Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tenggelam di Bukit oleh Rizqi Turama

Posted on Ming, 11 Des 2022

”Alangkah lucunya rumah kita tenggelam di tempat yang disebut orang ’Bukit Besar’, sementara mereka yang menetap di ’Rawa Bebek’ aman-aman saja ketika hujan menghantam.”

ISTRIKU mencerocos senewen. Aku diam. Dia berlebihan, tentu saja. Pertama, meskipun disebut ”Bukit”, tempat ini sama sekali tidak menyerupai bukit yang menjulang. Tinggi tempat ini tak berbeda jauh dengan ”Rawa Bebek”. Kedua, rumah kami tidak tenggelam. Air pun tidak ada yang berhasil menerobos masuk. Betul jalan di depan rumah sudah digenangi air setinggi lutut orang dewasa. Betul pula jika ia bilang air tinggal dua jari lagi dari pintu depan, tapi tak tepat kalau dia bilang rumah kami tenggelam. Apalagi hujan sudah reda. Sekarang kami sudah mulai bisa merasa lega dan menunggu air surut.

Kondisi yang berbeda dialami oleh tetangga di depan sana. Sekitar dua puluh meter dari teras tempat kami berdiri sekarang, Pak Harso menatap air yang masuk rumahnya. Dia pasti sedang bingsal –bingung dan kesal. Lelaki itu menoleh ke arahku dan istri. Ia kemudian berteriak, ”Sepuluh tahun aku tinggal di kompleks ini. Baru kali ini banjir masuk rumah.”

”Ya. Hujan kali ini memang luar biasa, deras dan lama,” sahutku dalam teriakan yang tak kalah keras.

Pak Harso menggeleng-gelengkan kepala. Istriku melengos dan berjalan masuk rumah sembari kembali mencerocos, ”Sudah berani rupanya kau menyalahkan hujan, Bang. Macam kaum Nabi Nuh saja kau sekarang.”

”Hei,” balasku. ”Kaum Nabi Nuh tak mau naik ke bukit sebelum hujan turun. Aku sudah mengajakmu tinggal di ’Bukit Besar’ bahkan sebelum musim hujan datang.”

”Aku masih tak begitu yakin dengan alasanmu mengajakku pindah ke sini. Apakah karena lokasinya dekat dengan kantormu atau karena tempat ini mengingatkanmu pada kampung tempat mantan kekasihmu dulu tinggal?”

”Sungguh! Pembicaraan tentang mantan kekasih bukan topik yang tepat di waktu seperti ini.”

”Kau memang tak pernah mau membahasnya, Bang. Tak pernah ada waktu yang tepat untuk membahas mantan kekasih meskipun aku tak pernah tahu kau sudah benar-benar melupakannya atau belum.”

”Ayolah. Anak kita sudah empat tahun dan kau masih ragu padaku?”

***

Sekitar lima tahun lalu aku memang sering membahas soal mantan kekasih kepada seorang teman akrab di kantor. Wajah, senyum, hingga bibir mantanku yang selalu menyampaikan sesuatu secara ceplas-ceplos merupakan hal-hal yang selalu kututurkan. Satu hal yang tak kuduga adalah temanku di kantor yang jadi tempat curhat tersebut punya adik perempuan yang kemudian menjadi istriku. Beberapa cerita soal mantan pasti telah sampai ke telinga adiknya.

”Dia adikku, bukan mantan kekasihmu,” ujar si kakak di hari pernikahanku. Ia juga seperti tersadar bahwa adiknya begitu mirip dengan deskripsi soal mantan kekasih yang sering kuceritakan. Temanku itu bahkan merasa perlu menambahkan bahwa ia bingung kemiripan itu terjadi karena memang aku tak bisa melupakan sang mantan atau karena tipe perempuan yang kusuka ya begitu-begitu saja.

Hal tersebut kulupakan seiring surat pindah tugas yang aku dapat. Dari tanah rantau di Kalimantan, aku disuruh kembali ke tanah lahir di Sumatera. Karena memang tugasku erat kaitannya dengan sungai dan tanah, aku langsung mengamati kedua hal tersebut dan menyadari bahwa kota kelahiranku telah berubah jauh.

Semasa aku kuliah dulu, Sungai Musi punya ratusan anak yang mengular ke berbagai arah. Sekarang anak-anak sungai tersebut telah menghilang lebih dari separonya dan diganti oleh ruko-ruko, perumahan, dan jalan. Anak-anak Musi yang tersisa pun banyak yang hidup dalam derita: menjadi kecil, keruh, dan dangkal.

Kehidupan lebih baik saat dulu sungai-sungai masih mengalir sesuai bentukan alaminya. Saat aku sampaikan hal itu kepada istri –di awal kepindahan kami dari Kalimantan– tanpa kuduga ia menyahut, ”Hidup harus berjalan, Bang. Kau tak bisa hidup terus dalam kenangan dan menganggap masa lalu selalu lebih bagus daripada masa kini. Nikmati saja yang ada.”

***

Banjir sudah semakin surut, tetapi belum ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Istriku duduk di samping anak kami sembari menonton televisi yang menayangkan berita-berita terkini. Sebuah tontonan yang amat jarang –untuk tak menyebut ”tak pernah”– disaksikan di rumah ini.

Hujan deras disertai angin kencang dan petir sejak menjelang subuh hingga duhur tadi rupanya memang memberi banyak efek, selain banjir tentunya. Sinyal internet melemah, begitu juga dengan layanan televisi kabel berlangganan. Anak kami akhirnya tak bisa menonton film kartun favoritnya. Terpaksalah ia menonton berita bersama ibunya seperti sekarang.

Karena tak ada pilihan lain, aku pun ikut nimbrung mereka. Pembawa acara mengabarkan seorang wanita meninggal karena tercebur dalam got. Ia tak melihat keberadaan got tersebut akibat banjir. Arus yang deras membuatnya tak berkutik dan kehabisan napas. Di tempat lain seorang lelaki paro baya meninggal tersambar aliran listrik. Tampaknya ada kabel yang terbuka dan listrik mengalir di air yang banjir.

Channel kuganti dan berita lain tampil. Orang-orang menikmati banjir dengan cara mereka sendiri. Ada yang mengunggah status berisi video anak-anak kecil berenang riang di tengah air berwarna cokelat. Sampah-sampah melintas begitu saja dan mereka tak peduli, tetap sibuk berenang seolah-olah itu adalah momen berenang gratis yang tak akan datang saat hujan berikutnya kembali bertandang. Beberapa emak-emak bahkan menulis besar-besar di status mereka ”Waterboom Gratis”.

Tombol remote kutekan dan channel kembali berganti. Beritanya kali ini menampilkan sang wali kota. Di kantornya yang kering, bersih, aman, rapi, dan indah ia menyatakan bahwa pemerintah kota sudah berusaha maksimal untuk mencegah banjir, tetapi cuaca ekstrem dan curah hujan yang lebih tinggi daripada biasanya merupakan hal-hal yang tak bisa ia kendalikan. Televisi kumatikan.

Anakku tidak protes. Ia berjalan kulu-kilir tak keruan. Kelihatan betul sedang ingin membunuh rasa bosan, tapi tak tahu bagaimana. Ia melongok ke arah teras. Banjir masih lumayan tinggi.

***

”Bagaimana mau menikmati apa yang ada kalau kota ini akan tenggelam,” begitu kataku pada istri saat kami baru pindah ke sini tiga tahun lalu. ”Sungai dan rawa ditimbun tanpa pembuatan saluran air yang mencukupi. Saat ini saja beberapa titik dipastikan banjir tak peduli sekecil apa pun hujannya, apalagi sepuluh tahun yang akan datang.”

”Kau kan salah satu orang yang berpengaruh di pembangunan-penimbunan itu, Bang. Artinya kau bisa mencegah sesuatu yang lebih buruk untuk terjadi, bukan?” sahutnya nyaris tanpa menoleh padaku yang terenyak. Barang-barang yang dikirim dari Kalimantan barusan sampai dan kami sedang sibuk memindah-masukkannya ke rumah.

”Kalau aku seberpengaruh itu, tentu kita jadi orang yang betul-betul kaya sekarang. Nyatanya aku cuma salah satu kaki tangan perusahaan.”

”Tapi kau tetap punya pengaruh, Bang.”

”Mungkin.”

Istriku membalas dengan senyum yang artinya tak kumengerti. Lalu kami lanjut mengangkut-angkut barang pindahan yang sebenarnya tak seberapa banyak.

Saat itulah Pak Harso datang untuk basa-basi. Aku terperanjat sebab tetangga baru itu adalah tetangga mantan kekasihku dulu. Wajah dan perawakannya nyaris tak berubah sama sekali. Aku sempat cemas ia mengenaliku, tapi sepertinya kumis, jenggot, dan perutku yang tumbuh subur membuatnya tak mengingatku.

Ia lalu sibuk bercerita bahwa sebelum jadi kompleks, tempat ini adalah rawa yang dipenuhi rumah panggung. Lalu datanglah developer dan pembangunan dilaksanakan. Rawa ditimbun dan perumahan ditegakkan. Semua penghuni kampung pindah, kecuali dia dan Pak Afri. Untuk kali kedua, aku terperanjat. Pak Afri adalah nama ayah mantan kekasihku.

”Tapi mereka juga sudah pindah ke Jakarta sejak tiga tahun lalu,” ujar Pak Harso. ”Kalian adalah orang kedua yang menempati rumahnya setelah rumah ini dijual.”

Aku belum sempat bereaksi apa pun saat Pak Harso melanjutkan, ”Tenang saja. Di sini aman. Banjir juga tidak pernah masuk rumah meskipun ini dulunya rawa yang ditimbun.”

”Iya, Pak. Aku yakin suamiku sudah memperhitungkan semuanya saat pindah ke sini. Semuanya,” istriku memberi jeda sejenak. ”Ke mana tadi pemilik pertama rumah ini pindah?”

”Ke Jakarta.”

”Oh,” pungkas istriku sambil menyipitkan mata.

***

Anakku masih menatap banjir yang perlahan surut ketika berujar, ”Yah, aku tak pernah buang sampah sembarangan. Kenapa masih banjir juga? Boleh aku berenang? Seperti yang ada di berita tadi?”

Istriku langsung menyambar pertanyaan itu dengan jawaban tegas: tidak. Perempuan itu pun melanjutkan, ”Kau memang tak pernah buang sampah sembarangan, tapi beberapa orang telah sembarangan menimbun rawa dan sungai dengan tanah.”

”Hei, dia baru empat tahun,” sergahku.

”Dia sudah empat tahun.”

”Kalau sudah tahu bakal banjir, kenapa rawa masih ditimbun?” anakku menyela.

”Demi uang yang tak seberapa, tentunya.”

Aku mendelikkan mata ke arah istri.

”Betul, kan?”

”Apa maumu?”

”Jelas. Pindah,” sahut istriku.

”Ke mana? Ke Rawa Bebek? Tahun depan rawa-rawa di daerah sana juga akan ditimbun. Banjir juga akan merembet ke sana. Kita tinggikan saja rumah ini. Biayanya tidak sebesar pindah ke kompleks mewah yang benar-benar bebas banjir,” usulku untuk sekadar menutup mulutnya.

”Kenapa kau berkeras tinggal di sini, Bang? Apakah karena di kompleks kecil yang semua orang tak terlalu kenal satu sama lain ini, kau tak akan dicurigai sebagai salah seorang yang bertanggung jawab untuk hampir semua penimbunan rawa yang menyebabkan banjir di sepenjuru kota selama tiga tahun belakangan? Atau ada sesuatu yang dari masa lalu yang tak ingin kaubiarkan tenggelam di bukit ini?”

Aku tak siap dengan pertanyaan itu dan tanpa diduga, anak kami ikut memberi usul, ”Ayah, kalau sepenjuru kota ini akan kena banjir, kita pindah ke luar kota saja.”

”Ke mana?”

”Jakarta,” katanya mantap. Istriku menyipitkan mata.

Wah. (*)

 

ART

Bukit Besar, 29 Januari–27 Mei 2022

—

RIZQI TURAMA : Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sriwijaya. Aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 11 Desember 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme