Sepasang orangtua itu, Brata dan Lenna, keluar dari mulut hutan. Mereka lantas berjalan pelan menuju rumahnya yang nun jauh di sebelah utara. Dua kantong plastik berisi buah berbentuk polong dengan hati-hati dijinjing. Satu di tangan Brata, satu di tangan Lenna.
Setelah berjalan sekitar satu jam mereka sampai di rumahnya, sebuah bangunan kuno berukuran besar dan lusuh. Mereka lalu merayap menuju tepian halaman luas, yang terposisi di bagian tengah rumah yang beratap langit.
Di tepian halaman itu Brata menumpahkan isi kantong-kantong plastik buah polong itu ke atas meja. Lenna bersigap. Ia segera mengambil baskom, dan menaruh puluhan buah polong itu ke dalamnya. ”Lelaki dari dulu begitu. Selalu maunya berantakan,” katanya. Brata tertawa, sambil mengalihkan percakapan.
”Kapten Arie Smit pintar merancang rumah ini. Bagian tengahnya dibikin lapang tanpa bangunan, sehingga matahari tropis bisa langsung menghambur ke sini. Lihatlah dari ketinggian, rumah ini manis membentuk huruf O.”
”Rumah ini bukan Smit yang merancang, tapi Wolff Schoemaker, tahu! Vergeetachtige oude man! (Dasar pak tua pelupa!),” tukas Lenna.
Mereka bersama tertawa.
Buah polong pohon trembesi dari hutan itu lalu dikupas kulitnya dan dikumpulkan dalam satu wadah. Untuk kemudian pada suatu hari digoreng. Hasil gorengannya dikemas dalam bungkus-bungkus kecil, dan dijual ke beberapa kedai. Dua orang tua itu mengerjakan semuanya dengan rasa gembira saja. Mereka tak ingin mengingat riwayat keterpurukan yang pernah dialaminya.
Dulu Brata dan Lenna adalah suami-istri yang tak berkekurangan. Mereka bekerja baik-baik di perusahaan milik pemerintah Belanda. Namun ketika diketahui Brata dan Lenna berdekat-dekat dengan para nasionalis pejuang kemerdekaan, mereka diberhentikan dari pekerjaannya. Bahkan rumah kecil mereka di kota juga disita. Untung ada seorang aannemer Belanda yang berbaik hati. Pemborong itu menawarkan rumah tua tak terurus, dan konon berhantu, di sehampar desa. Lalu, selama bertahun-tahun Brata dan Lenna bermukim di sana, dengan meniti hidup sebisanya.
Siang itu mereka asyik mengupas polong, dan mengeluarkan biji-bijinya. Dalam keheningan yang bahagia mereka tiba-tiba mendengar ada suara mendengung keras dari kejauhan. Suara itu lantas terdengar semakin mendekat dengan deru menyeramkan.
”Hantukah itu?” tanya Lenna.
Belum sampai Brata menjawab, tiba-tiba terdengar suara ledakan-ledakan hebat. Suara itu sebentar menjauh, sebentar kemudian datang lagi. Dan debam-debum ledakan terdengar lagi. Mereka berdua terkejut bukan main. Biji-biji yang mereka keluarkan dari kulit berhamburan ke lantai dan tanah halaman tengah rumahnya.
”Siap! Berlindung! Pesawat Jepang menyerang dengan gila! Bom-bom dijatuhkan di wilayah kita!” teriak warga desa yang berhamburan.
Peristiwa yang sungguh bikin keder. Kalender yang tergantung di rumah tua itu menunjuk bulan April 1942.
*
Karena dikabarkan bahwa rumahnya akan direbut oleh tentara Jepang, Brata dan Lenna lantas pergi meninggalkan kediamannya. Dan mereka mengungsi ke suatu tempat yang tak tentu rimbanya.
Tiga setengah tahun kemudian, setelah Jepang hengkang, mereka kembali ke rumah itu. Mereka melihat betapa rumah semakin lusuh dan bahkan menyeramkan, tanda bahwa tidak pernah dihuni. Dari situ mereka memperoleh berita bahwa ternyata rumah tersebut memang tak pernah ada yang menempati. Takut hantu? Mungkin begitu. Namun yang paling mencengangkan adalah ketika mereka melihat: ada pohon yang tumbuh di halaman luas di tengah rumahnya. Pohon tersebut terlihat artistik dahan dan rantingnya, subur dedaunannya dan gagah benar berdirinya.
”Aku pastikan, pohon ini tumbuh dari biji trembesi yang tercecer dulu. Waktu kita kaget saat pesawat Jepang menyerbu!” kata Brata.
Mereka lalu kembali bermukim di rumah itu. Pohon trembesi tersebut dibiarkan terus tumbuh dengan rindang. Semakin hari semakin meninggi. Bertambah bulan bertambah pula rimbunnya. Akar-akar pohon yang merambat di beberapa sisi lantai dibiarkan saja.
Waktu terus beringsut. Ketika Brata dan Lenna menua, pohon itu menjulang dengan ketinggian melebihi atap rumah. Semakin bertambah tahun, semakin meninggi dan melebar dahan dan rantingnya. Sehingga rumah tersebut bagai bangunan yang berpayung daun.
”Surealis…rumah beranak pohon,” sebut seorang penduduk desa yang menatap pemandangan itu. Bukan, ”Pohon pelindung rumah,” kata warga satunya. Brata tersenyum mendengar julukan yang aneh-aneh itu. ”Kalau kami berdua menyebut ini adalah Rumah Trembesi,” kata Brata. Semua yang mendengar setuju saja.
Dalam kesempatan itu Brata dan Lenna berpesan: apabila mereka berdua meninggal dunia, rumah dan pohon itu diharap dipelihara oleh penduduk desa. Ini rumah bahagia. Ini rumah yang dianugerahi keajaiban semesta, katanya. Lalu, jika ada surat tanah dan bangunan yang perlu diurus, mereka telah menyiapkan biayanya dari uang tabungan. ”Kami tidak memiliki anak. Anak kami adalah rumah dan pohon ini.”
*
Syahdan setelah Lenna meninggal dunia, dan empat bulan kemudian disusul Brata, pohon itu sudah tumbuh begitu besar. Bentuknya seperti payung raksasa, sehingga rumah di bawahnya nampak bagai rumah liliput belaka. Dalam terik siang sang trembesi hadir seperti sesosok dewa yang sedang turun ke bumi. Dalam hujan sang trembesi serta merta menjelma jadi malaikat langit, pengendali rintik dan penangkap petir yang kesasar. Pada malam hari, di bawah cahaya rembulan, trembesi raksasa itu bagai siluet Sang Empunya Dunia. Lalu rumah dan pohon itu dengan bersungguh-sungguh diurus oleh warga desa.
Atas rumah trembesi tersebut Lurah setempat memiliki ide cemerlang. Ia mengumumkan ke warga wilayah lain bahwa di desanya ada pemandangan ajaib. Semuanya boleh menonton dan memasuki rumah itu, tapi harus membayar tiket terlebih dahulu. Seperti yang diduga, warga berbagai wilayah berdatangan. Mereka mengantre untuk melihat dari jauh, dan lantas berkhidmat masuk ke rumah, menatap takjub pohon raksasa itu.
Kepopuleran rumah trembesi semakin bergema. Bahkan ada yang menyebarkan kabar hoax bahwa pohon itu memiliki kehebatan: bisa memberi apa yang kita minta. Dari uang, jodoh, istri baru, sampai cara taktis melanggengkan kekuasaan. Alhasil, semakin banyak saja orang yang mengunjungi. Bahkan, orang-orang yang tadinya hanya percaya kepada Mbah Tedjo, si dukun kebal dari Situbondo, ramai-ramai beralih dan bersujud meminta-minta di bawah pohon itu. Koran-koran mengeksposnya dalam headline. Sebuah harian bertanggal 21 Agustus 2005 menulis dalam judul: Pohon Lebih Layak Dipercaya Dibanding Manusia.
Untuk menjaga kelestariannya, Lurah memerintahkan warga untuk membuat pagar kuat di sekitar situ. Sementara pintu masuk posisinya diperhitungkan cermat, agar tak sembarang orang bisa lewat. Dan di sekitar lokasi lantas terpasang papan logam bertuliskan: Cagar Desa Rumah Trembesi – Lokasi Wisata Keajaiban.
Lebih dari 100 tahun pohon itu berdiri. Tinggi pohon itu sudah setara dengan bangunan bertingkat 17. Sedangkan kelebaran gerumbul daunnya yang ijo royo-royo membentang lebih dari 80 meter. Sehingga rumah kuno di bawahnya terlihat bagai kotak korek api mini. Memasuki milenium ketiga kepopuleran rumah trembesi sudah tidak terperi. Suatu kenyataan yang memikat wisatawan nasional dan internasional untuk berkunjung. Apalagi pemandangan di sekitar rumah itu indah, dengan lereng-lereng bukit yang dihampari permadani tanaman teh. Diimbuh sungai bening, berbatu-batu dan dangkal, yang gemericiknya terdengar musikal. Ya, jika tidak indah, mana mau Kapten Arie Smit memilih lokasi itu?
Keramaian kunjungan wisatawan ini merangsang warga desa membuat rumah kecil di sekitar situ untuk disewakan kepada pengunjung yang berminat menginap. Usaha ini menstimulasi sejumlah orang kota untuk membuat aneka motel. Lalu kedai-kedai kopi dan aneka warung dibuka. selanjutnya restoran, cafe dan semacamnya muncul mentereng di sana-sini. Tempat parkir luas dibikin dengan menggusur lahan perkebunan. Untuk menguatkan persaingan antar pengusaha fasilitas wisata, para preman banyak direkrut.
Waktu terus beringsut. Ketika Brata dan Lenna menua, pohon itu menjulang dengan ketinggian melebihi atap rumah. Semakin bertambah tahun, semakin meninggi dan melebar dahan dan rantingnya. Sehingga rumah tersebut bagai bangunan yang berpayung daun.
Wisata rumah trembesi, yang kemudian berubah sebutan dengan Wisata Pohon Kemustahilan, memang mengundang ribuan tamu. Dengan begitu, melahirkan para pemandu. Tak sedikit pemandu yang mengarang cerita semau-mau, asal wisatawan takjub. Tapi ada juga yang berusaha referensial dalam berkata-kata.
”Trembesi ajaib ini bisa jadi saingan Dragon Tree di Pulau Canary! Tandingan pohon aneh Silk Cotton Tree di Seam Ream, Kamboja! Tak kalah cantik dibanding pohon baobab di Madagaskar sana! Kalau trembesi biasa saja bisa berusia limaratus tahun, kita boleh yakin, trembesi ini bisa seribu tahun. O ya, pohon dahsyat ini bisa menyerap karbondioksida, lho. Itu racun di udara! Juga memiliki buah yang gurih dan berkhasiat untuk kesehatan,” tutur seorang pemandu dengan menggebu.
Di sudut beda pemandu lain berkata: ”Layak diketahui, pohon trembesi ini bernama Latin Samanea Saman. Sementara di Indonesia dipanggil Pohon Ki Hujan. Kenapa panggilan ini muncul? Karena bagian-bagian pohon itu sering meneteskan air, dan jatuh seperti gerimis, bahkan seperti hujan. Indah kan? Ini lantaran kemampuan hebat akar-akar pohon dalam menyerap air tanah. Bapak dan Ibu sekalian, ini sungguh pohon kehidupan. Oleh sebab itu, setelah melihat Pohon Kemustahilan ini, baik apabila kita mulai menanam trembesi di rumah kita masing-masing. Atau di kampung kita masing-masing!”
Namun, keramaian wisata itu membawa akibat. Persaingan antar pengelola fasilitas wisata semakin hari semakin meruncing. Tukang parkir berseteru berebut pengunjung. Para restowan dan kedaiwan bersengketa berebut rejeki. Para preman maju perang membela masing-masing tuan. Bahkan ada kedai yang dibakar. Ada resto yang dirusak, dan mobil pemilik motel yang dicongkel. Urusan pohon ayal menjadi masalah sosial. Ketika Lurah puyeng dan Camat mengaku bingung. Bupati yang terkenal pendek pikiran segera turun tangan. Maka pada suatu siang si Bupati—yang terkenal sebagai mantan pegawai pajak nan mahakaya—meluruk ke lapangan.
”Saudara-saudara, saya Bupati Harun Rapal Tubodo! Dengarkan ya, kejadian ini sudah memusingkan dan berkepanjangan. Oleh karena itu harus diambil keputusan: apabila semua sengketa tidak bisa diredam, saya akan memusnahkan sumber dari keresahan ini. Rumah itu akan saya robohkan! Pohon itu akan saya tumbangkan! Sehingga kalian bisa kembali ke tempat masing-masing, tanpa sakit hati, tanpa umpatan!” seru Bupati sambil memoncongkan toa. Di belakangnya tampak delapan traktor peruntuh rumah. Juga belasan mesin penggergaji pohon, dengan dikawal selusin motor gede yang berdentam-dentam bunyi knalpotnya.
Belum selesai Bupati Harun bicara, mereka yang bersengketa kembali berhantam-hantaman. Preman yang disiapkan segera berkelebat dengan senjata tajam dan pentungan. Para pemilik kedai, resto dan penginapan saling menuding dan memaki. Bupati sungguh gusar. Ia segera memberi aba-aba. Lalu rombongan traktor dan mesin penggergaji itu terlihat bergerak menuju pusat lokasi Wisata Pohon Kemustahilan. Suaranya sangat mirip dengan dengung pesawat pembom Jepang!
Rumah itu dihancurkan, dan trembesi raksasa itu ditubruk-tubruk traktor dan berusaha dipangkas habis-habisan. Rumah rata tanah sudah! Tapi trembesi tetap berdiri perkasa tanpa sedikit pun terluka. Batangnya yang besar bergeming. Dahan dan rantingnya meregang keras bagai baja. Sepuluh mesin penumpas tampak lumpuh dan terbakar. Sedangkan berpuluh-puluh gergajinya berkeping-keping berpatahan. Ketika sisa-sisa mesin pemusnah berusaha mengorak pohon, puluhan juta helai daun trembesi mengibas langit. Dan hujan segera turun dengan derasnya. ”Apa salah saya, hai manusia!” Terdengar gemuruh suara ganjil di udara.
Siang yang terik dan terang benderang itu mendadak menghitam. Di salah satu sisi lokasi, wartawan National Geographic serius merekam semua kejadian.
Kelapa Gading, 2023.
***
Agus Dermawan T
Kritikus seni rupa. Penulis puluhan buku kebudayaan dan seni. Menulis puisi dan cerpen. Kumpulan cerpennya, Odong-odong Negeri Sulap terbit pada November 2022.
sumber : kompas.id, 15 Apr 2023.