1998
Keluar dari ballroom hotel bintang empat, tanganku melingkar ke pinggang Dinda. Ini malam keenam aku berhasil mengajak Dinda keluar dari kosnya. Malam ini kami menikmati musik jazz yang rutin sebulan sekali dihelat di hotel ini.
”Malam ini sungguh heroik. Tulisan-tulisanmu. Orasimu. Semua menggugat tentang kesenjangan, ketidakadilan. Justru kita menikmati jazz di tempat ini. Jejaring kapitalis,” Dinda berbicara lirih.
”Jangan dilihat tempatnya, Dinda. Tapi musiknya. Jazz, akarnya perlawanan. Musik pemberontakan,” aku berkilah. Cubitan kecil Dinda mampir ke pipiku.
Dinda nan ayu. Mahasiswi tehnik industri. Telah mencuri hatiku.
Pintu kamarku digedor kencang. Jam sebelas malam. Aku buka. Sihombing dengan wajah penuh ketegangan. ”Manuputty diciduk. Entah di mana sekarang. Lima belas menit lalu, Saiful berkabar, Wayan hilang tiada kabar!” Belum sempat Sihombing meneruskan bercerita, aku sudah masuk kamar kembali. Kusambar helm, kukenakan jaket kulit.
”Ayo!” kataku mengajak Sihombing menuju garasi motor. Hujan lebat. Tiada kuhiraukan. Kuboncengkan Sihombing ke arah utara, keluar kota. Tempat persembunyian paling aman, seminari. Berjubah dan berbaur dengan para calon pastor Katolik, Sihombing tidak akan ditemukan aparat.
Namanya Saiful. Arek Malang ini mahasiswa IAIN. Kuliah di Yogya bermaksud memperdalam hukum agama. Justru ruang-ruang diskusi dan sudut-sudut jalanan menjadi aktivitasnya. Saiful organisatoris handal. Piawai menyusun simpul-simpul gerakan mahasiswa dari berbagai kampus. Perbedaan pendapat antar aktivis, menjadi cair oleh kepintaran Saiful mendekati secara personal.
Dua minggu Saiful hidup di kos. Dua minggu selanjutnya tinggal di rumahku. Kiriman uang dari orang tuanya habis untuk logistik demonstrasi. Satu kamar lebar yang memang sengaja disediakan oleh bapakku untuk kumpul-kumpul aktivis menjadi rumah kos kedua Saiful. Tentu aneka makanan yang disediakan ibuku dan tersedia kapan saja, menjadi alasan kuat Saiful banyak tinggal di rumahku. ”Breaking the law…breaking the law…,” lagu dari Judas Priest yang keluar dari tape compo, berlomba dengan lengkingan suara Jonatan. Aku buka pintu kamar kos dan berteriak ke arah Jonatan, ”Kau ditunggu kawan-kawan yang sudah meriung di Gedung Pusat!” Segera Jonatan menyambar baju flanel lengan panjang. Berboncengan motor, kami menuju Gedung Pusat. Lokasi utama demonstrasi.
Di atas panggung demonstrasi, penampilan Jonatan sangat flamboyan. Intonasi suaranya. Bahasa tubuhnya. Kosa kata orasinya. Didukung wajah tampannya. Memukau peserta demonstrasi. Hobi Jonatan lainnya, minum bir. Klop bila teman-teman memanggilnya Cino Edan.
Kuliah yang diambil Umboh adalah Fakultas MIPA. Namun kamar kosnya dipenuhi berbagai buku sastra, kebudayaan, dan filsafat. Umboh pemikir kebudayaan garda depan. Gagasan-gagasannya tentang kemajuan bangsa berbasis pada kebudayaan bertebaran pada berbagai media cetak. Lelaki asli Manado ini memang bukan penggiat demonstrasi jalanan. Dia lebih memilih kelompok diskusi.
”Soekarno yang penuh gelora memang membangkitkan perlawanan rakyat melawan penjajahan. Namun ingat, di belakang Soekarno ada Hatta dan Sjahrir yang dengan tekun menyusun desain besar Indonesia masa depan. Aku ingin seperti Sjahrir,” ucap Umboh kepadaku. Aku dukung pilihan Umboh. Dalam sebuah gerakan, tetap saja diperlukan pemikir-pemikir dengan gagasan besar.
*
2023
Pesan WhatsApp masuk ke ponselku. Dari Sihombing. Aku baca, ”Agung, dua puluh lima tahun reformasi harus kita rayakan. Dirimu dan rumahmu tak bisa kami lupakan, sebagai simpul gerakan mahasiswa. Aku sudah menghubungi Saiful dan Umboh untuk datang. Jonatan, pas kebetulan ada di Indonesia.”
Rumah masa lalu tetap aku tinggali. Bapak dan ibu pindah ke Kulon Progo, menikmati hidup dengan bercocok tanam. Adik semata wayangku menikah dengan laki-laki Australia, kemudian tinggal di Sydney.
Jika aku memilih profesi sebagai dosen tehnik di almamater, Sihombing tetap aktivis sejati. Lulus dari Fakultas Ekonomi langsung masuk partai politik yang lahir di era reformasi. Perjalanan panjangnya di partai, menjadikan dia sekretaris jendral partai.
Hari ini, justru Jonatan yang paling awal datang ke rumah. Jam sepuluh pagi dia sudah sampai.
”Rute perjalananku, New York, London, Abu Dhabi, Jakarta, Yogya. Perjalanan yang sangat panjang,” kata Jonatan. Dia buka kopernya. Sebotol wine. ”Bir tidak ada di Kitab Suci, yang ada adalah anggur. Maka, aku bawa anggur untukmu.” Selera humor Jonatan memang cerdas.
Otak Jonatan memang brilian. Lulus dari Fisipol, mendapat beasiswa kuliah master di London School of Economics. Tiga tahun bekerja di PBB. Balik kuliah ambil doktor di Harvard Kennedy University. Bergelar doktor, justru pilihan hidupnya berbelok. Menjadi pastor Katolik. Mengelola gereja di kampus Fordham University, sekaligus menjadi dosen.
Suara bariton Sihombing terdengar jelas dari luar rumah. Pintu aku buka, langsung Sihombing memeluk erat diriku, ”Apa pun posisi dan profesi kami, kau tetap ketua kami, Gung!” Melepas pelukan, gantian Sihombing menatap Jonatan. ”Cino Edan kok bisa jadi pastor ya? Kalau kau melayani di gerejaku, pasti aku akan pindah gereja.” Sihombing tertawa keras.
Saiful, datang sepuluh menit berikut. Dengan pengalaman sebagai ketua ormas agama, membawa Saiful masuk partai politik yang justru partai politik itu pada masa lalu didemo mau dibubarkan Saiful. Tapi, apalah bedanya partai politik lama dan baru. Hari ini sama saja. Ideologinya cair. Kemarin berkongsi, hari ini berseberangan, entah lusa. Seperti hari ini. Partainya Saiful mendukung pemerintah, partainya Sihombing menjadi oposisi.
Umboh paling akhir datang. Menarik melihat perjalanan karier Umboh. Kuliah jurusan MIPA, justru S2 dan S3 ambil ekonomi. Bukan sembarangan kuliah Umboh. Master di University of California, Berkeley. Doktor diraih di Yale University. Sebagai birokrat, Umboh menduduki direktur jendral di kementerian keuangan.
Berlima kami meriung. Usia menjelang kepala lima tidak menghentikan kehebohan kami seperti tiga dekade silam. Kami mengumpat, khas umpatan-umpatan masa lalu. Mengolok-olok Jonatan, yang sampai detik ini kami berempat tidak percaya Cino Edan ini menjadi biarawan. Mengejek Saiful yang dahulu dengan lantang akan membubarkan partai politik, justru sekarang menjadi juru bicara partai politik itu.
Mencecar Umboh apakah tetap menjadi Don Juan yang suka berganti-ganti wanita. Masa lalu, Umboh konsisten dengan teori kelasnya Marx, namun tidak konsisten apabila memacari gadis. Tentu kami mengata-ngatai Sihombing yang lebih banyak membual daripada berbicara berbasis fakta di televisi.
Rokok tidak pernah rihat dari mulut Sihombing. Tiga kaleng bir sudah tandas ditenggak Jonatan. Saiful bak bartender, mengolah aneka kopi. Lalu Umboh berkata. Kali ini serius. ”Hombing, hati-hati kau. Jangan terlalu culas. Duit yang masuk ke rekening ajudanmu, adikmu, sepupumu, sudah terlalu jumbo. Rem-lah. Kalau tidak, aku tidak bisa menunda membubuhkan tanda tangan untuk memeriksa dirimu.” Sihombing diam, tanpa komentar.
Kemudian Umboh menatap Saiful. ”Ful, bilangin ke ketua partaimu. Jangan menjadikan ATM menteri yang menjadi wakil partaimu di pemerintah. Lubang-lubang yang dibuat menteri dari partaimu sudah terlalu banyak. Satu-dua lubang lagi dibuat, menteri partaimu akan diciduk.”
”Ya… ya… segera aku koordinasi dengan ketua,” Saiful meraih secangkir kopi dan menenggak habis.
Waktu terlampau cepat bagi kami. Kepentingan masing-masing yang membuat kami berpisah. Sore hari mereka berpamitan. Betapa bahagianya aku melihat persahabatan kami yang terjaga erat tiga dekade. Posisi rawan yang dilakoni teman-teman, diingatkan oleh teman yang lain.
Senja ketika lampu rumah mulai aku nyalakan. Pintu diketuk. Aku buka. Seketika metabolisme di tubuhku menjadi kacau. Dinda! Ya, Dinda gadis ayu yang mencuri hatiku, tepat di hadapanku.
”Teman-teman sudah pulang?” Dinda memecahkan kebisuan.
”Ya… ya… sejam lalu,” tergugup aku berucap.
”Sihombing mengabari aku siang sampai sore hari ini ada reuni di rumahmu,” Dinda melanjutkan bicaranya. ”Boleh aku masuk?”
”Ya, ya. Dengan senang hati.”
Duduk berdua, berhadapan.
”Sengaja aku terbang dari Singapore untuk mendatangi pertemuan ini. Sengaja pula aku datang ketika teman-teman sudah pulang. Bagaimana kabarmu?”
”Ya begini ini,” jawabku pendek.
Sayang aku tidak siap dengan pertemuan ini. Pikiranku berpetualang entah ke mana. Pembicaraan dua arah tiada terjadi. Kaku adanya. Tidak lebih lima belas menit Dinda berpamitan. Tidak nyaman dengan suasana yang begitu kaku lagi formal.
”Ini untukmu, Agung.” Dinda menyerahkan sebotol wine untukku. Kuterima pemberian Dinda.
Dinda berjalan. Baru tiga langkah, aku berkata. ”Dinda, boleh aku mencium pipimu?” Dinda menghentikan langkah. Membalikkan badan. Aku pandangi lekat wajah Dinda. Dua ciuman mampir ke pipi Dinda.
”Maafkan aku, Agung.…” Ada butiran air pada mata Dinda. Sebelum jatuh, Dinda melanjutkan berjalan. Menutup pintu.
Dinda nan ayu. Kekasihku. Menikah dengan lelaki pilihannya. Untuk kemudian tinggal di Singapore. Aku tetap di sini. Di rumah ini. Sendiri.
***
AM Lilik Agung, konsultan SDM yang banyak menulis ulasan kepemimpinan serta manajemen pada berbagai media. Menulis empat buku fiksi yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Buku kumpulan cerpen kelima Sketsa Urban terbit pertengahan tahun 2023 ini.
sumber : kompas.id, 17 Jun 2023.