Kau diarak ke rumah Pak Kalebun dengan wajah lebam. Warga mencacimu dengan sumpah searapah. Beberapa saat kemudian, ibu dan paman datang. Melihatmu dengan kondisi tak berdaya di hadapan massa, kau seperti mengurap tahi ke wajah mereka. Bedebah!
“Apa yang telah kau lakukan?”
Plak!!
Gamparan tangan paman mendarat di pipi. Kau menunduk menahan perih di wajah dan hati, setelah paman bilang bahwa kau bukan keponakanya lagi. Air mata ibu mengucur. Deras. Melihat anaknya sendiri penuh lebam dan luka. Baju yang kau kenakan pun koyak-koyak. Darah segar menetes dari sudut bibirmu. Tiba-tiba, kau merasa bumi berputar. Kepalamu berdenyut-denyut sedang kau duduk dengan tangan terikat di halaman rumah Pak Kalebun, di bawah terik yang menyengat.
Paman beranjak meninggalkanmu. Punggungnya menjauh dan hilang dari pandangan. Ibu meronta ketika ditariknya, paksa. Dia mendengar pengakuan warga kalau kau telah membunuh seorang pemuda seusiamu.
Kau bukan keponakanku lagi!!
Kalimat itu terngiang-ngiang. Melebihi umpatan dan amarah warga. Paman tidak mengakuimu lagi sebagai bagian keluarga sedangkan ibu merasa malu walau dia tak tega melihat anaknya sendiri babak belur. Kau bertanya pada diri sendiri. Apakah membunuh seorang pemuda pengganggu tunangan orang lain itu salah? Dia bahkan berani menyentuh dan menyeretnya ke tempat sepi. Dia mau merenggut harga diri Mariani, tunanganmu. Mau diletakkan di mana harga dirimu sebagai seorang lelaki jika kau biarkan orang lain menodai gadis yang akan kau nikahi beberapa bulan lagi.
Ango’ pote mata etembang pote tolang.
Sebab itu, kau menantangnya beradu. Dia tidak membawa apa-apa sedang kau membawa celurit pusaka milik ayahmu. Celurit yang dia dapatkan dari salah seorang gurunya sebab pengabdiannya yang tulus. Pertarungan yang tidak sebanding terjadi. Tak butuh waktu lama, kau berhasil membacok dada dan kepalanya. Belum puas, area selangkang juga menjadi sasaran celurit yang berlumur darah itu.
“Mengapa kau membunuhnya?”
Kau tak menyahut. Dadamu bergolak. Warga tak tahu kalau lelaki itu kerap mengganggu tunanganmu. Baru pagi tadi, kau menguntitnya saat Mariani mau pergi ke pasar. Kau memergokinya saat dia menyekap mulut Mariani dan menggiringnya ke tempat yang sepi. Jauh dari jalan yang biasa dilalui orang-orang.
Kemudian, warga membawamu ke kantor polisi. Wajah mereka bagai api menjilat jerami. Aroma benci menguar dari mulut mereka sebab lelaki sebaya yang kau bunuh adalah anak seorang sesepuh kampung yang amat mereka segani. Kau tertawa ketir. Anak pemain sapi karapan atau anak sesepuh kampung, apa bedanya? Harga diri tak memandang siapa pun untuk dibela. Begitu pula celurit pusaka ayahmu. Sampai kau mengingat kembali masa kecil yang pernah ibumu ceritakan, saat turun tanah atau toron tana digelar di depan rumah, kau memilih mengambil tali tambang sapi karapan dan celurit daripada kitab suci, tasbih dan songkok yang tertata rapi di atas gaddang.
***
Kau menyiapkan bubur untuk anak-anak kecil yang kau undang pada turun tanah anakmu. Mereka akan datang sore nanti, ketika matahari mulai menurunkan suhu panasnya. Kau bersiap-siap sejak pagi. Bubur telah dituang dari wajan besar ke atas nampan. Tinggal mencampurnya dengan koin lima ratusan.* Dengan itu berharap rejeki sang anak akan lancar. Dan anak-anak yang memakan bubur itu pelan-pelan akan gembira setelah menemukan mulutnya tersumpal bubur berisi koin.
Kau mengambil gaddang. Di atasnya, kau tata rapi tasbih, kitab suci mini, songkok putih, jagung, cermin, sisir, pakaian, celana, sarung, uang seribu sampai sepuluh ribu, alat tulis dan dadamu bergetar saat suamimu meletakkan tambang sapi karapan beserta celurit mini bersisian dengan benda-benda lainnya.
“Untuk apa kau meletakkan tali tambang dan celurit di dalamnya?” tanyamu.
Suamimu tak menggubris. Dia mengambil rokok yang diletakkan di atas meja. Asapnya mengepul. Dia menyepuhnya dan berlalu. Meninggalkan aroma hampa sama seperti asap yang membumbung di udara. Kau mengikuti suamimu. Dia masuk ke kamar dan mencium anak lelaki usia dua tahun. Anak yang akan diberkati dengan tradisi warisan leluhur. Berharap dia menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi siapa saja utamanya bagi kedua orang tuanya.
“Mas, kau belum menjawab pertanyaanku!”
Anak pemain sapi karapan atau anak sesepuh kampung, apa bedanya? Harga diri tak memandang siapa pun untuk dibela. Begitu pula celurit pusaka ayahmu. Sampai kau mengingat kembali masa kecil yang pernah ibumu ceritakan, saat turun tanah atau toron tana digelar di depan rumah, kau memilih mengambil tali tambang sapi karapan dan celurit daripada kitab suci, tasbih dan songkok yang tertata rapi di atas gaddang.
Mata suamimu melotot. Kau bergidik melihatnya. Sejak kau menikah, belum pernah wajahnya semerah itu dengan mata membola sekalipun percekcokan kerap kali terjadi dalam rumah tangga kalian.
“Apa yang perlu kujelaskan padamu?”
Kau mendekat lalu menariknya keluar, khawatir anakmu terbangun dari tidur.
“Apa maksudmu meletakkan tali tambang dan celurit di atas gaddang, bersisian dengan benda-benda yang telah disarankan K. Samaon?”
“Itu tali biasa. Bukankah petani butuh tali dan celurit untuk hasil panen dan rumput bagi ternak mereka?”
“Tapi itu tali tambang sapi karapan. Dan celurit itu bukan celurit…”
“Diam!!” bentak suamimu. Kali ini kau berani menatap matanya. “Kau jangan ikut campur. Tetua kampung itu hanya menyarankan. Selebihnya kita yang menjalankan. Awas jika kau buang benda yang kuletakkan di atas gaddang itu!!” ancamnya dan beranjak masuk ke kamar.
Kau mengelus dada. Sebulir air mata menetes di pelupuk mata namun segera kau usap dengan punggung tangan. Sejak pertama kali menikah, kau sudah tidak suka dengan lelaki pilihan ayahmu itu. Tapi apa boleh buat, perempuan yang menolak pilihan orang tua akan terancam tidak laku. Tidak akan ada yang mau meminang apalagi mempersunting.
Saat ini, kau mengkhawatirkan turun tanah anakmu. Kau khawatir dia akan mengambil tali tambang karapan dan celurit. Kau tak mau dia memasuki dunia perpacuan sapi dan carok, kelak, ketika dia besar nanti. ** Bagimu, leluhur mewariskan tradisi bukan hanya sebagai corak suatu daerah yang dibanggakan, melainkan doa. Benda apa pun yang akan di ambil anakmu nantinya adalah pertanda akan jadi apa dia kelak.
Waktu yang ditunggu tiba. Setelah azan asar berkumandang, banyak anak-anak kecil berdatangan. Kau persilahkan mereka duduk bersila di atas tanah tanpa tikar. Di tengah-tengah mereka enam nampan besar berisi bubur koin sudah terhidang. Mereka duduk melingkar. Mereka diperbolehkan menyantapnya setelah anakmu mengambil benda-benda yang sudah disediakan di atas gaddang.
Kau keluar membawa gaddang itu dan suamimu mengikuti dari belakang sembari menggendong putera kesayangannya yang baru bisa duduk. Anak yang baru bisa duduk harus ditajinin melalui turun tanah.
Suamimu mendudukkannya di tanah, di depan gaddang. Dari kejauhan, tiga kerabatmu memegang sapu lidi yang akan dipecutkan pada anak-anak yang hadir setelah makan bubur sebagai harapan anak kalian kokoh ketika berdiri dan tidak tersandung ketika berjalan. Sebuah nilai agar ia kelak berada pada jalan yang lurus meski terjal. Dan semua itu membuatmu gelisah karena tali tambang dan celurit ada di dalamnya.
Suamimu memberi sambutan. Kemudian, sebagai tanda dimulainya acara, anakmu akan dikurung menggunakan kurungan ayam. Orang-orang berebut untuk melihat. Mereka menebak-nebak, kira-kira apa yang akan anak kalian ambil. Pertama, dia tertarik pada sisir. Orang-orang bertepuk tangan. Kalau anak perempuan yang mengambil sisir, itu pertanda dia suka kebersihan. Tapi, kalau anak laki-laki pertanda dia akan tumbuh sebagai orang yang cemerlang.
Kedua kalinya, anakmu ragu-ragu. Tangannya melayang-layang antara mengambil songkok, celurit dan tali tambang di sisinya. Tapi suamimu, dengan senyum kebanggaan, mengarahkan anak itu pada celurit dan tali tambang sapi karapan.
“Mas, apa yang kamu lakukan!” bentakmu sembari membuka kurungan itu. Kau membuang celurit dan tali tambang sapi karapan itu ke tanah.
“Kenapa kau mengahalanginya. Dia mengambil sendiri!”
“Aku tidak buta. Kau menuntunnya mengambil celurit dan tali tambang itu. Apa kau ingin menggariskan nasibnya di tanganmu? Apa kau ingin dia hidup dalam dunia perpacuan sapi dan carok sepertimu?”
Plak…
Tangan suamimu mendarat di pipi. Kau menangis. Kerabat serta beberapa orang coba melerai kalian. Di kampung ini, suamimu terkenal sebagai bajing atau preman kampung yang menjaga keamanan kampung ini. Tak ada yang berani melawannya dengan celurit pusaka yang dimilikinya.
“Jaga bicaramu. Itu tradisi. Carok tidak seperti yang kau bayangkan. Itu pembelaan kehormatan!!”
“Kehormatan? Apa membunuh merupakan sebuah kehormatan? Sejak kapan? Itu penistaan diri manusia atas kuasa Tuhan!!”
Kau beranjak ke dalam setelah mengambil anakmu yang sekarang menangis dalam pelukan. Kau mengunci diri di dalam kamar. Di luar, suamimu menggedor pintu namun tak kau hiraukan. Kau menciumi pipi anakmu. Penuh kasih sayang sembari berharap garis tangannya tidak seperti yang didinginkan ayahnya.
***
Kau pikir perceraianmu dengan suamimu tak akan meninggalkan apa-apa. Meski sekarang kau berhasil mendidik anakmu jauh dari dunia perpacuan sapi, entah darimana dia memperoleh celurit itu. Celurit yang membinasakan tuannya sendiri.
***
Moh Tsabit Husain merupakan santri di Pondok Pesantren Annuqayah asal Bukabu, Ambunten, Kabupaten Sumenep, Jawa TImur. Kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) . Aktif di KCN Lubselia dan Pendamping bilik F/12 Lubangsa.
***
Catatan:
– Ango’ pote mata etembang pote tolang = peribahasa Madura; lebih baik putih mata daripada putih tulang.
– Pak Kalebun = kepala desa
– Gaddang = sejenis nampan yang terbuat dari rotan
– Tinggal mencampurnya dengan koin lima ratusan (*) = sekarang, koin itu tidak diletakkan dalam bubur lagi. Khawatir akan tertelan jika anak-anak memakannya.
– Kau tak mau dia memasuki dunia perpacuan sapi dan carok, kelak, ketika dia besar nanti (**)= dalam novel Damar Kambang karya Muna Masyari diceritakan bahwa perpacuan sapi disertai taruhan seisi rumah termasuk orang-orangnya. Namun sekarang, hal seperti itu sudah tidak ada lagi.
sumber : kompas.id, 08 Apr 2023.