Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Truk Bapak oleh Adi Zamzam

Posted on Sab, 06 Mei 2023

Entah sudah berapa kali warna bak belakang truk itu berubah warna sesuai kalimat yang terpampang padanya. Kata-kata lucu itu tak lahir dari keisengan belaka. Selalu ada kejadian besar—menghebohkan, atau minimal unik, yang melahirkannya. Tentu saja aku masih ingat beberapa. Misal saja ”Melupakan Ibadah Itu Neraka, Melupakan Orang Tua Itu Durhaka, Melupakanmu Mana Bisa?” yang diberi latar belakang warna putih. Kalimat itu lahir untuk menyindir keluarga besar Mbah Tedjo yang memiliki lima anak, namun semuanya saling menghindar saat diminta merawat orang tuanya yang mulai uzur.

Ada lagi kasus yang sampai berjilid-jilid dan bikin heboh satu kampung. Yaitu saat kepala desa kami—yang sebetulnya sudah dikenal sebagai thukmis, ”berhasil” menggaet istri Kang Opi, tetangga kami. Kasus itu lantas menjadi menu pembicaraan banyak orang, dari setiap kerumunan di sekeliling tukang sayur, para guru di sekolahan, sampai jagongan di masjid. Banyak yang menyalahkan Kang Opi mengapa bisa sampai kalah oleh lelaki yang sudah mencicipi tiga perempuan. Ada pula yang menyalahkan Minah—mengapa bisa sampai jatuh ke dalam mulut buaya.

”Sampai mual dan bosan dengerinnya. Masak di mana ada kerumunan, gosipnya ituuu mulu,” ujar Ibuk, yang langsung menyemprot Bapak begitu menyinggung soal ulah Pak Kades. Akhirnya, Bapak pun berinisiatif membuat ”Daripada Mengangkut Istri Orang, Lebih Baik Mengangkut Batu Satu Dam” dengan warna latar belakang merah nyala, yang tiga bulan kemudian diubah lagi menjadi ”Ora Usah Dolanan Barang Nylempit, Enak’e Sak Menit Rekasane Sundul Langit” saat akhirnya Pak Kades terbukti melakukan penyelewengan dana desa. ”Legaaa…,” kata Bapak, seolah telah mengeluarkan banyak unek-unek yang memenuhi dada.

Kreativitas Bapak bukannya tak pernah menimbulkan masalah. Mbah Penceng—orangtua Pak Kades, sempat melabrak Bapak lantaran merasa malu dan tersinggung atas kata-kata di bak truk bagian belakang itu. ”Apa kamu bangga, kalau nama kadesmu tercoreng sampai di mana-mana?!” luapnya. Tentu saja aku dan Ibuk ketakutan. Kata Ibuk, meskipun tahu keluarga orang tua itu banyak melakukan keburukan, tapi memiliki banyak pengikut di desa lantaran memiliki banyak jenis usaha dengan puluhan pegawai. ”Apa kamu suka kalau anakmu kupermalukan sampai ke sana-sana?”

Bapak sempat mengelak bahwa beliau tak pernah berniat menyindir (mantan) Pak Kades (setelah kasus tangkap tangan itu, Indrajit masih saja mendapatkan panggilan terhormat). Tetapi, kata-kata pada bak truk bagian belakang itu memang telanjur bicara kepada siapa pun yang sudi membacanya.

”Kalau tersinggung ya berarti memang bener ta? Kalau dianya enggak begitu, ngapain tersinggung? Wong bak truk ini enggak menuduh siapa-siapa…” Meskipun kemudian Bapak mengganti warna bak belakang truknya lagi dengan warna ungu untuk menampung ”aku JANJI ga akan nakal lagi. kalo aku NAKAL lagi, nanti aku janji lagi” yang kadang membuatku tersenyum sendiri lantaran sepertinya itu juga diarahkan kepadaku.

* * *

”Kok sepertinya mirip Markonah?” komentar Ibuk ketika melihat lukisan Bapak selesai. Seorang perempuan yang rambutnya tergerai bebas dengan buah dada besar. Ada tulisannya juga; KembanG SukeT MekarE SorE, SirahE MumeT MikirkE KowE. Sementara bagian paling bawah ada tulisan ’MongklE-MongklE’ dengan warna biru tua yang entah artinya apa.

”Mongkle-mongkle artinya apa sih, Pak?” tanyaku penasaran.

Tapi Bapak hanya menjawab dengan tawa. Terbahak-bahak.

Pantang menyerah aku terus saja mendesak Bapak dengan pertanyaan itu. Hingga akhirnya kudapatkan jawaban yang malah membuatku semakin mengerutkan kening.

”Ada truk yang mau menyeberang sungai lewat jembatan bambu, dan hampir jatuh gara-gara bawa muatan terlalu berat,” jawab Bapak sambil terbahak.

”Bapak ini apa-apaan sih?!”

”Bosaaan, Buk. Hidup kok begini terus…,” sahut Bapak.

”Nanti kalau Markonahnya datang dan protes, gimana?” suara Ibuk bergetar. Markonah adalah tetangga kami yang setengah waras.

”Ya biar saja. Asal kita enggak korupsi, enggak mengganggu orang lain.”

Ibuk memang paling enggak suka dengan sesuatu yang mengundang keramaian. Apalagi jika yang menjadi pusat keramaian adalah dirinya. Itulah mengapa Ibuk kadang menangis dan minta ditinggal di rumah saja daripada harus selalu berbasa-basi melayani senyum dan gurauan orang-orang di jalan.

”Apa kamu enggak kasihan dengan anak-anakmu? Aku rela begini juga demi mereka. Demi masa depan kita juga, sebenarnya,” bantah Bapak, yang memang sudah keras kepala.

Bapak sebenarnya sudah pernah coba berdamai dengan keinginan Ibuk. Kebetulan saat itu pas ramai-ramainya musim politik. Gambar baru yang mengisi tiga sisi truk kesayangan Bapak itu sungguh membosankan; dua orang berjas yang terlihat rapi sekali, gambar paku, dan tulisan ’pemimpin jujur negara makmur’. Gambar itu dibuat Bapak atas pesanan seseorang yang mencalonkan diri sebagai bupati. Dan Bapak dibayar mahal atas iklan berjalan itu. Satu juta per bulan!

Hanya saja saat itu wajah Bapak jadi sering terlihat serius.

”Biar saja mereka omong sesukanya. Mana ada orang sempurna? Siapa pun orangnya pasti punya kelebihan dan kekurangan,” hibur Ibuk. Yang pernah bilang lebih nyaman dengan gambar membosankan itu.

”Rasanya kayak mengangkut tai. Kamu itu kayak pura-pura enggak tahu saja. Apa kamu senang melihat banyak orang yang tutup hidung saat kamu lewat?”

Ibuk akhirnya terdiam. Alasan Bapak menerima tawaran itu memang hanya lantaran orang itu masih saudara jauh Ibuk. Saudara yang hanya datang saat butuh. Tiga bulan kemudian Bapak akhirnya mengakhiri ”kontrak” tak tertulis itu. Dan lima bulan kemudian saudara jauh Ibuk itu memang kalah dalam bursa pemilihan calon bupati.

”Menang apalagi kalah, pokoknya enggak enak,” komentar Bapak saat mengenang momen-momen truknya harus berhias gambar orang-orang yang sedang berebut kekuasaan itu.

Akhirnya Bapak pun kembali ke kebiasaan lama. Mendandani truk kesayangannya dengan kata-kata gokil, unik, nylekit, menghibur, namun juga bernada menasihati.

”Dunia ini tempat menyedihkan. Cepat mati kalau hidup kita sedih terus,” ujar Bapak saat mulai berkreasi lagi di bak truk kesayangannya. ”Cara terbaik agar kita bisa bertahan lama ya menertawakan dunia,” lanjut Bapak. Tanpa ada bantahan lagi dari Ibuk.

Sepertinya Ibuk sudah mulai terbiasa saat harus mendengar ”Ayo rondonya dikejar, Kang!” atau ”Sudah mimpi rondo yang mana, Kang?” atau ”Semakin ngebut semakin dekat dengan Tuhan ya, Kang? Hahaha!”

Yang jelas, kata-kata di bak truk yang setiap bulan Bapak ganti itu membawa banyak warna dalam hidup kami. Salah satunya sanggup mengundang orang yang mengaku dari sebuah stasiun televisi nasional itu.

”Aku sempat nonton video bapakmu yang viral itu di fesbuk. Aku ke sini mau lihat kesehariannya langsung. Dan kalau boleh, mengambil videonya juga,” ujar lelaki bernama Hendra itu.

Bukan saja kami yang di rumah. Sesampainya di rumah pun Bapak tak kalah kagetnya, ”Video apaan? Video yang mana? Kok bisa?”

”Pasti kelakuannya Darlin, Pak. Yang sering teriak rondo-rondo itu…,” sahut Ibuk dengan suara bergetar. Bapak pun langsung teringat dengan orang bernama Darlin yang katanya memang sering mengarahkan ponselnya ke Bapak.

Wajah Bapak begitu semringah saat menanggapi permintaan Om Hendra itu. Tetapi tidak dengan Ibuk. ”Aku tak mau jadi tontonan orang banyak. Apalagi se-Indonesia. Aku kan sudah bilang, Pak. Aku di rumah saja,” dengan suara bergetar.

”Bukan jadi tontonan kok, Buk. Tapi cerita inspiratif. Banyak orang akan mendapatkan pencerahan saat menonton keseharian Pak Joyo,” potong Om Hendra.

”Buk, apa kamu tega, lihat anakmu habis pulang sekolah, bersih-bersih rumah, nanti masih ditambah mandiin kamu, kasih makan kamu, nyebokin kamu?”

”Kalau begitu biarkan saja aku mati?” Ibuk mulai menangis. Dadaku turut tersayat. Aku memang pernah coba menuruti keinginan Ibuk. Tapi hanya kuat bertahan tiga hari. Rasanya memang berat, sebab aku juga masih harus mengurus tiga kandang bebek yang bila lengah sedikit saja, penghuninya bisa merusak tanaman milik tetangga dan buang kotoran di sana-sini. Apalagi kalau si kembar Nina dan Neni sudah teriak-teriak minta ini dan itu lantaran belum mampu melakukannya sendiri. Mereka masih tiga tahun. Mbah Nur katanya juga sering kewalahan.

”Kenapa enggak mati dari dulu saja biar aku juga ikut mati digebuki para penagih utang itu?!” sahut Bapak pilu. Hingga berakhir tangis yang bersahut-sahutan, yang membuat Om Hendra tak bisa berkata apa-apa.

Om Hendra akhirnya memang pamit pulang setelah mendapatkan cerita dariku. Cerita sedari Ibuk masih sehat dan berjualan segala macam jajan pasar demi bisa membantu Bapak melunasi utang pembelian truk. Ibuk mengalami lumpuh secara bertahap setelah terjatuh dalam posisi terduduk saat hendak naik ojek. Bapak minta maaf berkali-kali. Om Hendra memaklumi. Setidaknya beliau sudah mendapatkan sebuah cerita dariku.

Namun tanpa kami sangka, dua hari berikutnya berdatanganlah orang-orang yang entah dari mana asalnya. Alasan dan tujuan kedatangannya sama; video viral itu, dan mereka menginginkan hal yang juga diinginkan Om Hendra kemarin. Salah seorang yang datang dengan mobil paling mewah sendiri malah mengaku sebagai utusan dari artis Anu di Jakarta sana. Dan sedia membayar Bapak dengan nominal berapa pun yang beliau mau.

”Bukan hanya terkenal, tapi Bapak sekeluarga akan menjadi teladan bagi banyak orang,” rayu si utusan artis itu, yang bahkan kemudian rela menginap di rumah Mbah Nur demi menunggu persetujuan.

”Kok sampai berani bayar mahal kami, berarti untungnya sampeyan pasti lebih gede,” ujar Bapak saat pagi-pagi sudah dihadang orang itu.

”Yaaa… kita sama-sama bisa dapat untunglah, Pak. Siapa tahu setelah tambah viral, Bapak tambah deras rezekinya.”

”Tanya saja istriku,” jawab Bapak kemudian, sembari menggotong Ibuk ke dalam truk dan mendudukkannya di kursi khusus yang beliau bikin.

Tapi Ibuk membisu. Sudah sedari kemarin Ibuk belajar membisu. Hingga si utusan artis itu mengejarnya tergopoh-gopoh menuju truk Bapak. Truk yang Bapak gunakan untuk menertawakan dunia.*

Catatan:

– Thukmis: mata keranjang

– Ora Usah Dolanan Barang Nylempit, Enak’e Sak Menit Rekasane Sundul Langit: tidak usah bermain-main dengan sesuatu yang terjepit, enaknya satu menit, susahnya sampai setinggi langit.

– Rondo: Janda

***

Adi Zamzam, bernama asli Nur Hadi, lahir di Jepara, 1 Januari 1982. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media nasional. Pernah menjadi nomine lomba cerpen Krakatau Award 2018 dan lomba puisi Krakatau Award 2019.

sumber : kompas.id, 06 Mei 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme