Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Turun Tanah oleh Moh. Tsabit Husain

Posted on Sab, 08 Apr 2023

Kau diarak ke rumah Pak Kalebun dengan wajah lebam. Warga mencacimu dengan sumpah searapah. Beberapa saat kemudian, ibu dan paman datang. Melihatmu dengan kondisi tak berdaya di hadapan massa, kau seperti mengurap tahi ke wajah mereka. Bedebah!

“Apa yang telah kau lakukan?”

Plak!!

Gamparan tangan paman mendarat di pipi. Kau menunduk menahan perih di wajah dan hati, setelah paman bilang bahwa kau bukan keponakanya lagi. Air mata ibu mengucur. Deras. Melihat anaknya sendiri penuh lebam dan luka. Baju yang kau kenakan pun koyak-koyak. Darah segar menetes dari sudut bibirmu. Tiba-tiba, kau merasa bumi berputar. Kepalamu berdenyut-denyut sedang kau duduk dengan tangan terikat di halaman rumah Pak Kalebun, di bawah terik yang menyengat.

Paman beranjak meninggalkanmu. Punggungnya menjauh dan hilang dari pandangan. Ibu meronta ketika ditariknya, paksa. Dia mendengar pengakuan warga kalau kau telah membunuh seorang pemuda seusiamu.

Kau bukan keponakanku lagi!!

Kalimat itu terngiang-ngiang. Melebihi umpatan dan amarah warga. Paman tidak mengakuimu lagi sebagai bagian keluarga sedangkan ibu merasa malu walau dia tak tega melihat anaknya sendiri babak belur. Kau bertanya pada diri sendiri. Apakah membunuh seorang pemuda pengganggu tunangan orang lain itu salah? Dia bahkan berani menyentuh dan menyeretnya ke tempat sepi. Dia mau merenggut harga diri Mariani, tunanganmu. Mau diletakkan di mana harga dirimu sebagai seorang lelaki jika kau biarkan orang lain menodai gadis yang akan kau nikahi beberapa bulan lagi.

Ango’ pote mata etembang pote tolang.

Sebab itu, kau menantangnya beradu. Dia tidak membawa apa-apa sedang kau membawa celurit pusaka milik ayahmu. Celurit yang dia dapatkan dari salah seorang gurunya sebab pengabdiannya yang tulus. Pertarungan yang tidak sebanding terjadi. Tak butuh waktu lama, kau berhasil membacok dada dan kepalanya. Belum puas, area selangkang juga menjadi sasaran celurit yang berlumur darah itu.

“Mengapa kau membunuhnya?”

Kau tak menyahut. Dadamu bergolak. Warga tak tahu kalau lelaki itu kerap mengganggu tunanganmu. Baru pagi tadi, kau menguntitnya saat Mariani mau pergi ke pasar. Kau memergokinya saat dia menyekap mulut Mariani dan menggiringnya ke tempat yang sepi. Jauh dari jalan yang biasa dilalui orang-orang.

Kemudian, warga membawamu ke kantor polisi. Wajah mereka bagai api menjilat jerami. Aroma benci menguar dari mulut mereka sebab lelaki sebaya yang kau bunuh adalah anak seorang sesepuh kampung yang amat mereka segani. Kau tertawa ketir. Anak pemain sapi karapan atau anak sesepuh kampung, apa bedanya? Harga diri tak memandang siapa pun untuk dibela. Begitu pula celurit pusaka ayahmu. Sampai kau mengingat kembali masa kecil yang pernah ibumu ceritakan, saat turun tanah atau toron tana digelar di depan rumah, kau memilih mengambil tali tambang sapi karapan dan celurit daripada kitab suci, tasbih dan songkok yang tertata rapi di atas gaddang.

***

Kau menyiapkan bubur untuk anak-anak kecil yang kau undang pada turun tanah anakmu. Mereka akan datang sore nanti, ketika matahari mulai menurunkan suhu panasnya. Kau bersiap-siap sejak pagi. Bubur telah dituang dari wajan besar ke atas nampan. Tinggal mencampurnya dengan koin lima ratusan.* Dengan itu berharap rejeki sang anak akan lancar. Dan anak-anak yang memakan bubur itu pelan-pelan akan gembira setelah menemukan mulutnya tersumpal bubur berisi koin.

Kau mengambil gaddang. Di atasnya, kau tata rapi tasbih, kitab suci mini, songkok putih, jagung, cermin, sisir, pakaian, celana, sarung, uang seribu sampai sepuluh ribu, alat tulis dan dadamu bergetar saat suamimu meletakkan tambang sapi karapan beserta celurit mini bersisian dengan benda-benda lainnya.

“Untuk apa kau meletakkan tali tambang dan celurit di dalamnya?” tanyamu.

Suamimu tak menggubris. Dia mengambil rokok yang diletakkan di atas meja. Asapnya mengepul. Dia menyepuhnya dan berlalu. Meninggalkan aroma hampa sama seperti asap yang membumbung di udara. Kau mengikuti suamimu. Dia masuk ke kamar dan mencium anak lelaki usia dua tahun. Anak yang akan diberkati dengan tradisi warisan leluhur. Berharap dia menjadi anak yang berbakti dan bermanfaat bagi siapa saja utamanya bagi kedua orang tuanya.

“Mas, kau belum menjawab pertanyaanku!”

Anak pemain sapi karapan atau anak sesepuh kampung, apa bedanya? Harga diri tak memandang siapa pun untuk dibela. Begitu pula celurit pusaka ayahmu. Sampai kau mengingat kembali masa kecil yang pernah ibumu ceritakan, saat turun tanah atau toron tana digelar di depan rumah, kau memilih mengambil tali tambang sapi karapan dan celurit daripada kitab suci, tasbih dan songkok yang tertata rapi di atas gaddang.

Mata suamimu melotot. Kau bergidik melihatnya. Sejak kau menikah, belum pernah wajahnya semerah itu dengan mata membola sekalipun percekcokan kerap kali terjadi dalam rumah tangga kalian.

“Apa yang perlu kujelaskan padamu?”

Kau mendekat lalu menariknya keluar, khawatir anakmu terbangun dari tidur.

“Apa maksudmu meletakkan tali tambang dan celurit di atas gaddang, bersisian dengan benda-benda yang telah disarankan K. Samaon?”

“Itu tali biasa. Bukankah petani butuh tali dan celurit untuk hasil panen dan rumput bagi ternak mereka?”

“Tapi itu tali tambang sapi karapan. Dan celurit itu bukan celurit…”

“Diam!!” bentak suamimu. Kali ini kau berani menatap matanya. “Kau jangan ikut campur. Tetua kampung itu hanya menyarankan. Selebihnya kita yang menjalankan. Awas jika kau buang benda yang kuletakkan di atas gaddang itu!!” ancamnya dan beranjak masuk ke kamar.

Kau mengelus dada. Sebulir air mata menetes di pelupuk mata namun segera kau usap dengan punggung tangan. Sejak pertama kali menikah, kau sudah tidak suka dengan lelaki pilihan ayahmu itu. Tapi apa boleh buat, perempuan yang menolak pilihan orang tua akan terancam tidak laku. Tidak akan ada yang mau meminang apalagi mempersunting.

Saat ini, kau mengkhawatirkan turun tanah anakmu. Kau khawatir dia akan mengambil tali tambang karapan dan celurit. Kau tak mau dia memasuki dunia perpacuan sapi dan carok, kelak, ketika dia besar nanti. ** Bagimu, leluhur mewariskan tradisi bukan hanya sebagai corak suatu daerah yang dibanggakan, melainkan doa. Benda apa pun yang akan di ambil anakmu nantinya adalah pertanda akan jadi apa dia kelak.

Waktu yang ditunggu tiba. Setelah azan asar berkumandang, banyak anak-anak kecil berdatangan. Kau persilahkan mereka duduk bersila di atas tanah tanpa tikar. Di tengah-tengah mereka enam nampan besar berisi bubur koin sudah terhidang. Mereka duduk melingkar. Mereka diperbolehkan menyantapnya setelah anakmu mengambil benda-benda yang sudah disediakan di atas gaddang.

Kau keluar membawa gaddang itu dan suamimu mengikuti dari belakang sembari menggendong putera kesayangannya yang baru bisa duduk. Anak yang baru bisa duduk harus ditajinin melalui turun tanah.

Suamimu mendudukkannya di tanah, di depan gaddang. Dari kejauhan, tiga kerabatmu memegang sapu lidi yang akan dipecutkan pada anak-anak yang hadir setelah makan bubur sebagai harapan anak kalian kokoh ketika berdiri dan tidak tersandung ketika berjalan. Sebuah nilai agar ia kelak berada pada jalan yang lurus meski terjal. Dan semua itu membuatmu gelisah karena tali tambang dan celurit ada di dalamnya.

Suamimu memberi sambutan. Kemudian, sebagai tanda dimulainya acara, anakmu akan dikurung menggunakan kurungan ayam. Orang-orang berebut untuk melihat. Mereka menebak-nebak, kira-kira apa yang akan anak kalian ambil. Pertama, dia tertarik pada sisir. Orang-orang bertepuk tangan. Kalau anak perempuan yang mengambil sisir, itu pertanda dia suka kebersihan. Tapi, kalau anak laki-laki pertanda dia akan tumbuh sebagai orang yang cemerlang.

Kedua kalinya, anakmu ragu-ragu. Tangannya melayang-layang antara mengambil songkok, celurit dan tali tambang di sisinya. Tapi suamimu, dengan senyum kebanggaan, mengarahkan anak itu pada celurit dan tali tambang sapi karapan.

“Mas, apa yang kamu lakukan!” bentakmu sembari membuka kurungan itu. Kau membuang celurit dan tali tambang sapi karapan itu ke tanah.

“Kenapa kau mengahalanginya. Dia mengambil sendiri!”

“Aku tidak buta. Kau menuntunnya mengambil celurit dan tali tambang itu. Apa kau ingin menggariskan nasibnya di tanganmu? Apa kau ingin dia hidup dalam dunia perpacuan sapi dan carok sepertimu?”

Plak…

Tangan suamimu mendarat di pipi. Kau menangis. Kerabat serta beberapa orang coba melerai kalian. Di kampung ini, suamimu terkenal sebagai bajing atau preman kampung yang menjaga keamanan kampung ini. Tak ada yang berani melawannya dengan celurit pusaka yang dimilikinya.

“Jaga bicaramu. Itu tradisi. Carok tidak seperti yang kau bayangkan. Itu pembelaan kehormatan!!”

“Kehormatan? Apa membunuh merupakan sebuah kehormatan? Sejak kapan? Itu penistaan diri manusia atas kuasa Tuhan!!”

Kau beranjak ke dalam setelah mengambil anakmu yang sekarang menangis dalam pelukan. Kau mengunci diri di dalam kamar. Di luar, suamimu menggedor pintu namun tak kau hiraukan. Kau menciumi pipi anakmu. Penuh kasih sayang sembari berharap garis tangannya tidak seperti yang didinginkan ayahnya.

***

Kau pikir perceraianmu dengan suamimu tak akan meninggalkan apa-apa. Meski sekarang kau berhasil mendidik anakmu jauh dari dunia perpacuan sapi, entah darimana dia memperoleh celurit itu. Celurit yang membinasakan tuannya sendiri.

***

Moh Tsabit Husain merupakan santri di Pondok Pesantren Annuqayah asal Bukabu, Ambunten, Kabupaten Sumenep, Jawa TImur. Kuliah di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) . Aktif di KCN Lubselia dan Pendamping bilik F/12 Lubangsa.

***

Catatan:

– Ango’ pote mata etembang pote tolang = peribahasa Madura; lebih baik putih mata daripada putih tulang.

– Pak Kalebun = kepala desa

– Gaddang = sejenis nampan yang terbuat dari rotan

– Tinggal mencampurnya dengan koin lima ratusan (*) = sekarang, koin itu tidak diletakkan dalam bubur lagi. Khawatir akan tertelan jika anak-anak memakannya.

– Kau tak mau dia memasuki dunia perpacuan sapi dan carok, kelak, ketika dia besar nanti (**)= dalam novel Damar Kambang karya Muna Masyari diceritakan bahwa perpacuan sapi disertai taruhan seisi rumah termasuk orang-orangnya. Namun sekarang, hal seperti itu sudah tidak ada lagi.

sumber : kompas.id, 08 Apr 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme