Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Api di Glodok oleh Endres Hermawan

Posted on Sab, 08 Jul 2023

Usai menata dagangannya, pagi itu Darno mendorong gerobak baksonya dari rumah kontrakan di daerah Kemanggisan Pulo. Udara masih terasa segar dan jalanan belum menjadi macet sepanjang Jalan Palmerah seperti biasa. Meskipun di jalan kendaraan sudah mulai ramai. Saat sampai di mulut gang, Darno bertemu temannya yang tengah berdiri di pinggir jalan. Setelah menyandarkan gerobaknya, Darno menyapa.

”Hari ini kamu enggak jalan, Jo?”

”Ah, enggak berani jualan aku, No,” jawab Bejo. Asap rokok menari di antara mulutnya. Matanya melihat gerobak Darno, dan kemudian menatap Darno yang berdiri di samping gerobak. Suara motor terdengar dari arah jalan.

”Kamu enggak dengar hari ini kabarnya akan ada ontran-ontran?”

”Walah, paling demo-demo seperti biasa. Jualan kita pasti cepat ludes,” Darno menjawab dengan ekspresi wajah yang bersemangat.

”Anak-anak mahasiswa itu pasti cepat kelaparan, pasti kehausan. Dagangan minumanmu pasti habis. Ayolah kita berangkat, Jo!”

Bejo lantas mendekat, menepuk bahu Darno dengan tangan kanannya. Dengan wajah serius dia bicara dengan nada serius.

”Kamu tidak dengar berita? Akan ada perang? Katanya istana mau dikudeta.”

Darno tersenyum. Tapi dia tak menjawab. Dia juga sudah mendengar desas-desus itu. Sejak tertembaknya beberapa mahasiswa Trisakti, suasana menjadi semakin genting. Kini demonstrasi tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa. Rakyat pun mulai marah. Hampir setiap hari massa berkumpul di depan gedung DPR/MPR. Mereka menyuarakan suara yang sama, menuntut reformasi dan Soeharto turun. Sudah hampir seminggu suasana Jakarta memang semakin mencekam. Sesuatu yang tak biasa terjadi, dan udara semakin panas. Hampir di tempat-tempat strategis, seperti Monas, perempatan Harmoni, perempatan Senen, ada tank-tank terparkir di jalan. Personel tentara pun makin rapat menjaga kota. Barikade dan kawat berduri makin bertambah. Banyak kantor yang meliburkan karyawannya. Isu semakin banyak berkembang. Katanya akan terjadi perebutan kekuasan.

Beberapa orang juga mengatakan melihat komet melintas di atas langit istana. Itu saat subuh. Orang-orang menyebut itu sebagai pertanda buruk. Setiap mata yang melihat, seolah merasakan kegelisahan yang mengambang di udara, dan menular pada orang-orang. Seperti sebuah bisul yang setiap waktu akan pecah, rakyat tahu akan terjadi sesuatu yang besar. Tapi, tentu saja Darno tak peduli. Dia tak paham apa itu reformasi. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah dagangannya. Dagangannya adalah nasib keluarganya. Dan, demonstrasi para mahasiswa itu membuat dagangannya laris. Sebelumnya, dia hanya bisa menghabiskan bahan dua kilo daging sapi. Tapi, kini setiap hari dia bisa menghabiskan bahan hingga lima kilo. Hasil itu membuatnya senang. Keluarganya di kampung juga akan bahagia. Darno sudah merencanakan pulang kampung setelah tak ada demonstrasi. Jadi, kabar itu tak membuatnya khawatir. Matanya melihat Bejo yang wajahnya tampak gelisah.

”Mending jangan berangkat. Bahaya!” kata Bejo mencoba memperingatkan.

”Ah, udah telanjur bikin nih. Tapi apa hubungannya dengan kita? Biarkan saja mereka yang di atas ribut. Kita yang penting cari duit sebanyak-banyaknya. Ini kesempatan, Jo.”

”Kamu enggak takut lihat tank-tank itu?” Darno tertawa. Bejo mengisap rokoknya.

”Malah akan kutawarin makan bakso mereka,” canda Darno.

”Tentara itu baik, kok,” lanjutnya. ”Mereka bukan musuh kita. Kata mahasiswa, musuh kita adalah KKN.”

Bejo tak bisa mencegah meskipun wajahnya menunjukkan rasa gelisah. Darno kemudian memutuskan menuju Senayan, di Gedung DPR/MPR. Gerobaknya melintasi Pasar Palmerah sebelum kemudian menyeberangi persimpangan rel kereta api. Setelah melawan arah, dia menyusuri kawasan Mandala Wanabakti, kemudian berbelok ke kanan. Begitu sampai di Senayan, dia merasa heran karena di depan gedung tempat wakil rakyat itu sepi dari mahasiswa. Matanya hanya melihat puluhan tentara berbaris rapi di depan pagar. Tapi, dia masih berharap, jadi disandarkannya gerobaknya di dekatnya dan berharap beberapa dari aparat itu membeli baksonya. Namun, setelah satu jam menunggu, tidak ada satu pun di antara mereka yang membeli. Udara mulai gerah. Tubuhnya mulai lengket karena keringat. Karena tak kunjung ada yang membeli, Darno memutuskan berjalan menuju ke arah Benhil melewati pinggir jalan tol.

Pikirannya mulai kalut. Hari ini tidak seperti kemarin. Meskipun suara bising kendaraan masih terdengar, tapi rasanya sangat sepi. Tidak ada hiruk-pikuk demonstrasi. Dalam beberapa waktu yang cepat, semangatnya mulai goyah. Dia mulai memikirkan ucapan Bejo. Jangan-jangan, memang benar yang dikatakan Bejo, pikirnya. Udara terus merambat dan panas. Kakinya mulai terasa pegal. Jarak yang ditempuhnya cukup jauh. Sesampainya di jembatan penyeberangan menuju Benhil, Darno melihat beberapa orang yang bergerombol. Kemudian dia meminta tolong pada mereka menaikkan gerobaknya melewati jembatan itu. Dua orang yang baik lantas menolongnya.

Setelah itu, dia melanjutkan perjalanan ke arah pasar Benhil. Berharap di sana menemukan keramaian dan pembelinya. Harapannya terkabul. Di sana, dia melihat banyak orang berkumpul di depan pasar. Tapi keramaian itu rasanya ganjil baginya. Darno termangu. Belum selesai rasa herannya, matanya melihat toko di depan yang terbakar. Asap tebal membubung ke angkasa. Langit seolah dinodai asap berwarna hitam. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan. Ternyata ada sekelompok orang yang membakar sebuah mobil. Keadaan menjadi kacau. Darmo melihat orang-orang mulai beringas. Darno mencoba bertanya kepada seorang anak muda di sebelahnya.

”Ada apa, Dik?”

”Kita juga bingung, Bang. Tiba tiba saja ada kelompok orang, tapi bukan dari kampung sini, membakar toko milik orang….”

Perasaan Darno bimbang mendengar itu. Dia mulai sadar sudah terjebak dalam situasi yang tak baik. Dia memikirkan dagangannya dan mencoba menghindar dari keributan itu. Tapi tubuhnya justru tak bergerak sama sekali. Tubuhnya hanya berdiri di samping gerobaknya, dan matanya menyaksikan semua yang terjadi. Orang-orang tampak beringas di jalan, berjalan dan berlarian di jalan, di antara rumah, kantor, dan toko. Mereka juga berteriak beringas, dan mulai melempari kaca-kaca toko dan perkantoran.

Darno masih berdiri bingung. Dia melihat sebuah toko material bangunan mulai dibongkar. Isinya dibuang ke jalan raya. Orang-orang berteriak marah dan rasis. Di saat matanya melihat kejadian itu, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah dalam, tepat mengarah pada badan gerobaknya. Di belakangnya tampak banyak orang yang berusaha mengejar. Mobil itu bergerak cepat dan gagap, dan menabrak gerobaknya hingga hancur. Suara benturan keras terdengar bersama teriakan massa yang beringas. Bakso bertebaran di jalan bersama tumpahan kuah di atas aspal. Darno sendiri terpental. Tubuhnya berguling di atas aspal dengan kening berdarah. Wajahnya pucat. Matanya nanar memandang mobil yang terbalik. Sesaat kemudian tampak pria bermata sipit, berusaha keluar dari mobil dengan susah payah. Darno berusaha bangkit ketika dia melihat orang-orang mengejar pria itu dan memukulinya tanpa ampun. Darno sendiri merasa ngeri melihatnya. Lalu, seorang pria berbadan tegap membantunya berdiri. Pria itu berbisik di telinganya.

”Ayo bangun… balaskan dendam, karena gerobakmu sudah dihancurkan. Merekalah yang selama ini sudah merampok kita. Saatnya rakyat mengambil miliknya kembali!”

Darno tidak tahu maksudnya, tapi melihat gerobaknya hancur, dia seperti melihat masa depannya sendiri hancur. Harga gerobak tidak murah. Dia harus berutang banyak untuk membelinya. Dia tak tahu harus bagaimana. Kehilangan harapannya, hatinya mulai panas dan marah. Perasaannya dipenuhi kebencian yang tiba-tiba. Tidak saja pada kejadian yang menimpanya, tapi juga pada orang-orang kaya bermata sipit. Orang yang menolongnya itu berkata benar. Dia ingat cara kaum kaya itu bersikap. Mereka biasanya tidak memandang orang kecil seperti dirinya. Lalu, diiringi dengan rasa marah, dia bergabung bersama orang-orang, berjalan di sepanjang jalan sembari melemparkan batu ke kaca-kaca gedung. Mereka berteriak girang setiap kali kaca-kaca hancur. Darno juga ikut membakar mobil dan motor yang terpakir di jalan tanpa peduli milik siapa. Siang itu kota merah menyala oleh api.

Tidak selesai di sana, Darno bersama orang-orang yang tak dikenalnya lain menuju Glodok. Pusat pertokoan elektronik Jakarta. Ketika berada di sana, Darno melihat banyak-barang yang sudah dijarah di sana. Seorang remaja berjalan di depan Darno sedang menggotong TV dua puluh inch sendirian. Sementara di belakangnya empat orang menyeret sebuah lemari es besar. Darno juga mendengar suara-suara yang memberi semangat.

”Ayo ambil semua… barang ini milik rakyat!”

”Habiskan…. Bakar…. Bakar!”

”Hidup Rakyat!”

Suara itu bagi Darno seperti memberinya energi yang besar untuk ikut menjarah barang-barang di dalam gedung. Di antara teriakan yang simpang siur, dia masuk ke dalam gedung yang lampunya masih menyala. Tapi, di lantai dasar dia sudah tak menemukan barang-barang. Semua sudah lenyap. Karena tak mendapatkan barang, Darno bersama beberapa orang memutuskan naik ke lantai dua. Di sana, karena tak juga menemukan barang, Darno naik ke lantai tiga. Tapi lampu tiba-tiba padam, dan orang-orang panik ketika tiba-tiba terdengar orang berteriak kebakaran. Keadaan menjadi semakin kacau dan tak terkendali. Orang-orang berebut turun ke bawah, tetapi mereka kemudian naik ke atas lagi. Ketika asap panas mulai masuk ke dalam ruangan, Darno melihat orang-orang meloncat dari jendela. Dalam kekalutan yang gelap, Darno melihat api menyala merah.

***

Endres Hermawan adalah salah satu warga yang menjadi saksi hidup kerusuhan Mei 1998

sumber : kompas.id, 08 Jul 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme