Malam itu dia sibuk sekali menepuki nyamuk yang berdenging ganas menggigiti tubuhnya. Rencananya tidur lebih cepat berantakan tanpa ampun. Gigitan nyamuk tak hanya bikin gatal dan bentol-bentol tapi juga rasa panas menyengat pada kulit lelaki itu. Beberapa ekor mati dia tepuk, tetapi puluhan teman-temannya datang menggantikan lebih banyak lagi, seperti pasukan berani mati. Mereka bersuka ria dalam pesta menyesap darah. Di kuping lelaki itu nyamuk-nyamuk tertawa-tawa melihatnya sibuk menepuk ke sana kemari seperti sedang menari dengan gerak acak.
Dari manakah datangnya nyamuk-nyamuk sialan ini? Dari got-got yang mampat? Dari baju-baju kotor yang bergelantungan di balik pintu? Tapi tak ada got mampet di sekitar rumahnya. Tak ada baju-baju kotor di balik pintu. Dia tak pernah menggantung baju kotor di balik pintu. Baju-baju yang sudah dipakai tapi belum terlalu kotor dan masih bisa dipakai lagi dia gantung dan masukkan dalam lemari yang pintunya dia tutup rapat. Sedangkan pakaian yang sudah kotor segera dia masukkan ke mesin cuci.
Lantai rumah pun selalu bersih dia sapu dan pel dua kali sehari sehingga kesat dan terasa nyaman di telapak kaki. Setiap sudut rumah yang dapat menjadi sarang nyamuk juga tak pernah alpa dia bersihkan. Sapu, lap, dan kemoceng merupakan peralatan penting yang selalu tersedia di rumahnya. Tak ada ramat, atau sarang laba-laba. Di semua pojok tersembunyi dia semprot dengan pengharum rasa jeruk yang tak disukai nyamuk dan serangga lainnya. Piring, sendok, asbak, dan tetek bengek peralatan masak dan makan segera dia cuci sehabis dipakai dan ditiriskan di rak yang dia masukkan dalam laci-laci dapur yang juga bersih mengkilap.
Dia tak mempunyai banyak barang yang memungkinkan jadi sarang nyamuk. Barang-barang yang tak banyak itu dia tata dengan rapi di tempatnya masing-masing. Tak boleh salah tempat. Dulu dia acap bertengkar dengan istrinya gara-gara perempuan itu sering lupa meletakkan barang ke tempat semula setelah dipakai. Dia hanya punya dua pasang sepatu; sepatu kerja dan sepatu olahraga yang semuanya dia letakkan dalam rak plastik gantung yang buka tutupnya pakai resleting. Sebuah foto dan lukisan saja yang dia sisakan tergantung menempel di dinding rumahnya.
Sejak istrinya pergi meninggalkan dia sendirian di rumah ini, laki-laki itu membuang barang-barang kesayangan yang tak benar-benar dia butuhkan. Bahkan buku-buku yang sudah dia baca dia hibahkan ke kawan-kawan. Dia hanya menyisakan yang sangat dia sukai yang bisa dibaca berulang-ulang. Dia menata rumah kecilnya sesimpel dan seefisien mungkin seperti yang diajarkan Marie Kondo. Dia hanya membeli benda-benda yang sungguh-sungguh diperlukan. Dia hanya satu selimut, satu sprei dan satu sarung. Di jemuran hanya ada selembar handuk dan sapu tangan. Dia akan membeli yang baru apabila yang lama sudah tak bisa digunakan lagi. Sejak dulu dia sebenarnya membenci kebiasaan Inayah, istrinya, yang gemar membeli barang-barang yang sebenarnya tak mereka butuhkan yang membuat rumah kecil mereka sumpek penuh tumpukan barang tak terpakai di mana-mana: baju-baju, sepatu, segala macam perabotan dan perlengkapan berdandan. Perbedaan itulah salah satu penyebab ledakan pertengkaran mereka yang berakhir dengan perpisahan.
Kini setelah perempuan itu pergi dan rumah tertata rapi, kenapa nyamuk-nyamuk tetap betah di sini? Di kamar mandi tak ada bak mandi dengan air yang menggenang. Sabun dan sampo selalu dia beli dalam kemasan botol besar supaya tak banyak menyisakan sampah plastik. Dia mandi menggunakan air yang disemprotkan melalui selang. Kamar mandinya senantiasa kering seusai digunakan. Begitu juga kakus duduk selalu bersih dan harum sehabis digunakan buang hajat. Saluran pembuangan air bekas mandi dan mencuci semuanya di bawah tanah yang atasnya dilapisi semen. Sejak kecil dia selalu rapi, tertib, disiplin seperti diajarkan ibunya.
Jadi, dari mana datangnya nyamuk-nyamuk itu? Apakah mereka datang dari rumah tetangga sebelah? Terbang beriringan menyeberangi gang dan taman menyerbu rumahku? Apakah mereka berpikir diriku kesepian dan perlu mereka temani dengan suara dengingnya yang menjengkelkan?
Sungguh celaka nyamuk-nyamuk ini. Mereka seolah tak mempan diusir kipas angin yang dia setel hingga pol. Mereka tahan spray antinyamuk. Bahkan mereka tak menyerah pada losion antinyamuk yang dia balurkan di sekujur tubuh. Ya Tuhan, nyamuk apakah ini, yang membuatnya tersiksa, putus asa, dan nyaris semalaman tak dapat tidur? Dengan kemarahan dan kejengkelan yang meluap tiada terkira akhirnya dia melakukan hal gila ini: dia membuka jendela lebar-lebar dan melepas seluruh pakaiannya untuk memberi keleluasaan nyamuk-nyamuk lainnya di luar sana datang dan turut berpesta pora. Dia telentang pasrah membiarkan mereka berpesta pora menikmati darahnya. Dia memejam meresapi rasa perih setiap gigitan dan tusukan moncong nyamuk di sekujur tubuhnya. Biarlah bila aku harus mati kehabisan darah dihisap miliaran nyamuk, pikirnya. Tapi kepasrahan semacam itu hanya bertahan 30 menit.
Dia bangkit, mengenakan pakaiannya kembali. Lalu mencari raket nyamuk yang pernah dibeli istrinya. Dia berharap belum membuang benda itu. Dia menemukannya dalam kardus bawah tangga. Syukurlah baterainya masih penuh untuk menyalakan setrum pada senar raket. Mampuslah kalian, nyamuk-nyamuk jahanam. Dengan raket nyamuk dia berhasil membunuh banyak nyamuk dengan bunyi cras sekali kibas. Puas sekali melihat tubuh mereka terbakar sengatan listrik. Bangkainya berserakan di lantai dan seprei, banyak sekali hingga mengubah warna lantai dan sprei menjadi kehitaman menjijikkan. Tapi mereka tak habis-habis. Kawan-kawannya entah dari mana terus berdatangan. Mereka bagai bersekongkol untuk benar-benar menghabisinya. Dia kini sadar tak boleh menyerah.
Namun sejam kemudian batre raket nyamuknya habis. Dia ingat masih menyimpan kelambu, tapi lupa menyimpannya di mana. Ketika kelambu berhasil dia temukan, kelambu itu ternyata robek lebar sekali. Karena kelelahan akhirnya dia tertidur. Tapi lagi-lagi, tak berlangsng lama. Denging dan gigitan nyamuk membuatnya terbangun. Nyamuk-nyamuk makin garang menyerbu tubuhnya. Dia mengubur tubuhnya dengan selimut. Tetapi ini bukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah. Dia bagai tak bisa bernapas.
Dia merasa tak punya lagi cara mengusir nyamuk. Malam itu dia keluar rumah dengan tubuh terbungkus jaket berpenutup kepala, berjalan menyusuri gang ke arah perempatan mencari warung untuk membeli obat nyamuk bakar. Dia pikir asap obat nyamuk bakar yang mampu membuat nyamuk-nyamuk itu mabuk dan mampus. Langit gelap tanpa sebiji pun bintang. Hanya sisa bulan yang pucat di tepi langit. Tapi tak ada warung yang masih buka. Pukul dua pagi. Semua orang sudah tidur atau sedang seru-serunya bergumul.
Embun mulai berterjunan dari langit bersama udara dingin. Dia kembali ke rumah. Duduk di teras dan nekat menelpon Inayah. Meminta tips ampuh mengusir nyamuk. Tapi dia tak mengangkat teleponnya, tentu saja. Siapa yang sudi mengangkat telepon pada dini hari. Apalagi telepon dari mantan yang dibenci. Beberapa teman yang dia hubungi juga tak ada yang mengangkat. Hampir jam tiga pagi. Dia tak berani mengetuk rumah tetangga sebelah. Salah-salah malah dikira mau merampok. Dia tak kenal dengan baik mereka satu pun. Nyaris tak pernah ngobrol kecuali menyapa sekadar basa-basi saat papasan di gang. Warga kompleks perumahan yang sangat sedikit penghuninya ini jarang yang saling mengenal. Justru karena itu dia dulu memilih membeli rumah di sini.
Dia merasa tak punya lagi cara mengusir nyamuk. Malam itu dia keluar rumah dengan tubuh terbungkus jaket berpenutup kepala, berjalan menyusuri gang ke arah perempatan mencari warung untuk membeli obat nyamuk bakar. Dia pikir asap obat nyamuk bakar yang mampu membuat nyamuk-nyamuk itu mabuk dan mampus. Langit gelap tanpa sebiji pun bintang. Hanya sisa bulan yang pucat di tepi langit. Tapi tak ada warung yang masih buka. Pukul dua pagi. Semua orang sudah tidur atau sedang seru-serunya bergumul.
Dia bersitahan duduk di teras sambil merokok. Berharap ada seseorang lewat di gang depan rumah untuk dimintai tolong memberi obat nyamuk bakar. Beberapa lama kemudian dia mendengar suara langkah. Dia bangun dan beranjak ke depan. Benar. Dia melihat seseorang berjalan dari arah perempatan. Dia memanggilnya ketika seseorang itu tepat melintas di depan hidungnya.
Seseorang itu berhenti dan menatapnya.
”Maaf, bolehkah saya minta tolong?”
”Apa yang bisa saya bantu, Pak?”
”Apakah Anda punya obat nyamuk bakar?”
”Maaf, Pak. Saya tak punya. Saya juga sedang mencari obat nyamuk bakar, warung sudah tutup semua. Di rumah saya banyak sekali nyamuk. Obat nyamuk semprot tak mempan,” ujar orang itu dengan wajah rada gusar.
Dia menatap sosok orang itu, di bawah keremangan lampu jalan dia melihat wajah orang itu mirip sekali dengan wajahnya sendiri. Sorot matanya yang sayu, batang hidungnya pendek, dan gerak bibirnya saat mengatakan itu. Bahkan suaranya, dia seperti mendengar suaranya sendiri. Dia juga mengenakan jaket berpenutup kepala yang ujungnya lancip seperti yang dia kenakan.
”Mari, Pak,” kata orang itu seraya berlalu.
Dia masih tertegun melihat punggung orang itu. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Bulu kuduknya meremang. Saat dia memikirkan kejadian tadi, ponselnya bergetar. Inaya menelepon balik. Dia mendadak ragu untuk mengangkatnya. Apa yang akan dia katakan kalau mengangkat teleponnya? Dia biarkan saja ponselnya terus bergetar sampai akhirnya berhenti. Tapi dua menit kemudian Inayah menelpon lagi.
”Ada apa kamu menelponku, Mahdi?”
”Maaf, Nay. Salah pencet,” katanya asal-asalan.
”Tak mungkin. Kamu menelpon berkali-kali. Ngaku ajah kamu mau ngomong apa? Kamu kesepian? Mau minta aku kembali. Jangan harap, Mahdi. Capek hidup dengan orang kikir seperti kamu. Kamu itu cocoknya kawin sama nyamuk. Ah sudahlah aku mau tidur. Nanti kesiangan. Besok aku mau ke Jogja sama pacarku.”
Rentetan kalimat itu mengempaskannya. Sejujurnya dia memang masih mencintai Inayah. Perempuan itu benar, dia kesepian.
Azan subuh yang memantul dari musala kecil di kompleks perumahan itu makin menyayat-nyayat perasaannya, ditambah denging nyamuk yang makin getol menusuki kulit membuat dia makin merasa terpuruk kehabisan darah. Limbung di berjalan ke ruang belakang. Di samping dapur dia melihat jeriken kecil berisi sisa bensin yang biasa digunakan untuk membakar sampah di samping rumah. Dia menyiramkan bensin itu ke kasur dan perabotan rumah lalu menyalakan api dari pemantik.
***
Aris Kurniawan, lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Menulis cerpen, puisi, resensi, esai untuk sejumlah penerbitan. Buku cerpen terbarunya: Monyet Bercerita (Basabasi, 2019).
sumber : kompas.id, 22 Jun 2023.