Tary berdiri menempel pintu, sedang Jojo beberapa langkah di depan. Jojo berdiri hampir mencapai tanah halaman rumah. Jojo semringah menyaksikan Dody sahabatnya akhirnya mudik ke rumah neneknya di Semarang. Mereka berangkat dengan travel dan sudah berhenti di depan rumah. Ibu Dody sibuk mendorong beberapa barang. Ayah Dody juga begitu. Di punggung ayah Dody ada ransel hitam ukuran besar. Dody sendiri kepayahan mengangkat dua kardus ukuran besar. Beruntung kernet travel membantunya. Jojo senyum penuh arti menyaksikan semua itu. Sebelum masuk ke mobil, Dody melambaikan tangan ke arah Jojo. Penuh degup Jojo membalas lambaian tangan sahabatnya itu. Di belakang Jojo, Tary ikut melambaikan tangan dengan senyum lebar.
Jojo menoleh pada Tary setelah mobil yang membawa keluarga Dody meluncur lalu hilang di belokan. Tary membalas tolehan Jojo dan berusaha menahan debar di dadanya sendiri.
”Kita juga mudik ke rumah Nenek kan, Bu?” tanya Jojo semangat.
”Insya Allah, Jo. Semoga Ayah mendapatkan rezeki, ya,” jawab Tary penuh kasih.
”Horee!” Jojo loncat kegirangan. Setelahnya Jojo masuk ke rumah begitu saja melewati ibunya. Sang ibu menepi sembari terus mengikuti gerak anaknya. Jojo berhenti di sudut ruang. Jojo berdiri di depan beberapa kardus yang sudah terikat rapi.
Sepelan mungkin Tary membalikkan lagi tubuhnya ke arah luar. Tary tahu Jojo sudah lama mempersiapkan kardus-kardus itu. Tary sendiri tidak tahu Jojo dapat dari siapa kardus itu. Jojo bahkan sudah mengikat kardus itu dengan rafia. Tujuan Jojo, sewaktu-waktu mereka mudik, kardus itu tinggal diangkat. Ada saja tingkah Jojo dengan kardus-kardus itu. Suatu kali Jojo mengangkat kardus itu penuh susah payah. Tary mengawasi dari sisi pintu dapur. Tary mengulum senyum. Tingkah Jojo justru mengubah perasaan hatinya menjadi kecut. Jelas-jelas kardus itu kosong tak berisi. Gaya Jojo seakan kardus itu berat penuh oleh-oleh. Belum lagi, Jojo meletukkan suara-suara, seakan-akan mereka sudah berada di bus menuju penyeberangan Merak-Bakauheni. Kampung ibu mertuanya berada di Tanjung Karang. Jojo mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya. Jojo bergerak kepayahan menuju pintu rumah. Rupanya tindakan Jojo mendapat perhatian dari Nek Romlah tetangga depan rumah yang sedang neduh di bawah pohon cerry.
”Jo, kamu bawa apa?” tanya Nek Romlah keheranan.
”Oleh-oleh untuk Nenek di Tanjung Karang, Nek,” jawab Jojo semangat.
”Wah! Berat betul oleh-olehnya, Jo. Nenek Jojo di kampung pasti senang menerima oleh-oleh dari kamu. Kapan kalian berangkat, Jo?” sambung Nek Romlah semringah.
”Belum tahu sih, Nek. Sementara Jojo latihan angkat kardus-kardus ini. Jadi, pas berangkat nanti Jojo sudah biasa,” ujar Jojo melebarkan senyum.
”Pinter kamu, Jo.” Nek Romlah terkekeh di bawah pohon cerry. Tary menguping dengan perasaan campur aduk.
Tary terharu dengan sikap polos putranya. Tary menggigit bibir resah. Tary teringat suaminya. Semoga Mas Upay berhasil mengumpulkan ongkos buat mereka pulang ke Tanjung Karang.
Upay mengusap peluhnya. Cuaca akhir-akhir ini sama mengerikan dengan nasib yang ia jalani belakangan ini. Upay di-PHK setahun lalu. Mencari pekerjaan di masa sulit ini sesulit mencari jarum dalam jerami. Berpangku tangan artinya Tary istrinya dan Jojo putranya siap untuk kelaparan. Upay tidak ingin menjadi suami dan ayah durhaka bagi keluarga kecilnya. Karena itu, Upay siap bekerja apa saja. Bersyukur Upay masih memiliki motor lumayan baru sebagai syarat menjadi pengojek online. Itulah mata pencarian Upay saat ini.
Waktu begitu cepat berjalan. Sebentar lagi Ramadhan habis ditelan Syawal, sedang Upay belum memiliki cukup uang untuk mudik ke rumah Emak. Jangankan oleh-oleh untuk Emak, ongkos ke Tanjung Karang saja Upay belum berhasil mengumpulkan. Sudah tiga tahun mereka tidak mudik. Kondisi sekarang berangsur normal, besar hati Upay ingin menengok Emak di kampung. Apa daya, rezeki belakangan ini benar-benar seret. Bisa membayar kontrakan dan cukup makan sehari-hari saja sangat alhamdulillah.
**
Upay mengusap peluhnya. Cuaca akhir-akhir ini sama mengerikan dengan nasib yang ia jalani belakangan ini. Upay di-PHK setahun lalu. Mencari pekerjaan di masa sulit ini sesulit mencari jarum dalam jerami.
Garis-garis serabut halus berwarna merah muncul di mata Upay. Setiap teringat kondisinya dan bayangan Emak, Upay tak kuasa ingin menangis. Rindu membuncah di lubuk hatinya. Rindu ingin bertemu Emak juga sanak saudara. Rindu melihat kampung tempat masa kecilnya. Rindu melihat kebun juga sawah. Rindu mendengar kicauan burung di pagi hari. Rindu semuanya. Apa daya Upay belum mampu mengumpulkan uang.
Upay tergugah oleh keributan di depannya. Zainal berhenti tidak jauh dari pos tempat dirinya beradem. Zainal membawa sewa seorang Ibu berumur. Zainal sepertinya sudah habis sabar. Upay tergerak mencari tahu akar masalahnya. Zainal menjabarkan singkat. Zainal sudah berkeliling mencari alamat tujuan ibu itu, tapi sia-sia. Ibu itu terlihat bingung.
Upay jatuh iba dengan kondisi ibu tua itu. Zainal masih saja mengomel tak henti. Zainal lebih memikirkan biaya yang sudah ia keluarkan saat membawa ibu ini berkeliling mencari alamat tujuan. Ibu tua itu menunduk ketakutan. Upay kian terenyuh. Upay teringat Emak di kampung. Membuang segala pikiran tak perlu, Upay berdiskusi sebentar dengan Zainal. Upay ingin membantu teman sesama pengojek online itu. Tak pikir panjang Zainal menerima tawaran Upay. Zainal malas berbelit, Upay mau mengambil alih ibu tua menyusahkan ini adalah satu keberuntungan buat dirinya. Apalagi, Upay mengganti biaya yang telah dikeluarkan dirinya selama membawa keliling nenek tua ini. Upay mengambil alih ibu tua itu. Sesaat Upay lupa kondisi dirinya. Tak banyak omong, Zainal tancap gas meninggalkan mereka. Selamat mengurus ibu tua itu, Upay! Batin Zainal memacu motor bebeknya meninggalkan asap knalpot ke arah Upay dan ibu tua itu.
”Betul, ibu benar-benar tidak ingat mau ke mana?” tanya Upay sabar.
Ibu tua itu menggeleng. Air mukanya tidak sesuram tadi. Namun, pancaran itu terlukis kebingungan. Upay terdiam sejenak. Memikirkan yang terbaik untuk ibu ini. Beruntung Upay masih berpikir rasional. Dengan sabar Upay meminta Ibu itu naik di belakang motornya. Upay ingin membawa ibu ini ke polsek terdekat. Menurut Upay itu adalah jalan teraman.
Wajah Tary terlukis seketika. Lebih setengah hari Upay mencari makan, isi dompetnya belum mencukupi. Sekarang dia membuang waktu menolong ibu tua yang tidak jelas asal muasalnya. Sesal hampir saja mengurungkan niat hatinya. Terlambat! Ibu tua itu sudah duduk di belakang dirinya. Membawa ibu tua ini ke polsek terdekat bukan solusi terbaik. Bukan sekali dua kali, teman sesama pengojek justru menerima tolakan dari polsek. Meminta untuk membawa kembali penumpang tanda tujuan. Menyusahkan! Kira-kira begitu celetukan pak polisi yang bertugas. Upay membesarkan hati. Upay yakin tidak semua polisi skeptis seperti itu. Upay ingin menolong ibu tua ini. Upay anggap sebuah kebaikan tepat di bulan suci Ramadhan.
”Ibu! Mungkin Ibu sudah mengingat alamat tempat tinggal Ibu?” ulang Upay.
Ibu tua bergeming. Upay tak berdaya. Upay tidak ingin menekan ibu tua itu lagi.
Jalan rezeki tak seorang pun mampu menduga. Upay membawa ke polsek terdekat. Upay hanya ingin ibu ini ditolong oleh polisi. Bisa jadi akan banyak menertawakan kenaifan dirinya. Berharap pertolongan dari polisi yang belakangan penuh karut-marut. Sepanjang jalan pikiran itu terus menghantui. Upay tidak peduli. Niatnya baik. Semoga para polisi mau membantu ibu tua ini. Siapa sangka keluarga ibu tua ini sudah lebih dulu ada di polsek.
”Alhamdulillah ya, Allah!”
Seorang pria seumuran Upay berlari memeluk ibu tua itu.
”Ibu.” Perempuan cantik berhijab ikut menyentuh bahu ibu tua itu.
”Saya tidak jadi melapor, Pak. Ibu saya datang sendiri ke kantor Bapak. Biasanya ibu saya jalan pagi di kompleks. Sekian jam tidak kembali. Perasaan saya tidak enak. Benar ternyata, Ibu lupa jalan pulang. Ibu saya belakangan mulai pikun. Saya izin membawa ibu saya pulang, Pak?” ujar pria itu pada petugas yang mengawasi pertemuan itu.
”Baik, Pak.” Petugas itu seketika berdiri.
Pertemuan haru itu kian membuat hati Upay rindu pada Emak. Keinginan hatinya untuk mudik kian memuncak. Cukup tidak cukup uang yang mereka miliki, Upay tetap memutuskan mudik untuk bersilaturahmi dengan Emak serta seluruh saudara di kampung.
Upay menangis di sela bahu Emak. Sesuai kebiasaan, Emak ikut menunggu di bibir simpang jalan masuk ke kampungnya. Sesuai penjelasan Upay, Emak menunggu tidak terlalu lama. Emak mengusap punggung putranya penuh kasih. Emak melepas Upay. Lalu memeluk menantunya dengan rindu. Dari Tary, Emak memeluk Jojo. Rindunya pada cucu semata wayang ini. Selesai melepas rindu, Emak menghalau mereka menuju rumah yang hanya beberapa ratus meter. Emak kegirangan ikut membantu mengangkat kardus bertali rafia. Upay terlambat mencegah. Emak nyaris terjungkal. Beruntung Emak segera menguasai diri. Keheranan menghinggapi pikirannya. Setelahnya, Emak meneruskan langkah dengan bahagia. Upay merasa tak enak hati. Emak pasti keheranan.
”Maafkan Upay, Mak. Upay belum bisa membanggakan Emak. Ekonomi Upay sulit belakangan ini. Maafkan juga kardus-kardus itu. Semua itu keinginan Jojo. Untuk nenek, katanya. Maafkan kami, Mak?” Upay menunduk sembari memijit kaki Emak di tengah suara takbir, tahlil, dan tahmid menggema. Ramadhan besok berganti Syawal.
”Tidak perlu memaksakan diri pulang, Upay,” jawab Emak halus.
”Tapi, Upay rindu ingin bertemu Emak,” balas Upay dalam.
Emak berdiri menuju jendela kayu. Menikmati semarak langit penuh kembang api kemenangan. Upay ikut berdiri dan berdiri di sisi Emak. Sejenak mereka menikmati langit yang sedang bahagia. Kembang api memecah di seluruh bagian langit.
”Emak tidak membutuhkan oleh-oleh, Upay. Oleh-oleh rindu dari anak, menantu, dan cucu, itulah oleh-oleh terbesar untuk Emak. Kalian mudik saja sudah membuat Emak bahagia,” Emak menatap Upay berkaca-kaca. Upay mengangguk penuh haru.
Sanak saudara berkumpul di rumah panggung Emak. Berkumpul memeriahkan kemenangan. Jojo duduk di antara ayah dan ibunya. Nenek terlihat membagi-bagi kardus untuk dibuka. Mata Jojo penuh heran, kardus-kardus itu ada isinya. Nenek melihatnya penuh arti. Sanak saudara bahagia membuka kardus-kardus yang kata nenek dari Jojo.
”Ayah! Kardus-kardus itu siapa yang mengisi?” bisik Jojo takjub. Emak mendengar bisikan cucunya itu. Upay beberapa saat bingung memberi jawaban.
”Malaikat yang mengisi, Jo. Malaikat,” jawab Upay bijak. Kemudian pecah tawa antara ayah dan anak itu. Emak tersenyum ke arah Tary. Upay bahagia terselimut haru.
***
Ricardo Marbun, seseorang yang bersahaja. Suka membaca apa saja. Masih proses belajar menulis secara otodidak. Berharap proses menulis semakin baik. Tinggal di Surabaya.
sumber : kompas.id, 18 Mei 2023.