Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dua Orang Pendoa oleh Yuan Jonta

Posted on Ming, 13 Agu 2023

Saat menandaskan doanya, dia memberikan tiupan kecil ke mulut botol air mineral. Bibirnya merah hitam karena biasa mengunyah sirih pinang. Bingkai mulutnya kecil dan ia tidak banyak bicara. Aku memercayai kekuatan doanya sehingga selalu menyarankan namanya kepada siapa pun yang membutuhkan pertolongan spiritual.

Tidak sedikit orang yang mengakui kemujaraban doa Ende Ndeheng sehingga ketika ada yang mengatakan bahwa air dari Ende Ndeheng juga dapat mengubah hati yang muram menjadi berwarna, saya tidak membantah. Karena itu, mengenalnya, apalagi menjadi dekat dengannya, merupakan berkah tak terperi.

Sekitar tiga belas tahun yang lalu aku didiagnosis mengidap batu ginjal. Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit luar pulau. Oleh karena pertimbangan biaya, aku menuruti saran seorang kerabat untuk mendatangi Ende Ndeheng. Lewat air yang sudah didoakannya, seminggu kemudian, biji-biji sebesar pasir keluar dari saluran kencing. Terus terang saja, saya terkejut menyaksikan keajaiban praktik nonmedis ini. Sejak saat itu, kalau ada apa-apa, saya selalu memohon doanya.

Bila ada yang menanyakan apakah rapalannya menyimpang dari ajaran Tuhan, kujawab tidak. Sebab, setiap Minggu Ende ke gereja.

Keriput yang tersebar di bentang wajahnya adalah garis-garis panjang masa hidupnya. Dari cerita bahwa ia sudah memasuki masa gadis ketika Nippon masuk di kampungnya, kami mengira-ngira bahwa ia sudah berkepala sembilan. Perkiraan ini sebenarnya agak goyah, sebab ia masih tampak perkasa, telaten beternak, dan gesit berkebun.

”Istirahat dulu, Ende, awas sakit,” seruku tiga minggu yang lalu. Hawa panas kasatmata di udara, matahari menyinari dan memantul dari permukaan rambutnya yang abu-abu. Ia memicingkan matanya berusaha mengenaliku. Aku tahu mata renta itu tak mampu melihat jauh. Pupil matanya banyak mengandung putih, kuyakini bahwa itu adalah pancaran cahaya batinnya.

”Aku mau maju pemilihan legislatif, Nde,” kataku di dalam rumah.

Ema Kulis, suaminya, mengantarkan kopi untuk kami bertiga. Dia menyampaikan bahwa Ende akan menjalankan ritual toto-kopi. Setelah meniris habis ampas kopi, Ende Ndeheng menunjukkan jejak-jejak ampas yang tersisa di dalam gelas kaca.

”Nak Marungge, di sini ada tiga garis yang beriringan. Sebuah pertarungan yang sengit. Namun, ada gumpal yang membeku angkuh di ujung tiga garis ini. Itu adalah tebing yang tidak dapat kau panjati,” kata Ema Kulis seperti juru bicara. Ende seperti penyambung lidah ke dunia lain, dan Kulis mengurusi syarat dan ketentuan.

”Lalu sebaiknya aku bagaimana, Ema, Ende?”

Ende Ndeheng berbisik kecil kepada Kulis.

”Kalau Nak Marungge bersungguh-sungguh ingin mengabdikan diri untuk orang-orang kecil, datanglah kembali di hari bulan sabit. Kira-kira tujuh belas hari dari sekarang,” ucap Kulis.

Demikianlah, satu minggu yang lalu aku datang dengan kantong plastik berisi sirih, pinang, kapur, tembakau susur, serta setengah karung beras. Ende melemparkan senyum dari gigi hitam-merahnya; matanya memang rabun, tetapi aku yakin ia mengenaliku sebab ia selalu mengingat dan berhitung hari perjanjian. Ia melepaskan tikar pandan yang sedang dianyam—itu salah satu caranya mengisi waktu—lalu menyambutku di teras rumah dengan pelukan, dielus-elusnya daguku dan diberikannya padaku sebuah kecupan hangat di pipi layaknya anaknya sendiri. Ia selalu merindukan itu, mungkin dari sekian karunia yang dimiliki, buah hati bukanlah sesuatu yang diberikan kepadanya.

Ema Kulis keluar dari dapur saat tahu bahwa aku datang. Ia mengangkat beras, tidak berhasil kucegah. Otot-otot itu masih kekar, dan itu berhasil membuatku malu dan mengalah.

Siang itu, kami santap siang bersama, sudah disembelih satu ekor ayam kampung yang mereka pelihara di belakang rumah. Aku meminta maaf karena hanya membawa setengah karung beras dari kota, dan aku mendapat omelan dari Ema Kulis, ”Melayani tamu tidaklah perlu berhitung.”

Aku beristirahat setelah makan siang, tubuhku rasanya remuk setelah melewati jalan berbatu dan berkelok-kelok.

Aku terbangun di sore hari, rumah itu terasa sepi; Ema Kulis baru saja selesai merebus air untuk kopi sore. Ia menyampaikan kepadaku bahwa Ende Ndeheng sedang ke sungai untuk mandi sekaligus mengambil beberapa perlengkapan upacara kami di malam hari. Dia bercerita kepadaku tentang apa-apa saja syarat yang harus kutaati saat upacara malam nanti.

Malam hari Ende Ndeheng mengenakan kebaya kuning dan kain songke. Bulan sabit menerangi kampung ini, pelita-pelita terlihat menyala-meredup dari luar bilik bambu rumah-rumah. Kami dalam perjalanan menuju Tiwu Tebes, tempat upacara akan dilangsungkan.

Pohon-pohon tua berdiri tinggi di sekeliling kami, Ema Kulis tiga langkah di depanku, sulur obor diselimuti lidah api yang meliuk, sekejap kulihat setitik cahaya kecil dari arah kiri. Kunang-kunang. Kelap… kelip… ia terbang ke arah kami datang. Aku tak memperhatikannya lagi sebab kakiku masuk ke dalam lumpur, aku hampir mengumpat bila sekelebat pesan dari Ema Kulis tidak terlintas kembali dalam benak. Jangan berkata kasar di hutan ini.

Suatu waktu ada seorang pengunjung yang tidak sopan, ia mengejek-ejek takhayul dan menguji hutan ini lewat serapah; pohon-pohon berjalan dan menutupi tanah-tanah bekas pijak, mengerjainya dalam permainan labirin, ia tidak dapat menemui jalan pulang. Hutan tidak suka kelancangan; ia mudah marah dengan anak nakal, tetapi mudah memaafkan hati yang tulus memohon ampun. Ndeheng menemukannya sedang menjerit menyesal di tengah hutan lalu menuntunnya ke jalan pulang. Demikian aku diceritakan Ema Kulis saat sore hari.

Kami duduk bersimpuh di sisi tiwu. Ende Ndeheng mengambil sebutir telur ayam kampung, memecahkan bagian atasnya, lalu mendirikannya di atas tiga buah batu kecil yang disusun rapat. Kudengar suaranya pertama kali: ”neka babang agu bentang”, meminta izin agar roh-roh tidak marah karena ada satu orang asing yang datang bersamanya. Kemudian dituturkannya sebuah doa, memanggil roh-roh yang ada di sana, angin berembus menusuk tengkukku, kepala terasa membesar, sebuah tanda akan zat lain yang mendatangi kami.

Ia menyusun sesaji di atas sebuah batu ceper yang menyerupai piring: lima lembar daun sirih yang sudah diolesi kapur, lima keping biji pinang kering, dan segumpal tembakau. Kepadaku disodorkan sebatang rokok linting untuk dinyalakan sebagai sesaji untuk roh pecandu. Dia memandangiku dan memberikan sebuah anggukan kecil, isyarat bahwa doanya akan segera dimulai. Aku mengangguk, dia pun menunduk.

Temaram sinar bulan sabit menyirami tengkuk dan rambutnya, segaris kerut di dahinya tampak lebih tegas dan dalam; dua belah kelopaknya yang menutup terlihat teduh di balik bayangan, seketika gambaran wajahnya yang sebagaimana siang tadi berubah menjadi begitu dingin, aura lain memancar dari sekujur tubuhnya.

Bunyi komat-kamit dan pola napas yang teratur berganti-ganti dengan aliran air dan binatang malam. Ema Kulis masih jauh di belakang dan aku tidak berani menoleh. Sekalipun ada manusia lain, aku merasa seperti anak yang terdampar di sisi tiwu.

Ndeheng kemudian mendongak dan membuang napas dari belah mulutnya, uap yang bersembunyi di balik bentang parunya membubung dan melesap di udara yang gelap. Yang kusaksikan itu seakan-akan adalah roh yang menyelinap keluar dari tiwu doa kami; aku bergidik, dan dalam sunyi terpukau kepalaku membesar beberapa kali lipat dari semula.

”Kemari, Nak Marungge,” Ende Ndeheng melafaz hampir senyap dan aku geser lebih dekat dengan sumber suara. Ia meraba sesuatu yang tersembunyi di balik gulungan songkenya: sekantong cabe yang terasa gepeng dan kempis kering. Sebelum tiba di tanganku, ia menyampaikan seutas doa yang harus kuingat dengan saksama.

Aku menerima kantong itu dengan hati-hati seperti menjaga anak tikus yang masih merah.

Ende Ndeheng lalu memberitahu kami untuk pulang. Aku berbalik, dan Ema Kulis kulihat sudah berdiri memunggungi tiwu.

”Jangan menengok ke belakang,” katanya mengingatkan kembali pesannya di sore hari.

Pertanyaan meliputi isi kepalaku, bagaimana Ende Ndeheng tahu jalan pulang, padahal matanya telah renta dan kegelapan menaungi isi hutan.

Keesokan harinya aku pamit, aku hendak memasukkan beberapa lembar uang ke dalam roto yang digantung di muka rumah. Di sana biasanya orang memasukkan bayaran seikhlasnya. Sebelum sempat kumasukkan, Ema Kulis menahanku. Aku bersikeras ingin memberikannya. Ema Kulis lebih keras lagi menolak.

”Berjuang dulu untuk kemenanganmu, datanglah lagi setelah Nak Marungge sudah jadi anggota dewan. Bawa sirih pinang yang lebih banyak. Kami percaya denganmu seperti anak kami sendiri,” ucapnya.

Aku mendengar kabar kematiannya tiga hari yang lalu. Ia meninggal satu hari setelah kunjunganku ke rumahnya. Ia panas tinggi, peluh tidak henti-hentinya keluar dari permukaan kulitnya. Ia mengembuskan napasnya sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.

Tuan Harito adalah senior partai kami. Lima hari yang lalu aku menaburkan sekantong plastik cabe kering di balik cocor bebek hiasan rumahnya. Kubisikkan dengan saksama:

”Titis lobo mata, pudus lewo irus; bete wengke wase.”

Di rumah duka, setelah menghapus air mata yang aneh, aku berbincang bersama dua kader lain di muka rumah. Saya mencuri lihat: ulat-ulat kecil menyembul dari sela cocor bebek.

Siang tadi aku baru saja pulang dari kampung Ende Ndeheng. Aku terkesima melihat perubahannya, ia tampak lebih muda, garis-garis kerutannya terlihat lebih samar.

Kuceritakan perasaan takut yang menggerogotiku.

”Kebaikan besar butuh pengorbanan yang besar,” ucap Ende Ndeheng lembut.

Perasaanku campur aduk, tetapi Ema Kulis menyampaikan agar aku tidak risau. ”Satu lagi. Nak Marungge tidak boleh marah dengan Ende, supaya rohnya selalu menjagamu,” kata Ema Kulis, yang terlihat semakin perkasa.

Tentu aku tidak marah. Aku percaya rapalannya tidak menyimpang. Dia hanya membuka jalan untuk pertarungan yang adil. (*)

Labuan Bajo, 19 Mei 2023

1. Toto-kopi: Meramal/menerawang dengan membaca jejak ampas kopi yang sudah ditiriskan.

2. Tiwu: Telaga

3. Roto: Tas terbuat dari anyaman tikar berbentuk tabung

4. Titis lobo mata, pudus lewo irus; bete wengke wase: Menetes di mata, menusuk di hidung; putus tali pilinan.

Yuan Jonta menetap di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. PNS di Pemkab Manggarai. Anggota Klub Buku Petra Ruteng. Sedang menekuni dunia mengarang cerita pendek.

Anton Susanto lahir di Bandung, 17 Desember 1979. Menempuh pendidikan seni rupa di FSRD ITB. Saat ini bekerja dan berkarya di Bandung. Selain sebagai seniman juga sebagai kurator Griya Seni Popo Iskandar dan Mola Art Gallery.

sumber : kompas.id, 13 Agt 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme