Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pertunjukan oleh F Rahardi

Posted on Ming, 25 Mar 2012

 

Kamu mengatakan bahwa yang saya persembahkan ini sebuah pertunjukan. Aku tidak setuju, sebab yang kusampaikan ke masyarakat hanyalah gangguan kuping. Aku berharap syaraf-syaraf kuping mereka tersiksa dengan hebatnya, lalu pada menit-menit bahkan detik-detik terakhir mereka akan aku siram dengan gerimis yang sejuk.

Turun dari pesawat kami harus jalan darat, dan tiba sudah sangat larut malam. Ada beberapa penjemput, dan kudengar Melani bertanya ke para penjemput itu, “Apakah Bapak Uskup sudah tidur?” Pertanyaan bodoh pikirku, tetapi aku hanya berjalan seperti zombie menuju mobil jemputan. Aku tidak tahu pasti apakah bisa tersenyum kepada para penjemput yang menyalami kami itu, atau wajahku juga mirip dengan wajah zombie. Maka setiba di wisma tamu aku langsung mandi dan tidur. Aku masukkan seluruh diriku ke dalam kantung tidur, dan selanjutnya rohku terbang sampai ke langit tujuh, lalu terjun sampai ke palung yang paling dalam, lubuk yang paling hangat di perut bumi.

Tahu-tahu hari sudah pagi. Bahkan sudah sangat siang. Semua sibuk dan ribut. Orang-orang itu juga meributkan, karena kata mereka, Melani tidur di kamarku. “Lalu ada apa?” tanyaku kepada orang-orang itu. Sambil tertawa-tawa mereka mengatakan, “Ya tidak kenapa-kenapa!” Maka siang itu pun kami berlatih dengan sangat serius sebab kata mereka pertunjukan akan berlangsung dua hari lagi. Aku bilang ke mereka, “Ini bukan pertunjukan, ini permainan pendengaran.” Mereka bingung tetapi segera mengatakan, “Ya benar juga ya Bapak? Bapak kan hanya akan duduk-duduk saja ketika memainkan alat-alat itu?” Meskipun kami hanya latihan, setiap kali selesai satu permainan, para penonton yang hanya beberapa orang itu memberikan aplaus berupa tepuk tangan. Ya, aku sadar ini kan kota kecil. Ini kota yang sangat kecil.

Bapak Uskup itu ternyata muda, gagah, tampan dan sangat ramah, bahkan egaliter. Dia memanggil saya dengan sebutan “Bung”. Saya tentu tetap memanggilnya dengan Bapak Uskup, kadangkala dengan Monsinyur. “Ini tadi Bung sudah makankah?” Saya menjawab, “Sudah Bapak Uskup. Kami makan enak sekali. Ikan, katanya hasil tangkapan dari sungai, dan sayur bunga pepaya. Tapi mengapa di sini juga ada tempe, Monsinyur?” Bapak Uskup itu tertawa berderai. “Wah, Bung ini bagaimana? Di sini kan banyak sekali transmigran dari Jawa, dari Yogya, dari Bali, ya merekalah yang memperkenalkan tempe ke orang-orang sini. Jadi Anda keberatan kalau acara kita ini nanti disebut pertunjukan?”

***

Melani menjelaskan, bahwa sebenarnya biaya yang digunakan untuk mendatangkan rombongan, mengangkut alat-alat dari Jakarta, dan tetek bengek lainnya, andaikan dipakai untuk membangun sekolah, atau memberi beasiswa ke anak-anak berbakat, akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Dan yang akan mereka lihat hanyalah tangan yang memetik-metik, memukul-mukul, memencet-mencet, mulut yang meniup-niup, selebihnya mereka hanya akan mendengar teror bunyi. “Juga membetot, dan menggesek bukan?” Tanya Bapak Uskup itu, dan Melani mengangguk mengiyakan. “Benar Bapak Uskup, juga membetot dan menggesek.”

Maka, seharusnya mereka cukup tidur-tiduran di rumah masing-masing, atau duduk-duduk mengitari perapian sambil makan ubi bakar, lalu bunyi-bunyian itu diperdengarkan ke telinga mereka. Itu lebih dari cukup. Mereka tentu akan sangat berterima kasih, andaikan uang untuk menerbangkan kami ini, diserahkan ke mereka guna membeli babi, atau untuk jajan bir dan wisky. “Ya itulah yang terkenal sampai di luaran sana.” Kata Bapak Uskup sambil manggut-manggut, menangkap apa yang disampaikan Melani. “Etnis yang tak punya tradisi memfermentasi karbohidrat, atau gula menjadi alkohol, ketika mengenal jenis minuman ini memang akan ketagihan. Beda dengan etnis yang punya keahlian membuatnya.”

Panggung sudah didirikan entah berapa minggu yang lalu. Lampu sorot, sound system, dan generator sekian puluh ribu KVA digotong dari bawah sana. Berdrum-drum solar juga didatangkan, babi dipotong, sagu ditebang, semua siaga satu. “Apakah tadi Bung ikut bakar batu?” Sayang sekali. Saking capeknya aku ketiduran di kursi, dan tak ada seorang pun yang berani membangunkanku. Melani pun, yang biasanya teliti, kali ini teledor. Sayang sekali. Upacara bakar batu itu sangat penting. Bukan soal makannya, melainkan guyubnya itu lho! Seakan ada energi yang turun dari langit sana. Itu semua memang energi matahari: daging babi, ubi jalar, sayuran, semua hasil fotisintesis dari energi matahari. Lalu api untuk membakar batu itu juga berasal dari kayu dan serasah hasil fotosintesis energi matahari.

Di kejauhan saya melihat Bapak Uskup itu berbicara serius sekali dengan Melani, lalu mereka berdua menunjuk-nunjuk ke arah tertentu. Lalu mereka berbicara serius lagi, lalu beberapa orang datang membagi-bagikan bungkusan. “Ini rompi harus Bapak kenakan! Ini perintah Bapak Uskup. Kalau tidak pakai ini rompi, bisa mati kena peluru OPM.” Aku kaget, “Apakah di sini ada OPM?” Orang itu tetap menjawab dengan sangat serius. “Kata Bapak Uskup, kami semua OPM. Bapak Uskup juga OPM. Kami Orang Papua yang Merdeka. Itu kata Bapak Uskup. Kami tidak tahu apa maksud Bapak Uskup. Tetapi ini rompi harus Bapak Pakai. Maka aku pun mengenakan rompi itu, dan ya ampun! Berat sekali ternyata! Ini rompi dari bahan apa kok beratnya seperti ini?

***

Saya bertanya ke Melani, mengapa pada malam pertama itu ia tidur di kamar saya. Saya sama sekali tidak tahu, sebab begitu memasukkan badan ke kantung tidur langsung terlelap. Kebiasaan saya tidak pernah mengunci pintu kamar. Ketika pagi-pagi bangun, saya memang melihat Melani ada di kamar, tetapi saya mengira ia masuk pagi itu untuk sesuatu yang harus ia persiapkan. Ternyata Melani memelototi saya, “Kalau tidak masuk ke kamar ini, dan mengunci pintu dari dalam, saya sudah digilir tiga bapak-bapak yang sangat kekar.” Pasti. Kata Bapak Uskup, mereka pasti mabok. Sudahlah, kita memang terpaksa harus melupakan apa saja yang sebaiknya kita lupakan. Sambil terus mengingat-ingat apa saja yang seharusnya kita ingat-ingat dengan sangat cermat.

Kamu masih ingat kan Melani, ini bukan Jakarta. Maka kita semua harus ekstra hati-hati. Maka apakah kamu sudah memakai rompi? Aku yakin tubuh Melani yang kecil itu akan jadi lucu kalau harus diberi rompi, lalu ia harus memakai blus, atau apa saja di bagian luarnya. Jangan-jangan ia tidak mau mengenakan rompi itu? Seharusnya kita memang mengenakan sesuatu yang penting, dan mendesak untuk kita kenakan. Maka saya minta izin kepada Bapak Uskup, apakah dalam pertunjukan ini nanti boleh mengenakan kain sarung? Bapak Uskup menggeleng-gelengkan kepala, tetapi seraya menjawab, “Untuk Bung, apa sih yang tidak diperbolehkan? Andaikan Bung minta izin untuk pakai koteka pun aku harus kasih izin. Silakan, monggo. Ya, aku memang Flores. tepatnya Manggarai, tetapi ngomong Jawa iso. Kromo inggil sekedik-sekedik! Lha wong Seminari Tinggi saya di Kentungan kok!”

“Tapi saya akan menjawab kritikan anak buah Bung itu. Ya, Bu Melani itu. Keuskupan membiayai penerbangan sekian banyak orang dari Jakarta, memang benar. Tetapi saya akan cerita yang lain. Dulu para mahasiswa di sini pernah usul agar saya mendatangkan seniman besar nasional kemari. Kebetulan saya pribadi kenal baik dengan beliau, maka langsung saya hubungi. Di luar dugaan beliau minta dibayar seratus juta. Lha saya bilang keuskupan tidak punya uang sebanyak itu. E, beliau enak saja bilang bahwa saya bisa minta ke Freeport. Saya juga langsung bilang bahwa saya ini uskup, bukan peminta-minta. Tampaknya beliau agak tersinggung saya jawab begitu, dan itu semua saya sampaikan ke para mahasiswa.”

Baiklah, semua sudah sangat jelas. Tak akan ada pertunjukan. Mereka hanya akan menyaksikan orang duduk-duduk, satu dua memang akan ada yang berdiri di panggung, lalu semua akan mengoperasikan tangan-tangan mereka, hingga alat-alat mahal yang diangkut dari Jakarta itu akan mengeluarkan bunyi-bunyian. Bunyi alat-alat itu memang tidak ada yang seperti teriakan perang, suara burung, atau jerit babi yang ditusuk aortanya sebelum dipotong-potong dan dipanggang. Mengapa bunyi-bunyian itu perlu diperdengarkan ke mereka? Semua hanya sebuah konsensus. Tapi sejak awal, saya hanya mengira bahwa yang akan terjadi hanyalah basa-basi. Para undangan akan berpura-pura mengapresiasi dengan tepuk tangan. Itu gampang sekali sebab cara bertepuk tangan sudah diajarkan sejak anak-anak, oleh para ibu guru TK.

***

Kadangkala aku juga agak kikuk ketika ada bapak-bapak atau ibu-ibu memanggil saya dengan sebutan Romo. Itu kan sebutan untuk pastor, padahal saya ini bukan pastor. Sulit sekali menjelaskan hal ini, tetapi tetap harus dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Melani sangat bisa diandalkan dalam hal ini, hingga tahu-tahu semua sudah sangat rapi. Aparat pemerintah berjajar rapi di kursi kehormatan deretan paling depan. Di depan meja mereka ada minuman air dalam botol plastik, ada juga buah impor. Mereka duduk menghadap panggung, dan kuping mereka sudah terpasang di kiri maupun di kanan. Hanya kadangkala kuping kanan mereka, mereka paksa untuk mendengar suara dari sebuah kotak kecil gepeng berwarna hitam, dengan tombol-tombol banyak sekali.

Rakyat juga sudah siap untuk menyaksikan para pejabat itu bertepuk tangan, dan itu adalah komando bahwa mereka juga wajib ikut bertepuk tangan. Tepuk tangan mereka juga harus sopan, lalu bisa dihentikan serentak ketika tiba saatnya untuk berhenti, tanpa perlu diberi aba-aba secara resmi. Teratak yang dibangun darurat itu cukup kokoh, beratapkan daun sagu, dan setelah pidato-pidato, setelah sambutan-sambutan, rombongan dari Jakarta itu pun lalu memperdengarkan bunyi-bunyian dari peralatan yang mereka bawa. Begitu alat-alat itu dibunyikan, serentak para undangan bertepuk tangan, dan segera disusul oleh rakyat yang juga bertepuk tangan ramai sekali.

Tapi biarkan saja. Drum, gitar, piano, bas, apalagi? Tepuk tangan itu juga sangat keras. Lampu sorot itu bukan hanya terang tetapi juga panas hingga tubuh yang di panggung menjadi gerah dan berkeringat. Tapi ketika lampu sorot itu padam, juga lampu-lampu yang lain, maka kedengaran jerit ramai sekali. Ketika lama sekali lampu tidak kunjung menyala, semua bertanya-tanya. Ketika kedengaran suara tembakan maka yang kupikirkan apakah Melani sudah benar-benar mengenakan rompinya? Lho, apakah ia juga mendapatkan jatah rompi? Jangan-jangan hanya aku seorang yang diberi rompi. Beberapa orang lalu menyorotkan lampu senter. Lalu ada tembakan lagi. Lalu aparat kepolisian menjadi sangat sibuk. Itulah, tak ada yang bisa dipertunjukkan. Semua gelap, tapi tetap ada yang bisa diperdengarkan: jeritan, tembakan, dan suara yang gaduh.

Sorong, 2011

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme