuk menutupi bekas-bekas sabetan yang baru mau menghilang seminggu kemudian.

Sabetan itu aku terima saat ayah masih bersama kami, dan seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi itu ayah belum pulang. Entah ke mana saja dia. Kelakuan ayah itu yang selalu memicu ibu untuk mengomel setiap pagi. Suara omelannya yang dipadu dengan suara kelontang alat-alat dapur yang diperlakukan kasar saat dia memasak, menenggelamkan suara kicau burung di belakang rumah yang seharusnya menyambut bangun pagiku.

”Belikan ibu cabe, ikan asin, dan minyak goreng!” perintah ibu dengan nada suara pendek-pendek ketika dia tahu aku sudah bangun.

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi itu aku tidak mau berangkat. Aku berani menolak perintah ibu karena beberapa hari belakangan, ketika belanja bumbu dapur di toko itu, aku selalu bertemu dengan teman sekelasku. Aku satu-satunya laki-laki yang membeli bumbu dapur di toko itu, dan ketika di sekolahan, temanku itu mengataiku banci. Ibu yang sebelumnya sudah mengomel karena ayah belum pulang—mendengar aku menolak perintahnya—dia geram. Dia mengambil sebilah bambu di pinggir tungku dan menyabetkannya berkali-kali ke kakiku.

Sampai saat ini, saat ayah sudah tidak lagi bersama kami, ibu masih saja suka mengomel, bukan hanya pagi, kadang dia mengomel sepanjang hari. Ayah selalu menjadi tokoh utama dalam omelan ibu. Ayah adalah orang yang bertanggung jawab atas kesulitan-kesulitan yang menimpa keluarga ini, termasuk SPP-ku yang sering telat, atau uang sakuku yang lebih sedikit dibanding uang saku teman-temanku, katanya.

”Ayahmu itu rayap,” kata ibu. ”Ayahmu menghabiskan harta bendaku seperti rayap memakan kayu.” Ibu selalu mendengungkan kalimat-kalimat semacam itu ke telingaku ketika mengomel. ”Kalau kau sering bertemu ayahmu, kau akan diajari menjadi rayap. Ibu tidak mau punya anak seekor rayap.”

Tetapi, cerita teman-temanku di sekolah tentang sore hari yang menyenangkan bersama ayah mereka menerbangkan layang-layang–yang membuatku hanya bisa diam dan menjadi pendengar yang khusyuk, membuat aku nekat dan berani mengambil resiko terkena sabetan.

Selama ini yang bisa aku lakukan hanyalah menggambar layang-layang. Berbagai macam bentuk layang-layang sudah aku gambar. Aku menggambarnya di hampir semua buku: buku gambar, buku tulis, bahkan buku paket. Aku menggambarnya di sampul dan di tempat-tempat kosong di antara tulisan-tulisan. Selain di buku, aku juga menggambarnya di meja dan bangku sekolahku dengan bolpoin atau tipe-x, tetapi gambar itu tidak bertahan lama. Aku mengeriknya dengan silet karena ibu guru tidak suka gambar layang-layang itu. Gambar itu merusak keindahan, katanya. Dan keindahan yang sudah aku rusak itu harus aku ganti dengan mengelap seluruh kaca jendela di kelasku.

Aku melepas seragam sekolahku, menyelipkan salah satu buku tulis di celana pendekku, mengambil sepeda, kemudian mengayuh ke rumah ayah: orang yang di dalam peraturan, yang ditegakkan oleh ibu sebulan setengah yang lalu itu, tidak boleh aku temui sampai kapan pun. Pikirku, ’kalau aku selalu berhati-hati, tidak membuka mulut kepada siapa pun, dan tepat dalam memilih waktu—misalnya ketika ibu sedang tidur siang seperti sekarang ini, aku pasti selamat dari sabetan.’

Aku sampai di depan pintu rumah ayah setelah hampir tiga kilometer aku mengayuh. Sambil mengatur napas, kusandarkan sepedaku di tiang teras. Di dalam rumah, aku melihat ayah tidur di kursi panjang ruang tamu. Aku mendekatinya kemudian menggoncang-goncang tubuhnya. Dari dulu ayah memang sulit dibangunkan, beberapa kali ibu harus mengguyurnya dengan air. Setelah beberapa kali goncangan dan kupanggil-panggil di dekat telinganya, ia membuka mata.

”Yah, buatkan aku layang-layang!” kataku sambil masih mengatur napas.

Aku mengeluarkan buku tulis yang kuselipkan di celana pendekku dan menunjuk gambar layang-layang berbentuk manusia yang aku gambar di buku itu. ”Seperti ini, Yah!”

”Kamu ke sini dengan siapa?” tanya ayah, ”kamu tidak takut ketahuan ibumu?”

”Dia tidur, Yah. Ibu tidak akan tahu kalau ayah tidak bilang kepadanya,” jawabku.

”Bagaimana kalau ibumu sudah bangun sebelum kamu pulang?” tanyanya lagi.

”Itu urusanku, Yah. Urusan ayah hanya membuatkanku layang-layang seperti ini,” jari telunjukku masih menempel di buku tulisku—tepat di gambar layang-layang berbentuk manusia. ”Aku akan pulang sekarang, besok aku ke sini lagi dan layang-layang itu harus sudah jadi dan aku akan menerbangkannya bersama ayah seperti teman-teman sekolahku yang menerbangkan layang-layangnya bersama ayah mereka.” Aku meninggalkan buku tulis itu di rumah ayah dan aku pulang.

Menyebalkan. Ayah membuat layang-layang lama sekali. Mungkin ibu mengusir ayah dari rumah, selain karena dia rayap, mungkin juga karena dia lamban. Besoknya aku ke rumah ayah lagi tetapi layang-layangnya belum jadi. Ayah bilang, ”Besok siang kamu ke sini lagi, pasti sudah jadi.” Aku ke rumah ayah lagi besoknya, belum jadi juga. Layang-layang itu baru jadi di hari keempat. Aku harus mengayuh sepeda ke rumah ayah selama empat hari berturut-turut.

Seumur-umur dia tidak pernah membuat layang-layang, katanya, lebih-lebih layang-layang manusia, sehingga butuh waktu empat hari.

”Sepanjang hari selama empat hari ini Ayah sudah bekerja keras seperti seorang tukang yang menerjemahkan gambar dari arsitek, namun gambar layang-layangmu terlalu rumit, Nak, dan Ayah sulit mewujudkannya menjadi layang-layang,” keluhnya.

Aku menggambar layang-layang itu satu halaman penuh di buku tulis, benar-benar seperti manusia: tangan kanannya mengepal di pinggir kepala–seperti orang yang sedang memekikkan kata ”merdeka!” dan tangan kirinya berkacak pinggang. Berbeda dengan gambarku, layang-layang yang dibuat ayah kedua tangannya berkacak pinggang, tubuhnya pipih, dan kepalanya kotak.

”Tidak ada manusia pipih dan berkepala kotak, Yah,” protesku sambil berjalan mendekat ke layang-layang yang dicantolkan di paku di dinding. Kuturunkan manusia pipih setinggi ayah itu. Sekujur tubuhnya berwarna merah dari kertas minyak.

”Itu bentuk yang paling mudah terbang, Nak,” kata ayah. ”Layang-layang seperti gambarmu itu sulit terbang, dan bukan layang-layang kalau dia tidak terbang,” jelasnya.

”Seharusnya Ayah membuat layang-layang persis seperti gambarku dan Ayah harus membuatnya terbang.”

”Butuh waktu satu bulan untuk membuat layang-layang seperti yang kau gambar, Nak. Setiap siang selama satu bulan kau harus diam-diam meninggalkan rumah, lama-lama ibumu akan tahu,” kata Ayah.

Manusia merah pipih berkepala kotak kami terbangkan sore itu. Kami menerbangkannya di jalan di depan rumah Ayah. Tangan kananku memegangi pantatnya dan tangan kiriku memegangi tali gocinya. Ayah berjalan menjauh dariku merentangkan kenur hijau yang digulung pada dua bilah bambu sepanjang satu jengkal yang dipaku menyilang. Kira-kira sepuluh meter di depanku dia berhenti. Kami menunggu angin datang. Saat daun-daun mahoni di pinggir jalan mulai bergerak pelan, ayah memberi aba-aba. Pantat manusia merah pipih berkepala kotak itu kuangkat setinggi kepalaku. Setelah ayah menghitung sampai tiga, kulepaskan dia. Ayah berlari dan layang-layang melesat ke atas.

Setelah beberapa meter di atas kepala, manusia merah pipih berkepala kotak itu berbalik arah dan menukik ke bawah. Kenur hijaunya menebas ranting-ranting mahoni di pinggir jalan dan menggugurkan daun-daunnya. Kepala kotak itu membentur tanah dan peok dan wajahnya sobek. Ayah menambal wajahnya, memperbaiki bentuk kepalanya, dan menyetel ulang gocinya, kemudian kami mencoba lagi menerbangkannya. Sama, si kepala kotak itu menukik lagi. Kali ini kepalanya remuk, lehernya patah, dan tubuhnya compang-camping.

”Kepalanya sudah tidak tertolong lagi, Nak. Ayah gagal membuatkanmu layang-layang,” keluh ayah.

”Layang-layang harus terbang, Yah. Ayah membuat layang-layang, bukan hiasan dinding,” kataku,

”Ayah bilang, bentuk layang-layang seperti ini yang paling mudah terbang.”

”Ayo, Yah, buat dia terbang!”

Ayah memenggal kepala remuk itu. Menambal beberapa bagian tubuh yang compang-camping dan kami mencoba lagi menerbangkannya. Manusia pipih berwarna merah itu terbang tanpa kepala. Layang-layang manusia itu seperti enggan terbang. Ketika ayah sudah menghabiskan kenur di gulungannya, layang-layang itu hanya menjauh dari kami, tidak mau terbang tinggi. Tetapi aku bahagia sore itu, dan besok, aku bisa ikut bercerita ketika teman-teman di sekolah bercerita tentang sore hari yang menyenangkan bersama ayah mereka menerbangkan layang-layang.

***

Suwito Adi Prasetyo, Kelahiran Bojonegoro, 10 Oktober 1983. Penulis buku Aku Manusia dari Anak Manusia tahun 2017. Kepala Sekolah SDN Sumuragung I Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro

sumber : kompas.id, 30 Mar 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme