Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dange oleh Muhammad Zulkifli

Posted on Kam, 29 Jun 2023

Diam-diam kuamati dia dari balik bilik. Pria itu masih duduk di sana bersama istriku, di bangku panjang depan kios, dari jam setengah tiga sampai jam setengah enam sore. Sudah tiga jam ia duduk menghadap ke jalan, menikmati pemandangan yang tidak terlalu menarik. Hanya kendaraan yang lalu-lalang sepanjang sore. Apakah ia tidak tahu bahwa kios kami mau tutup sebagaimana kios-kios lain yang sudah tutup sejak setengah jam yang lalu. Aku beri kode rahasia kepada istriku yang sejak tadi bercakap-cakap dengan pria itu agar segera mengusirnya, mengingat malam ini adalah Jumat malam. Tak lama setelah itu, pria itu berdiri, beranjak dari bangkunya. Tidak, itu bangkuku. Ini kiosku. Lalu ia masuk ke mobil Furtuner berwarna putih bersih dengan plat merah lengkap dengan sopir yang dari tadi hampir mati menunggu ditelan bosan.

Pria itu selalu singgah di kios kami tiga kali dalam seminggu – Senin, Rabu, dan Jumat – untuk membeli kudapan dange. Padahal di sepanjang jalan poros ini ada banyak sekali kios penjual dange. Namun mungkin ia sudah tergila-gila dengan cita rasa dange buatanku yang begitu legit dan harum; beraroma ketan hitam dan parutan kelapa dengan taburan gula merah yang dibakar dalam wajan tanah liat. Sungguh rasa luar biasa, apalagi ketika masih hangat-hangatnya. Beda tangan, beda rasa. Kupikir awalnya begitu. Namun lama-kelamaan, ia tak hanya membayar dange kami dengan harga semestinya. Ia membayar lebih. Jadi kupikir ia punya niat terselubung.

“Apa yang aneh kalau Pak Sambung bayar kita lebih, daeng? Itukan tanda terima kasihnya juga. Dia kan sudah langganan.” Protes istriku satu waktu.

“Iya. Tidak ada yang aneh kalau bayar lebih. Tapi kalau membayar seratus ribu untuk dange yang harganya cuman lima ribu, apa itu tidak aneh?”

“Pak Sambung kan seorang pejabat di Kantor Daerah. Bagi kita mungkin jumlah segitu sudah banyak, tapi dia?” bela istriku. Aku hanya diam. Mungkin apa yang dikatakan istriku ada benarnya juga. Orang-orang di sekitar kiosku bilang kalau ia pria tua yang baik dan ramah, enak diajak ngobrol dan merakyat. Namun aku tetap tidak percaya.

Senin sore yang gerimis. Jalan poros Pangkep-Barru ramai oleh mereka yang baru pulang kerja, dan sebagian yang lain memilih singgah untuk membeli dange di kios-kios di sepanjang jalan itu untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah, untuk selanjutnya disantap bersama sambil menunggu matahari tergelincir ke peraduannya. Termasuk pria itu. Ia mampir di kios kami, tentu saja, untuk membeli dange dan sebuah obrolan panjang bersama istriku. Ketika sudah jam lima dan setelah aku memberi kode kepada istriku, pria itu akhirnya beranjak pulang dengan mobil plat merahnya, meninggalkan uang seratus ribu kepada istriku.

“Dia pasti kakek-kakek genit. Dia merayumu?” celotehku saat itu.

“Daeng! Daeng! Kamu cemburu ya,” kata istriku sambil geleng-geleng kepala.

Aku tidak menanggapinya dan berkata tidak lebih dari sekadar, “Nanti tidak usah lagi terima pemberian pria itu, dik!” Istriku hanya berdeham dan tersenyum. Kuanggap itu tanda persetujuan. Aku tidak mau menerimanya bukan karena aku sombong. Kami memang hanya rakyat biasa yang kurang berada, tetapi kami masih ada harga diri. Mungkin ia pejabat yang sedang mencari suara untuk pemilu mendatang. Atau ia menyogok agar nanti bisa menggusur lapak-lapak kami. Dan kemungkinan terburuk, seperti yang pernah aku katakan kepada istriku, mungkin ia pria tua genit belaka yang mencari perhatian istri orang. Istriku tertawa besar mendengar kecemburuanku.

Rabu selanjutnya ia kembali datang untuk dangenya. Singgah cukup lama, sampai jam enam sore, dan bercakap-cakap dengan istriku. Aku amati ia dari balik bilik kiosku yang terbuat dari anyaman bambu. Sesekali ia melontarkan senyum dan tawa ketika ia membuat lelucon. Obrolan yang terlihat akrab. Wajahnya terlihat cemerlang. Senyumnya terasa murni. Ingin rasanya ikut dalam obrolan mereka. Namun aku tidak akan tertipu. Aku hanya di sini, di balik bilik, selalu. Tunjukkan kedokmu pria tua jahat, batinku.

Sampai suatu hari ketika pria itu mau pulang, ia menitipkan sesuatu kepada istriku. Setelah mobil pria itu benar-benar lenyap dari pandangan, istriku menghampiriku. “Ini ada handphone pemberian pria yang kamu bilang orang jahat itu.” Aku hanya mematung, membiarkan istriku menaruh benda itu di atas meja. Sungguh pria tua yang bijaksana keparat. Memang sudah lama aku memimpikan memiliki smartphone, dan kini aku memilikinya.

Sore itu, Jumat yang ke 52 semenjak ia datang pertama kali, seperti biasa pria itu datang lagi mengambil dangenya. Ketika pergi, tak tanggung kini ia meninggalkan emas – entah berapa gram – plus uang satu juta di dalam amplop. Aku yang baru tahu ketika pria itu sudah pergi, sontak naik pitam lantaran istriku menerimanya tanpa seizinku. Aku merasa tidak dianggap sebagai kepala keluarga. Pria itu telah bersekongkol dengan istriku. Pria tua itu mengajakku berperang.

“Biasanya kan memang tidak pernah izin sama daeng.”

“Iya tapi kalau pemberiannya segila ini, harusnya kamu bilang dulu! Itu sudah sangat berlebihan. Memangnya dia yang memberimu nafkah? Jangan sok dekat begitu dengannya. Di sini akulah pemimpin keluarga!” Aku terus mencecar istriku yang kali ini hanya tertunduk diam, “aku tidak mau tahu, nanti kembalikan emas, uang, atau apalah itu kepadanya!” tandasku dengan nada yang lebih tinggi. Aku tidak menyangka, bisa setegas itu kepada istriku sendiri.

Benar saja, hari Senin ia mengembalikan semua pemberian pria itu. Namun ia menolaknya dan memaksa istriku menerimanya. Aku ikhlas, katanya. Aku yang dari tadi hanya mengamati dari dalam kios sudah tak tahan, lalu memberanikan diri keluar dan menolak mentah-mentah pemberiannya, dan bilang kepadanya untuk berhenti menjadi pria tua konyol yang sok baik, sok lugu. Aku tak tahu apakah perkataanku itu terlalu tajam untuknya. Namun yang pasti saat itu, ia hanya menatap mataku begitu dalam. Binar matanya menunjukkan sesuatu yang tertahan. Namun aku tak tahu, tatapan yang sulit dimengerti. Lantas ia pergi tanpa membeli dange dan tanpa perbincangan panjang, meninggalkanku yang terpekur kaku di depan kios. Itulah kali pertama aku berbicara dengannya sekaligus yang terakhir kali.

Hari Rabu, pria itu tak datang, begitu pula di hari Jumat. Hingga minggu depannya, pria itu tak kunjung menampakkan dirinya. Hari Senin selanjutnya, istriku tetap setia menunggu kedatangannya di bangku panjang depan kios. Dan aku yang tetap duduk di balik bilik, diam-diam sisi lain dalam diriku menanti kedatangannya.

Diam-diam, setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat hatiku berdegup dua kali lipat mengawasinya ketika hendak mencicipi dange buatanku. Diam-diam, itu menjadi pertaruhanku apakah ia akan datang kembali atau tidak untuk dange buatanku. Namun nyatanya, kini ia sudah tak kembali, kurasa, tak akan pernah kembali. Diam-diam, ada yang bergemuruh di dalam dadaku.

***

Satu bulan kemudian, ketika istriku tetap setia menunggu di depan kios dan aku yang selalu duduk di balik bilik, bukan pria itu yang datang, tapi dua orang aparat tanpa seragam. Mereka memintaku untuk ikut bersamanya. Awalnya aku menolak, tetapi setelah mereka memohon, akhirnya aku bersedia. Mereka mengaku sebagai ajudan si pria tua. Lantas aku ditemani istriku dibawa ke gedung yang berwarna serba putih dengan orang-orang yang juga berseragam serba putih di dalamnya.

Di sana kami diantar menuju satu ruangan yang di atas pintunya tertulis ruang gawat darurat VIP. Kami dipersilakan masuk dan dua ajudan itu perlahan menyingkir dan undur diri. Aku berdiri mematung di depan pintu. Tak ada apa pun di sana, kecuali seorang dokter dan satu wanita yang sudah berumur sedang menangisi seseorang yang tergeletak dengan selimut menutupi tubuhnya di atas ranjang tepat di hadapannya. Ketika melihatku, wanita itu langsung menghambur memelukku erat-erat. Aku tak kenal wanita itu dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Dan lagi, aku tak tahu posisiku sekarang tentang apa yang sedang terjadi.

Perlahan satu cahaya terang mulai terkuak, wanita itu adalah istri si pria tua. “Nak, suamiku sering membicarakanmu setiap hari,” wanita itu membuka percakapan. Tidak, itu bukan percakapan. Aku hanya diam dan membiarkan wanita itu. “Dia selalu bilang mau bercakap-cakap denganmu.” Tetapi kenapa aku, bukan istriku? batinku.

Ia lantas bercerita, “bahagia tak pernah memeluk hidupnya. Ia dirundung kesedihan bertubi-tubi,” ucapanya pelan. “Dulu suamiku adalah pemuda miskin yang jatuh cinta dengan anak seorang pengusaha. Mereka saling mencintai, tetapi orang tua si wanita tak merestui hubungan mereka. Pada akhirnya mereka silariang ke daerah lain. Di tengah-tengah pelarian, anak mereka lahir. Setelah orang tua si wanita tahu kalau anak mereka telah melahirkan, rasa iba mereka muncul, tak tega melihat satu-satunya anak perempuan mereka hidup sengsara dalam pelarian. Akhirnya si wanita dipanggil pulang bersama bayinya, tapi tanpa si pemuda, yang sekarang sudah menjadi suamiku,” ia menghentikan ceritanya, mengusap air matanya yang perlahan mengalir.

“Suamiku ditinggal sendiri dan hampir mati dibuatnya. Hingga ia bertemu denganku. Dulu kami teman satu sekolah. Aku mencintainya dan memutuskan untuk menemaninya melewati masa-masa kelamnya. Lama-kelamaan, ia juga mulai tertarik denganku dan akhirnya kami menikah. Semenjak itu ia mulai bangkit dan berjuang. Yah kami berjuang bersama selama bertahun-tahun, hingga ia mendapatkan posisinya sekarang, mulai dari jabatan, rumah mewah, mobil, dan kehormatan. Namun hanya satu hal yang ia tak miliki: kebahagiaan. Ia tak pernah bahagia dengan apa yang dimilikinya. Aku selalu tahu bahwa cintaku tak pernah bisa menggantikan cinta pertamanya, dari wanita itu. Demi kebahagiaan suamiku, aku mencari tahu kabar tentang keluarga wanita itu. Kabar yang sampai mengatakan kalau keluarganya sudah bangkrut. Aku bersama suamiku mencari-cari keberadaan keluarga itu selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Hingga kami tak menemukan apapun, kecuali pusara mereka, yang konon meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kamu tahu nak, di mana keluarga itu berada?” tanya wanita itu, membuatku sedikit terkejut karena tak siap dengan pertanyaan tiba-tiba. Aku hanya menggeleng.

Aku tidak mau menerimanya bukan karena aku sombong. Kami memang hanya rakyat biasa yang kurang berada, tetapi kami masih ada harga diri. Mungkin ia pejabat yang sedang mencari suara untuk pemilu mendatang. Atau ia menyogok agar nanti bisa menggusur lapak-lapak kami. Dan kemungkinan terburuk, seperti yang pernah aku katakan kepada istriku, mungkin ia pria tua genit belaka yang mencari perhatian istri orang. Istriku tertawa besar mendengar kecemburuanku.

“Kami menemukan kuburan mereka di daerah Pare-pare. Dan suamiku tiga kali dalam seminggu berziarah ke sana. Kamu pasti bisa menebak hari apa saja, karena ia selalu singgah di kiosmu membeli dange, untuk selanjutnya ia persembahkan dange itu kepada istrinya. Iya. Kamu tidak salah dengar, nak. Untuk istri pertamanya.” Wanita itu diam sesaat, menatapku yang bertanya-tanya, kenapa dangeku, untuk orang yang sudah mati?

“Saat itu, hatinya hancur berkeping-keping mendapati kalau cinta pertamanya sudah mati. Ia sedih selama berhari-hari, hingga akhirnya ia jadi penyakitan. Dokter tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhannya. Hampir saja ia mati kalau tak menemukan setitik cahaya. Anak mereka masih hidup sampai sekarang, satu-satunya harapannya. Aku ikut bahagia karena selama puluhan tahun pernikahan kami belum dikarunai seorang anak. Dan pada akhirnya ia menemukan permatanya yang hilang. Anak itu kini sudah dewasa. Ia berjualan dange di jalan Poros Pangkep-Barru. Anak itu adalah kamu…” wanita itu berhenti. Air matanya mengalir tak terbendung. Aku dipeluknya erat-erat. Namun aku hanya diam mematung, sampai aku diberi sebuh surat, katanya dari suaminya.

Untuk Baco, anakku terkasih,

Maaf telah membuatmu menderita selama ini. Bertahun-tahun aku mencarimu hingga takdir akhirnya mempertemukan kita, di sebuah kios beratap rumbia. Aku terharu mendapatimu berjuang hidup dengan berjualan dange. Tak usah malu, ibumu di akhirat pasti bangga mengetahui anaknya adalah penjual dange paling lezat sedunia. Begitu pula aku yang sangat bangga kepadamu, begitu merindukanmu. Ingin rasanya aku berhambur memelukmu, mengajakmu tertawa bersama dan mengobrol panjang tiap kali aku singgah di kiosmu. Namun aku takut. Aku takut kamu tidak menerimaku sebagai ayahmu setelah semua ini. Yang bisa kulakukan untuk melepas kerinduanku hanya datang mengunjungimu tiga kali dalam seminggu, di hari yang sama aku datang menjenguk ibumu di peristirahatannya dengan membawa hadiah terindah untuknya: dange buatan anaknya sendiri. Namun aku selalu merasa gagal sebagai ayah, anakku. Maka kumohon, terimalah semua pemberianku, karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Istrimu cantik. Ia baik hati dan enak diajak ngobrol. Aku sudah menganggapnya anakku juga, meskipun aku tak tahu apakah ia menggapku sama, sebagai orang tuanya. Tak mengapa, karena ia istri dari anakku satu-satunya, yaitu kamu.

Nak, ketika kamu membaca surat ini, itu artinya aku sudah pergi untuk selama-lamanya. Terakhir, terimalah semua harta warisan dari ayahmu yang tak tahu diri ini. Kumohon! Dan anggaplah Halimah, istriku kini, sebagai ibu kandungmu. Kuharap ia sudah memperkenalkan namanya kepadamu, karena ia memang selalu lupa memperkenalkan namanya. Namun ia akan selalu mencintaimu. Terima kasih. Aku pergi…

Sambung Masse

Betul namaku Baco. Lengkapnya Baco Masse, dan aku baru sadar kalau nama terakhirku diambil dari namanya. Betul ibu dan kakek-nenek meninggal karena kecelakaan lalu lintas waktu aku berumur belasan tahun, entah kenapa hanya aku yang selamat, dan kini mereka sedang bersemayam di Pare-pare.

“Ayahmu baru saja meninggal tepat sebelum kamu sampai di ruangan ini,” kata wanita itu yang baru kutahu bernama Halimah.

****

Muhammad Zulkifli. Lahir di Pangkep Sulawesi Selatan, 17 November 1997. Ia alumni Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia pernah bekerja di UWRF 2022

sumber : kompas.id, 29 Jun 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme