Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Raibnya Abdul-Hakeem Irshad oleh Awi Chin

Posted on Ming, 01 Jan 2023

Sudan

Hilangnya Abdul-Hakeem Irshad membuat si Lelaki Sudan menjadi tempat semua orang bertanya.

Kapan terakhir kau bertemu Abdul-Hakeem Irshad?

Tiga hari sebelum tanggal keberangkatannya ke Kanada.

Apa ada yang aneh dari kali terakhir ia bertemu denganmu?

Tidak ada.

Apa ia ada mengontakmu lagi?

Tidak ada.

—

DUA minggu setelah lelaki itu menghilang ia membuka kamarnya dan mulai mencari petunjuk. Ia hanya menemukan sebuah koper yang sudah dikunci rapat. Beberapa orang Afghanistan dari komunitas pengungsi datang ke unit apartemen mereka siang itu. ”Mengapa koper ini kosong?”

Ia mengernyitkan dahinya sambil menggeleng penuh keheranan. Tapi lelaki yang tadi bertanya padanya kembali membuat darah naik ke kepalanya dengan satu pertanyaan. ”Apakah kalian pernah bertengkar?”

”Apa maksudmu bertanya demikian?”

Seorang wanita menengahi mereka berdua. Akhirnya setelah beberapa saat mengecek kembali barang-barang Abdul-Hakeem Irshad mereka pergi. Tidak masuk akal, pikirnya dalam hati. Harusnya ialah yang bertanya pada mereka apakah ada yang bertengkar dengan Abdul-Hakeem Irshad. Kalau tidak mengapa ia malah tinggal dengannya, bukan dengan pengungsi Afghanistan yang lain.

Selepas kepergian mereka si Lelaki Sudan mulai memasak makan malamnya. Ia membuka jendela sementara menunggu syurbah yang ia masak matang. Melihat-lihat apakah kucing kampung yang dipelihara oleh Abdul-Hakeem Irshad akan kembali pulang.

Pikirannya kembali mengembara, apakah nanti dia bisa disalahkan dengan menghilangnya lelaki itu? Bagaimana jika ia dilaporkan polisi? Tapi ia tahu hilangnya seorang pengungsi di negara ini berarti berkurangnya satu masalah. Tentu saja para polisi tidak akan mengusutnya.

Akhirnya ia kembali membuka kamar lelaki itu dan mengecek sekali lagi. Ia mengeluarkan koper yang ada di lemari dan memindahkannya ke atas kasur sambil bertanya-tanya, mengapa orang yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk keluar dari negara ini malah tidak mempersiapkan kepergiannya?

***

Afghanistan

Ingatan si Lelaki Afghanistan akan Abdul-Hakeem Irshad kembali seminggu setelah lelaki itu menghilang. Ia mendapat pesan dari si Lelaki Jawa, mengabarkan bahwa Abdul-Hakeem Irshad menghilang beberapa hari sebelum ia pindah ke Kanada.

Mereka berdua pernah tinggal bersama selepas keluar dari selter. Abdul-Hakeem Irshad sibuk dengan dunia di dalam kepalanya sendiri, sementara ia sibuk mencari cara bertahan hidup. Ia bahkan tidak mempunyai kewarganegaraan, pekerjaan, atau bahkan sebuah tempat yang bisa ia sebut rumah.

Penyebab pertengkaran mereka sepele, hanya karena angka sepuluh ribu. Jumlah followers di Instagram Lelaki Afghanistan itu melonjak dalam beberapa bulan. Sementara jumlah followers terus meningkat, persaudaraan mereka semakin renggang. Ia semakin jarang ada di rumah, sibuk dengan teman-teman barunya.

Sampai beberapa bulan mereka harus pindah rumah dan Lelaki Afghanistan itu diajak tinggal bersama pendiri agensi model tempat ia bernaung. Lelaki itu memercayainya dan ia memercayai juga lelaki itu. Ia bahkan memberikannya pekerjaan tanpa kontrak dan membayarnya tunai.

Bertahun berlalu, followers si Lelaki Afghanistan bertambah melewati enam digit.

Tapi ketenaran punya harganya sendiri. Komunitas pengungsinya acap kali meminta bantuannya, tapi ia sama sekali tidak berani membuka statusnya sebagai pengungsi. Ia seperti berada di dua dunia. Ia menyukai negara ini, tapi negara ini tidak menyukainya, ralat, orang-orang sepertinya. Abdul-Hakeem Irshad pernah berkata bahwa ia terbelenggu di negara ini. Ia bahkan tidak mendapat hak sebagai manusia untuk mencari pekerjaan, pendidikan, dan rumah tinggal. Ia juga pernah melihat bahwa Abdul-Hakeem Irshad disiksa karena tulisannya sendiri yang mengkritik para penjaga selter pengungsi.

Tulisan Abdul-Hakeem Irshad berbahaya dengan caranya sendiri. Tapi justru dari si Lelaki Jawa ia tahu bahwa tulisan-tulisan itulah yang membawanya mendapatkan kesempatan untuk pindah ke Kanada. Bahkan ratusan ribu followers si Lelaki Afghanistan itu tampak tidak berharga sekarang.

Ia membuka Facebook-nya dan membaca semua tulisan Abdul-Hakeem Irshad. Tak berapa lama ia menekan tombol pesan dan melihat bahwa seminggu yang lalu Abdul-Hakeem Irshad mengirim pesan padanya, tapi sudah dihapus. Ia terbangun dengan cepat sambil memusatkan perhatiannya pada pesan yang terhapus itu.

Apa yang ingin kaukatakan, Abdul-Hakeem Irshad?

***

Jawa

Lelaki Jawa itu tidak menyangka bahwa kali terakhir ia melihat Abdul-Hakeem Irshad secara langsung adalah bertahun-tahun lalu saat ia mencoba pergi dari dunia ini dengan caranya sendiri.

Si Lelaki Jawa tidak pernah lagi bertemu secara langsung dengan Abdul-Hakeem Irshad. Mereka hanya bertukar pesan lewat WhatsApp sesekali. Ia melihat pesan terakhir Abdul-Hakeem Irshad, mengabarinya bahwa ia segera pindah ke Kanada. Mereka berjanji untuk bertemu lagi kali terakhir. Tapi janji tinggallah janji dan pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Di hari mereka seharusnya bertemu, Abdul-Hakeem Irshad menghilang tanpa kabar. Esoknya si Lelaki Jawa datang ke Apartemen Kalibata untuk mengecek keadaannya. Ia bertemu dengan teman satu unit Abdul-Hakeem Irshad, seorang Pemuda Sudan yang juga mengabarkan perihal hilangnya Abdul-Hakeem Irshad.

Lelaki Jawa itu menghubungi Abdul-Hakeem Irshad setiap hari, tapi nihil.

Ia mengenal Abdul-Hakeem Irshad kurang lebih dua belas tahun lalu. Ia baru saja lulus kuliah dan mendapat pekerjaan sebagai pekerja sosial di salah satu selter pengungsian di Tebet. Bertahun-tahun dia habiskan menjadi pekerja sosial, tapi Abdul-Hakeem Irshad adalah pengungsi yang paling membekas di otaknya.

Ia ingat betul suatu hari Abdul-Hakeem Irshad pernah datang padanya sambil menangis. Mengingat bahwa remaja itu bukanlah satu-satunya remaja pengungsi yang pernah datang padanya sambil menangis, si Lelaki Jawa tidak terlalu ingat apa penyebabnya. Waktu berjalan seperti biasa sampai akhirnya seminggu setelahnya si Lelaki Jawa-lah yang menangis. Di depan kamar rumah sakit tempat Abdul-Hakeem Irshad dirawat.

Itu adalah kali pertama ia memergoki Abdul-Hakeem Irshad mencoba membunuh dirinya sendiri.

Di waktu-waktu lain remaja itu tumbuh seperti remaja pengungsi lain. Walau tentu saja terkadang ia dapat melihat sorotan mata mereka yang menyimpan kepahitannya sendiri. Mereka datang dalam kapal dari negara mereka yang berkobar dalam konflik, berharap-harap mereka mendarat di satu negara utopia yang akan menampungnya. Tetapi si Lelaki Jawa telah mengenal negaranya sendiri dengan yakin, bahkan terkadang warga negara sendiri tak terurus dan telantar, bagaimana mungkin negara ini peduli dengan mereka yang terbuang dari negaranya masing-masing.

Seminggu sebelum ulang tahunnya yang kedelapan belas, Lelaki Jawa kembali menemukan Abdul-Hakeem Irshad terkulai di atas ranjangnya dengan mulut berbusa.

Remaja itu selamat. Tetapi sesuai peraturan yang berlaku, Abdul-Hakeem Irshad harus keluar dari selter setelah berumur delapan belas tahun. Dan Lelaki Jawa tidak pernah lagi bertemu secara langsung dengan Abdul-Hakeem Irshad.

Di hari Abdul-Hakeem Irshad harusnya berangkat ke Kanada, Lelaki Jawa sedang berada di selter. Memandang beberapa remaja pengungsi. Ia seperti melihat Abdul-Hakeem Irshad remaja berada di depannya. Menyapu halaman lantas mata mereka bertemu. Remaja itu tersenyum dengan tulus, kepolosan berenang di tatapannya.

Lelaki Jawa menarik napas panjang. Berharap semoga di mana pun Abdul-Hakeem Irshad berada, di dunia ini maupun yang lain, ia akan menemukan kebahagiaannya sendiri.

***

Moggy

Kucing kampung kembali ke tempatnya dilahirkan tiga hari setelah majikannya menghilang.

Tidak banyak kenangan yang dapat diingat di memorinya yang terbatas. Tapi samar ia mengingat bau sampah dan suara lalat yang berdesing saat ia mencari-cari puting ibunya. Kucing kampung juga tidak dapat mengenal waktu yang mengalir melewatinya. Yang ia ingat suatu waktu ibunya menghilang dan saat itulah ia harus menghadapi dunianya sendiri.

Kucing kampung seakan-akan tahu bahwa Abdul Hakeem-Irshad adalah makhluk yang baik. Jika tidak bagaimana mungkin lelaki itu memberikannya sekerat daging sambil mengelus kepalanya dengan sayang. Lantas mengajaknya berbicara sepanjang makan malam itu dalam bahasa Farsi yang liris.

Suatu hari lelaki itu membawa seorang perempuan berkerudung makan malam bersamanya. Perempuan itu menyarankan Abdul-Hakeem Irshad membawanya pulang dan merawatnya. Mereka bahkan memberinya nama, Rumi.

Tapi suatu hari Abdul-Hakeem Irshad tidak kembali.

Tiga malam berganti sudah. Rumi mengiau keras kepada Lelaki Sudan untuk memberinya makan. Saat Lelaki Sudan itu membuka pintu untuk keluar, Rumi mengikutinya. Teman Abdul-Hakeem Irshad itu mengangkatnya ke depan mukanya dan bertanya apakah Rumi juga merindukan tuannya? Setelah itu ia diletakkan kembali ke dalam. Tapi akhirnya dengan keberanian yang entah berasal dari mana ia melompat keluar dari balkon yang ada di lantai 1.

Rumi berjalan gontai sambil mendengar keramaian yang sudah lama tak ia rasakan. Menuju bagian belakang kompleks apartemen tempat pembuangan sampah. Dulu ia dilahirkan di tempat itu sampai ibunya tak lagi mengurus ia dan saudara-saudarinya.

Ia mencium bau seseorang yang ia kenal. Suatu waktu sebelum Abdul-Hakeem Irshad membawanya ke apartemen, beberapa pemuda mabuk pernah memukul majikannya tanpa alasan yang jelas. Bau para pemuda itu masuk kembali ke penciumannya. Mengingatkannya akan malam itu. Ia dapat merasakan para pemuda itu tampak bahagia akan sesuatu. Salah satu dari mereka mengangkat jarinya dan menggeseknya ke leher sendiri, lantas ia tergelak.

Rumi terus beranjak pergi sambil mengiau nama Abdul-Hakeem Irshad. Lelaki yang dulu menyelamatkannya dari kejamnya jalanan. Sekarang waktu bagi dirinyalah membalas kebaikan lelaki itu.

***

Kanada

Lelaki Kanada itu termenung di keramaian Bandara Calgary. Bermain dengan berbagai kemungkinan yang ada. Mungkin Abdul-Hakeem Irshad ingin memberinya kejutan. Meskipun sungguh ini adalah kejutan yang sangat tidak lucu.

Mrs Tremblay dan para sponsor yang juga menunggu bersama Lelaki Kanada itu tampak kehilangan harapan. Wanita tua itu mulai menangis, takut suatu hal terjadi pada Abdul-Hakeem Irshad. Akhirnya satu per satu mereka kembali pulang dengan membawa emosinya masing-masing. Meninggalkannya sendirian, yang entah mengapa masih mempunyai sejumput harap bahwa Abdul-Hakeem Irshad akan datang. Mrs Tremblay yang terakhir pulang menanyakan padanya apa yang harus ia lakukan dengan berbagai kue yang ia buat untuk Abdul-Hakeem Irshad. Lantas mereka berdua tertawa tanpa sebab, Abdul-Hakeem Irshad bisa saja sedang celaka sekarang dan mereka memikirkan tentang kue.

”Ceritaku bukanlah cerita penuh inspirasi,” Abdul-Hakeem Irshad pernah berkata pada Mrs Tremblay dan dirinya. Saat mereka sedang menimbang untuk menjadi sponsor Abdul-Hakeem Irshad ke Kanada. ”Ceritaku adalah cerita tentang keuletan.”

Dan Abdul-Hakeem Irshad mulai bercerita dan membagikan tulisan-tulisannya. Serta beberapa puisi yang ia tulis. Di akhir pertemuan daring itu Mrs Tremblay menitikkan haru dan berjanji akan membantu si penulis terasing. Dua tahun berjuang, aplikasi permanent resident Abdul-Hakeem Irshad diterima.

Karena itulah si Lelaki Kanada tidak mengerti apa yang terjadi pada temannya itu.

Ia mengontak kembali beberapa teman Abdul-Hakeem Irshad di Indonesia. Setelah itu ia mengecek kembali rute penerbangan yang seharusnya diambil oleh Abdul-Hakeem Irshad.

Si Lelaki Kanada menghela napas penuh kekalahan.

Akhirnya ia beranjak pergi. Baik lelaki itu maupun dirinya pernah mengarungi samudra di atas kapal penuh cobaan dan mara bahaya. Ia yakin bahwa Abdul-Hakeem Irshad masih hidup entah di mana. Mengembara untuk sampai di negara yang sekarang membuka tangan untuk menerimanya. Tapi kapan Abdul-Hakeem Irshad akan tiba, mungkin hanya semesta yang tahu jawabannya.

***

Sunda

Inilah cinta: untuk terbang menuju langit rahasia.

Gadis Sunda selalu suka akan kalimat puisi ini. Penggalan puisi yang pernah dilontarkan oleh Abdul-Hakeem Irshad. Suatu waktu di tempat mereka berdua acap kali bertemu di pinggiran jalan Kalibata. Entah mengapa saat itu Gadis Sunda seperti berada di nirwana kecil di antara Apartemen Kalibata dan rel kereta.

Tapi masa depan mereka berada di ujung tanduk saat Abdul-Hakeem Irshad berkata bahwa ia mendapatkan kewarganegaraan di Kanada. ”Bagaimana dengan masa depan kita?”

”Kamu bisa menunggu? Saya berjanji akan mengawinimu,” air kesedihan mulai berkumpul di pelupuk mata Gadis Sunda. Abdul-Hakeem Irshad menyeka wajah gadis itu perlahan.

Itu adalah percakapan mereka dua bulan lalu. Seminggu sebelumnya lelaki itu benar-benar menghilang dari hidupnya. Ia sudah mencoba mengunjungi teman satu apartemen Abdul-Hakeem Irshad, seorang lelaki berbadan besar asal Sudan. Tapi lelaki itu pun tidak mengetahui ke mana temannya.

Gadis Sunda itu tak tenang sepanjang hari. Esok hari seharusnya ia mengantar Abdul-Hakeem Irshad ke bandara. Melepasnya dengan tangisan seperti perpisahan sementara dua muda-mudi di serial Korea yang sering ia tonton. Bahkan itu saja sudah mampu membuatnya menangis, bagaimana mungkin ia harus mengalaminya sendiri?

Sementara ia menggeprek ayam goreng pesanan tamunya, ia jadi berpikir, jangan-jangan Abdul-Hakeem Irshad sengaja menghilang agar ia ketinggalan pesawat? Mungkin saja ia sengaja agar dirinya bisa tinggal di Indonesia. Menetap dan mempunyai keluarga dengannya. Bagaimanapun Abdul-Hakeem Irshad berkata ia mencintai Indonesia selayaknya ia mencintai dirinya.

Lelaki itu kembali hadir di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Sampai ia di rumah dan melihat ayahnya sedang berada di teras. Sambil bertanya-tanya mungkin ayahnya akan bahagia jika mendengar bahwa Abdul-Hakeem Irshad menghilang. Mengingat ayahnya sama sekali tidak setuju akan hubungan mereka berdua karena lelaki itu adalah pengungsi yang tak jelas asal usulnya.

Lekas-lekas ia beranjak masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Ia kembali mengecek ponselnya, namun nihil, tidak ada kabar dari lelaki yang ia cintai. Diambilnya sebuah kotak dari dalam laci yang ia kunci. Ia membukanya dan mengambil satu stik kecil dari dalamnya. Ia teringat Abdul-Hakeem Irshad pernah bercerita tentang mawar putih liar yang ada di kampung halamannya. Ia juga teringat bahwa Abdul-Hakeem Irshad telah memetik mawarnya di suatu malam. Si Gadis Sunda menatap stik yang ia pegang dan melihat garis yang ada di sana. (*)

Cerita ini ditulis dari kerja sama dan riset bersama www.thearchipelago.org

—

AWI CHIN : Penulis, penyair, dan model. Karyanya Yang Tak Kunjung Usai (Comma Books-KPG/2020) dan Kematian Merayakan Kehidupan (Buku Mojok/2022).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 1 Januari 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme