Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Shiratal Mustaqim oleh JULIA F. Gerhani Arungan

Posted on Ming, 27 Nov 2022

”Cress…cress…” Bunyi pencukur bergesekan dengan helai rambut. ”Wah bagus ini, Ma. Bakat kamu ternyata.” Adam mengintip dari balik cermin kecil. ”Ndak sia-sia beli pencukur ini. Ndak perlu ke salon lagi aku dari sekarang berarti.”

Adam senyum-senyum. Eva juga senyum-senyum.

ADAM sudah bekerja keras membuat istrinya ceria belakangan ini. Tidak hanya karena Eva sudah sering mengeluh tentang banyaknya pekerjaan rumah tangga, tapi karena ia tahu mereka berdua butuh liburan sejenak. Mereka butuh kembali berbulan madu setelah rentetan promosi jabatan yang tertunda, kehadiran bayi dengan tugas mengganti popok yang tak ada habis-habisnya, dan kurangnya kualitas tidur.

Namun beberapa hari yang lalu, Adam terpaksa mengabarkan pada Eva tentang bagaimana salah satu anak buahnya di kantor kedapatan menggelapkan uang nasabah dalam jumlah besar. Eva cemas. Karena meski tidak terlibat, posisi Adam sebagai kepala area akan tetap kena imbas. Adam akan dipanggil direkturnya untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban. Bukan tidak mungkin jabatannya akan diturunkan.

Jabatan diturunkan berarti uang tunjangan berpotensi hilang. Uang tunjangan hilang, maka hotel dan liburan juga hilang. Liburan yang hilang bisa berpotensi mengurangi kesabaran dan kewarasan Eva. Maka Adam perlu membuat istrinya tetap waras, tetap gembira. Termasuk membeli alat cukur listrik untuk menghemat pengeluaran ke barbershop. Lumayan untuk tambahan jajan liburan.

”Cress…cress… Brrrrtttt.” Bunyi mesin pencukur dimatikan tergesa. Adam langsung tegak duduknya.

”Ma?” tanyanya tak yakin. Istrinya cepat-cepat menaruh pencukur listrik. ”Waduh kelolosan, Mas. Soriiiiiii,” katanya sambil segera mengambil sapu. Adam langsung meraba sisi kiri kepalanya. Jelas di sana ada bidang yang seharusnya tidak setipis itu. Lalu, tergesa ia meraba sisi sebelah kanan. Di sana juga ada bidang yang seharusnya tidak selicin itu.

Adam melangkah cepat ke kamar. Ada cermin yang lebih besar di kamar mereka. Ia mengenali bajunya. Ia mengenali pundaknya. Yang tak ia kenali adalah bulatan di atas pundak itu.

Ada petak-petak lurus dan tipis seperti jembatan shiratal mustaqim di kedua sisi kepalanya. Lalu jembatan itu mengerucut sebelum membentuk jambul yang terangguk-angguk seperti penjaga rel yang mengantuk.

Adam langsung teringat rapat direksi yang harus dihadirinya besok. Mukanya pias. Eva sudah menyapu sisa-sisa rambut yang berserakan di lantai dan sudah berkali-kali minta maaf, tapi Adam tidak yakin akan ketulusannya karena ia minta maaf sambil memegangi perutnya menahan tawa. Rambut yang tadi disapunya kembali berserak ke mana-mana. Sebagian jatuh di pelataran, sebagian tertiup angin dan dilupakan.

”Demi ribuan helai rambut yang kucukur! Katakan, salon menyedihkan mana yang sudah melakukan kejahatan terhadap rambut Abang?” seru pemilik barbershop langganannya di seberang taman kota. Pemilik barbershop itu, Joni, adalah teman kuliahnya dulu. Mahasiswa seni rupa yang menghabiskan kiriman bulanan orang tuanya dengan karcis-karcis film dan puluhan buku sastra dan politik. Ia menukar bangku kuliah dengan kursi-kursi bioskop dan mengaku menemukan kebahagiaannya di sana.

Joni memiliki filosofi yang mulia: seni tidak bisa diukur melulu dari coretan-coretan di kertas atau dinding. Begitu prinsipnya. Maka ia jadikan kepala manusia sebagai kanvasnya. Sebenarnya, ia mulai kehabisan biaya dan orang tuanya muntap dengan uang kiriman yang telah disalahgunakannya di bangku-bangku bioskop. Mereka memutuskan tidak mengiriminya uang lagi. Beruntung masih ada cukup sisa dari uang orang tuanya yang dipakainya untuk menyewa satu unit toko dan membuka barbershop.

Ia mendecak dan menggeleng-geleng. ”Ini tidak bisa diterima. Apa yang dilakukan salon itu adalah kriminal murni terhadap seni cukur. Perbuatan seperti ini harus ditindak tegas. Ini hanya membawa keburukan untuk barbershop,” tambahnya lagi sambil menyorong kursi untuk Adam. Tangannya di pinggang. ”Lihat ini, rambut Abang seperti Medusa dikawinkan dengan Kim Jong-un, dan keturunan mereka berakhir seperti ini,” keluhnya lagi.

”Istriku,” jawab Adam pelan. Joni tidak jadi tertawa. Mukanya serius, tapi Adam bisa melihat sudut bibirnya melengkung.

”Santa Maria.” Joni membuat tanda salib di dadanya. ”Kalau seperti itu, kau perlu keajaiban, Bang,” sahutnya.

”Tolonglah, aku ada rapat direksi besok. Tidak mungkin menghadiri rapat seperti ini.” Joni mendesah melihat rambut Adam, dan mulai bekerja.

”Bagaimana?” tanya Adam setelah beberapa saat. ”Tidak banyak yang bisa kulakukan, Bang. Tapi setidaknya Abang bisa hadir di rapat besok.” Adam menatap cermin. Terbayang olehnya bagaimana ia tidak hanya akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban tentang bawahannya di cabang Keruak, yang telah menipu pelanggan mereka dengan harga taksiran emas yang salah. Ia juga akan melakukan pertanggungjawaban itu dengan potongan rambut yang membuat harga dirinya bubar jalan. Di cermin, rambutnya kini adalah kisah Kim Jong-un yang telah menceraikan Medusa dan tinggal sendiri dengan merana.

Adam menelan ludah. Ludahnya terasa pahit. Ia belum merokok sejak beberapa hari. Eva mengancam tidak akan ada lagi malam Jumat berkah bila ia tetap nekat merokok, sementara ia ingin tetap mendapat keberkahan itu.

Di kantor keesokan harinya, staf dan bawahan Adam menatapnya dengan heran dan berusaha keras menyembunyikan senyum mereka.

”Potongan rambut baru, Pak?” tanya salah satu dari mereka. Adam menegakkan tubuhnya, berusaha tampak lebih tinggi dari biasa. ”Oh ya, tentu saja. Ini salah satu strategi bisnis. Kemarin sore saya harus presentasi di polda. Begini, kita itu tidak hanya jualan produk dan servis, kita juga harus tahu kepada siapa kita jualan. Salah satunya, harus paham pangsa pasar dan bagaimana menyesuaikan diri dengan mereka. Caranya, ya bisa dengan menyesuaikan penampilan agar bisa berbaur dengan konsumen.”

Adam memandang berkeliling stafnya. Beberapa dari mereka mengangguk-angguk, menyimak dengan saksama. Beberapa lagi berusaha menutup mulut dan membunyikan batuk. Foto direktur mereka terpampang di dinding. Ia bercambang lebat dan raut wajahnya cemberut seperti ditimpa kesusahan berat. Konon direktur itu hanya pernah tersenyum sekilas saat putrinya menikah dengan seorang bakal bupati di daerah itu.

Direktur mereka datang dan seperti fotonya, bercambang lebat dan cemberut. Kali ini cemberutnya lebih dalam dan hati Adam mencelos. Ketika melihat Adam, ia berhenti melangkah. Adam menggigil. Satu dua butir keringat mengilap di dahinya, jatuh ke pelipis.

Direktur berbalik dan kembali memandang Adam. Kemudian cambangnya melengkung dramatis ke atas, bergerak-gerak pelan, lalu terdengarlah bunyi asing yang tak pernah didengar Adam dan para staf sebelumnya. Bunyi itu lebih mirip derit pintu pada awalnya, lalu tersedak dan batuk-batuk berletusan seperti cerobong kereta uap. Baru disusul gigil tubuh tak beraturan. Adam terpana.

Staf panik dan menyangka Bapak Direktur terkena stroke untuk kali kedua, sampai ketika mereka bisa mendengar bunyi tawa. Berkat cukuran baru Adam, untuk kali pertama direktur utama tidak hanya tersenyum, tapi tertawa terbahak-bahak.

”Cukuran model apa itu, Mas Adam?” tanya Pak Direktur di tengah derai tawanya.

”Anu Pak, ini cukuran model terbaru. Shi… shiratal mustaqim. Jalan nan lurus,” jawab Adam terbata. Wajahnya berganti-ganti warna, dari cokelat ke merah, lalu merah padam, dan berlanjut keunguan. Sementara wajah direktur utama kini nyaris terbelah dengan tawanya.

Adam menarik napas dengan berat. Ia mengutuk kecerobohannya sendiri yang tidak memeriksa baik-baik berkas-berkas dari stafnya itu. Perusahaan mereka kehilangan ratusan juta rupiah. Selanjutnya, kekhawatiran Eva terjadi. Adam benar-benar diturunkan menjadi kepala cabang.

Saat dibacakan keputusan, Adam dapat melihat bayangan istrinya. Eva berjalan perlahan sambil memegang pencukur rambut listrik yang bergetar perlahan. Ada dua tanduk menyeruak tumbuh di pelipis Eva. Tanduk itu merah saga, berkelok dan runcing di ujung-ujungnya.

Sebelum pergi, direktur utama menepuk bahu Adam. ”Sebenarnya saya sudah mau menonaktifkan Mas, tapi saya juga mau berada di jalan nan lurus…” Mendengar itu, Adam menunduk. Jambul di kepalanya mengangguk gemulai, lalu merosot pasrah ke dekat alisnya.

Ia membayangkan harus menelepon Eva untuk membatalkan rencana mereka menginap tiga malam di Sheraton. Eva akan mengamuk karena mereka sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Ponselnya bergetar. Satu notifikasi WhatsApp dari istrinya masuk. Sebuah foto buram karena belum terunggah sempurna, lalu perlahan mulai menjelas. Foto itu menampilkan satu gaun tidur hitam menerawang dengan renda-renda dan pita di pinggir-pinggirnya. Menyusul satu pesan istrinya di bawah foto.

”Tak sabar memakai ini untukmu di Sheraton, Mas.” Lalu cahaya di layar ponsel Adam meremang. Di layar ponsel yang redup, ia bisa melihat jambulnya makin merosot di dekat pelipis. Adam mengambil sebatang rokok milik direktur utama yang tertinggal di atas meja, lalu menyalakan dan mengisapnya dalam-dalam. (*)

—

JULIA F. GERHANI ARUNGAN : Lahir di Lombok, 1982. Menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama. Menyukai pembacaan sajak dan naskah lakon. Antologi puisi perdananya, Ibuku Mengajari Bagaimana Mengisi Peluru (2021), diterbitkan CV Halaman Indonesia dan Akarpohon.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 27 November 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme