Entah sudah berapa kali warna bak belakang truk itu berubah warna sesuai kalimat yang terpampang padanya. Kata-kata lucu itu tak lahir dari keisengan belaka. Selalu ada kejadian besar—menghebohkan, atau minimal unik, yang melahirkannya. Tentu saja aku masih ingat beberapa. Misal saja ”Melupakan Ibadah Itu Neraka, Melupakan Orang Tua Itu Durhaka, Melupakanmu Mana Bisa?” yang diberi latar belakang warna putih. Kalimat itu lahir untuk menyindir keluarga besar Mbah Tedjo yang memiliki lima anak, namun semuanya saling menghindar saat diminta merawat orang tuanya yang mulai uzur.
Ada lagi kasus yang sampai berjilid-jilid dan bikin heboh satu kampung. Yaitu saat kepala desa kami—yang sebetulnya sudah dikenal sebagai thukmis, ”berhasil” menggaet istri Kang Opi, tetangga kami. Kasus itu lantas menjadi menu pembicaraan banyak orang, dari setiap kerumunan di sekeliling tukang sayur, para guru di sekolahan, sampai jagongan di masjid. Banyak yang menyalahkan Kang Opi mengapa bisa sampai kalah oleh lelaki yang sudah mencicipi tiga perempuan. Ada pula yang menyalahkan Minah—mengapa bisa sampai jatuh ke dalam mulut buaya.
”Sampai mual dan bosan dengerinnya. Masak di mana ada kerumunan, gosipnya ituuu mulu,” ujar Ibuk, yang langsung menyemprot Bapak begitu menyinggung soal ulah Pak Kades. Akhirnya, Bapak pun berinisiatif membuat ”Daripada Mengangkut Istri Orang, Lebih Baik Mengangkut Batu Satu Dam” dengan warna latar belakang merah nyala, yang tiga bulan kemudian diubah lagi menjadi ”Ora Usah Dolanan Barang Nylempit, Enak’e Sak Menit Rekasane Sundul Langit” saat akhirnya Pak Kades terbukti melakukan penyelewengan dana desa. ”Legaaa…,” kata Bapak, seolah telah mengeluarkan banyak unek-unek yang memenuhi dada.
Kreativitas Bapak bukannya tak pernah menimbulkan masalah. Mbah Penceng—orangtua Pak Kades, sempat melabrak Bapak lantaran merasa malu dan tersinggung atas kata-kata di bak truk bagian belakang itu. ”Apa kamu bangga, kalau nama kadesmu tercoreng sampai di mana-mana?!” luapnya. Tentu saja aku dan Ibuk ketakutan. Kata Ibuk, meskipun tahu keluarga orang tua itu banyak melakukan keburukan, tapi memiliki banyak pengikut di desa lantaran memiliki banyak jenis usaha dengan puluhan pegawai. ”Apa kamu suka kalau anakmu kupermalukan sampai ke sana-sana?”
Bapak sempat mengelak bahwa beliau tak pernah berniat menyindir (mantan) Pak Kades (setelah kasus tangkap tangan itu, Indrajit masih saja mendapatkan panggilan terhormat). Tetapi, kata-kata pada bak truk bagian belakang itu memang telanjur bicara kepada siapa pun yang sudi membacanya.
”Kalau tersinggung ya berarti memang bener ta? Kalau dianya enggak begitu, ngapain tersinggung? Wong bak truk ini enggak menuduh siapa-siapa…” Meskipun kemudian Bapak mengganti warna bak belakang truknya lagi dengan warna ungu untuk menampung ”aku JANJI ga akan nakal lagi. kalo aku NAKAL lagi, nanti aku janji lagi” yang kadang membuatku tersenyum sendiri lantaran sepertinya itu juga diarahkan kepadaku.
* * *
”Kok sepertinya mirip Markonah?” komentar Ibuk ketika melihat lukisan Bapak selesai. Seorang perempuan yang rambutnya tergerai bebas dengan buah dada besar. Ada tulisannya juga; KembanG SukeT MekarE SorE, SirahE MumeT MikirkE KowE. Sementara bagian paling bawah ada tulisan ’MongklE-MongklE’ dengan warna biru tua yang entah artinya apa.
”Mongkle-mongkle artinya apa sih, Pak?” tanyaku penasaran.
Tapi Bapak hanya menjawab dengan tawa. Terbahak-bahak.
Pantang menyerah aku terus saja mendesak Bapak dengan pertanyaan itu. Hingga akhirnya kudapatkan jawaban yang malah membuatku semakin mengerutkan kening.
”Ada truk yang mau menyeberang sungai lewat jembatan bambu, dan hampir jatuh gara-gara bawa muatan terlalu berat,” jawab Bapak sambil terbahak.
”Bapak ini apa-apaan sih?!”
”Bosaaan, Buk. Hidup kok begini terus…,” sahut Bapak.
”Nanti kalau Markonahnya datang dan protes, gimana?” suara Ibuk bergetar. Markonah adalah tetangga kami yang setengah waras.
”Ya biar saja. Asal kita enggak korupsi, enggak mengganggu orang lain.”
Ibuk memang paling enggak suka dengan sesuatu yang mengundang keramaian. Apalagi jika yang menjadi pusat keramaian adalah dirinya. Itulah mengapa Ibuk kadang menangis dan minta ditinggal di rumah saja daripada harus selalu berbasa-basi melayani senyum dan gurauan orang-orang di jalan.
”Apa kamu enggak kasihan dengan anak-anakmu? Aku rela begini juga demi mereka. Demi masa depan kita juga, sebenarnya,” bantah Bapak, yang memang sudah keras kepala.
Bapak sebenarnya sudah pernah coba berdamai dengan keinginan Ibuk. Kebetulan saat itu pas ramai-ramainya musim politik. Gambar baru yang mengisi tiga sisi truk kesayangan Bapak itu sungguh membosankan; dua orang berjas yang terlihat rapi sekali, gambar paku, dan tulisan ’pemimpin jujur negara makmur’. Gambar itu dibuat Bapak atas pesanan seseorang yang mencalonkan diri sebagai bupati. Dan Bapak dibayar mahal atas iklan berjalan itu. Satu juta per bulan!
Hanya saja saat itu wajah Bapak jadi sering terlihat serius.
”Biar saja mereka omong sesukanya. Mana ada orang sempurna? Siapa pun orangnya pasti punya kelebihan dan kekurangan,” hibur Ibuk. Yang pernah bilang lebih nyaman dengan gambar membosankan itu.
”Rasanya kayak mengangkut tai. Kamu itu kayak pura-pura enggak tahu saja. Apa kamu senang melihat banyak orang yang tutup hidung saat kamu lewat?”
Ibuk akhirnya terdiam. Alasan Bapak menerima tawaran itu memang hanya lantaran orang itu masih saudara jauh Ibuk. Saudara yang hanya datang saat butuh. Tiga bulan kemudian Bapak akhirnya mengakhiri ”kontrak” tak tertulis itu. Dan lima bulan kemudian saudara jauh Ibuk itu memang kalah dalam bursa pemilihan calon bupati.
”Menang apalagi kalah, pokoknya enggak enak,” komentar Bapak saat mengenang momen-momen truknya harus berhias gambar orang-orang yang sedang berebut kekuasaan itu.
Akhirnya Bapak pun kembali ke kebiasaan lama. Mendandani truk kesayangannya dengan kata-kata gokil, unik, nylekit, menghibur, namun juga bernada menasihati.
”Dunia ini tempat menyedihkan. Cepat mati kalau hidup kita sedih terus,” ujar Bapak saat mulai berkreasi lagi di bak truk kesayangannya. ”Cara terbaik agar kita bisa bertahan lama ya menertawakan dunia,” lanjut Bapak. Tanpa ada bantahan lagi dari Ibuk.
Sepertinya Ibuk sudah mulai terbiasa saat harus mendengar ”Ayo rondonya dikejar, Kang!” atau ”Sudah mimpi rondo yang mana, Kang?” atau ”Semakin ngebut semakin dekat dengan Tuhan ya, Kang? Hahaha!”
Yang jelas, kata-kata di bak truk yang setiap bulan Bapak ganti itu membawa banyak warna dalam hidup kami. Salah satunya sanggup mengundang orang yang mengaku dari sebuah stasiun televisi nasional itu.
”Aku sempat nonton video bapakmu yang viral itu di fesbuk. Aku ke sini mau lihat kesehariannya langsung. Dan kalau boleh, mengambil videonya juga,” ujar lelaki bernama Hendra itu.
Bukan saja kami yang di rumah. Sesampainya di rumah pun Bapak tak kalah kagetnya, ”Video apaan? Video yang mana? Kok bisa?”
”Pasti kelakuannya Darlin, Pak. Yang sering teriak rondo-rondo itu…,” sahut Ibuk dengan suara bergetar. Bapak pun langsung teringat dengan orang bernama Darlin yang katanya memang sering mengarahkan ponselnya ke Bapak.
Wajah Bapak begitu semringah saat menanggapi permintaan Om Hendra itu. Tetapi tidak dengan Ibuk. ”Aku tak mau jadi tontonan orang banyak. Apalagi se-Indonesia. Aku kan sudah bilang, Pak. Aku di rumah saja,” dengan suara bergetar.
”Bukan jadi tontonan kok, Buk. Tapi cerita inspiratif. Banyak orang akan mendapatkan pencerahan saat menonton keseharian Pak Joyo,” potong Om Hendra.
”Buk, apa kamu tega, lihat anakmu habis pulang sekolah, bersih-bersih rumah, nanti masih ditambah mandiin kamu, kasih makan kamu, nyebokin kamu?”
”Kalau begitu biarkan saja aku mati?” Ibuk mulai menangis. Dadaku turut tersayat. Aku memang pernah coba menuruti keinginan Ibuk. Tapi hanya kuat bertahan tiga hari. Rasanya memang berat, sebab aku juga masih harus mengurus tiga kandang bebek yang bila lengah sedikit saja, penghuninya bisa merusak tanaman milik tetangga dan buang kotoran di sana-sini. Apalagi kalau si kembar Nina dan Neni sudah teriak-teriak minta ini dan itu lantaran belum mampu melakukannya sendiri. Mereka masih tiga tahun. Mbah Nur katanya juga sering kewalahan.
”Kenapa enggak mati dari dulu saja biar aku juga ikut mati digebuki para penagih utang itu?!” sahut Bapak pilu. Hingga berakhir tangis yang bersahut-sahutan, yang membuat Om Hendra tak bisa berkata apa-apa.
Om Hendra akhirnya memang pamit pulang setelah mendapatkan cerita dariku. Cerita sedari Ibuk masih sehat dan berjualan segala macam jajan pasar demi bisa membantu Bapak melunasi utang pembelian truk. Ibuk mengalami lumpuh secara bertahap setelah terjatuh dalam posisi terduduk saat hendak naik ojek. Bapak minta maaf berkali-kali. Om Hendra memaklumi. Setidaknya beliau sudah mendapatkan sebuah cerita dariku.
Namun tanpa kami sangka, dua hari berikutnya berdatanganlah orang-orang yang entah dari mana asalnya. Alasan dan tujuan kedatangannya sama; video viral itu, dan mereka menginginkan hal yang juga diinginkan Om Hendra kemarin. Salah seorang yang datang dengan mobil paling mewah sendiri malah mengaku sebagai utusan dari artis Anu di Jakarta sana. Dan sedia membayar Bapak dengan nominal berapa pun yang beliau mau.
”Bukan hanya terkenal, tapi Bapak sekeluarga akan menjadi teladan bagi banyak orang,” rayu si utusan artis itu, yang bahkan kemudian rela menginap di rumah Mbah Nur demi menunggu persetujuan.
”Kok sampai berani bayar mahal kami, berarti untungnya sampeyan pasti lebih gede,” ujar Bapak saat pagi-pagi sudah dihadang orang itu.
”Yaaa… kita sama-sama bisa dapat untunglah, Pak. Siapa tahu setelah tambah viral, Bapak tambah deras rezekinya.”
”Tanya saja istriku,” jawab Bapak kemudian, sembari menggotong Ibuk ke dalam truk dan mendudukkannya di kursi khusus yang beliau bikin.
Tapi Ibuk membisu. Sudah sedari kemarin Ibuk belajar membisu. Hingga si utusan artis itu mengejarnya tergopoh-gopoh menuju truk Bapak. Truk yang Bapak gunakan untuk menertawakan dunia.*
Catatan:
– Thukmis: mata keranjang
– Ora Usah Dolanan Barang Nylempit, Enak’e Sak Menit Rekasane Sundul Langit: tidak usah bermain-main dengan sesuatu yang terjepit, enaknya satu menit, susahnya sampai setinggi langit.
– Rondo: Janda
***
Adi Zamzam, bernama asli Nur Hadi, lahir di Jepara, 1 Januari 1982. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media nasional. Pernah menjadi nomine lomba cerpen Krakatau Award 2018 dan lomba puisi Krakatau Award 2019.
sumber : kompas.id, 06 Mei 2023.