Dibantu beberapa orang, Abah Sulaiman mengikat kaki sapi yang akan disembelihnya. Bibir tuanya bergetar mengucapkan takbir. Lelaki yang masih terlihat gagah meski di usia enam puluh tiga itu mengusap-usap kepala sang sapi. Selayak meminta izin agar hewan itu ikhlas untuk disembelih. Dan benar saja, sapi itu diam. Wajahnya terlihat pasrah. Tak ada lagi perlawanan. Sang jagal pun tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung sapi. Ia lalu bangkit, mengeluarkan golok dari sarungnya yang selalu terikat di pinggang. Namun, di detik itu, tiba-tiba saja tubuhnya membungkuk, lalu tersungkur jatuh tepat di atas leher sapi yang akan disembelihnya.
Seketika suasana di halaman depan rumah Abah Sulaiman gaduh. Orang-orang berhamburan mencoba menolong. Salah satu dari kami berusaha membangunkannya yang terkulai tak berdaya. Namun, sang jagal tetap bergeming. Seorang sesepuh kampung lalu mendekat, menciprat-cipratkan air dan mengusap-usap wajah Abah Sulaiman. Semua usaha itu nihil belaka. Mata sang jagal tetap terpejam. Napasnya megap-megap. Wajahnya pucat. Sungguh mengkhawatirkan. Karman, anak sulungnya, kemudian mengusulkan agar Abah Sulaiman dibawa ke puskesmas.
Beberapa warga pun segera bergerak membopong Abah Sulaiman. Sementara Karman bergegas mengeluarkan mobil dari garasi. Dalam sekejap saja aroma kepanikan membubung pekat di langit kampung ini. Padahal beberapa waktu lalu, kami datang ke rumah itu dengan penuh sukacita. Bagi warga kampung ini yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, makan daging sapi adalah sebuah kemewahan. Kebanyakan dari kami hanya bisa memakannya satu tahun sekali: saat dapat jatah daging kurban.
Maka ketika tersiar kabar Abah Sulaiman akan mengawinkan anak gadis satu-satunya, dan menyembelih dua ekor sapi sebagai bentuk rasa syukur, semua warga pun kecipratan rasa bahagia. Di kampung kami, menggelar hajatan dengan menyembelih sapi tentu menjadi hal yang sangat istimewa.
Tapi kini, dalam sekejap semua kegembiraan itu sirna. Suasana berubah menjadi muram. Semuram langit yang tiba-tiba kehilangan jejak sinar matahari. Awan hitam bergulung-gulung. Angin berembus kencang membawa aroma hujan dari kejauhan. Sejuta tanya pun menggelembung di dalam benak kami. Apa yang sebenarnya terjadi pada Abah Sulaiman? Beberapa warga menyangka ia kesurupan. Karena tak menyiapkan sesajen saat hendak menyembelih hewan. Ah, tentu saja itu baru sebatas dugaan.
Kami yang tidak ikut mengantar ke puskesmas kebagian tugas menjaga keamanan rumah Abah Sulaiman. Semua keluarga yang tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan segala keperluan hajatan yang akan digelar esok hari, sekarang terlihat kalut. Kesibukan di dapur seketika terhenti, ikut cemas menanti kabar. Bahkan sang calon pengantin terlihat mondar-mandir keluar-masuk rumah dengan wajah yang waswas.
Diiringi angin kencang, tak lama hujan lebat pun datang mengusir orang-orang yang berkerumun. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Sementara kami memilih merapat ke teras rumah Abah Sulaiman, duduk berdempetan membentuk sebuah lingkaran kecil sambil mengisap sebatang rokok, berharap dapat mengusir hawa dingin yang mulai datang menyerang.
Kami lalu berbincang, berusaha merunut kejadian sebelumnya yang sempat dilewati Abah Sulaiman. Seingat kami, ia dalam keadaan sehat dan bugar. Abah Sulaiman itu seseorang yang sangat menyenangkan. Meskipun usianya lebih tua, ilmunya lebih banyak, dan menjadi salah satu orang terkaya di desa ini, ia tak pernah jemawa. Makanya kami sangat menghormatinya.
Baru saja seminggu ke belakang Abah Sulaiman mengumpulkan kami, para pemuda karang taruna, di masjid. Katanya, ia ingin mengajarkan beberapa ilmu agar kami siap membantunya menjadi seorang jagal yang andal. Di kampung kami, memang baru Abah Sulaiman yang mengabdikan diri menjadi jagal selama beberapa generasi. Sejak usianya baru genap dua lima, ia sudah dipercaya menjadi jagal Idul Adha. Juga ketika ada warga kampung ini yang hendak menyembelih hewan untuk akikah atau hajatan.
”Saat di awal-awal, Abah selalu merasa deg-degan. Takut gagal. Pegang golok saja gemetaran.” Abah Sulaiman memulai acara pertemuan malam itu. ”Tapi, seiring berjalannya waktu, Abah mulai terbiasa dan jauh lebih tenang setiap kali akan menyembelih hewan,” lanjutnya kemudian. Kami pun hanya manggut-manggut menanggapi ceritanya itu.
”Abah yakin, kalian pasti punya kemampuan dan bisa cepat belajar.”
Kami semua terdiam. Jujur saja tidak pernah sedikit pun tebersit di kepala kami untuk menjadi seorang jagal. Dari kami bersepuluh, mungkin hanya satu atau dua orang yang terlihat antusias, ketika Abah Sulaiman mulai menyampaikan ilmu perjagalan yang selama ini dikuasainya itu.
Beruntung, penyampaian Abah Sulaiman sangat ringan, dan tidak kaku. Ia memperagakan bahwa saat akan menyembelih, napas kita harus terkunci di perut. Tangan kiri harus menahan kepala hewan agar terdengak, pastikan urat nadi kanan-kiri, tenggorokan, dan kerongkongan kencang tertarik. Sementara tangan kanan mencengkeram golok, menunggu embusan napas terakhir hewan yang akan disembelih.
”Kita harus memastikan hewan telah mengembuskan napas terlebih dahulu,” tutur Abah Sulaiman. ”Sebab kalau tertahan, maka daging akan beraroma tak sedap.”
”Oh…,” dengung kami bersamaan selayaknya kelompok paduan suara.
”Baru setelah itu, kita perlahan menyayat dari kiri ke kanan. Sambil melafalkan kalimat basmalah dan takbir. Semua itu harus dalam satu kali gerakan.” Abah Sulaiman kembali menjelaskan.
”Usai menyayat, tangan kanan jangan lekas dicabut.” Tangan kanan Abah Sulaiman memperagakan seolah benar-benar berada di leher hewan yang sedang disembelihnya. ”Kita harus memastikan bahwa kedua urat benar-benar telah terputus. Sebab kalau tidak, penyembelihan dianggap gagal. Daging pun akan digolongkan menjadi bangkai.” Kali ini suaranya terdengar penuh penekanan.
Lalu, salah satu dari kami bertanya: selain semua yang telah dijelaskan Abah Sulaiman sebelumnya, adakah hal lain yang harus dipersiapkan agar kami bisa menjadi jagal yang andal?
”Tentu saja ada,” jawab Abah Sulaiman mantap. ”Alat sembelih yang digunakan tidak boleh sembarangan. Harus khusus dan kualitas terbaik.”
Abah Sulaiman lalu meraih tas hitam berukuran besar yang berada di belakangnya. Ia mengeluarkan sebilah pisau dan golok andalannya. Konon, perkakas itu dibuat oleh seorang pandai besi terbaik di kabupaten kami. Bahannya juga dari baja. Sehingga awet, kuat, dan ketajamannya tidak mudah berkurang.
”Selama menjadi jagal, hanya pisau dan golok inilah yang Abah pakai,” katanya sambil menatap dua perkakas itu dengan mata berbinar-binar, penuh rasa bangga.
Ah, rasanya wajah Abah Sulaiman yang bercahaya penuh semangat itu masih terbayang di pelupuk mata kami. Kami kembali berdengung, membicarakan kesibukan yang dilakukannya untuk persiapan hajatan ini. Tadi malam, kami diminta membantu memasang tenda di depan rumahnya. Abah Sulaiman wara-wiri ke sana kemari. Ia memang tampak paling sibuk menyiapkan ini dan itu. Rona bahagia terpancar jelas di wajah tuanya. Mendapati anak gadisnya akhirnya menemukan jodoh membuat semangat Abah Sulaiman begitu berapi-api. Semua orang tahu, itu adalah hal yang amat ditunggu-tunggu olehnya.
Salah satu dari kerabat Abah Sulaiman yang berada di antara kami menceritakan bahwa tadi pagi, sepulang shalat Subuh berjemaah di masjid, Abah Sulaiman langsung mengasah golok dan pisaunya di belakang rumah. Tak ada sedikit pun tampak gurat-gurat lelah di wajahnya.
Sampai tadi sekitar pukul sembilan, Abah Sulaiman yang mengenakan peci putih, kaus putih berkerah, celana hitam, dan sepatu bot melambaikan tangannya kepada kami yang sedang berkerumun di selasar kiri rumahnya. Ia meminta kami mendekat ke area penyembelihan. Katanya, beliau akan mempraktikkan teori yang disampaikannya tempo hari, dan kami harus memperhatikan baik-baik. Nanti salah satu dari kami akan ditunjuk untuk menyembelih sapi yang satunya lagi. Tentu tidak dilepas begitu saja. Abah Sulaiman akan membimbing kami.
Saat itu, kami saling beradu pandang. Mungkin isi kepala kami semua sama: ingin menolak permintaan Abah Sulaiman itu, karena merasa belum siap. Namun, kami semua tak ada yang berani bersuara untuk menolak. Sebuah anggukkan pelan kami berikan sebagai tanda kesanggupan.
Perhatian semua orang yang berkerumun di teras rumah Abah Sulaiman seketika pecah ketika tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari dalam rumah. Kami segera masuk, mengerubungi anak gadis Abah Sulaiman yang terkulai lemas di kursi sambil merintih, “Abah… Abah….” Dan perasaan kami semakin tak karuan saat melihat gadis itu kini tak sadarkan diri.
”Innalilahi wainnailaihi ra’jiun,” ucap kami saat mendengar salah satu kerabat Abah Sulaiman mengatakan, Karman baru saja memberi kabar Abah Sulaiman tidak terselamatkan.
Seketika wajah semua orang kelam. Banyak dari kami yang tak kuasa menahan air mata. Sebagian lagi masih merasa tak percaya, semua ini terjadi begitu saja. Ah, maut memang kerap kali datang tanpa permisi.
Rumah Abah Sulaiman dipenuhi kabut tebal yang pekat. Suara tangisan terdengar bersahutan. Semua orang terpaku di tempatnya masing-masing. Calon pengantin masih belum juga sadarkan diri. Oh, sungguh tak pernah terbayangkan sebuah persiapan pesta pernikahan yang ceria dalam sekejap berubah menjadi upacara kematian yang penuh duka. Apa mau dikata. Tidak ada yang bisa menolak ketika tangan-tangan takdir telah berkehendak.
***
Teni Ganjar Badruzzaman. Lahir di Ciamis, 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di beberapa antologi bersama dan media massa.
sumber : kompas.id, 06 Jul 2023.