Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pengasingan ke Jawa oleh Ita Siregar

Posted on Ming, 30 Jul 2023

Lima belas menit sudah kami menunggu di kantor Tuan Metzler. Ruang kerja tiga kali tiga meter itu terasa sejuk karena selain langit-langit yang tinggi, udara leluasa keluar-masuk melalui lubang angin di bagian bawah satu dinding.

Buntal duduk tenang sejak awal kami tiba. Kedua lengannya bertumpu pada kedua lengan kursi. Di hadapan kami meja kerja Tuan Metzler. Meja kayu hitam kemerahan itu bersih dari barang-barang kecuali di sudut kanannya, satu pena bulu berdiri tegak dan kotak tinta di sebelahnya.

Sekonyong-konyong terdengar bunyi angin berat yang dihasilkan dari tenaga pintu yang membuka lebar, lalu terdengar suara, ”Selamat pagi, Tuan-tuan.”

Orang yang menghambur masuk itulah yang kami tunggu. Kursi di belakang meja itu tiba-tiba hilang berganti bobot sang empunyanya. Gerakan tubuh itu mengirim gelombang aroma segar. Mungkin belum lama dia mandi.

”Buntal, Pandita Henoch!” sapanya menyebut nama kami berdua.

Aku mengangguk seraya menatap matanya, tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangannya yang gemuk kemerahan di atas meja. Tubuh tebalnya dicondongkan ke depan. Matanya yang kelabu menatap mata anak muda yang duduk di sebelahku.

Buntal seorang yang tenang. Ia jarang terpengaruh emosi yang datang dari luar dirinya. Aku telah memperhatikannya selama ini. Karenanya aku merasa aman pergi dengannya kala berjumpa siapa pun untuk urusan mewakili keluarganya.

”Begini, Buntal. Pandita Henoch sudah memberi tahu saya soal pembaptisan itu. Kami menyambut gembira, tentu saja. Sekarang saya ingin tahu dari Buntal sendiri. Apakah keinginan ini datang dari keyakinan sendiri atau karena tekanan?” Suara Tuan Metzler terdengar ringan saat mengatakannya.

Buntal memiringkan kepalanya ke kanan, menjawab tenang, ”Kami sekeluarga berunding dan memutuskan bersama, Tuan Metzler. Ibu saya, kedua ibu saya yang lain, saya dan empat anak laki-laki Ayah, tujuh adik perempuan kami, dan tiga tulang, para kemenakan Ayah.”

”Ini berita yang bagus. Saya sudah meneruskan kabar ini kepada Tuan Spieker. Dia pun menyambut gembira. Selanjutnya kita akan menentukan tanggal yang tepat untuk pelaksanaannya. Pandita Henoch yang akan memberi tahu kamu.”

Buntal mengangguk halus, sekali.

Lantas Tuan Metzler mengarahkan tatapannya kepadaku, bertanya hal-hal umum perihal keluarga itu. Aku menjawab secukupnya. Anak-anak belajar dengan baik dan semua anggota keluarga dalam keadaan sehat.

Seminggu setelah pertemuan itu, Tuan Metzler memberitahuku tanggal pelaksanaan baptisan, yaitu 3 Januari 1911. Tuan Spieker yang sedang berada di Hindia Belanda akan memimpin acara. Aku dapat membayangkan bangga Kepala RMG itu membaptis keluarga Singamangaraja.

Kami memesan katun putih dan meminta penjahit Siahaan datang ke rumah untuk mengukur badan seluruh anggota keluarga. Untuk laki-laki dewasa dan anak laki-laki akan dibuatkan jas tutup. Untuk perempuan dewasa baju kurung dan anak-anak perempuan pakaian panjang.

Pembaptisan berjalan sesuai rencana. Gereja hari itu dipadati umat yang ingin melihat keluarga itu. Masing-masing mendapat nama baru. Karel untuk Buntal, Willem untuk Sabidan, David untuk Pangkilim.

Gereja menghadirkan seorang juru potret untuk mengabadikan peristiwa. Seorang laki-laki mengatur agar kami duduk dan berdiri berjejer dan mata menghadap kamera. Pelaksanaan pemotretan itu cukup menggelikan. Tukang potret sabar menunggu waktu yang benar-benar pas untuk membidik karena anak-anak tidak henti-hentinya bergerak.

Selang beberapa waktu setelah itu, aku memutuskan keluar dari Batakmission. Aku menerima tawaran menjadi pegawai pemerintah atas anjuran istri dan keluarga besar. Sebenarnya ini keputusan berat buatku. Aku sudah terlibat secara emosi dengan keluarga ini. Dan aku sungguh memikirkan nasib mereka.

Masih segar dalam ingatan betapa tegang wajah mereka ketika tiba malam itu di Silindung, tiga tahun lalu. Gerak tubuh mereka terlihat canggung. Mereka berdelapan belas orang. Tiga janda Singamangaraja, lima anak laki-laki, tujuh anak perempuan, dan tiga kemenakan. Usia anak-anak itu antara lima sampai lima belas tahun. Baru ditambah 27 orang pembantu setia mereka.

Hari-hari awal yang tegang. Setiap hari beberapa upas bolak-balik datang ke rumah mereka, memastikan jumlah mereka lengkap. Uang belanja sehari-hari yang diberikan sangat pas-pasan. Setelah beberapa minggu tinggal di rumah itu barulah mereka sedikit tenang. Aku rutin berkunjung dan mengajak bercakap-cakap. Mereka mulai menerima situasi dan bersikap terbuka terhadapku.

Aku makin dekat dengan keluarga itu. Aku hafal nama dan wajah mereka, beserta para pembantu. Terlebih aku memang ditugaskan sebagai guru bagi anak-anak dan wali bagi seluruh keluarga di bawah pengawasan Tuan Wilhelm Heinrich Metzler.

Baru-baru ini aku terkejut mendengar bahwa Buntal, Sabidan, dan Pangkilim akan dikirim ke Jawa. Apa alasannya?

Sepengetahuanku, selama aku menjadi wali mereka, tidak pernah seorang di antara mereka menunjukkan sikap membangkang. Mereka tidak pernah berjumpa dengan orang luar atau orang luar datang ke rumah mereka.

Kenapa pemerintah kolonial di Batavia dan di Pearaja terus mempersoalkan Singamangaradjakwestie? Apakah mereka terpengaruh setelah membaca Memorie van Overgave Tuan Barrch, Residen Tapanuli tahun 1915 lalu?

Kudengar di dalam laporan pertanggungjawabannya, Tuan Barrch menganjurkan agar anak-anak Singamangaraja dipindahkan ke Jawa supaya mereka disekolahkan seperti orang biasa.

Ya, tentu saja. Itu sesuai ethische politiek. Anak bangsawan di Jawa pun disekolahkan di sekolah-sekolah Belanda agar di kemudian hari menguntungkan pemerintah kolonial bila kelak mereka menjadi pejabat pemerintah. Tapi, kenapa terburu-buru?

Dari seseorang yang dapat kupercaya aku tahu bahwa keputusan pemindahan tersebut tidak mungkin dibatalkan karena sudah ditandatangani oleh Tuan Hazeu, Komisaris Pemerintah Urusan Pribumi dan Arab. Memang Tuan Hazeu menyarankan agar istilah banneling tidak dibebankan terhadap ketiga anak laki-laki itu.

Seorang asisten residen diminta menemui mereka di sekolah, Hollands-Batakse School di Sigompulon. Ia meminta mereka segera berkemas.

Buntal bertanya, ”Ada apa?”

”Kalian akan dipindahkan ke Jawa,” jawab asisten residen, jawaban yang kemudian disesalinya karena itu menimbulkan pertanyaan berikutnya.

”Apa salah kami?” Buntal dan Sabidan hampir bersamaan menyambut penyataan itu.

”Aku tidak tahu-menahu soal itu. Aku hanya diperintahkan untuk menjemput dan mengantar kalian ke rumah Tuan Marcks.”

Benar saja. Di rumahnya, Tuan Otto Marcks telah menunggu kedatangan mereka. Ia menjelaskan semacam pengantar soal pemindahan mereka ke Tanah Jawa. Ia membesarkan hati mereka dengan berkata bahwa di Jawa mereka akan bergaul dengan teman-teman dari berbagai bangsa.

”Jadi bukan karena kalian bersalah,” kata Tuan Marcks memastikan.

Petang itu Tuan Marcks menemani mereka pulang dan bertemu ibu mereka. Kepada ketiga janda Singamangaraja itu, Tuan Marcks menjelaskan hal sama soal pemindahan. Penjelasan itu membuat ketiga ibu sibuk menangis. Apalagi pemindahan akan dilakukan besok pagi. Waktu yang kelewat mepet. Karena itu, ketiga janda mendesak agar diizinkan turut mengantar hingga ke Sibolga.

”Ini perjalanan segera. Mereka sudah ditunggu kapal,” ujar Tuan Marcks menahan keinginan itu.

Malam itu lampu minyak di rumah mereka tidak padam. Mereka semua terjaga dan tahu apa yang sedang terjadi. Anak-beranak dan para pembantu saling bertangisan.

Pagi-pagi buta, mereka turun ke sungai untuk mandi. Sepanjang malam mata mereka tidak dapat terpejam dan hati mereka sungguh berat. Silindung di pagi hari dinginnya bukan main. Tapi dingin air yang menggigit tulang itu tidak mereka rasakan. Mereka pun tidak peduli melihat petugas bersenjata yang berjaga di dekat mereka.

Dengan wajah-wajah kuyu keluarga mengantar ke kantor gereja di Pearaja. Mereka bertiga masing-masing menenteng satu koper kecil. Di sana, Demang Baginda, Tuan Otto Marcks, dan seorang kontrolir[7] telah menunggu.

Begitu tiba, ketiga anak muda itu diarahkan untuk menaiki kendaraan. Tak sengaja Buntal melirik sepucuk pistol terselip di pinggang Demang Baginda. Pagi sepi pada tanggal 24 November 1916 itu, kendaraan membawa mereka meninggalkan Silindung.

Sunyi di dalam mobil. Semua hanyut dalam emosi dan kesedihan masing-masing. Sepanjang perjalanan Buntal dan Sabidan berusaha saling pandang. Pangkilim bersikap paling tenang. Ia seperti punya dunianya sendiri. Ketika para petugas sibuk berbicara, Buntal membuka sedikit mulutnya, berbisik, ”Bidan, menurutmu, apa ini karena Parhudamdam?”

Sabidan pura-pura tidak mendengar pertanyaan itu. Mulutnya tetap terkatup. Dia hanya menatap mata abangnya lekat-lekat, kemudian sedikit mengangkat alisnya.

Mereka tahu Parhudamdam adalah perlawanan rakyat terhadap kaum pemeras yang membebani mereka dengan belastingdan heerendiensten. Namun, gerakan itu hanya dikenal di sekitar Toba dan di tanah Karo Jahe. Tidak mungkin sampai ke Silindung karena di sini kebanyakan penduduk sudah menganut agama Kristen.

Konon di Toba ada tiga ribu pengikut Parhudamdam. Mereka itu percaya bahwa kelak keturunan Singamangaraja akan muncul untuk mengusir orang Eropa dari Tanah Batak. Di Bona Pasogit, mereka dapat menabalkan anak tertua keluarga menjadi raja baru.

Pemberontakan Parhudamdam dimulai tahun 1915 karena tersulut Perang Dunia pertama. Perang yang menunjukkan kemunafikan orang Eropa. Sebagai misionaris, mereka mengajarkan cinta damai, namun di sisi lain mereka menyerukan perang terhadap sesama mereka. Pemerintah Hindia Belanda menganggap Buntal adalah calon Singamangaraja berikutnya karena ia anak sulung dari boruSagala, istri pertama Singamangaraja XII.

Rombongan tiba di pelabuhan Sibolga, namun tidak ada kapal menunggu. Melihat itu Buntal menjadi geram. Perjalanan ini hanya menghamburkan uang pajak rakyat, pikirnya. Mereka naik kapal kecil menuju Barus, lalu kembali lagi ke pelabuhan Sibolga pada tanggal 26 November 1916. Hari saat kapal diberangkatkan.

Tiga hari kemudian mereka dipindahkan ke kapal Willem Barentsz yang lebih besar. Pada tanggal 30 November malam, kapal itu merapat di pelabuhan Emmahaven, kota Padang. Kapal berlabuh selama tiga hari, namun mereka dilarang turun kapal sekadar melihat pemandangan. Sungguh keterlaluan.

Melewati Bengkulu, seorang awak kapal bertanya, ”Mana orang yang mau diasingkan itu?”

”Bukan diasingkan, tapi dipindahkan ke sekolah di Jawa. Dan saya disuruh mengantar mereka ke Batavia,” jawab Demang Baginda dengan cepat.

Awak kapal itu mengabaikan penjelasan Demang Baginda. Ia menyebut tiga nama dan meminta mereka dipanggil untuk menandatangani sepucuk surat. Buntal dapat membaca pada tiap nama mereka tercantum tulisan banneling.

Pagi pada 7 Desember 1916, kapal tiba di Tanjung Priok, Batavia. Seorang polisi rahasia berpakaian preman sudah menunggu, siap membawa mereka ke Komisariat Polisi di Weltevreden, di Sawah Besar.

Di sana mereka dijamu makan siang. Lalu polisi berpakaian preman itu berkata mereka boleh pergi ke mana saja yang mereka inginkan. Mendengar itu kebingungan tampak di wajah mereka. Demang tersenyum kecil. ”Di Pearaja, kalian dijaga ketat karena kekhawatiran akan berhubungan dengan pemberontak Parhudamdam. Di Batavia, kekhawatiran itu tidak ada lagi,” ujarnya.

Ketiga saudara itu hanya diam. Lantas seorang laki-laki muda mendekati mereka. Mereka menatap orang itu. Dengan sikap hormat orang itu berkata bahwa kendaraan sudah menunggu kalau-kalau mereka siap pergi.

Aku menghela napas. Begitulah catatan Karel Buntal tahun 1928 tentang pemindahan mereka ke Jawa, yang kubaca dalam bahasa Belanda.

1. RMG: Rheinische Missionsgesellschaft, organisasi misionaris terbesar di Jerman.

2. Batakmission: zending Batak

3. Singamangaradjakwestie: persoalan anggota keluarga Singamangaraja yang masih hidup

4. Memorie van Overgave: laporan pertanggungjawaban pada masa jabatan berakhir

5. Ethische politiek: politik balas budi

6. Banneling: orang yang diasingkan

7. Kontrolir: pengawas di Pemerintah Hindia Belanda

8. Belasting: pajak

9. Heerendiensten: kerja rodi

10. Pasogit: Tanah Batak

11. Boru: anak perempuan

Ita Siregar, lahir di Sukabumi, lulus dari Universitas Padjadjaran, Bandung, tahun 1993. Pernah bekerja di Fullbright American Exchange Foundation di Jakarta (2008-2009) dan majalah Femina (2003-2008). Esainya memenangi Lomba Kritik Sastra oleh Dewan Kesenian Jakarta 2013. Buku terakhirnya buku puisi Ia Dinamai Perempuan (2020).

Laksmi Shitaresmi, perupa, aktivis lingkungan dan peduli sampah. Bergelut juga sebagai aktivis perempuan, anak, dan kesetaraan jender. Menempuh pendidikan pascasarjana seni di ISI Yogyakarta. Sudah menggelar pameran tunggal 14 kali dari 1999 sampai 2023.

sumber : kompas.id, 30 Jul 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme